Kalau harus ku mengingatmu lagi
Aku takkan sanggup dengan yang terjadi pada kita
Jika melupakanmu hal yang mudah
Ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah
Kalah, kuakui aku kalah
Cinta ini pahit dan tak harus memiliki
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih
Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau
Membawa kamu lewat mesin waktu
Mesin waktu, song by Budi Doremi
Alunan lirik yang begitu pas menggambarkan suasana David saat ini. Sambil mengemudikan mobilnya, audio memutar lagu itu berulang-ulang, Bahkan David sampai hafal liriknya sekarang. Sedari keluar dari basemen tadi ia hanya memutar lagu itu dari list favoritnya. Seolah ikut bersedih, gerimis tiba-tiba turun. David masih mengemudikan mobilnya tanpa tahu kemana tujuannya. Jarak dari kantor menuju rumahnya cukup dekat, hanya sekitar lima belas menit perjalanan kalau tidak macet, tapi ini sudah lebih dari empat puluh menit ia hanya berputar-putar di sepanjang jalanan ibu kota tanpa punya tujuan.
David tadi keluar dari kantor sebelum jam pulang kerja, ia hanya berpesan pada Ayu, sekretarisnya kalau ia akan keluar dan sekalian pulang karena ada urusan. Setelah pulang dari janji makan siang bersama Laura tadi, David merasa tak bersemangat. Pupus sudah harapannya untuk bisa menikahi ibu dari putranya itu. Tadinya ia masih berharap Laura akan luluh dengan segala bujukannya untuk menikah dengan dalih kebahagiaan Devan, tapi sepertinya hati gadis itu telah mantab memilih Andre. Tak ada keraguan sedikitpun di raut wajah Laura saat menolaknya. Gadis itu benar-benar sudah move on darinya, tinggal ia yang masih terjebak dalam perasaan cinta yang telambat ia sadari.
Penyesalan memang selalu datang belakangan. Yang paling ia butuhkan mungkin adalah mesin waktu yang bisa membawanya kembali ke masa lalu. Ia ingin memulai lagi semuanya secara benar, dengan niat yang tulus semata-mata karena cinta dan bukan dendam seperti dulu. Tapi semua itu tak mungkin bukan? Apa yang sudah terjadi tak mungkin bisa diulang kembali.
Tanpa disadari mobil yang dikendarainya telah mengarah menuju tol jagorawi. David hanya mengemudi mengikuti instingnya. Ia tengah patah hati karena seorang Laura, jadi ia butuh penghiburan dari seseorang yang memang mempunyai hubungan sangat dekat dengan wanita itu, yaitu Devan, putra mereka. Mungkin itulah yang membuat alam bawah sadarnya menuntunnya mengemudi ke tempat Devan tinggal.
Karena masih belum jam pulang kerja jadi lalu lintas di jalan tol pun lumayan lancar sehingga dalam waktu satu jam David telah sampai di depan pagar rumah bik Tuti. David menghentikan mobil tapi tak mematikan mesinnya. Ia hanya terdiam sambil memegangi setir sampai sebuah ketukan di kaca mobil mengagetkannya. Seraut wajah yang memang ingin dijumpainya nampak dibalik jendela mobil. David segera menurunkan kaca mobil.
"Papa," panggil Devan sambil tersenyum lebar, "Koq papa diam disini?"
"Iya, papa baru sampe," jawab David, "Devan dari mana?"
"Aku baru pulang ngaji di masjid pa," jawab Devan.
David baru menyadari kalau putranya itu memang mengenakan seragam sebuah TPA lengkap dengan pecinya.
"Aku buka gerbangnya ya supaya mobil papa bisa masuk ke dalam," ujar Devan yang langsung bergerak membuka gerbang. David tersenyum memperhatikan putranya yang nampak tampan dengan seragam mengajinya itu.
Setelah gerbang dibuka lebar David pun memasukkan mobil ke arah halaman dan memarkirnya tepat di depan teras. Devan nampak sedang menutup kembali gerbang yang tadi dibukanya. David mematikan mesin mobil lalu keluar dari dalam kendaraan itu. Ia berdiri menunggu Devan yang berjalan menghampirinya setelah menutup gerbang.
"Ayo pa, masuk," ajak Devan.
David mengiyakan dan merangkul bahu putranya, mereka berjalan berbarengan ke arah pintu masuk rumah.
"Assalamualaikum," Devan mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam," terdengar sahutan dari arah dalam rumah.
"Neeek," panggil Devan, "Papa datang."
Tak lama seorang perempuan paruh baya muncul dari arah dapur.
"Eh, ada nak David, silakan duduk nak," sapa bik Tuti.
