Pagi yang dingin menyapa Dataran Kematian, membawa serta bau embun dan darah yang sudah mengering. Langit masih kelabu, seolah enggan menampakkan diri sepenuhnya setelah malam yang mengerikan. Di antara puing-puing reruntuhan katedral yang berasap, Sir Kaelan terbaring. Zirah peraknya kini sepenuhnya kotor dan penyok, pedang sucinya tergeletak di sampingnya, masih memancarkan cahaya redup yang memudar. Luka di lengannya dalam, dan satu sisinya berlumuran darah yang sudah membeku, tapi bukan itu yang paling menyakitkan. Yang paling melukainya adalah kenyataan: Kazimir, Raja Setan itu, telah lolos.
Dua Pemburu Setan yang bersamanya, seorang pria bernama Roric dan wanita bernama Elara, mendekat dengan langkah tertatih. Roric memegang bahunya yang tertusuk, sementara Elara pincang, menopang dirinya dengan busur.
"Sir Kaelan!" seru Elara, suaranya serak. "Kau baik-baik saja?"
Sir Kaelan mengerang, mencoba mendorong dirinya untuk duduk. Rasa sakit menusuk di setiap ototnya, tapi amarah di hatinya jauh lebih kuat. "Baik? Bagaimana bisa aku baik-baik saja, Elara? Dia lolos!"
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa, Sir," kata Roric, terdengar putus asa. "Asap itu... itu terlalu tebal. Dan dia bergerak terlalu cepat."
Sir Kaelan menatap jejak darah hitam yang samar di tanah, menuju ke arah hutan Aethelgard yang gelap. Sebuah jejak tipis yang hampir tak terlihat oleh mata biasa, namun bagi Sir Kaelan, itu adalah undangan. "Dia terluka. Parah. Aku merasakannya saat pedangku menembus zirah terkutuknya."
"Mungkin dia sudah mati di hutan itu, Sir," sahut Elara, mencoba menenangkan. "Tidak ada iblis yang bisa bertahan dengan luka seperti itu di hutan yang kejam."
Sir Kaelan menggelengkan kepalanya. "Jangan pernah meremehkan kegelapan, Elara. Raja Setan itu... dia berbeda. Aku bisa merasakannya. Dia masih hidup. Aura kegelapannya masih ada, redup, tapi tidak padam." Ia berusaha berdiri, berpegangan pada pedangnya sebagai tongkat. Setiap gerakan adalah siksaan.
"Sir, kau terluka parah," kata Roric khawatir. "Kita harus kembali ke Benteng Valorian untuk mendapatkan perawatan. Kau akan mati jika terus memaksakan diri."
"Mati?" Sir Kaelan memaksakan seringai, yang lebih mirip ringisan kesakitan. "Aku tidak akan mati sebelum Raja Setan itu mati di tanganku. Itu sumpahku. Aku melihat kekejiannya, aku melihat bagaimana dia menghancurkan Eldoria. Aku melihat orang-orang kami terbakar. Tidak ada perawatan yang bisa menyembuhkan ini, kecuali pembalasan."
"Tapi Sir, kita tidak punya perlengkapan yang cukup," bujuk Elara. "Dan hutan itu berbahaya. Ada banyak binatang buas, dan... jika ada sisa-sisa setan yang bersembunyi..."
"Itu tidak masalah," potong Sir Kaelan tajam. "Jika ada setan, aku akan membunuh mereka. Jika ada binatang buas, aku akan membunuh mereka juga. Satu-satunya yang penting adalah Kazimir. Dia tidak akan lolos. Tidak setelah apa yang dia lakukan."
Obsesi membara di mata Sir Kaelan. Kebenciannya terhadap setan begitu mendalam, tertanam sejak ia masih kecil, sejak ia menyaksikan desanya hancur oleh invasi iblis. Itu adalah api yang membakarnya, mendorongnya melampaui batas fisik dan mentalnya.
