Pilihan
NIRINA termenung di dalam kamarnya. Ia kembali memikirkan penglihatannya di kantin tempo hari. Fadia tengah bersama Ray. Seharusnya pemandangan yang dilihatnya pagi itu bukan yang pertama. Juga bukan hal yang dianggap tak biasa. Bukan satu kali. Mungkin beberapa kali. Ia melihat Ray dan Fadia tengah berdua dan tertawa-tawa. Wajar, dua teman sekelas. Nirina pun pernah bahkan kerap berdua bersama Ray. Nirina juga pernah bersama Dani. Pernah juga berbincang dengan cowok lainnya. Itu biasa.
Seharusnya Nirina tidak menyimpan perasaan terluka tatkala memergoki Fadia dan Ray bersama pagi itu. Namun yang menyebabkan hatinya sakit, lantaran ia merasa dibohongi oleh Fadia. Begitu pawainya Fadia membuat skenario. Fadia yang selama ini menjadi sahabatn