Jasmine mengirimkan pesan pada Ari melalui w******p memberitahu suaminya itu kalau ia akan pergi bersama dengan kedua sahabatnya.
“Di sini, aja, Pak.” Jasmine memberi perintah pada Jamal saat mobil akan masuk ke dalam pekarangan kafe.
Jamal menghentikan mobil secara tiba-tiba membuat Jasmine nyaris tersungkur ke depan jika saja ia tidak memegang jok.
“Maaf-maaf, Mbak.”
“Enggak papa, Pak. Aku yang salah bilangnya tiba-tiba.” Jasmine mengambil menganting tas kecil miliknya. “Untung nggak ada mobil di belakang kita,” lanjut Jasmine.
“Untungnya, Mbak,” balas Jamal. “Bapak tungguin, Mbak?”
“Nggak usah, Pak. Nanti Jasmine pulang sama Dian, aja.”
Jamal mengangguk. “Kalau gitu bapak balik ke kafe dulu, Mbak.”
“Iya, hati-hati, Pak.”
“Siap, Mbak.”
Jamal memperhatikan Jasmine yang membuka pintu melalui kaca spion. Ia melihat Jasmine melambaikan tangan. Setelah itu pergi meninggalkan Jasmine yang mulai melangkahkan kaki memasuki pekarangan kafe Cemara.
Diperjalanan Jamal kepikiran bagaimana jadinya nasib Jasmine jika Jere kembali padanya. Sesekali Jamal penasaran bagaimana sebenarnya akhir untuk Jasmine. Jamal yang sejak awal tahu tentang kehidupan masa lalu Jasmine, tentang hubungan dua tuan muda nya dan Jasmine terkadang membuat Jamal kesal pada takdir yang menurutnya tidak adil bagi ketiganya.
Sudah hampir dua puluh tahun Jamal memegang kemudi untuk keluarga itu. Ia mengantar dua tuan mudanya ke sekolah, menunggu mereka di parkiran sampai larut, mendengar mereka bertengkar di jok belakang tentang hal-hal kecil yang dulu terasa lucu. Ia pikir ia akan pensiun dengan kenangan seperti itu saja.
Sampai Jasmine datang.
Jamal masih ingat pertama kali gadis itu naik ke mobilnya. Duduk di pojok, memeluk tas, tidak banyak bicara, dan menjawab semua pertanyaan Jamal dengan senyum yang dipaksakan. Waktu itu Jamal belum tahu apa-apa. Ia hanya berpikir gadis itu pendiam.
Baru berbulan-bulan kemudian Jamal mengerti kenapa gadis itu selalu memilih duduk di pojok. Beberapa kali ia mendengar isakan yang ditahan dari jok belakang, dan setiap kali ia melirik dari kaca spion, Jasmine buru-buru menoleh ke jendela, pura-pura memperhatikan jalan. Jamal tidak pernah bertanya. Ia hanya memelankan laju mobil, menyalakan radio pelan-pelan, dan berpura-pura tidak melihat apa-apa.
Ia juga yang mengantar Jasmine ke rumah sakit malam itu, saat perutnya sudah besar dan tidak ada satu pun tuan mudanya yang ada di sisinya. Jamal yang mengurus pendaftaran, Jamal yang menunggu di lorong sampai pagi, dan Jamal pula yang pertama kali melihat Jessie ketika bayi itu dibawa keluar.
Mungkin karena itu Jessie memanggilnya kakek. Anak itu tidak pernah diberitahu, tapi anak kecil selalu tahu siapa yang benar-benar ada untuk mereka.
Ponsel di dasbor bergetar. Jamal melirik sekilas, lalu menepikan mobil di bahu jalan sebelum mengangkatnya.
“Halo, Pak Jamal.”
“Iya, Mas Lion.”
“Mbak Jasmine ke mana pagi ini?”
Jamal menarik napas panjang. Setiap kali pertanyaan itu datang, dadanya selalu terasa penuh. “Ke kafe, Mas. Sama teman-temannya.”
“Sendiri?”
“Sendiri. Nanti pulangnya sama temannya.”
Terdengar suara pena yang diketuk-ketukkan di seberang sana. “Oke, Pak. Makasih.”
