“Carla! Buka pintunya!”
Seruan seorang pemuda terdengar, seraya mengedor pintu salah satu kamar di rumah mini malis bertingkat satu yang tengah ia pijak dan menjadi naungan dirinya selama sembilan tahun di London bersama keluarga kecil dari Ambrosius. Suasana hidup dipenuhi bermacam bunga menjadi sambutan berjejer di pintu utama.
“Tidak mau! Nanti pasti kau akan menanyakan macam-macam.” Carla yang langsung mengacir ke kamar dan menutup pintu segera merebahkan dirinya di kasur dengan bebas, tak ingin menjawab seluruh pertanyaan beruntut yang pasti akan dilontarkan oleh kakaknya yang over itu.
Suara gagang dibuka berbunyi disusul suara desahan kesal dari balik kamarnya. “Ya, pasti aku akan menanyakan sesuatu! Kau harus buka dahulu pintunya, Carla! Karena jika kau tak membukanya sekarang, aku tak bisa menjamin kau akan bisa menutup pintumu lagi,” ancam Arvid dari balik sana.
Carla berusaha menutup kepalanya dengan bantal, tapi bagaimana pun usahanya, suara kakaknya itu tetap mendominasi. Carla bangun dengan emosi menggebu lalu membuka kuncinya menampilkan seorang yang tingginya melebihi dia menatap ia tak seperti biasa.
Arvid menarik bahu Carla untuk duduk di tepi ranjang tempat istirahat gadis itu lalu menatapnya serius.
“Mengapa kau ke klub? Bukannya aku sudah bilang kau tak boleh ke sana? Kenapa kau minum alkohol? Aku bukannya sudah bilang kau tak boleh mencerna minuman itu? Aku selalu bilang untuk tak minum yang beralkohol, Carla. Lalu mengapa di berita itu kau adalah Carla Si Asisten?” protes Arvid yang langsung saja Carla menutup kedua telinganya menggunakannya tangan, lagi-lagi mendengar untuk keseribu kalinya omelan kakaknya ini pada dirinya.
“Karena aku sudah legal, Arvid. Semakin kau menekanku untuk tak ke sana, maka rasa penasaranku akan makin menjadi, apalagi saat dibujuk oleh Jennifer dan Adaline. Aku tak bisa untuk tak menerimanya,” bela Carla yang memang merasa tak bersalah sedikit pun. Jika Arvid saja bisa untuk minum terang-terangan di depannya, kenapa dia tidak? “Dan aku mungkin tak mau lagi ke sana, karena aku punya pengalaman buruk dengan minuman itu.”
Arvid menekuk keningnya terlihat jengkel. “Karena memang sebaiknya begitu, awas saja nanti jika kedua wanita itu mengajakmu lagi. Sekarang kita bicarakan tentang dirimu yang dituduh sebagai Carla, Si Asisten itu. Kau tak bilang bahwa kau adalah dia untuk tenar, bukan?”
Carla menekuk alis sedikit lalu menggelengkan kepala. “Tentu saja tidak! Aku memang bukan dirinya, untuk apa tenar jika untuk hal semacam itu? Kau jangan mengada, Arvid.” Carla tahu kakaknya itu agak mengekang dan sangat menjaga dirinya sedari kecil, karena faktor umur mereka yang hanya berbeda dua tahun, mereka sangat dekat dan tak pernah merahasiakan apa pun di antara mereka, bahkan sesuap nasi saja kadang diserbu pertanyaan oleh Arvid. Walau mereka tiga bersaudara, Arvid sebagai anak pertama dan Carla ketiga, mereka berdua yang sangat dekat dari pada satu saudaranya yang lain.
Mereka seperti kakak dan adik secara umum, yang sering bertengkar untuk hal kecil, tapi Arvid selalu menjaganya dan bisa dibilang protektif kepada Carla walau tak akur di setiap hari yang selalu ada saja percekcokan tak penting.
Arvid melipat kedua tangannya lalu menaikkan sebelah alisnya singkat. “Jika saja kau ingin tenar dan ingin melakukan hal tak masuk akal seperti itu untuk mendapat perhatian juga uang dengan mengaku-ngaku sebagai asisten itu karena kebetulan saja wajah dan ciri-ciri kalian sama.”
Carla makin membuat raut jijik sekaligus kesal. “Aku memang pernah bilang jika ingin tenar, tapi tidak dengan cara dituduh seperti itu.”
Arvid menatap adiknya itu lekat, ia memang sangat menjaga Carla adiknya untuk tetap aman. Ia merasa bahwa adiknya ini adalah hal rapuh yang harus ia lindungi. Karena ia akan selalu protektif untuk segala hal untuk adiknya satu itu.
