Givenchy tidak menyangka apa yang dikatakan Dimas benar. Parama datang, membelikan makanan, dan sekarang sedang duduk berhadapan dengannya di meja makan. Untung saja orangtuanya sedang pergi jadinya tidak perlu diberondong berbagai macam pertanyaan soal Parama. Dan entah kebetulan atau tidak, tetapi Parama membeli nasi goreng di tempat langganan yang menjadi kesukaannya.
“Lo beli nasi goreng Pak Mamat ya di perempatan sebelum masuk perumahan sini?” tanya Givenchy memulai obrolan setelah sekian lama diam, dan hanya fokus makan.
“Iya. Gue mau beliin deket rumah tapi nggak ada yang enak. Jadi gue cari deket rumah lo aja dan tempat nasi goreng ini yang paling ramai."
“Ya iyalah, soalnya nasi goreng Pak Mamat terkenal banget. Malah pernah masuk acara kulineran.”
“Rasanya emang lumayan daripada lumanyun.”
Givenchy mendengkus. Cara Parama menyindir mungkin tidak terlalu jelas, tetapi respons barusan menandakan kalau Parama memang tidak terlalu suka dengan rasa yang ditawarkan tukang nasi goreng langganannya.
“Lupain soal nasi goreng. Gue mau nanya kenapa lo bersedia ke sini. Diancem Pak Dim?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Gue ada perlu sama lo.”
Givenchy menaikkan satu alisnya. Tumben. Iya, kata itu yang muncul di kepalanya begitu mendengar Parama ada perlu dengannya. Biasanya dirinya yang selalu ada perlu dan butuh bantuan Parama. Sekarang malah sebaliknya.
“Kenapa? Mau minjem duit? Gue nggak punya."
Parama geleng-geleng kepala. “Duit gue banyak. Buat apa minjem sama lo.”
Givenchy mencibir, “Sombong lo! Gue sumpahin raib diambil orang!”
Parama tertawa pelan. “Nggak akan mempan sumpahan lo. Ketimbang lo sumpahin gue, mending besok temenin gue dateng ke reuni SMA.”
Givenchy meletakkan sendoknya di atas piring, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Gue? Nemenin lo ke reuni SMA? Serius lo?”
“Iya. Besok gue jemput. Jangan banyak protes, tanya dan lo nggak bisa nolak.”
Givenchy mengernyit. “Kok… nggak bisa nolak? Gila lo ya!”
Parama bersedekap di d**a, menarik senyum tipis, dan berkata, “Anggap aja balasan dari lo karena sering gue tolong.”
Givenchy berdecak kasar. “Dasar pamrih!”
*****
Givenchy meneguk coca-cola yang diambil Parama. Seperti yang dikatakan Parama kemarin, dia menemani Parama datang ke acara reuni angkatan SMA-nya. Matanya mengamati setiap alumni yang datang. Entah jebolan SMA Parama isinya manusia-manusia berwajah sempurna, atau memang tidak ada yang biasa saja. Dari segi visual, seluruh angkatan Parama berwajah tampan dan cantik. Seperti tiga perempuan yang sedang menemaninya, Laras, Claudia, dan Widy. Ketiganya diminta Parama untuk menemaninya sebentar karena Parama pergi entah ke mana.
“Eh iya, Given. Tadi kamu bilang kerja di mana? Apartemen? Pasti seru deh,” tanya Laras membuka obrolan.
“Iya. Kalau kamu sendiri kerja di mana, Laras?” jawab Givenchy bertanya balik.
“Laras mana pernah kerja. Dia ikut suaminya aja dan tinggal duduk manis,” serobot Claudia.
Givenchy manggut-manggut. Selain wajah mereka sempurna, kehidupan mereka juga sempurna. Itu yang dia pelajari dari seluruh angkatan Parama. Semuanya mengendarai mobil mewah, bahkan tempat reuni saja memilih ballroom hotel bintang lima padahal jumlah orangnya tidak banyak. Dasar, orang kaya!
“Omong-omong, kamu kenal Parama dari mana? Ini pertama kalinya lihat dia ajak perempuan setelah sekian lama,” tanya Widy penasaran.