“Mas Lion,” panggil Jamal sebelum sambungan diputus.
“Iya, Pak?”
Jamal diam sebentar, memandangi setir yang catnya sudah menipis di beberapa bagian. “Bapak boleh nanya, nggak?”
“Boleh, Pak.”
“Mas Jere mau apa?”
Kali ini yang diam Lion. Cukup lama, sampai Jamal mengira sambungannya terputus.
“Aku juga nggak tahu, Pak,” jawab Lion akhirnya. “Sumpah.”
“Bapak cuma minta satu, Mas.” Suara Jamal turun. “Jangan sampai Mbak Jasmine nangis lagi. Bapak udah pernah lihat dia nangis bertahun-tahun. Bapak nggak sanggup lihat yang kedua kali.”
Tidak ada jawaban dari seberang. Hanya embusan napas, lalu, “Nanti aku sampaikan, Pak.”
Sambungan terputus. Jamal meletakkan ponselnya kembali ke dasbor, menatap layar yang perlahan menggelap, dan merasa dirinya baru saja mengkhianati seseorang. Entah siapa. Mungkin dua-duanya.
Mobil kembali melaju. Lima belas menit kemudian Jamal memarkirkan mobil di halaman kafe milik Ari.
Ari sedang berdiri di depan pintu masuk sambil berbicara dengan seorang pegawai. Melihat mobilnya datang, pria itu menyudahi pembicaraan dan berjalan mendekat.
“Udah sampai, Pak?”
“Udah, Mas. Barusan Bapak turunin di depan Kafe Cemara.”
“Dia nggak minta ditungguin?”
“Enggak, Mas. Katanya pulangnya sama Mbak Dian.”
Ari mengangguk pelan sambil melihat jam tangannya. “Nanti sore tolong jemput Jessie, ya, Pak. Saya masih ada meeting sampai jam lima.”
“Siap, Mas.”
“Sekalian bawain ini.” Ari menyerahkan sebuah paper bag kecil yang sedari tadi ia tenteng. “Kue kesukaan Jessie. Kasih ke dia pas di mobil, jangan pas udah sampai rumah. Biar dia nggak rewel di jalan.”
Jamal menerimanya dengan dua tangan. “Iya, Mas.”
Ari hendak berbalik, tapi langkahnya tertahan. Pria itu menoleh lagi pada Jamal. “Pak.”
“Iya, Mas?”
“Di jalan tadi ada yang aneh, nggak?”
Jantung Jamal berdetak satu kali lebih keras dari biasanya. Ia menegakkan punggungnya, menjaga wajahnya setenang mungkin. “Aneh gimana, Mas?”
“Ya... mobil, orang, apa aja.” Ari mengedikkan bahu, berusaha terlihat santai padahal matanya tidak. “Kalau ada apa-apa, langsung kabarin saya. Jangan tunggu besok.”
“Iya, Mas. Pasti Bapak kabarin.”
Ari menepuk bahu Jamal sekali, lalu masuk ke dalam kafe.
Jamal berdiri di tempatnya cukup lama setelah pintu itu tertutup. Ia menunduk, menatap sepatunya sendiri, lalu masuk kembali ke dalam mobil dan menutup pintunya pelan-pelan.
Di sudut kaca depan tergantung foto kecil Jessie yang sedang tertawa dengan dua gigi depan yang belum lengkap. Foto itu Jasmine sendiri yang menempelkannya di sana, katanya supaya Kakek Jamal tidak mengantuk kalau menyetir jauh.
Jamal memandangi foto itu lama sekali.
“Maafin bapak, Nak,” gumamnya pelan pada ruang kosong di dalam mobil.
Ia menyalakan mesin, tetapi tidak langsung menjalankannya. Di kepala tuanya itu berputar satu pertanyaan yang sejak dulu tidak pernah berani ia jawab sendiri, tentang siapa sebenarnya yang paling ia kasihani di antara ketiga orang itu.
Sementara di tempat lain, Jasmine sudah melewati pekarangan kafe Cemara. Ia merapikan rambutnya sebentar di pantulan pintu kaca, menarik gagangnya, lalu masuk bersama bunyi lonceng kecil di atas kepalanya dan aroma kopi yang langsung menyambut.