David menyalami wanita itu dan duduk di kursi ruang tamu sementara Devan telah masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
"Sendiri aja?" tanya bik Tuti lagi.
"Iya bu, saya tadi dari kantor,"
"Ooh, sebentar ibu buatkan minum dulu ya," ujar bik Tuti sambil beranjak ke belakang.
David tak sempat melarang karena wanita itu telah menghilang dibalik pintu dapur. Sebenarnya ia tidak haus. ya saat ini ia memang tidak ingin makan dan minum apa pun, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja yang membuat selera makan dan minumnya pun lenyap. Untunglah tak berapa lama Devan sudah keluar dari kamar. Anak itu mengenakan jersey sebuah club sepak bola internasional.
"Sini, duduk dekat papa," panggil David pada putranya.
Devan pun menghampiri dan duduk di sebelahnya.
"Kita jalan-jalan yuk?" ajak David
"Kemana pa?"
"Terserah Devan maunya kemana."
"Tapi besok bukan hari libur, Devan harus belajar," kata Devan. Walaupun sebenarnya ia ingin tapi anak itu teringat pesan bundanya bahwa kalau bukan hari libur ia harus belajar.
"Devan ada PR?" tanya David.
"Ada, tapi udah dikerjain tadi siang," jawab Devan.
"Kalau gitu gak ada masalah dong, kan PR udah selesai," kata David.
"Tapi kata bunda..,"
"Panggil bunda, biar papa bicara sama dia," potong David agak kesal. Hal apapun yang akan Devan lakukan pasti anak itu meminta ijin dulu pada bundanya, padahal gadis itu bukan ibu kandungnya tapi memiliki pengaruh besar pada Devan.
"Tapi bunda lagi ngajar pa," ujar Devan.
David menghirup nafas panjang untuk melegakan dadanya dan menurunkan emosinya yang mulai naik. Tapi ia tak mau lepas kendali di hadapan Devan. Dulu ia pernah melakukannya dan berujung Devan malah merajuk sehingga rencananya mengajak anaknya pergi jalan-jalan malah gagal.
"Devan tahu dimana bunda ngajar?" tanya David, anak itu menganggukkan kepalanya, "Jam berapa selesainya?"
"Tahu. Bunda mengajar di Griya Lembah, selesainya jam lima sore," jawab Devan.
David mengangkat tangan kanannya untuk melihat arloji di pergelangan tangannya, masih pukul empat lewat dua puluh menit.
"Ya udah, kita susul bunda dan ajak pergi sekalian, kalau perginya cepat kan pulangnya nanti juga gak terlalu malam," janji David.
Seketika raut wajah Devan berbinar cerah dengan bersemangat anak itu masuk ke dalam hendak menemui neneknya.
"Nek, nek," panggil Devan.
Bik Tuti yang baru saja mematikan kompor yang digunakan untuk memasak air segera meninggalkan pekerjaannya dan keluar dari dapur.
"Ada apa sayang, koq teriak-teriak?"
"Papa ajak aku jemput bunda di tempat ngajar, terus kita mau jalan-jalan, boleh kan nek?"
Bik Tuti tertawa, "Ya boleh, tapi papanya belum minum, ini nenek baru mau buat tehnya."
"Tidak usah repot-repot bu," ujar David menimpali, "Saya tadi juga baru minum di jalan. Kami langsung berangkat saja supaya nanti pulangnya juga tidak kemalaman kan Devan besok harus sekolah."
"Ya sudah kalau begitu, Devan mau ganti baju?" tanya bik Tuti.
"Gak usah nek, pakai baju ini aja," jawab Devan.
"Celananya aja ganti yang panjang ya, supaya nanti mudah kalau mau sholat magrib," usul bik Tuti.
Devan pun menuruti perintah neneknya dan masuk ke dalam kamar untuk mengganti celananya. Tak lama anak itu sudah keluar lagi sambil menenteng sepatu. Ia duduk di sofa lalu mengenakan sepatu. Setelah itu Devan mencium tangan neneknya.
"Devan pergi dulu ya nek," pamitnya.
"Iya, hati-hati ya sayang,"
"Kami berangkat dulu bu," David pun ikut berpamitan.
"Ya nak, hati-hati."
Ayah dan anak itu masuk ke dalam mobil. Devan melambaikan tangan pada neneknya ketika mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Sore itu jalanan lumayan ramai karena orang-orang sudah mulai pulang kerja.
"Devan mau jajan? Kita mampir ke minimarket dulu ya," ajak David sambil menghentikan mobil di depan sebuah minimarket.