Givenchy menoleh pada Widy. Pertanyaannya sungguh menarik. Memangnya Parama tidak pernah mengajak perempuan? Apa manusia itu tidak pernah punya pacar? Pertanyaan itu langsung terbesit di benak Givenchy.
“Bener juga. Setiap tahun reunian, Parama nggak pernah ngajak perempuan. Ya, sama aja tuh kayak Dimas dan Batara,” sambung Claudia.
Oh, jadi ternyata tiga serangkai sekomplotan itu emang nggak pernah ngajak perempuan. Batin Givenchy.
“Kalau Dimas sih kita udah tau. Dia nggak pernah ngajak perempuan ke acara reuninya. Dia tipe posesif, takut pacarnya ditaksir orang. Waktu kita kuliah aja, Lala nggak boleh datang ke acara reuni padahal kan kita seangkatan,” timpal Laras.
“Kalau Batara emang udah nggak pernah ngajak perempuan sejak batal nikah sama Kak Aruna. Aduh… kenapa mesti gagal coba? Padahal mereka pasangan paling manis seantero sekolah!” sambung Claudia.
“Masih mending dua orang itu sih. Kalau Parama, gue rasa dia masih susah move on. Padahal Virginia—”
Batara yang kebetulan baru muncul langsung memotong kalimat Widy yang belum selesai. “Kalian ngegosip aja. Ngajak ngobrol Givenchy tuh yang berbobot dikit dong.”
“Ah, Batara. Padahal kita belum puas gosipin kalian bertiga. Ajak dong gebetan, emang belum move on dari Kak Aruna setelah bertahun-tahun lamanya?” sela Widy.
Batara tertawa pelan. “Kalian nggak inget gue pernah ngajak perempuan setelah nggak sama Aruna?”
“Gue inget. Lo pernah ngajak pacar setelah nggak sama Kak Aruna. Eh, mantan pacar maksudnya. Hubungan kalian seumur jagung gitu, baru juga kita kenalan eh nggak lama kalian putus,” celetuk Claudia.
“Tapi kok tumben Dimas nggak dateng?” tanya Laras.
“Dimas lagi sibuk, jadinya absen,” jawab Batara.
“Eh tapi, gue mau nanya. Kenapa sih Parama nggak pernah pacaran lagi setelah nggak sama Virginia? Padahal Virginia—”
Batara memelototi Laras, lalu memotong kalimatnya. “Udah sana mending kalian santap makanan.”
Ketiga perempuan itu segera pergi melihat kode Batara. Givenchy langsung penasaran.
“Maaf saya lancang Pak, tapi sejak tadi mereka bicarain soal Parama. Katanya Parama nggak pernah ngajak perempuan ke reuni ini. Itu bener?” tanya Givenchy ingin tahu. Dia tidak bisa memendam rasa penasarannya dalam hati. Tidak.
“Parama pernah pacaran sama teman angkatannya namanya Virginia. Sayangnya Virginia meninggal karena sakit pas kelas tiga SMA. Setelah itu Parama nggak pernah pacaran, dan nggak berminat ngajak perempuan ke acara reuninya. Aku aja kaget tiba-tiba Parama ngajak kamu,” sela Lala yang baru datang dengan senyumnya.
Batara memelototi Lala. “La, kenapa sih harus kamu bocorin?” tegur Batara. Dia menjaga setiap rahasia sahabatnya tapi ada saja yang membeberkan.
“Kasihan Givenchy mukanya bengong gitu. Dia perlu tau, Kak. Parama mungkin punya alasan ngajak Givenchy ke sini, tapi dia perlu tau kalau Parama belum bisa move on dari Virginia meskipun udah tiga belas tahun berlalu,” jelas Lala santai.
Givenchy tidak menyangka selama tiga belas tahun Parama tidak pacaran karena belum melupakan orang yang telah tiada. Apa sehebat itu Virginia menguasai hatinya?
Bertepatan dengan pembahasan yang didengar telinganya, dia memandangi Parama yang baru saja masuk ke dalam ballroom. Wajah lelaki itu terlihat tengil, dan suka bercanda. Tapi mungkin hatinya rapuh. Ya, Givenchy yakin Parama lebih rapuh dari yang terlihat.
* * * * *
Sebuket bunga mawar diletakkan di atas batu nisan yang terukir nama cantik.
Virginia Poetri.
