Kantor LSM milik Rangga ada di lantai dua sebuah ruko di Tebet. Sempit, penuh tumpukan koran lama, dan selalu berbau kopi saset. Agha datang ke sana pada Selasa sore, setelah membuat janji lewat pesan yang ia tulis ulang tujuh kali sebelum akhirnya terkirim.
Mas Rangga, assalamualaikum. Saya Agha. Boleh minta waktu Mas sebentar? Ada hal pribadi yang ingin saya sampaikan. Bukan soal BEM.
Rangga membalas singkat. Selasa jam empat. Kantor saya.
Dulu, di lorong rumah sakit, Agha memanggilnya Bang. Hari ini, entah kenapa, lidahnya memilih Mas. Mungkin karena hari ini ia datang bukan sebagai sesama aktivis, tapi sebagai laki-laki yang hendak mengetuk pintu keluarga orang.
Sekarang Agha duduk di kursi plastik di depan meja Rangga yang penuh kertas. Rangga duduk di seberangnya, menyilangkan tangan di dada. Wajahnya datar. Wajah wartawan yang sudah ribuan kali mewawancarai orang dan tahu persis kapan seseorang sedang gugup.
Agha jelas sedang gugup.
"Jadi," kata Rangga. "Hal pribadi."
"Iya, Mas." Agha menarik nafas. Ia sudah menyiapkan kalimat ini sejak seminggu lalu. Semuanya hilang begitu duduk di sini. Jadi ia bicara saja. "Saya mau minta izin, Mas. Untuk ta'aruf dengan Humaira. Dengan niat serius. Menuju pernikahan, kalau dia bersedia dan kalau Allah ngizinin."
Rangga tidak bereaksi. Ia hanya menatap Agha lurus-lurus. Lama sekali. Agha merasa keringat dingin mengalir di punggungnya.
"Kenapa Maira?"
"Karena dia jujur, Mas. Bahkan waktu jujur itu bikin orang lain gak nyaman. Termasuk saya." Agha tersenyum kecil. "Pertama kali ketemu, dia nanya visi-misi saya sampai saya keringetan. Dia nolak dana keluarga saya di depan seluruh tim. Dia nyoret angka yang saya tulis di materi debat. Waktu penghitungan suara, dia bacain angka yang bikin lawan saya nambah sepuluh suara. Saya gak pernah ketemu orang yang segitu lurusnya, Mas. Dan saya pengen hidup di dekat orang yang bisa ngingetin saya kalau saya mulai belok."
Rangga masih diam.
"Kamu pernah punya pacar. Anak Kedokteran juga. Mas pernah denger."
"Iya, Mas. Waktu SMA. Saya putusin karena saya tahu pacaran itu salah. Beberapa bulan lalu dia nanya kesediaan saya, karena keluarganya mau menjodohkan. Saya jujur ke dia kalau saya belum siap, dan saya gak mau dia ngelawan keluarganya demi janji yang belum siap saya kasih." Agha menunduk. "Dia sekarang udah baik-baik aja, Mas. Dia lagi kenalan pelan-pelan sama orang pilihan keluarganya, atas kemauan dia sendiri. Saya ikut doain."
"Terus sekarang kamu siap? Beberapa bulan kemudian?"
Pertanyaan itu tajam. Agha sudah menduganya.
"Waktu itu saya ditanya apakah saya mau nikah sama orang yang saya sayangi dari kenangan, Mas. Jawabannya belum. Sekarang saya bertanya pada diri saya sendiri apakah saya mau berjuang untuk orang yang saya kagumi setiap hari. Jawabannya iya." Ia menatap Rangga. "Dan saya gak minta nikah besok. Saya masih punya masa jabatan sampai akhir tahun. Humaira juga belum lulus. Saya cuma minta izin buat mulai kenalan dengan cara yang benar."
Rangga memiringkan kepala. "Kamu ketuanya. Dia bendaharanya. Kalau dia nolak, kalian masih harus kerja bareng sampai akhir tahun. Kamu udah mikir?"
"Udah, Mas. Kalau dia nolak, saya tetap ketuanya, dia tetap bendaharanya. Saya gak akan bikin dia gak nyaman. Kalau dia minta saya jaga jarak, saya jaga. Kalau dia mau mundur dari BEM gara-gara ini, saya yang ngalah. Saya yang cari cara supaya dia gak perlu mundur."
Rangga bersandar ke kursinya. Ia memandangi laki-laki muda di depannya untuk waktu yang lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak Agha masuk, ia tersenyum. Sangat tipis.
"Hanafi pernah duduk di kursi itu juga."
Agha tersentak.
"Dia gak minta izin apa-apa. Dia cuma cerita rencana-rencananya. Wisuda, kerja, pindah. Mas waktu itu bingung kenapa dia cerita. Belakangan Mas baru paham." Rangga menghela nafas. "Dia pamit. Dengan caranya sendiri. Dan waktu di bandara bulan lalu, dia bilang ke Mas, kalau nanti ada laki-laki yang dateng lewat pintu depan, dengerin dia baik-baik."