"Aku akan mencarinya," tegas Sir Kaelan, mulai berjalan tertatih-tatih menuju hutan. "Kalian berdua, kembalilah ke Benteng Valorian. Laporkan apa yang terjadi. Minta bala bantuan. Beri tahu mereka Raja Setan terluka dan ada di suatu tempat di hutan."
"Kami tidak bisa meninggalkanmu sendirian, Sir!" protes Roric.
"Ini perintah!" suara Sir Kaelan meninggi. "Kalian adalah Pemburu Setan terbaik yang kumiliki. Jangan sia-siakan hidup kalian untuk obsesiku. Pergi! Pastikan dunia tahu bahwa Raja Setan tidak tak terkalahkan!"
Elara dan Roric saling pandang. Mereka tahu tidak ada gunanya membantah. Sir Kaelan adalah orang yang keras kepala, terutama ketika menyangkut misinya. Dengan berat hati, mereka mengangguk.
"Kami akan melaporkan, Sir," kata Elara lirih. "Semoga cahaya melindungimu."
Sir Kaelan tidak menjawab. Dia hanya terus berjalan, masuk ke dalam kegelapan hutan, mengikuti jejak darah hitam yang semakin tipis, atau lebih tepatnya, mengikuti aura kegelapan yang samar-samar masih ia rasakan.
Hutan Aethelgard adalah sebuah wilayah luas yang menjadi batas antara dunia manusia dan dunia yang disebut "Tanah Terlarang" wilayah yang terkontaminasi oleh energi kegelapan karena kedekatannya dengan portal iblis. Dataran Kematian tempat pertempuran terjadi adalah garis terdepan dari perbatasan ini. Di satu sisi adalah wilayah Eldoria yang subur dan dihuni manusia, dan di sisi lain adalah hutan yang semakin gelap dan berbahaya, tempat makhluk-makhluk tak dikenal bersembunyi.
Di dalam hutan, pepohonan menjulang tinggi, membentuk kanopi tebal yang hampir tidak membiarkan cahaya matahari menembus. Udara terasa dingin dan lembap, berbau tanah basah dan dedaunan busuk. Setiap langkah Sir Kaelan terasa seperti menembus tirai kegelapan, namun ia tidak menyerah.
"Kau tidak bisa bersembunyi, iblis," desisnya pada keheningan hutan. "Darahmu akan mengering, dan aku akan menemukanmu."
Sementara itu, di kedalaman hutan yang sama, Kazimir berjuang melawan kematian. Setiap napas terasa seperti bara api yang membakar paru-parunya. Luka di dadanya berdenyut-denyut, mengeluarkan rasa sakit yang tak tertahankan. Darah hitamnya terus menetes, membasahi tanah dengan noda gelap. Ia tidak pernah merasakan kelemahan separah ini. Sebagai Raja Setan, ia selalu menjadi yang terkuat, yang tak terkalahkan. Namun, pedang suci Sir Kaelan telah menembus pertahanannya, tidak hanya secara fisik, tetapi juga merobek lapisan harga diri yang ia bangun selama ribuan tahun.
"Sialan... manusia itu..." geram Kazimir, tubuhnya gemetar. Ia mencoba memanggil sihir kegelapan, namun energinya terkuras habis. Kekuatannya terasa seperti pasir yang mengalir di antara jemarinya. Ia adalah entitas yang membutuhkan kegelapan dan energi negatif untuk mempertahankan kekuatannya, dan berada di hutan yang netral ini, jauh dari aura perang dan kehancuran, semakin melemahkannya.
Naluri bertahan hidupnya adalah satu-satunya yang mendorongnya. Insting purba untuk mencari perlindungan, untuk bersembunyi, untuk memulihkan diri. Ia harus menemukan tempat yang aman, jauh dari jangkauan manusia yang haus darah itu.
Ia terus berjalan tertatih-tatih, pandangannya kabur. Pohon-pohon di sekelilingnya tampak seperti bayangan menakutkan yang bergerak, mengolok-olok kelemahannya. Suara-suara hutan, desiran angin, gemerisik dedaunan, semua terdengar seperti bisikan mengejek.
