Dua menit menuju titik pelepasan,” Hayes menekan tombol headset Ops-Core.
Di depannya layar Panasonic Toughbook berpendar biru, memantulkan grafik telemetri C-17 Globemaster III yang berguncang pelan.
Di balik sekat kokpit, Duke masih berjuang menjaga stabilitas pesawat di kecepatan jelajah tempur.
“Satelit militer sudah mengunci bunker Zahran.” Hayes mengetuk layar, memutar peta topografi 3D yang langsung mengunci dalam jaringan rahasia.
“Sinyal pengacau kita tembus. Radar pemberontak mati total untuk empat puluh menit ke depan,” Caleb bergeser di samping stasiun siber. Jemarinya lincah mengetik di atas papan ketik nilon.
“Badai pasir bergerak cepat dari barat daya.” Hayes menunjuk grafik sensor cuaca yang memerah. “Kecepatan angin enam puluh knot. Tiga puluh menit lagi, debu silika bakal menyapu bersih jarak pandang. Kita balapan dengan waktu.”
Jax memeriksa pin granat termit pada rompi balistiknya. Dia terkekeh sinis. Pandangannya beralih ke arah ke speaker interkom yang terhubung langsung ke kokpit.
“Kita nekat menerobos badai demi satu aset, Duke?” Jax menyentak tali d**a parasutnya, memastikan posisinya sudah mengunci pas. “Kudengar dia putri mahkota. Manja. Apa kita perlu membawa sekoper kosmetik juga? Atau gaun sutra zamrud agar dia mau melangkah keluar bunker?”
Red Gallagher tertawa pendek dari balik masker wajah multicam black. “Jangan lupa cermin besar, Jax. Wanita istana tidak bisa hidup tanpa minyak wangi.”
Lieutenant Commander James Brandon duduk bersandar di ujung barisan. Kedua lengan kekarnya menyilang kokoh di depan d**a. Mata setajam elang dengan pupil sebiru lautan gelap itu terbuka.
Dingin. Tajam. Bagai patung marmer.
Lengannya turun. Tangan kanannya menyambar laras senapan serbu HK416 berperedam penuh.
“Simpan lelucon kalian untuk pemakaman b******n yang akan kita bantai di bawah. Fokus pada tali parasut kalian, aku tidak sudi mengubur kalian di sini.”
Rendah. Datar. Dan berbahaya.
Kabin C-17 sunyi. Fokus sepuluh pasukan elite DEVGRU lurus ke arah Sang Commander.
James bangkit berdiri. Dia menggeser tuas pengaman HK416.
Klik.
“Target adalah Sheikha Fatima,” James menatap kru DEVGRU satu per satu dengan kalkulasi dingin. “Bukan turis Pentagon. Dia komoditas termahal Kerajaan Umm Al Quwain. Di kepalanya tersimpan informasi yang bisa menyebabkan perang global. Misi kita adalah ekstraksi murni. Hidup.”
James melangkah menuju pintu ram kargo. Miller dan Smith berdiri mengikuti di belakang. Ghost Thorne dan Vance Creed memeriksa pasokan magasin terakhir.
Lampu indikator di atas pintu ram berubah warna. Merah menjadi hijau terang.
BZZZZZT!
Pintu ekor pesawat mendesis terbuka lebar. Tekanan udara gurun Zahran menyembur masuk bersama material silika tajam. Suhu kabin merosot drastis di bawah nol derajat. Kegelapan gurun Zahran tampak seperti lubang hitam di bawah mereka.
James Brandon menurunkan kacamata malam GPNVG-18 empat lensa. Pandangannya berubah menjadi pendaran hijau terang yang penuh data digital.
“Jarak aman mendarat dua kilometer dari bunker.” James menekan tombol push-to-talk di rompi tempur. “Formasi V. Jangan ada yang tertinggal.”
James Brandon melangkah tanpa ragu, terjun bebas ke dalam badai malam gurun Zahran.
Sembilan pasukan elite DEVGRU menyusul di belakang. Bergerak seperti bayangan maut yang meluncur dari langit.
***
Zahran, 02.14 dini hari.
