Pukul lima pagi di London bukan waktu yang ramah bagi siapapun, terutama bagi mereka yang hidup di balik dinding steril Saint Jude Hospital. Di luar jendela kamar 402, tirai kelam malam musim semi perlahan-lahan ditarik mundur oleh fajar yang pucat, menyisakan bias abu-abu yang menyapu kaca tebal berlapis embun.
Kota di bawah sana masih terbungkus selimut dingin; jalanan aspal basah memantulkan pendar lampu jalan yang mulai meredup, sementara angin subuh berembus pelan, menghantam bingkai jendela dengan derik halus yang nyaris tak terdengar.
Di dalam ruangan seluas dua puluh meter persegi itu, Seo Chaerin tidak pernah benar-benar tidur.
Malam bagi seorang ibu yang kehilangan anaknya bukanlah tempat untuk memulihkan tenaga, melainkan sebuah ruang hampa di mana waktu berjalan merayap, dipenuhi bayangan-bayangan masa lalu yang menolak padam. Chaerin duduk bersimpuh di tepi ranjang rumah sakitnya yang sempit, memeluk kedua lututnya erat-erat hingga tulang-tulang bahunya yang rapuh menonjol di balik kain tipis piyama. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke arah lantai linolium putih yang bersih tanpa noda.
Tidak ada suara isakan. Tidak ada ratapan putus asa yang memecah keheningan subuh. Yang ada hanyalah kebisuan yang begitu pekat, seolah udara di dalam kamar itu telah kehilangan oksigennya dan berubah menjadi timah cair yang menyesakkan d**a.
Setiap sudut ruangan ini berbicara tentang ketiadaan.
Di atas meja nakas kayu berwarna gading, mangkuk sarapan kemarin malam masih utuh, tidak tersentuh sama sekali selain permukaan buburnya yang telah mendingin dan membentuk lapisan kering di bagian atas. Di samping mangkuk itu, sebuah cangkir porselen putih berisi air hangat yang dibawakan oleh perawat malam tadi tetap diam dalam wujud aslinya. Bagi Chaerin, makanan bukan lagi kebutuhan biologis; itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal di dunia di mana Eunho tidak lagi bernapas.
Ia mengalihkan pandangannya perlahan ke sudut ruangan, ke arah lemari pakaian kecil yang pintunya sedikit terbuka. Di dalam lemari itu, tergantung rapi satu set pakaian anak-anak berukuran kecil—jaket wol biru tua dengan tudung berbulu lembut dan sepasang sepatu kets anak bermotif dinosaurus yang solnya masih bersih. Benda-benda itu adalah satu-satunya sisa dunia nyata yang ia bawa serta ke dalam pengasingan ini, barang-barang yang diam-diam ia dekap ke dadanya setiap kali perawat meninggalkan ruangan dan malam merayap masuk tanpa ampun.
Setiap jengkal ruang ini terasa terlalu luas sekaligus terlalu sempit. Luas, karena kehampaan yang ditinggalkan Eunho menyisakan ruang kosong yang tidak akan pernah bisa diisi oleh apa pun di dunia ini. Sempit, karena dinding-dinding putih itu terasa semakin mendekat, menghimpit rongga dadanya setiap kali ia mengingat suara tawa kecil yang dulu mengisi hari-harinya di sebuah flat kecil di London utara, jauh sebelum tragedi itu merenggut segalanya.
“Mommy, lihat! Daunnya jatuh ke bajuku!”
Suara itu bergeming di dalam kepala Chaerin, begitu jernih, begitu nyata, seolah bocah berambut bergelombang itu baru saja berlari kecil melintasi lantai kamar rumah sakit ini. Chaerin tanpa sadar mengangkat tangannya, merentangkan jemarinya yang kurus ke udara kosong, mencoba menggapai jejak bayangan yang melintas di depannya. Namun, jemarinya hanya menemui udara dingin subuh. Tidak ada tangan kecil yang menyambutnya. Tidak ada pelukan hangat yang melingkar di lehernya.
Jemari itu jatuh kembali ke pangkuannya dengan lemah, seperti ranting patah yang terempas ke tanah.
