Lintang sedang menyapu daun kering di halaman ketika Dewa keluar membawa map kosong. Ia berhenti di teras, memberi salam, lalu menunggu Lintang selesai menyapu sebelum bertanya.
"Kamu masih ingat kotak kapur yang saya ceritakan?"
"Sedikit. Yang belum selesai itu?"
Dewa mengangguk. "Saya baru ingat detail lain. Kamu bilang kalau besok kita ketemu lagi, kita menyelesaikan satu kotak terakhir. Tapi saya tidak tahu apakah kamu benar-benar menyebutnya janji atau cuma usul permainan."
Lintang menegakkan sapu. "Aku juga nggak tahu. Kalau memang pernah bilang begitu, itu janji kecil anak-anak supaya gambarnya selesai."
"Saya tidak menganggapnya janji yang harus ditepati sekarang."
"Bagus, karena aku tidak akan menggambar kotak hanya karena merasa punya kewajiban."
Dewa tersenyum. "Saya juga tidak meminta."
Ia menjelaskan bahwa saat mengingatnya, yang muncul adalah gambar kapur, bukan semacam ikatan. Lintang mendengarkan, tetapi tetap ingin menegaskan cara ia memahami masa lalu.
"Kalau orang dewasa mengubahnya jadi tanda bahwa kita sudah ditakdirkan, aku nggak nyaman."
"Saya mengerti. Itu bukan maksud saya."
Lintang mengangguk. "Aku cuma mau memastikan."
Mereka kembali pada kegiatan masing-masing. Dewa akan keluar untuk membeli bahan rumah, sementara Lintang harus menyelesaikan sapuan halaman dan kembali ke laptop. Ia tidak merasa perlu meminta maaf karena memperjelas batas. Dewa pun tidak menunjukkan sikap tersinggung.
Siang hari, Kalinda bertanya apakah ia ingin membingkai foto lama yang ditemukan Bramasta. Lintang mempertimbangkannya. Foto itu buram dan tidak memuat kenangan spesifik selain permainan anak-anak. Ia memilih menyimpannya di album, bukan memasangnya di ruang tamu.
"Kenapa?" tanya Kalinda.
"Karena aku nggak mau orang lihat satu foto terus bikin cerita sendiri."
Kalinda menerima alasan itu. "Baik. Album saja."
Lintang merasa ibunya sungguh memahami. Mereka menaruh foto itu bersama gambar-gambar keluarga lain, tidak membuangnya dan tidak menjadikannya pajangan khusus.
Sore hari, Lintang membuka naskah dan menemukan bahwa ia menulis kenangan masa kecil sebagai petunjuk hubungan di masa kini. Ia membaca ulang dan memutuskan mengubahnya. Tokohnya akan mengingat persahabatan lama, tetapi tidak menganggapnya sebagai alasan untuk jatuh cinta. Ketertarikan dewasa perlu dibangun lewat tindakan sekarang.
Ia mengganti beberapa baris, lalu menyimpannya. Ia tidak akan menyalin kisahnya sendiri ke dalam novel, tetapi pemisahan itu membantu menjaga kejelasan karakter.
Malamnya, ia mengantar satu wadah makanan ke rumah Dewa karena Kalinda memasak terlalu banyak. Ia mengetuk pagar dan menunggu Dewa membukanya.
"Ini dari Ibun. Katanya lauknya kebanyakan."
Dewa menerima wadah. "Terima kasih. Nanti saya kembalikan."
"Nggak perlu buru-buru."
"Baik."
Lintang kembali ke rumah. Ia tidak membicarakan foto atau janji kecil lagi. Percakapan mereka sudah selesai, dan tidak ada utang yang perlu dilunasi. Ia merasa lebih nyaman karena Dewa mengerti bahwa kenangan bersama bisa tetap menjadi kenangan biasa.