Bunker Tua—proyek bayangan masa lalu yang sengaja dihapus dari peta resmi Kerajaan Umm Al Quwain di bawah samaran reruntuhan purba.
“Tarik nafasmu, Jenderal. Dan tenanglah,” suara Sheikha Fatima lembut, “Detak jantung yang terlalu cepat bisa membuat pendengaranmu tumpul.”
Jenderal Khaleed menghela nafas. Lima puluh pengawal pilihan dan yang tersisa hanya mereka berdua.
Sheikha Fatima membutuhkannya.
Ia berlutut di depan Fatima. Tanpa sepatah kata pun, tangan kanannya yang dibungkus sarung tangan tempur Oakley meraih khimar Sheikha yang koyak.
“Maaf, Sheikha. Saya telah gagal menjaga kehormatan anda,” suara Khaleed bernada menyesal dan wajahnya muram.
Sheikha Fatima mengangguk kecil. Gaun sutra indahnya berwarna hijau zamrud kini robek di bagian keliman. Ternoda oleh jelaga hitam minyak pelumas senjata. Sementara khimarnya terkoyak oleh sabetan pedang yang nyaris menembus punggungnya beberapa jam lalu.
“Bertahan bersamaku sedikit lagi, Jenderal,” kata Fatima, tidak panik. “Rabb kita tidak akan meninggalkan kita,” lanjutnya dengan keyakinan yang kuat.
Jenderal Khaleed mengangguk penuh tekad, “Dengan nyawaku, Sheikha.”
Hening beberapa saat.
“Udaranya berubah,” bisik Fatima. Alisnya berkerut. Kepalanya bergerak sedikit miring ke kiri saat telinganya menangkap dengung getaran rendah yang samar. Getaran halus itu merayap menembus dinding beton bunker.
“Dengung statis dari lampu indikator radio mati. Ada tekanan gelombang tinggi di udara yang melumpuhkan frekuensi. Sinyal komunikasi kita baru saja diputus total.”
“Badai pasir meredam komunikasi kita, Sheikha.” Khaleed berdiri, melepaskan cengkeraman dari khimar, bergerak mundur ke arah pintu besi.
Klik.
Pistolnya di tarik dari sarungnya.
“Bukan badai pasir,” Fatima bergerak dari posisi duduknya. “Itu perangkat pengacak sinyal. Frekuensinya membuat gendang telingaku berdenyut nyeri.”
Khaleed menahan napas, “Pemberontak Tariq?”
“Bukan,” Fatima menatap lurus dalam kegelapan, “Tariq tidak memiliki teknologi secerdas ini.”
“Lalu siapa?”
Fatima menggeleng, “Aku tidak tahu,” ia melangkah mundur dua langkah, “Tetapi ini bukan pasukan lokal. Bobot langkah mereka berbeda.”
“Jaringan pembunuh international?” d**a Khaleed sesak dipenuhi tekad muram. Ia bergeser cepat ke arah Fatima. Memblokir seluruh sudut tembak dari arah pintu. Ibu jarinya menarik slide senjata ke belakang.
Klik-klak. Satu peluru sudah masuk di dalam kamar laras pistolnya.
“Mereka sudah di luar, Jenderal,” Fatima menahan napas, “Bukan untuk bernegosiasi. Mereka membawa kematian.”
Di balik dinding kamuflase, udara ruangan mendadak terasa membeku. Embusan angin bawah tanah membawa bau mesiu samar.
Jantung Fatima berdetak secepat lokomotif. Predator malam sudah berada di depan pintu.
***
BLAAM!
Pintu besi tebal berdentang keras saat engsel bajanya hancur. Debu beton dan batu pasir meledak ke dalam ruangan.
Tersulut tekad melindungi dan jiwa seorang jenderal sejati, telunjuk Khaleed bergerak menekan picu senjata.
TAUP!
Satu dentum berperedam melesat lebih cepat dari arah pintu. Peluru menyambar punggung tangan kanan Khaleed, merobek kulit dan melumpuhkan sarafnya seketika.
Pegangan Khaleed goyah. Jari-jarinya mati rasa. Pistolnya terlepas, jatuh menghantam lantai beton dengan bunyi dentang nyaring.
