Ilmu Penabur Sukma
“ADA apa, Ray?” tanya Dani di telepon, merasa heran siang itu. Pulang kuliah, Ray tak singgah di counter, malah langsung menuju Surya Gemilang. Dan sekarang, meminta Dani pulang dengan segera.
“Pulang saja dulu. Aku mau kita bicara di sini. Di pondokan kita. Di kamarku,” tegas Ray.
“Tidakkah lebih baik kita bicara selepas Magrib saja? Sekalian makan malam bersama? Nanti aku bawain Nasi Padang kesukaanmu.”
“Aku mau kita bicara sekarang juga.”
“Oke,” ucap Dani akhirnya. Ia paham watak Ray yang keras. Ia pun menuju motornya. Dalam lima belas menit, ia sudah berada di kamar Ray.
“Untung ada Fian dan Dirga di counter. Counter lagi ramai pengunjung. Kamu memanggilku pulang… ada apa, Ray?” tanya Dani masih merasa heran. Lalu ia duduk di kursi plastik biru berhadapan deng