Carla tahu jika Arvid sangat menyayanginya, bermula saat ia pingsan saat masih kecil di sekolah mereka tiba-tiba dilempar bola basket oleh kakak angkatannya, dari situ Arvid menghajar habis orang yang telah melemparkannya sampai dibawa ke rumah sakit, Arvid yang dahulunya tak terlalu protektif secara terang-terangan, kini makin menjadi tak kenal tempat, maupun waktu. Bahkan untuk bertemu atau pun keluar ia selalu ditanya oleh Arvid.
Ia merasa Arvid seperti pasangannya, karena semua segala perhatian yang ia dapatkan selain dari kedua orang tuanya, Arvid yang menambahkannya lebih dari kata cukup membuat ia hanya mempunyai satu mantan kekasih karena kakaknya sudah mengisi tempat itu dengan segala perhatiannya sehingga merasa tak membutuhkan hal semacam itu.
Arvid mengambil napas dalam lalu menghembuskan pelan. “Mr. Ahyner Mirachel G. Burner, how about him?” titah Arvid yang padahal inti dari semua ini adalah ia memang ingin menanyakan hal itu, iming-iming menanyakan klub sebagai pembuka saja.
Carla menaikkan kedua alisnya lalu melirik ke arah pintunya sebelum menatap mata kakaknya lagi. “Ya... begitulah, dia mengira aku adalah Carla-nya dan—”
“Dan dia menciummu?” Arvid berucap ketus dengan memotong kalimat Carla spontan, menunjukkan bahwa itu yang sedang ia tonjolkan untuk dipertanyakan saat ini.
“Tak mungkin anak sosial sepertimu rasanya tak melihat berita itu, sedangkan Mom yang ada di Chicago saja sudah meneleponku. Kenapa kau bertanya?” Carla memerhatikan raut yang agak tak dapat tertebak dari wajah Arvid, yang menunjukkan raut agak masam tapi terpaksa untuk tetap stay cool.
Arvid mengendikan bahunya singkat. “Hanya bertanya saja, sedangkan para mantanmu saja tak pernah kau berikan kiss. Sudah sangat terpesona dengan seorang Mr. Burner, huh?”
Carla tersenyum mengejek di salah satu sudut bibirnya lalu agak menaikkan dagu. “Kenapa kau terlihat tak terima? Itu, kan hakku ingin memberikannya pada siapa, lagi pula itu terjadi secara tiba-tiba dan itu bukan rencanaku.” Carla berdiri dari tempatnya dan segera menarik Arvid dari sisi kasurnya mendorong agar menjauh.
“Itu memang bukan urusanku, tapi tetap saja. Aku melihat ada yang tak beres.” Arvid berucap ketus dan membiarkan saja Carla mendorongnya untuk keluar.
“Kau yang tak beres, cepat sana pergi. Aku ingin tidur!” Carla mengunci kembali pintunya sehabis mendorong punggung Arvid sampai tak terlihat dari matanya, dan merebahkan tubuhnya kembali ke kasur mendengar derap langkah kakaknya yang belum terdengar menjauh.
Carla melirik pada langit-langit kamarnya seraya menunggu Arvid untuk pergi dari sana, suasana kamar yang polos dan mini malis, bernuansa putih dan amat tenang juga sunyi, situasi kesukaannya untuk merenung seperti sekarang mengingat kembali kejadian yang belum terselesaikan oleh pikirannya. Mengingat sesuatu yang agak sulit ditangkap oleh otaknya di dalam sana.
“Carla! Awas saja kau mengulangi hal yang sama! Aku pastikan kau tak akan melihat lagi kotak musik kesayanganmu!” Selepasnya suara derap langkah terdengar menjauh dari balik pintu dan bergerak turun menapak tangga.
“Coba saja! Motor kesayanganmu yang akan kurusak nanti!!” Carla bangkit dari ranjangnya melihat ke arah meja yang terletak di sudut dinding menampung semua buku-bukunya berjejer amat banyak juga rak yang penuh pula dengan jilidan.
Gadis itu memang suka membaca, dan selain memiliki hobi tersebut, ia juga suka mendengar musik, entah dari ponselnya ataupun dari kotak musik yang lebih dari delapan ia punya. Carla berdiri dari tempatnya melepas jas juga dasinya sekaligus sepatu boots ia letakkan di tempat masing-masing di setiap rak khusus untuk barang-barang miliknya.
Gadis itu mengikat rambutnya pony tail secara asal lalu mengambil snack popcorn dan kotak musik miliknya di atas meja. Arvid selalu memberikannya snack itu tiap bulan, atau bahkan setiap minggu. Padahal ia merengek minta yang lain, tapi tetap saja Arvid membelikannya makanan yang sudah ia konsumsi selama bertahun-tahun itu.
Carla duduk di tepi kasur dan membuka kotak musik yang mengalun nada tenang di tiap melodinya, ia berbaring kembali lalu memakan snack yang ada di tangannya melihat lagi ke arah langit-langit kamar sebelum ia membuka jendela yang berada tepat di sisi kasurnya. Ia menyibak dan merasakan embusan angin yang begitu sejuk menerpa kulitnya di malam yang sudah hampir pagi beberapa jam lagi.
