Awan mendung jelas di atas kepala, mungkin saja malam ini hujan akan datang dengan segala badainya, seperti angin kencang, kilat dan petir. Suasananya memang seperti menandakan akan terjadi hal-hal buruk, seperti cinta yang tak bisa di pastikan kapan indahnya.
Sore ini, jam terakhir ini perkuliahan di akhiri tanpa satu wajah wanita yang sangat istimewa di matanya, wanita yang sangat memiliki peran penting di dalam hatinya, di mana hatinya tak bernada, dan rasa lesu telah merambat ke dalam puncak cintanya. Kayshifa wanita cantik bagai seorang putri kerajaan tempo dulu telah mengulangi tindakan menyebalkan bagi Nicholas.
Bahkan saat dosen menjelaskan materi di depan kelas, bayangan seputar di tolaknya cintanya oleh Kayshifa menjadi hama pengganggu yang membuatnya tak bisa fokus menangkap materi. Kata siapa dia setangguh hari lalu, kini beda cerita, Nicholas telah merasakan sari-sari dari cinta itu, dia tak lagi menganggap cinta hanya permainan kata atau ilusi saja. Kini dia telah mengerti, tak begitu cukup bermodalkan rupa yang gagah dan kehebatan, tetapi untuk memikat wanita yang di cinta harus benar-benar dengan rasa.
Kini tinggal teman baru bernama Eiji dan Eliosia di depannya, menyemangatinya dengan mengatakan bahwa dia seorang pahlawan kampus, bahkan kini menjadi idola kampus atas sikap keberaniannya. Tetapi kata-kata seperti itu tak lagi membuahkan hasil, nyatanya wanita yang dia cinta tak pernah menganggapnya ada, selalu mendatangkan kebenciannya padanya ketika melihatnya.
Nicholas pun menyadari bahwa di dalam hati Kayshifa sama sekali tak memiliki rasa terhadapnya, percaya diri yang tinggi telah menjebaknya ke dalam lubang yang membuatnya menderita.
“Sudahlah....” kata Eliosia sambil menepuk-nepuk bahunya. Lalu Eliosia pamit pulang duluan, begitu juga dengan Eiji, mereka tak memiliki rencana pergi seperti hari lalu di Cafe kecil ujung jalan di kota Berlin.
Namun ketika kedua temannya yang berasal dari negara berbeda itu telah hilang dalam pandangannya, tiba-tiba terdengar suara gadis kecil di belakangnya menyapa dengan memanggilnya ayah. Nicholas pun menoleh dengan tenang tanpa satu ekspresi kaget, dia hanya mengira gadis kecil berambut pirang itu hanya salah memanggilnya ayah. Lalu dia melangkahkan kakinya ke parkiran mobil menghiraukan gadis kecil berambut pirang itu.
Namun siapa sangka di depannya muncul wanita bertubuh langsing kira-kira setingginya, mengenakan kecamatan hitam, berambut panjang dan pirang. Nicholas melongo, mencoba memastikan bahwa wanita langsing yang berjalan ke arahnya itu hanya wanita yang sama dengan kekasihnya dulu, yang pernah dia tinggalkan diam-diam di hotel dalam keadaan tidur dua tahun lalu. Namun wanita itu dengan pasti tetap berjalan ke arahnya, dan tatapan wanita itu hanya tertuju padanya.
"Viona?" ucap Nicholas tertegun, detak jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena sedang jatuh cinta untuk kedua kalinya pada mantan kekasihnya itu. Tapi dia tau akan ada hal yang kurang enak akan terjadi padanya yang terlihat dari tatapan Viona padanya.
"Jika itu Viona, lalu anak kecil itu siapa?" tanua Nicholas dalam hati pada dirinya sendiri.
Anak kecil itu semakin cepat berlari ke arahnya dan Nicholas masih saja terpaku dengan kejadian yang sangat tiba-tiba ini.
"Hai," sapa Viona saat dia sudah di hadapan Nicholas.
"H-Hai..." jawab Nicholas terbata.
"Aku ingin bicara sesuatu, kamu ada waktu." tanya Viona langsung.
Nicholas tak langsung menjawab, dia melihat raut wajah Viona dan dia juga melihat gadis kecil yang dari tadi tersenyum padanya itu.
