Cahaya fajar menyelinap malu-malu melalui celah gorden sutra yang mahal. Ilham sudah bangun sejak pukul empat pagi. Kebiasaannya di pesantren—bangun sebelum para santri dan membersihkan diri—tak bisa hilang begitu saja meski kini ia tidur di sofa empuk di dalam rumah mewah.
Ia menoleh ke arah ranjang. Clarissa masih terbungkus selimut tebal, hanya menyisakan pucuk kepalanya yang berambut pirang kecokelatan.
"Clarissa... Bangun, sudah masuk waktu Subuh," panggil Ilham lembut. Nihil. Tidak ada pergerakan.
Ilham mencoba lagi, kali ini sedikit lebih keras sambil mengetuk pinggiran ranjang. "Clarissa, ayo salat dulu. Nanti waktunya habis."
Clarissa hanya bergumam tidak jelas, "Lima menit lagi... Meeting jam sembilan, Bi..." Ia malah menarik selimutnya lebih tinggi sampai menutupi seluruh wajahnya.
Ilham menghela napas, namun bibirnya menyunggingkan senyum maklum. Ia teringat bahwa dunia istrinya ini penuh dengan tekanan yang melelahkan fisik dan mental. Ia memutuskan untuk tidak memaksa dengan cara yang kasar. Baginya, hidayah butuh kelembutan, bukan bentakan.
Ilham akhirnya melaksanakan salat Subuh sendirian di sudut kamar yang semalam ia gunakan untuk tidur. Suaranya yang merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran mengisi keheningan kamar, namun sang CEO tetap terlelap dalam mimpinya.
Setelah selesai, perut Ilham mulai keroncongan. Ia melangkah ke dapur penthouse yang sangat canggih—begitu canggihnya sampai ia harus meraba-raba tombol kompor induksi yang tidak punya api. Dengan sisa bahan yang ada di kulkas, ia mulai meracik sesuatu. Aroma bawang putih goreng, cabai, dan bumbu rahasia ala dapur pesantren mulai memenuhi ruangan.
Tak lama kemudian, sebuah suara langkah kaki yang terseret terdengar. Clarissa muncul dengan rambut berantakan, mata setengah terpejam, dan nyawa yang sepertinya baru terkumpul separuh. Harum nasi goreng buat Ilham telah menarik indra penciumannya seperti magnet.
"Bau apa ini? Enak banget..." gumam Clarissa parau. Ia langsung mendekat ke meja makan, melihat sepiring nasi goreng yang masih mengepulkan asap. Tanpa sadar, tangannya bergerak hendak mencicipi satu sendok penuh.
Hup!
Tangan Ilham yang hangat dan kokoh tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Clarissa tepat sebelum sendok itu sampai ke mulutnya. Clarissa terlonjak, matanya langsung terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena kaget, tapi karena sentuhan kulit Ilham yang terasa seperti aliran listrik kecil yang menggelitik.
Mereka terpaku sejenak. Mata Ilham yang jernih menatapnya dengan lembut namun tegas.
"Cuci muka dulu, ambil wudu, dan salat Subuh. Setelah itu baru boleh makan," ujar Ilham tenang.
Clarissa merengut, mencoba menarik tangannya namun Ilham masih memegangnya dengan mantap. "Aku lapar, Ilham! Lagipula ini sudah jam berapa? Pasti sudah telat Subuh-nya."
Ilham melepaskan tangannya perlahan, lalu berkata sambil tersenyum manis, "Lebih baik telat karena baru bangun daripada tidak sama sekali. Ingat kata Imam Al-Ghazali dalam kitabnya bahwa makanan yang masuk ke tubuh tanpa didahului rasa syukur dan kewajiban kepada Pencipta, sulit membawa berkah bagi jiwa. Ayo, saya tunggu di sini. Kalau dingin, nasi gorengnya jadi kurang enak, lho."
Clarissa terdiam. Ia ingin marah, tapi senyum Ilham pagi itu terlalu "cerah" untuk dilawan. Dengan langkah gontai namun hati yang sedikit berdebar, ia berbalik menuju kamar mandi.
"Ustadz satu ini... benar-benar tahu cara mainnya," gerutu Clarissa dalam hati, meski tanpa sadar ia tersenyum tipis saat membayangkan kehangatan tangan Ilham tadi.