Sang jenderal mengerang rendah, tapi menolak mundur. Dia tetap tegak, mempertahankan posisi benteng manusia di depan Fatima.
Tujuh kawanan merangsek masuk melalui asap debu.
Formasi mereka memecah dengan presisi mematikan. Pakaian tempur multicam black menyatu dengan bayangan. Kacamata malam GPNVG-18 empat lensa di atas dahi mereka memancarkan bias hijau samar.
Moncong senapan salah satu kawanan terkunci mati pada d**a Khaleed. Siap eksekusi pada tarikan nafas pertama.
Ruang isolasi kedap udara itu seolah mati.
Dan dari kegelapan luar, Sang Commander bergerak maju sambil memanggul senapan serbu HK416 berperedam di pundaknya. Tenang, namun berbahaya.
Jantung Jenderal Khaleed berdetak cepat membentur dadanya.
Sang Commander memindai seisi ruangan melalui tatapan yang setajam elang dengan pupil sebiru lautan gelap. Ia menekan tombol push-to-talk pada rompi tempurnya.
“Markas, ini Falcon-1. Primary Package terkonfirmasi hidup. Sektor interior bersih.”
Pria itu menurunkan pandangan. Kalkulasi dinginnya terkunci pada Jenderal Khaleed, lalu bergeser pada wanita bertubuh mungil di belakang Sang Jenderal.
“Turunkan sisa senjatamu, Jenderal,” katanya dalam bahasa arab yang fasih, “Kau kalah jumlah.”
Jenderal Khaleed meludah sinis ke lantai, “Darah jenderal tidak akan pernah tunduk pada moncong senapan pembunuh bayaran.” Tangan kirinya bergerak gesit ke arah pinggang, menyentak hulu pedangnya.
TAK!
Gerakan Sang Commander tak terprediksi. Begitu cepat, melesat seperti kilat. Sepatu boot Solomonnya menghentak turun di atas punggung kaki Jenderal Khaleed, membuat veteran itu kehilangan tumpuan berat badan pada lantai beton.
Di saat yang sama, siku kiri Sang Commander menghantam pangkal lengan atas Khaleed, persis pada simpul saraf brakialis.
Saraf lengan kiri Khaleed mendadak lumpuh. Bilah pedang yang baru keluar lima sentimeter macet. Hulu pedang terlepas dari genggaman. Sang Jenderal kehilangan seluruh daya pertahanannya dalam sekejap.
Detik berikutnya, Khaleed mengerang rendah. Otot rahangnya bergetar menahan perih yang membakar lengan.
James tidak mundur. Ia menatap mata Jenderal Khaleed dengan tatapan yang membakar, “Lieutenant Commander James Brandon. Angkatan Laut Amerika Serikat,” suara baritonnya bergema. Ia menggeser sedikit sudut pandangannya ke belakang Khaleed, “Subjek terkonfirmasi. Misi kami adalah mengekstraksi Sheikha Fatima hidup-hidup.”
James kembali menatap Khaleed. Membiarkan keheningan malam gurun menekankan bobot kata-katanya. “Demi Amerika, kami sekutu, Jenderal.”
Jenderal Khaleed jatuh dengan kedua lutut membentur lantai. Dan ia bertakbir.
Di sisi lain, Sheikha Fatima memejam sejenak. Gemetar di tubuhnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa aman yang ganjil. Ia membisikkan kalimat hamdalah, lirih penuh rasa syukur.
Sang Commander fokus pada target.
Beberapa makhluk di alam di anugrahi kecantikan melalui teksturnya yang halus atau bentuk simetrinya yang rumit. Contohnya bunga. Sayap elang. Cangkang kura-kura. Kristal salju.
Wanita muda di depannya berbeda. Seolah semua keindahan alam semesta terserap ke dalam dirinya.
Khimarnya robek oleh sayatan pedang, tetapi tidak ada tanda trauma yang hebat. Tidak ada bercak air mata atau ekspresi ketakutan di wajahnya. Tidak ada kilatan emosi di matanya, tenang bagai air telaga mati.
James terusik.
***