Author’s POV
Austin tengah mengerjakan tugas kuliahnya dan sedari tadi ia tidak bisa fokus. Ia terus memikirkan apa yang Laura pinta tadi. Ia berbohong jika ia tidak mengkhawatirkan gadis itu jika ia melakukan hal tersebut. Dalam benaknya ia berpikir, bagaimana jika gadis itu menjadi bahan bullyan siswa lainnya.
Dan jikalau identitas gadis itu terbongkar, hal buruk pasti akan terjadi. Gadis itu bisa saja dituduh menyelewengkan kekuasaannya untuk mendapatkan prestasi di sekolah tersebut. Bisa saja ia cap sebagai pembohong karena orang akan menyangka usahanya untuk mendapatkan nilai yang bagus adalah usaha yang palsu.
Padahal gadis itu selalu berusaha dengan sendirinya untuk mendapatkan prestasi dengan usahanya sendiri tanpa campur tangan orang tuanya. Austin menghela napas berat, ia melepas penanya dan memilih untuk menyandarkan tubuhnya di kursi dan menutup matanya. Ia merasa tidak nyaman dengan pemikirannya saat ini.
Selain lelah karena tugas yang begitu banyak, ia juga memikirkan sang adik yang memilih jalan hidup seperti itu. Sebenarnya ia mengerti mengapa gadis itu memilih untuk menutupi paras cantiknya dan benci jika ia menjadi sorotan orang banyak.
Semua itu karena trauma masa lalunya.
Ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gadis itu untuk bersikap seperti itu. Ia juga merasa gagal sebagai sang kakak yang tidak bisa menjaga adiknya. Jadi ia sendiri tidak berani bercakap banyak mengenai keputusan gadis itu untuk menutupi parasnya yang cantik itu.
Pria itu bangkit, ia tidak bisa terus mencemaskan Laura seperti ini. Ia akan menemui Laura dan mencoba untuk menyakinkannya untuk mencoba melawan trauma yang pernah ia dapatkan. Sekaligus ia juga ingin membahas mengenai rumah kecil yang akan ia tempati sendiri.
Ia tidak suka jika Laura memilih untuk tinggal di rumah tersebut dan ia tidak setuju dengan ide itu.
Austin berjalan keluar kamarnya dan melangkah ke kamar Laura. Ia mengambil napas sejenak sebelum dia mengetuk pintu kamar Laura,
“Laura...” panggil Austin, mengetuk pintu kamar gadis itu yang sedang berbaring di ranjangnya. Begitu Laura mendengar suara itu, ia langsung bangkit dan menghampiri Austin yang sudah menunggunya di balik pintu.
Dia melangkah dengan cepat, membuka pintu untuk kakaknya.
“Ada apa kak?” ujarnya sembari menutup kembali pintu kamarnya.
Austin tampak sangat gugup, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ”Ada hal yang ingin kukatakan kepadamu,” ujarnya, membuat jantung gadis itu berdetak semakin cepat,
“Apa ini? Ada apa dengan kak Austine?” batinnya dengan penasaran,
“Ikut aku,” ujarnya, yang diangguki gadis itu. Pikirannya terus berpikir, apa gerangan hingga pria itu memintanya untuk berbicara 4 mata seperti ini? Dia mengikuti Austin yang membawanya ke taman kecil di belakang rumah mereka. Disana, Austin memberikannya tempat untuk mereka duduk bersama,
Keadaan masih sangat sunyi, bukan hanya Austin yang gugup, tapi juga Laura yang sudah lama menaruh perasaan cintanya terhadap Austin juga ikut gugup bersama,
“Anu, gimana ya...” ujarnya, membuat gadis itu memiringkan tubuhnya untuk ia menatap kepada kakak angkatnya,
“Ada apa kak?” ujar gadis itu dengan penasaran. Austin sempat menggaruk tengkuknya sejenak karena bingung mau memulai percakapan darimana. Namun tidak lama setelah itu, ia menegapkan pendiriannya dan mulai untuk membicarakan hal yang sedari awal memang ia ingin bahas kepada gadis itu.
“Mengenai tadi... apa kamu yakin dengan semuanya itu?” ujar Austin, sebelum dia menatap adiknya dengan khawatir. Ia mengkhawatirkan dengan bullyan yang mungkin saja ia terima dari teman-teman sekolahnya.
Laura tersenyum dengan manis,”Yakin kak...” ujarnya dengan yakin.
