Dicengkeram Ketakutan
HARI masih begitu pagi tatkala Ray menguakkan pintu kamarnya yang diketuk dari luar. Dani yang masih bercelana training merah dengan atasan hijau bergaris putih, tengah berdiri lalu masuk ke dalam sebelum Ray memersilakan. Ia duduk di pinggi tempat tidur yang selimutnya masih berantakan dan belum dirapikan. Ray mengambil kursi plastik dekat lemari. Lalu ia pun duduk. Jadwal kuliah hari itu, baru dimulai pukul sepuluh. Jadi, Ray dan Dani masih bisa bersantai dan tak terburu-buru untuk keluar dari pondokan. Malah, mereka berdua pun belum mandi. Udara di luar cukup dingin. Meski musim penghujan sudah berlalu semenjak dua pekan lalu.
“Semalam, kamu di mana?” tanya Dani menatap Ray dengan tatapan penuh selidik.
“Jam berapa?” Ray balik bertanya. Ia memang semalaman tiba