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, rutinitas harian rumah sakit dimulai dengan suara derit roda troli obat yang bergesekan pelan di sepanjang koridor luar. Ketukan ringan mendarat di daun pintu bernomor 402, diikuti oleh masuknya seorang perawat senior berambut iket rapi bernama Nyonya Miller, membawa nampan berisi obat pagi dan lembar pemantauan harian.
"Selamat pagi, Chaerin-ssi," sapa perawat itu dengan nada ramah yang selalu diatur agar terdengar menenangkan, meskipun ia tahu tidak ada kata-kata yang mampu menembus dinding pertahanan pasien tersebut.
Chaerin tidak menjawab. Ia tidak bergeming dari posisinya di tepi ranjang, pandangannya tetap terkunci pada satu titik di lantai. Nyonya Miller menghela napas tertahan—sebuah helaan napas maklum yang telah diulanginya setiap hari selama enam bulan terakhir. Dengan gerakan terlatih, perawat itu meletakkan nampan di atas meja nakas, memeriksa kantong infus, dan merapikan selimut yang terlipat di ujung ranjang.
"Dokter Jaeho akan datang untuk pemeriksaan rutin setelah jam sembilan," lanjut Nyonya Miller lembut, mencoba menyentuh pundak Chaerin sekilas sebelum menarik tangannya kembali dengan hati-hati. "Usahakan untuk meminum air hangatnya, ya? Cuaca di luar sedang tidak bersahabat."
Tidak ada respons. Perawat itu akhirnya memilih mengundurkan diri dari ruangan, menutup pintu di belakangnya tanpa suara, meninggalkan Chaerin kembali seorang diri dalam kebisuan yang mendominasi.
Bagi Chaerin, rutinitas harian di rumah sakit ini berjalan seperti sebuah lingkaran waktu yang berputar tanpa ujung. Bangun pagi dalam kondisi penat yang luar biasa, menatap jendela yang menampilkan langit London yang muram, menolak makanan yang disajikan, lalu menunggu malam datang kembali untuk menyiksa batinnya dengan kenangan tentang Eunho.
Ia tidak pernah keluar dari kamar itu. Selama setengah tahun dirawat, ia tidak pernah meminta untuk berjalan-jalan di taman rumah sakit, tidak pernah menengok ke koridor luar kecuali saat terpaksa dipindahkan untuk pemeriksaan medis. Baginya, melangkah keluar kamar berarti mengakui bahwa dunia di luar sana terus berjalan—bahwa kehidupan terus berputar seolah-olah tidak ada anak kecil bernama Han Eunho yang telah hilang dari muka bumi ini. Dan kebenaran itu adalah sesuatu yang tidak sanggup ia terima.
Di ruang jaga dokter yang terletak beberapa meter dari kamar 402, Dr. Park Jaeho berdiri di depan dinding kaca besar, memandarkan pandangannya ke arah pintu kamar pasien nomor 402. Di atas meja kerjanya, laporan perkembangan mingguan Chaerin terbuka lebar, memperlihatkan grafik penurunan berat badan yang mengkhawatirkan serta catatan psikologis yang menunjukkan stagnasi total.
Hera, tunangannya, yang pagi itu mampir ke ruang jaga membawa sekotak kue kering buatan kafe sudut jalan, memperhatikan ekspresi muram di wajah Jaeho dari ambang pintu. Hera melangkah masuk tanpa suara, meletakkan kotak kue di atas meja kerja Jaeho, lalu melingkarkan kedua tangannya di lengan pria itu dari samping.
"Kamu memikirkan Chaerin lagi, Jaeho?" tanya Hera lembut, suaranya mengalir tenang menyapu ketegangan di pundak sang dokter.
Jaeho menoleh sekilas, mengangguk pelan sambil merapikan selembar berkas rekam medis. "Kondisi fisiknya semakin memburuk, Hera. Hari ini genap enam bulan ia berada di sini, dan kurva pemulihannya benar-benar datar. Tidak ada kemauan untuk sembuh, tidak ada keinginan untuk bertahan hidup. Ia hanya bernapas karena jantungnya dipaksa berdetak oleh fungsi biologis, tetapi jiwanya telah tertinggal di tempat lain."
