Hujan mulai melemah beberapa menit kemudian. Suaranya tidak lagi menghantam atap halte dengan keras, melainkan berubah menjadi rintik-rintik kecil yang jatuh pelan ke jalanan basah. Udara terasa lebih dingin dari sebelumnya. Aroma tanah yang baru diguyur hujan memenuhi sekitar, bercampur dengan bau aspal dan asap kendaraan yang perlahan kembali ramai.
Raina masih duduk di ujung bangku halte sambil memainkan bungkus permen di tangannya. Sesekali ia memandang jalan, lalu kembali memperhatikan hujan yang tersisa.
“Aneh ya,” katanya tiba-tiba.
“Apa?”
“Hujan selalu bikin orang jadi lebih banyak mikir.”
Arga tersenyum tipis. “Kamu sering ngomong kayak gitu ke orang asing?”
“Enggak.” Raina terkekeh kecil. “Cuma ke orang yang mukanya kayak habis kehilangan setengah hidup.”
Kalimat itu membuat Arga mengembuskan napas pelan sambil menggeleng kecil. Entah kenapa, perempuan ini bicara terlalu santai untuk seseorang yang baru dikenal beberapa menit. Namun justru karena itulah suasananya terasa ringan.
Raina membuka bungkus permen itu lalu mengulurkannya.
“Kali ini coba aja satu.”
Arga ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengambil satu permen mint dari tangannya.
“Nah, gitu,” kata Raina puas.
Arga memasukkan permen itu ke mulut. Rasa dingin langsung menyebar perlahan di lidahnya.
“Gimana?”
“Biasa aja.”
“Minimal hidup kamu sekarang ada rasa mint-nya sedikit.”
Arga tertawa kecil lagi. Tawanya singkat, tetapi cukup membuat dirinya sendiri sadar bahwa sudah lama sekali ia tidak tertawa tanpa dipaksa.
Raina memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Kamu sayang banget sama dia ya?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.
Ia memandang jalanan yang masih basah sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Iya.”
“Masih?”
Arga tersenyum samar. “Kalau rasa sayang bisa dimatiin cepat, mungkin hidup bakal lebih gampang.”
Raina tidak langsung menjawab. Ia hanya memainkan ujung bungkus permen sambil menunduk sedikit.
“Aku pernah baca sesuatu,” katanya pelan. “Katanya, orang paling sulit move on itu bukan karena kenangannya terlalu indah.”
“Terus?”
“Karena dia belum sempat menyampaikan semua yang pengen dia bilang.”
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menekan tepat di d**a Arga.
Karena memang itu yang terjadi.
Ada terlalu banyak hal yang belum sempat ia katakan pada Nara.
Tentang rasa takutnya kehilangan.
Tentang alasan ia bekerja terlalu keras.
Tentang fakta bahwa semua mimpi itu sebenarnya selalu melibatkan Nara di dalamnya.
Namun sekarang semuanya terlambat.
Dan yang tersisa hanya penyesalan kecil yang terus tumbuh diam-diam setiap malam.
“Aku kira kalau aku sukses nanti, semuanya bakal baik-baik aja,” ucap Arga lirih.
Raina menoleh pelan.
“Tapi?”
“Ternyata orang bisa capek sebelum masa depan itu datang.”
Hening turun di antara mereka. Kali ini bukan hening yang canggung, melainkan hening yang terasa tenang. Suara hujan yang semakin pelan justru membuat percakapan kecil mereka terasa lebih jelas.
Raina menyandarkan tubuhnya ke bangku halte sambil menghela napas.
“Kadang manusia emang aneh,” katanya. “Kita sibuk ngejar sesuatu buat orang yang kita sayang… sampai lupa kalau orang itu cuma pengen ditemenin.”
Arga menunduk pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi terlalu tepat.
Dan mungkin karena terlalu tepat, ia tidak tahu harus membantah apa.
Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Pantulannya terlihat memanjang di atas aspal yang masih dipenuhi genangan air. Beberapa kendaraan mulai kembali memenuhi jalan raya setelah hujan mereda.
Raina berdiri perlahan sambil merapikan tas kain yang sejak tadi ia pangku.
“Kayaknya aku harus pergi.”
Arga mengangguk kecil, meskipun entah kenapa ada bagian kecil dari dirinya yang merasa suasana itu berakhir terlalu cepat.
Raina melangkah beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti dan menoleh kembali.
“Arga.”
“Iya?”
“Jangan simpan sedih terlalu lama.”
Arga terdiam.
Raina tersenyum tipis.
“Sedih itu perlu. Tapi kalau terlalu lama disimpan, nanti kamu lupa caranya hidup.”
Setelah mengatakan itu, ia berjalan menjauh menyusuri trotoar yang masih basah. Langkahnya perlahan menghilang di balik keramaian jalan dan cahaya kendaraan.
Arga memandang punggung perempuan itu sampai benar-benar hilang dari pandangan.
Lalu ia kembali menatap jalan di depannya.
Aneh.
Padahal mereka baru berbicara beberapa menit.
Namun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Hujan benar-benar berhenti tidak lama kemudian.
Udara malam turun perlahan bersama aroma tanah basah yang memenuhi jalanan kota. Arga keluar dari halte dengan langkah pelan. Sepatunya menginjak genangan kecil yang memantulkan cahaya lampu toko di seberang jalan.
Ia berjalan tanpa tujuan pasti.
Tidak ingin buru-buru pulang.
Di sepanjang trotoar, beberapa pedagang mulai membuka kembali dagangan mereka. Aroma makanan hangat perlahan memenuhi udara malam yang dingin.
Langkah Arga melambat ketika melewati sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan.
Tempat itu langsung mengingatkannya pada Nara.
Dulu mereka sering duduk di sana sepulang kerja. Nara selalu memesan kopi vanilla, sementara Arga lebih suka americano pahit tanpa gula. Namun setiap pesanan datang, mereka justru saling menukar gelas karena penasaran dengan rasa milik satu sama lain.
Hal kecil yang dulu terasa biasa.
Tetapi sekarang justru menjadi kenangan yang paling sulit dilupakan.
Arga berdiri beberapa detik di depan kaca kedai. Dari luar, ia bisa melihat beberapa orang sedang duduk sambil tertawa dan berbicara.
Dulu, ia juga pernah sebahagia itu.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Refleks, jantungnya berdetak lebih cepat.
Tangannya langsung merogoh saku jaket.
Dan seperti tiga bulan terakhir, ada bagian kecil dari dirinya yang masih berharap satu nama muncul lagi.
Nara.
Namun layar ponsel hanya memperlihatkan pesan dari teman kantor.
Besok meeting dimajuin jam delapan.
Arga mengembuskan napas pelan sambil tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
Kadang ia merasa lucu.
Setelah selama ini tidak ada kabar, ia masih saja berharap.
Ia memasukkan kembali ponselnya lalu melanjutkan langkah melewati lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Kota terasa lebih tenang setelah hujan.
Di sisi lain jalan, seorang penjual roti bakar sedang mengoleskan mentega ke atas roti panas. Aromanya langsung menyebar ke udara.
Dan tanpa sengaja, kenangan lain muncul di kepala Arga.
Malam ulang tahun Nara.
Waktu itu mereka duduk di trotoar dekat taman kota karena semua kafe penuh. Nara membawa kue kecil dengan lilin angka dua puluh tiga yang hampir mati tertiup angin.
“Aku nggak nyangka ulang tahunku dirayain di pinggir jalan,” katanya sambil tertawa.
“Budget lagi tipis,” jawab Arga waktu itu.
“Gapapa. Yang penting kamu ada.”
Kalimat sederhana itu dulu terdengar biasa saja.
Namun sekarang, justru terasa paling menyakitkan.