Agha tidak bisa berkata apa-apa.
"Mas gak bisa jawab buat Maira," lanjut Rangga. "Mas juga gak akan maksa dia. Yang Mas bisa cuma nyampein. Dan kalau dia nolak, kamu terima dengan lapang. Jangan pernah bikin dia ngerasa bersalah."
"Iya, Mas. Janji."
@@@
Humaira baru pulang dari kampus ketika Rangga memanggilnya ke ruang tamu. Wajah kakaknya serius. Terlalu serius. Humaira langsung curiga.
"Mas mau ngabarin tanggal lamaran ke rumah Mbak Kiya ya?"
"Bukan soal Mas."
"Terus?"
Rangga menceritakan semuanya. Pelan-pelan. Tidak ditambah, tidak dikurangi. Dari pesan yang masuk minggu lalu, sampai percakapan di kantor sore tadi. Humaira mendengarkan tanpa memotong. Wajahnya berubah-ubah. Kaget. Bingung. Lalu, yang membuat Rangga terkejut, marah.
"Dia ketua gue, Mas!"
"Mas tahu."
"Dia gak mikir? Gimana kalau orang-orang tahu? Gimana kalau akun gosip itu bikin postingan lagi? Mereka bakal bilang gue jadi bendahara karena ada apa-apanya!" Humaira berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir. "Terus Hanafi baru pergi sebulan, Mas. Sebulan! Dia pikir gue apa? Kursi kosong yang harus cepet-cepet diisi?"
"Mai--"
"Maira gak tertarik, Mas. Bilang ke dia. Maira gak tertarik."
Rangga tidak membantah. Ia hanya menatap adiknya dengan tenang. "Kamu gak harus jawab malam ini. Dia juga gak minta jawaban sekarang."
"Ya pokoknya bilang aja Maira--"
"Mai." Suara Rangga lembut. "Mas gak bakal nyampein apa pun sampai kamu bener-bener tenang. Kalau kamu nolak, tolak karena kamu emang gak mau. Bukan karena kamu takut omongan orang. Bukan juga karena kamu masih sedih soal Hanafi. Itu gak adil buat kamu sendiri."
Humaira berhenti mondar-mandir. Ia berdiri di tengah ruang tamu dengan napas yang naik-turun. Lalu ia masuk ke kamar dan menutup pintu. Tidak dibanting. Hanya ditutup.
Ia duduk di tepi ranjang. Tangannya gemetar. Ia mengambil ponsel tanpa tujuan jelas, membuka-buka aplikasi tanpa membaca apa pun. Lalu jempolnya berhenti di sebuah percakapan lama. Dari Masayu. Dikirim jam dua pagi, berbulan-bulan lalu, malam setelah syukuran kemenangan.
Kalau suatu hari ada orang baik yang dateng ke lo dengan cara yang baik, jangan bikin dia nunggu lama ya. Ada orang yang lambat banget nyadarnya.
Humaira membaca kalimat itu berulang-ulang. Lalu ia menutup wajah dengan bantal.
Masayu sudah tahu. Dari berbulan-bulan lalu. Dan ia, Humaira Nasywa, orang yang katanya paling teliti membaca angka, ternyata paling buta membaca orang.
@@@
Keesokan harinya ada rapat rutin pengurus inti BEM di Pusgiwa. Humaira datang tepat waktu, duduk di kursi paling ujung, dan membuka buku kasnya. Ia tidak menatap Agha sama sekali.
Agha memimpin rapat seperti biasa. Suaranya tenang. Ia membahas laporan peta beasiswa dari Amri, jadwal dialog fakultas dari Masayu, dan rencana pengabdian dari Bani. Ketika tiba giliran laporan keuangan, ia hanya berkata, "Silakan, Bendum," lalu mendengarkan dengan sikap yang sama persis seperti rapat-rapat sebelumnya.
Tatapannya biasa saja. Kalimatnya lurus-lurus saja. Akun gosip mana pun akan mati kebosanan kalau harus meliput rapat ini.
Humaira membacakan laporannya dengan suara datar. Selesai rapat, ia langsung membereskan barang dan berjalan keluar paling dulu. Di tangga Pusgiwa, ia berhenti. Mengeluarkan ponsel. Mengetik cepat sebelum ia sempat berubah pikiran.
Gue udah denger dari Mas Rangga. Gue butuh waktu. Jangan tanya-tanya. Jangan berubah di rapat.
Balasan datang tidak sampai satu menit.
Iya. Selama apa pun. Gak akan berubah.
Humaira menatap pesan itu lama. Lalu ia menuruni tangga, berjalan menuju halte bikun, dan baru sadar di tengah jalan kalau ia sejak tadi menggenggam ponsel itu erat-erat di dada.
@@@