Dalam waktu lima belas menit mereka sudah keluar lagi dari dalam minimarket dengan menenteng dua kantong belanja yang penuh dengan jajanan. David meletakkan kantong belanjaan itu di kursi belakang lalu mulai melajukan mobilnya lagi. Devan menjadi pemandu yang menunjukkan jalan ke tempat Dian mengajar. Rupanya Dian pernah mengajak Devan ketika mengajar dulu karena saat itu kebetulan bik Tuti sedang pulang ke Sukabumi menengok adiknya dan Devan tidak ada yang menemani di rumah.
Devan yang duduk di kursi depan beberapa kali menoleh ke arah kursi belakang dengan wajah sedikit khawatir.
"Kenapa?" tanya David pada putranya, "Devan mau makan snack?"
Devan menggeleng.
"Nggak pa," jawab anak itu, "Devan takut bunda marah kalau jajan banyak-banyak seperti ini, kata bunda kita gak boleh boros-boros dan terlalu banyak jajan juga tidak baik."
Perkataan anaknya sedikit menyulut emosi David. Laki-laki itu tidak terima anaknya dibatasi keinginannya. Sebagai ayah kandung, David merasa tidak dihargai dan dianggap tidak mampu menafkahi anaknya sendiri. Boros? Aku bahkan mampu membelikan supermarket beserta isinya untuk Devan, gerutu David. Ia ingin Devan hidup berkecukupan dan mendapatkan semua yang diinginkannya tanpa harus memikirkan keadaan ekonomi dari orang tuanya. Memikirkan hal ini semakin membulatkan tekad David untuk segera membawa Devan pindah ke rumahnya agar ia bisa leluasa merawat dan memenuhi semua keinginan anaknya itu tanpa ada yang menghalangi atau menakut-nakuti anaknya akan kehabisan uang hanya karena ingin membeli jajanan.
"Kalau bunda marah, biar nanti papa yang bicara sama bunda," ujar David untuk memenangkan Devan.
Devan langsung menoleh ke arah papanya dengan pandangan khawatir.
"Tapi papa jangan marah-marah sama bunda kayak dulu lagi ya," ujar Devan dengan sinar mata mengandung permohonan.
David sedikit tersentil dengan perkataan anaknya. Dulu sewaktu dia marah pada Dian memang Devan sempat melihatnya karena saat itu ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya akibat rencananya yang gagal untuk mengajak Devan Jalan-jalan dan dipengaruhi juga oleh suasana hatinya yang sedang tidak bagus karena memikirkan Laura yang terus saja menolak ajakannya untuk menikah.
"Nggak koq, papa gak akan marah sama bunda," ujar David tersenyum sambil mengacak rambut anaknya.
Mendengar janji papanya, Devan pun merasa lega dan mengembalikan posisi duduknya ke arah depan.
"Itu pa, rumahnya yang cat hijau dan pagarnya putih," tunjuk Devan ke arah rumah yang berjarak sekitar lima puluh meter di depan mereka.
"Itu ya? Kalau begitu papa putar balik dulu ya supaya nanti kalau mau keluar gampang," sahut David lalu terus melajukan mobil sampai ujung jalan dan memutar balik lalu berhenti di sisi jalan rumah hijau itu.
"Ok, kita tunggu disini aja ya," kata David setelah menarik tuas rem tangan, "Masih lima belas menit lagi, Devan mau makan snack? oh, atau es krimnya dimakan dulu ya, nanti mencair kalau kelamaan."
David membuka seatbelt-nya lalu menyorongkan tubuhnya dan meraih satu kantong belanja dari kursi belakang. Ia mengaduk-aduk isi kantong belanja itu sampai menemukan barang yang dicarinya lalu memberikannya pada anaknya. Devan menerima dengan wajah berbinar saat papanya memberikan satu cup es krim rasa coklat untuknya, sementara David memilih rasa vanila untuk dirinya sendiri.
Kedua laki-laki beda usia itu asik menikmati es krim dan saling bertukar rasa mencicipi es krim milik yang lainnya.
"Hhmm, rasa vanila enak juga ya pa," komentar Devan.
"Sudah pasti, papa dari kecil suka es krim rasa vanila," ujar David.
"Kalau mama suka rasa apa pa?"
"Mamamu suka rasa coklat, persis seperti kamu," kata David yang membuat Devan tersenyum bahagia karena memiliki selera yang sama dengan Laura.
Ya, David tentu saja hafal apa yang disukai dan tidak disukai oleh Laura. Hampir dua tahun menjalin hubungan membuatnya tahu selera mantan kekasihnya itu. Mengingat gadis itu membuat hatinya serasa dicubit. Memang karma selalu bisa menemukan jalannya. Dulu ia yang menyia-nyiakan Laura sekarang gadis itu malah yang menolaknya mentah-mentah. Aah, begini rasanya patah hati.