Arga masih ingat bagaimana malam itu Nara sempat berkata sambil melihat lilin kecil di atas kuenya.
“Kalau suatu hari kita nggak sama-sama lagi, kamu harus tetap makan kue ulang tahun ya.”
Arga langsung mengernyit waktu itu.
“Kamu ngomong apa sih.”
“Aku serius.”
“Kenapa bahas begitu?”
Nara tersenyum kecil.
“Karena aku nggak mau kamu berhenti bahagia cuma karena aku nggak ada.”
Langkah Arga melambat.
Ia baru sadar malam ini ia mengingat banyak hal tentang Nara… tetapi tidak merasa sehancur biasanya.
Mungkin karena perempuan bernama Raina itu berhasil membuatnya bicara lagi.
Atau mungkin karena untuk pertama kalinya ia mulai lelah hidup bersama kesedihan yang terus dipelihara sendiri.
Arga berhenti di depan minimarket kecil.
Lampu neon putih dari dalam toko terasa terlalu terang dibanding jalanan luar yang masih lembap setelah hujan. Ia masuk sambil menarik napas pelan.
Pendingin ruangan langsung menyambutnya dengan udara dingin.
Ia mengambil sebotol air mineral lalu berjalan menuju kasir.
Dan tepat sebelum membayar, matanya tertuju pada rak permen kecil di dekat meja kasir.
Ia langsung teringat Raina.
Tanpa sadar, tangannya mengambil satu bungkus permen mint.
Kasir menyerahkan struk belanja.
“Makasih, Kak.”
Arga mengangguk kecil lalu keluar kembali ke jalan.
Ia membuka bungkus permen itu sambil berjalan. Rasa dingin manis langsung memenuhi mulutnya.
Dan entah kenapa, ia malah tertawa kecil sendirian.
“Permen bisa bantu memperbaiki mood ya…” gumamnya pelan.
Langit malam mulai sedikit terbuka. Di antara awan yang perlahan bergeser, potongan kecil bulan terlihat samar.
Arga berhenti berjalan.
Ia menatap langit cukup lama.
Selama tiga bulan terakhir, hidupnya hanya dipenuhi satu hal.
Menunggu.
Menunggu pesan.
Menunggu telepon.
Menunggu kemungkinan kecil bahwa Nara akan kembali.
Namun malam ini terasa berbeda.
Bukan karena ia sudah melupakan.
Bukan karena rasa sayangnya hilang.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia mulai sadar bahwa hidup tidak berhenti pada satu orang.
Ia mengeluarkan ponsel sekali lagi.
Membuka galeri.
Foto dirinya dan Nara masih ada di sana.
Senyum mereka.
Perjalanan mereka.
Potongan-potongan kecil dari masa lalu yang dulu terasa seperti masa depan.
Arga memperhatikan foto itu beberapa detik sebelum akhirnya mematikan layar.
Ia tidak menghapus apa pun.
Belum.
Namun kali ini, ia juga tidak merasa perlu terus menatapnya.
Langkahnya kembali berjalan.
Lebih ringan dibanding sebelumnya.
Dan tanpa ia sadari, di sisi lain kota, seseorang juga sedang memikirkannya.
Raina duduk di dekat jendela bus sambil memandangi titik-titik air yang masih menempel di kaca. Lampu kota bergerak memanjang di balik pantulan hujan yang belum benar-benar hilang.
Pikirannya kembali pada laki-laki di halte tadi.
Cara Arga diam.
Cara matanya terlihat kosong.
Dan cara ia akhirnya tertawa kecil seperti seseorang yang sudah terlalu lama lupa caranya bernapas lega.
Raina bersandar pelan.
“Aneh juga…” gumamnya lirih.
Bus terus melaju membelah jalanan malam.
Sementara di luar sana, kota perlahan kembali tenang setelah hujan.
Dan tanpa mereka sadari, pertemuan singkat di halte tua itu baru saja menjadi awal dari sesuatu yang akan mengubah hidup mereka perlahan.