“Mengenai kamu pindah rumah, kakak sedikit tidak menyukainya. Lebih baik kamu tinggal bersama dengan kami saja daripada kamu tinggal sendirian disana. Berbahaya loh kalau tinggal sendirian,” ujarnya dengan serius,
“Kan ada kakak dan papa, kalian ajarkan aku untuk bela diri,” ujarnya dengan polos,
“Tapi Laura, kamu ini perempuan. Bahkan untuk ukuran seorang pria untuk menghabisi 3 orang saja sudah kewalahan. Apalagi kamu…”
“Hmm… gimana ya…” ujarnya yang sebenarnya setuju dengan perkataan Austin. Namun tidak lama kemudian ia punya ide,
“Bagaimana jika aku membawa Hannah bersama denganku? Kami tinggal bareng saja berdua,” ujarnya dengan cemerlang. Meskipun ide itu sangat bagus, tapi tetap saja Austin masih belum setuju,
“Kalian berdua itu perempuan tau!”
“Oh, kakak mau aku undang teman lelakiku untuk tinggal bersama denganku?” ujarnya yang membuat pria itu terdiam sejenak. Melihat Austin yang tidak bergeming, gadis itu tersenyum penuh dengan kemenangan. Austin tampak tidak bisa membantah apa yang gadis itu katakan,
“Yaudah… kakak ngalah deh… kakak akan ajarkan kamu untuk bela diri mulai besok,” ujarnya yang diangguk senang oleh Laura.
“Yah... tapi sayang banget, kakak gak bisa ke sekolah kamu dong...” ujarnya sembari memanyunkan bibirnya
“Huh? Mau ngapain ke sekolahku?” tanya gadis itu dengan bingung,
“Tebar pesona,” ujarnya dengan pede. Laura memukul kakaknya itu dengan kesal,
“Tidak tahukah kakak aku kewalahan saat dulu kakak ke sekolah untuk mengambil raportku!” ujar gadis itu dengan kesal yang mendominasi perasaannya. Namun tidak ditampik kalau dia juga sedikit cemburu dengan itu. Bahkan jika dia ingin mengingatnya lagi, ia ingin sekali mengunyah hidup-hidup semua teman perempuannya yang sangat merepotkan itu,
“Oh begitu kah? Huhuhu adikku yang malang...” ujarnya mengejek gadis itu karena sudah direpotkan olehnya.
Laura menggembungkan pipinya dan melipat tangannya, membuang pandangannya terhadap kakaknya yang sekarang merasa bingung untuk menenangkan adiknya yang sedang ngambek kepada dirinya,
“Iya iya... cup cup sini,” ujarnya yang mengambil dagu gadis itu agar gadis itu kali ini bisa menatapnya
“IH! Aku bukan bocah kak!!” ujar Laura, yang semakin membuang pandangannya bahkan tubuhnya juga menolak keberadaan Austin,
Sementara Austin, dia bingung karena ia tidak tahu cara untuk menenangkan adiknya, Laura.
“Ra...” panggilnya, memastikan jika gadis itu tidak mengabaikannya karena marah,
“Apa,” jawab gadis itu dengan ketus. Tentu saja dia masih membuang pandangannya dari Austin.
“Jangan disimpan semuanya sendiri ya...” ujarnya, melunakkan sisi Laura yang sempat mengeras. Laura mulai berbalik dan menatap kakaknya yang sedang serius menatapnya,
“Nanti kalau ada yang bully kamu, bilang ya. Biar aku habisin dia,” ujarnya tanpa ampun. Ia terlihat sangat serius dengan perkataan tersebut.
Laura tertawa dengan apa yang Austin katakan,”Kalau yang bully aku cewek, kakak apain? Ya kali kakak hajar hahaha,” ujarnya dengan tawa yang renyah sekali.
“Aku gak perduli, baik cowok ataupun cewek. Pokoknya, jangan disimpan semuanya sendiri. Kakak selalu ada untuk kamu loh...” ujarnya, melunakkan sekaligus membuat gadis itu semakin menyukainya.
“Iya kak...” ujar gadis itu dengan senyuman yang ia paksakan. Ia ingin sekali berkata kalau dia sangat menyukai kakaknya, Austin. Hanya saja, berapa kalipun dia berkata itu, Austin hanya menganggapnya sebagai rasa suka sebagai adik kakak.
“Kak...”
“Hmm..?”
“Aku sa-yang kakak,” ujarnya yang menghamburkan tangannya untuk memeluk Austin. Austin tersenyum tipis dan memeluk adik kecilnya yang juga ia sayangi,
“Iya... kakak juga sayang sama adik kecil kakak,”