Ia merogoh ponsel dan membuka internet mencari-cari siapa itu Carla Carolina yang dimaksud oleh keluarga termuda dari Burner yang mempunyai kasta di atas rata-rata itu.
Ia membaca dengan teliti informasi-informasi yang mengutip tentang hilangnya seseorang itu yang dibicarakan oleh Ahyner padanya. Berbagai situs mengemukakan kurang-lebih seperti yang Jennifer katakan, di sana dominan orang mengatakan bahwa Carla itu dibunuh oleh kelompok yang memang tak ada kata ampun bagi nyawa seseorang, Burning Fire. Kelompok kakak dari Ahyner.
Carla melihat di berbagai foto gadis kecil yang selalu berada di sisi Ahyner, dia selalu menunduk menyisakan jarak satu langkah di belakang pemuda itu menjaga jarak. Fotonya sangat sedikit, karena diterakan bahwa Ahyner memang jarang terlihat di media saat umurnya 15 tahun ke bawah sehingga bisa dihitung foto-fotonya.
Carla membuka sebuah foto yang diambil pewarta foto, menunjukkan pemuda itu yang saat masih kecil berada di depan rumah sakit menyender pada mobil melihat seorang gadis yang dibawa oleh seorang sopir masuk ke rumah sakit.
Media tak dapat meliput dengan secara benar apa yang sebenarnya yang gadis itu lakukan di rumah sakit, mereka bilang ada noda darah di sekitar bajunya, beberapa mengatakan bahwa itu ada sangkut pautnya dengan Ahyner, entah dipukul atau dianiaya.
Carla menaikkan kedua alisnya membaca itu, dianiaya bagaimana? Dia membaca sebelumnya bahwa ia sangat protektif juga posesif pada gadis itu. Kadang memang media hanya menyimpulkan sesuatu tanpa tahu benar kenyataannya.
Carla mengeklik lagi sebuah gambar yang tak sengaja diambil media saat Ahyner tengah menutup mata Carla menggunakan sebelah tangannya yang duduk di sisinya, media meng-upload itu saat kejadian ulang tahun saudara tertua dari keluarga Burner itu.
Bahkan ia melihat beberapa foto yang menampilkan Ahyner tengah menarik tangan Carla, tatapan pemuda itu selalu terlihat datar, sama saat ia menatap dirinya tadi, ia tak melihat perbedaan di gambar itu dengan kejadiannya tadi.
“Wow, gadis ini seperti bangsawan saat berada di sisinya. Apanya yang mirip denganku?” Carla mencibir setelah melihat foto gadis itu yang memang pakaiannya terlihat mewah-mewah, seperti tak terlalu menunjukkan kasta yang berbeda dengan Ahyner yang selalu terlihat rapi di foto itu dengan tuxedo ataupun suit maupun mantel.
Carla memerhatikan agak lama wajah pemuda itu dari balik layarnya, ia sudah menjadi bibit unggul sedari kecil, tatapan matanya, rahangnya, hidungnya, tinggi badan juga bahu lebarnya, terlihat begitu sempurna dan semakin paripurna sekarang. Tapi bedanya dulu ia tak memiliki tato di kedua punggung tangannya ataupun di leher, dan dulu ia juga tak memiliki tindik di salah satu telinganya.
Setelah menghilangnya gadis itu, ia agak berubah seperti lebih menjadi bad. Pikir Carla yang berberai di otaknya setelah melihat perbedaan dari fisik pemuda itu saat masih 15 tahun ke bawah dengan dirinya sekarang.
Carla menutup ponselnya dan meletakkan begitu saja di kasur menatap kembali ke arah langit, ia sampai sudah membisukan semua akun media sosialnya karena selalu berdenting di setiap menit menanyakan hal yang bukan dirinya.
Gadis itu dulu memang pernah berpikir tentang pemuda satu itu, tapi tak lebih dari semenit karena ia sadar bahwa tak mungkin dapat bersanding dengannya. Menepis jauh pikiran yang dapat melambungkannya sesaat dan terjatuh karena fakta perbedaan dari mereka. Ia hanya orang biasa, sedangkan Ahyner adalah pemilik perusahaan ternama juga pastinya bergaul dengan orang-orang yang sekasta dengannya.
Tapi entahlah, tadir berkata lain. Ia malah dipertemukan dengan orang itu dengan cara yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Berpikir pernah dicium oleh pemuda itu saja tidak, bahkan menyangkut atau terlintas di otaknya saja mustahil.
Benaknya kini paham, garis hidup tak akan mengaba untuk memperkenankan cendera. Tak ada prahara, tak ada tanda, dan tak ada bumantara, ia datang serta-merta.