Beberapa hari kemudian, Lintang kembali melihat foto lama yang disimpan dalam album keluarga. Ia menunjukkan foto itu kepada Bramasta, lalu bertanya apakah garis-garis di latar belakang mungkin gambar kapur. Ayahnya mengatakan bisa saja, tetapi ia tidak yakin. Foto itu diambil pada musim yang sama ketika halaman sering dipakai bermain. Lintang tidak memperbesar gambar untuk mencari wajah atau mencoba memastikan apakah Dewa tampak di sana. Ia sudah sepakat bahwa ketidakpastian adalah bagian dari ingatan.
Saat Dewa datang mengembalikan wadah, Lintang berkata ia menemukan foto yang mungkin diambil pada masa permainan kapur. Ia menawarkan untuk menunjukkan foto itu, tetapi menambahkan bahwa mereka tidak perlu memastikan apa pun. Dewa menjawab ia ingin melihat, hanya jika foto itu tidak membuat keluarga Lintang keberatan. Lintang bertanya kepada Ibun, lalu Kalinda setuju menunjukkan satu foto yang memang milik album keluarga.
Mereka berdiri di ruang tengah dan melihat foto tersebut bersama-sama. Dewa menunjuk bagian belakang gambar, tetapi tidak mengklaim bahwa sosok tertentu adalah dirinya. "Saya tidak yakin. Bisa jadi orang lain," katanya. Lintang menghargai ia tidak memaksa ingatan agar cocok. Mereka menutup album dan mengembalikannya ke rak.
"Jadi kita punya foto yang tidak membuktikan apa-apa," kata Lintang.
"Foto keluarga yang biasa," jawab Dewa.
"Bagus."
Kalinda tersenyum melihat mereka berbicara tanpa membuat cerita besar. Ia lalu menawarkan teh. Dewa menerimanya dan duduk sebentar bersama Bramasta. Pembicaraan beralih pada pekerjaan warga dan cuaca. Lintang kembali ke meja kerja setelah menyimpan album. Ia merasa kenangan itu tetap milik keluarga, tidak menjadi alat tawar-menawar.
Sore harinya, ia menulis ulang adegan dalam novelnya yang terlalu mengandalkan satu foto lama sebagai bukti takdir. Ia mengubahnya menjadi objek kenangan yang membuka percakapan, bukan menentukan hubungan. Tokoh-tokohnya tetap harus saling mengenal lagi sebagai orang dewasa. Revisi itu membuat alur lebih jujur.
Ia mengirim potongan kepada editor untuk ditinjau. Tidak ada balasan malam itu. Lintang tidak menunggu; ia membantu Ibun menyiapkan makan dan mendengarkan cerita Linggar tentang sekolah. Ia merasa bahwa memilih masa kini bukan berarti menolak masa lalu. Ia hanya tidak menyerahkan keputusan hari ini kepada ingatan yang kabur.
Setelah Dewa pulang, Kalinda kembali memasukkan album ke rak paling atas. Ia bertanya apakah Lintang ingin menyimpan foto digital juga. Lintang menjawab tidak perlu; cetakan itu sudah cukup. Ia tidak ingin mengirimnya ke grup keluarga atau menyebarkannya tanpa alasan. Ibun setuju dan menaruh album di tempat semula. Lintang lalu kembali bekerja, memeriksa jadwal revisi, dan mengirim pembaruan kepada editornya.
Ia menyimpan daftar tugas dan beristirahat setelah menyelesaikan tenggat. Ia tidak memasukkan foto masa kecil ke berkas naskah, karena foto itu tetap menjadi bagian album keluarga.
Malam itu ia berbicara dengan Ayah tentang rencana pekan depan, kemudian memastikan jadwal kerja tidak bertabrakan dengan urusan rumah.
Ia lalu melanjutkan revisi sampai waktu kerjanya selesai dan menyimpan naskah dengan nama berkas yang jelas.
Ayah mengingatkan agar ia tetap memberi waktu istirahat dan tidak memaksakan diri.
Ia juga membalas pesan editornya sebelum beristirahat.
Ia merapikan meja kerja.