"Apa kau bisa?" tanya Viona mengulang.
"Oh, iya.. Iya aku bisa." jawab Nicholas masih terbata karena masih shock melihat kedatangan Viona.
Mereka dudu di bangku taman dekat kampus Nicholas, tempat itu mereka pilih karena cukup tenang dan juga aman untuk anak kecil bermain jika harus bermain sendiri.
"Kamu belum tanya siapa nama anak kecil itu?" ucap Vioma membuka obrolan mereka.
"Maaf, aku lupa. Jadi, siapa nama anak itu?" tanya Nicholas mencoba untuk tenang.
"Dia, Eliza. Anak kita!" jawab Viona telak pada Nicholas.
Mendengar itu Nicholas terkejut, bagaimana mungkin dia memiliki anak dari Viona sedangkan hubungan mereka sudah lama kandas.
"Apa maksud mu? Apa kau sedang ngelantur?" bentak Nicholas karena kaget.
"Kamu tega sekali tidak mengakui anak mu, kau bahkan dengan sangat jahat meninggalkan aku begitu saja." Viona mulai menangis.
"Dengar ya Viona, kita pernah memiliki hubungan. Tapi tidak mungkin jika kita memiliki anak, coba kau ingat-ingat lagi dengan siapa saja kau tidur?" jawab Nicholas dengan sangat jahat.
Terlepas dari sikap jahatnya, memang Nicholas tidak pernah merasa jika dia akan memiliki anak dengan Viona dari hubungan mereka dulu, Nicholas sangat yakin itu.
"Kamu memang jahat Nicholas!" Viona menampar pipi Nicholas karena merasa kesal.
"Jika memang benar anak ku, aku akan bertanggung jawab. Tapi, jika tidak. Tolong jangan ganggu aku lagi. Kita sudah selesai Vi. Aku akan membawa mu ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA." ucap Nicholas tetap tenang meskipun dia sudah sangat muak dengan Viona.
"Kau keterlaluan Nicholas." jawab Viona.
"Bagaimana? Apa kau takut Vi?" tanya Nicholas dengan tatapannya yang mengintimidasi.
Viona memang tidak akan berani dengan tawaran Nicholas itu, karena Eliza memang bukan anak dari Nicholas. Dia hanya ingin memanfaatkan Nicholas untuk menanggung semua kebutuhan hidupnya dengan Eliza. Tapi Nicholas tak sebodoh itu, bahkan dengan sangat tagas Nicholas menolak bahkan tidak percaya jika Eliza itu memang putri kandungnya.
"Sudahlah, jangan membuang-buang waktu ku. Berapa uang yang kamu butuhkan? Pergilah. Karena sampai kapan pun aku tidak mengakui Eliza itu anak ku." Nicholas menatap Viona tajam.
"Cukup Nicholas." teriak Viona karena merasa terancam. "Aku tidak butuh uang mu!" jawabnya tegas. Viona memanggil Eliza dan membawanya pergi dari tempat itu dan meninggalkan Nicholas.
"Ada-ada saja wanita gila itu." ucap Nicholas merasa heran dengan kelakuan Viona yang masih saja belum berubah. Sikapnya yang seperti itu yang membuat Nicholas meninggalkannya, dia memang pantas dipermainkan tapi untuk menjadi seorang istri masih banyak wanita lain diluar sana, fikir Nicholas.
Nicholas memang tidak suka pada wanita yang hanya mengejar hartanya, baginya jika dia bisa di manfaatkan dia pun bisa berlaku seperti itu. Dia sudah sangat tertarik pada Kayshifa dan tidak akan membiarkan siapa saja yang menghalangi jalannya atau bahkan orang yang berani-berani membuat kayshifa semakin tidak menyukainya.
Dari kasus kemarin, wanita yang merusak mood Kayshifa dan sekarang wanita masa lalunya yang mengaku jika Nicholas adalah ayah dari anaknya, itu benar-benar sudah cukup membuat dia frustasi. Rasanya hari-hari Nicholas selalu saja di warnai dengan wanita yang membuat suasana semakin kacau, malah wanita yang dia inginkan sekarang membencinya.