"Aku... aku tidak akan mati di sini," bisik Kazimir pada dirinya sendiri, suaranya parau. "Bukan di tangan makhluk rendahan seperti mereka."
Ia teringat kata-katanya kepada Grokh di medan perang. Mengenai Sumpah Leluhur, tentang takdir. Apakah ini adalah bagian dari takdirnya? Terluka, lemah, dan bersembunyi seperti tikus? Penghinaan itu semakin membakar luka di dadanya.
"Di mana..." ia mencoba melihat sekeliling, mencari tanda-tanda tempat yang bisa memberinya perlindungan. Ia membutuhkan tempat dengan sedikit pun energi kehidupan untuk menyerapnya, atau setidaknya tempat yang bisa menyembunyikannya sepenuhnya.
Kakinya terhuyung, tersandung akar pohon yang menonjol. Ia nyaris jatuh, namun entah dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk menahan diri. Namun, itu tidak berlangsung lama. Setiap langkah semakin berat, seolah ia membawa beban dunia di bahunya.
"Aku harus... terus bergerak..."
Tiba-tiba, di kejauhan, melalui celah sempit di antara pepohonan lebat, Kazimir melihat secercah cahaya samar. Sebuah cahaya kekuningan yang berkedip-kedip, menandakan keberadaan manusia. Bau asap kayu bakar samar-samar tercium, bercampur dengan aroma yang lebih aneh... aroma ketenangan, bahkan sedikit kesucian.
Itu adalah sebuah pemukiman. Seharusnya ia menghindarinya, naluri iblisnya berteriak untuk menjauh dari apa pun yang berhubungan dengan manusia atau kesucian. Namun, ada sesuatu yang memanggilnya. Mungkin kehangatan yang dipancarkan cahaya itu, kontras dengan dinginnya kegelapan yang menyelimutinya. Atau mungkin itu adalah satu-satunya harapan untuk berlindung, bahkan jika itu adalah tempat yang paling tidak mungkin.
Cahaya itu berasal dari sebuah bangunan yang tampak lebih besar dari rumah biasa, dikelilingi oleh beberapa gubuk kecil.
Bentuknya samar-samar seperti bangunan ibadah. Sebuah rumah ibadah. Sebuah gagasan yang menggelikan dan ironis bagi Raja Setan seperti dirinya. Berlindung di sarang musuh? Itu adalah puncak dari penghinaan.
"Tidak... Itu tidak mungkin," ia bergumam, berusaha mengalihkan pandangannya. Namun, tubuhnya terus bergerak, secara otomatis menuju ke arah cahaya itu. Semakin dekat, aroma "kesucian" itu semakin kuat, meskipun bercampur dengan aroma bumi dan dedaunan hutan.
Ia beringsut maju, melewati semak-semak lebat dan pohon-pohon yang akarnya menonjol. Setiap gerakan adalah perjuangan. Darahnya terus mengalir, dan ia merasakan pandangannya semakin gelap. Kelelahan yang luar biasa, dinginnya malam, dan rasa sakit yang tak henti-hentinya akhirnya mengalahkannya.
Tepat ketika ia berada di pinggir hutan, di ambang batas antara kegelapan pepohonan dan cahaya samar dari pemukiman itu, kakinya tersandung untuk terakhir kalinya. Kali ini, ia tidak bisa menahan diri. Tubuhnya ambruk, jatuh ke dalam semak-semak rimbun yang basah oleh embun.
Pandangannya gelap total. Rasa dingin yang menusuk tulang melingkupinya. Sebelum kesadaran benar-benar lenyap, satu pikiran terakhir melintas di benaknya: Ini... ini adalah akhirnya... di tangan manusia... di tanah mereka...
Dan kemudian, kegelapan total menelannya. Kazimir tergeletak tak berdaya, pingsan, tak sadarkan diri di antara semak-semak rimbun, hanya beberapa meter dari Rumah Ibadah yang memancarkan cahaya samar di kejauhan.