Parama mengusap batu nisannya dengan telapak tangan. Hari ini peringatan kematian Virginia yang ke-tiga belas. Setiap datang, ada air mata yang jatuh membasahi tanah kering. Parama menangis. Hatinya sakit mengingat kejadian yang mengambil seluruh kebahagiaannya.
“Aku kangen kamu, Vir…,” gumam Parama pelan.
Di saat Parama tengah menangisi kepergian mantan pacarnya, ada tangan lain yang menyentuh pundaknya. Sontak, hal itu menyebabkan Parama menoleh ke samping setelah menyeka air matanya.
“Virna?” sapa Parama.
“Aku pikir Kak Parama nggak datang ke sini lagi, ternyata masih.” Perempuan cantik itu menampilkan senyum manisnya. Dia adalah adiknya Virginia.
Parama berdiri, membiarkan Virna mengambil tempat untuk menyapa sang kakak. Hati Parama semakin sakit melihat Virna menangisi kakaknya. Semua orang merindukan Virginia, termasuk dirinya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Virna selesai menyapa sang kakak, lalu mengajak Parama berbincang di tempat yang lebih ramai—seperti kedai kopi yang menjadi tempat kesukaan Virginia.
“Anak bungsu kamu lucu banget, Vir. Lebih mirip sama kamu dibanding suamimu,” ucap Parama saat menggendong anak perempuan berumur tiga tahun. Dia mengusap puncak kepala bocah kecil itu sambil mengajaknya bercanda sampai bocah itu tertawa. Virna yang melihatnya merasa kasihan.
“Kak, kenapa nggak cari pacar? Aku aja udah punya tiga anak, masa kakak masih begini aja?”
“Aku nyaman kayak gini,” jawabnya singkat.
“Bukan nyaman, tapi nggak mau buka hati. Mau sampai kapan galauin Kak Virgie? Aku tau dia kakakku, tapi melihat Kak Parama begini aku sedih. Aku yakin Kak Virgie nggak mau Kak Parama hidup dalam bayang-bayang dia,” ucap Virna lirih.
Parama terdiam. Virna menyuruh baby sitter-nya menggendong putrinya. Dengan begitu, mereka dapat berbincang lebih leluasa.
“Aku nggak melarang Kak Parama memperingati kematian Kak Virgie setiap tahunnya, tapi tolong jangan hidup kayak gini…” Virna menjeda kalimatnya selama beberapa menit sambil menahan air matanya. Lalu, dia melanjutkan, “… lupain Kak Virgie. Kak Parama berhak mendapat kebahagiaan. Kak Virgie udah nggak di sini, jadi untuk apa Kak Parama masih mikirin dia? Aku nggak mau Kak Parama berlarut dalam kesedihan.”
Parama diam menunduk. Benar apa yang dikatakan Virna, tapi dia belum siap membuka hati untuk siapapun.
“Satu atau tiga tahun itu masih wajar kakak galauin Kak Virgie, tapi kalau udah sampai tiga belas tahun? Kak Parama bener-bener menutup diri. Aku yakin Kak Parama merasa hampa. Jadi aku mohon, berhenti hidup seperti ini. Demi kebahagiaan Kak Parama. Aku mungkin bukan Kak Virgie, tapi aku yakin Kak Virgie nggak mau Kak Parama begini,” tambah Virna.
“Tapi aku nggak ngerasa hampa. Aku—”
“Kata siapa nggak merasa hampa? Meskipun aku bukan Kak Parama, tapi aku yakin kakak terluka setiap kali ingat kematian Kak Virgie. Ditinggal pergi sama orang yang masih hidup aja sakit, gimana udah meninggal? Jangan mengelak terus, Kak. Aku mohon, bukalah hati. Berbahagialah dengan orang yang Kak Parama cintai. Lupain Kak Virgie karena Kak Parama berhak untuk menjalani hidup yang lebih baik,” potong Virna dengan air mata yang tak berhenti membasahi pipinya.
Parama diam seperti sebelumnya. Andai saja dia mampu, mungkin dia sudah melakukannya sejak dulu. Tapi hatinya sudah terikat untuk Virginia.
“Carilah perempuan yang baik untuk Kak Parama. Aku yakin ada sosok itu di luar sana. Tolong hidup dengan bahagia, Kak.”
* * * * *