Hera merapatkan posisinya, memahami sepenuhnya beban empati yang dipikul oleh tunangannya itu. Sebagai seorang pelukis, Hera terbiasa menerjemahkan emosi manusia melalui goresan warna di atas kanvas, dan ia melihat warna abu-abu pekat menyelimuti seluruh kehidupan di bangsal sayap barat itu setiap kali nama Chaerin disebut.
"Kamu tidak bisa menarik seseorang keluar dari sumur yang sangat dalam jika orang itu sendiri memilih untuk duduk di dasar kegelapan, Jaeho," ujar Hera bijak, jemarinya menyentuh punggung tangan Jaeho untuk memberikan kekuatan. "Yang bisa kamu lakukan bukan menyelamatkannya secara paksa, melainkan memastikan bahwa ketika ia memutuskan untuk mendongak ke atas, ada cahaya yang menantinya di sana."
Jaeho menarik napas dalam-dalam, mengamini kata-kata tunangannya dalam hati. Ia tahu persis risiko yang dihadapi pasien dengan trauma kehilangan yang akut. Setiap hari adalah pertentangan antara menjaga batasan profesional sebagai dokter dan rasa kemanusiaan yang menuntutnya untuk tidak membiarkan seorang ibu mati perlahan di dalam kamar rumah sakit yang steril.
"Aku hanya takut suatu hari nanti, ketika ia akhirnya memutuskan untuk mencari jalan keluar, tubuhnya sudah terlalu rapuh untuk menopang langkahnya," balas Jaeho lirih.
Setelah perbincangan singkat itu, Hera pamit kembali ke studionya untuk melanjutkan persiapan pameran seninya, meninggalkan Jaeho dengan seluruh tanggung jawab medis yang menunggunya hari itu.
Menjelang pukul sepuluh pagi, Jaeho memutuskan untuk melakukan pemeriksaan rutin ke kamar 402. Ia mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya perlahan, melangkah masuk ke dalam ruangan yang diterangi cahaya lampu tidur kekuningan karena tirai jendela belum sepenuhnya dibuka.
Chaerin masih berada di posisi yang sama seperti beberapa jam lalu—duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong menghadap lantai. Tidak ada perubahan. Tidak ada sapaan.
Jaeho menarik kursi kecilnya, duduk di hadapan wanita itu dengan jarak yang aman, menjaga agar kehadirannya tidak terasa sebagai ancaman. Ia meletakkan stetoskopnya di atas meja nakas, lalu menatap wajah tirus Chaerin yang kehilangan seluruh rona kehidupan.
"Pagi ini udara di luar sangat dingin, Chaerin-ssi," buka Jaeho dengan nada rendah yang menenangkan. "Tetapi matahari mulai menembus awan di atas London. Apakah kamu tidak ingin mencoba membuka tirainya sedikit saja?"
Chaerin tidak segera merespons. Dibutuhkan waktu hampir satu menit penuh sebelum kepalanya bergeser perlahan, mengangkat dagunya yang gemetar untuk menatap mata sang dokter. Manik matanya tampak begitu lelah, dipenuhi genangan air mata yang tertahan di balik kelopak yang bengkak.
"Untuk apa melihat matahari, Dokter?" bisik Chaerin, suaranya begitu parau, hampir hilang ditelan keheningan ruangan. "Matahari tidak tahu apa-apa tentang malam di mana aku kehilangan segalanya. Matahari hanya menyinari orang-orang yang terus berjalan, sementara aku... aku tertinggal di bawah reruntuhan."
Setiap kata yang diucapkan Chaerin bagaikan duri tajam yang menghujam kesabaran profesional Jaeho. Tidak ada kemarahan di balik kalimat itu, yang ada hanyalah keputusasaan yang begitu absolut hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merasa ikut tenggelam dalam kehampaan.
"Dunia mungkin terus berjalan, Chaerin-ssi, tetapi itu bukan berarti kamu harus menghukum dirimu sendiri untuk selamanya di dalam ruangan ini," jawab Jaeho sabar, mempertahankan ketenangan di suaranya. "Eunho adalah anak yang hangat, bukan? Seorang anak yang penuh warna dan tawa. Jika ia melihatmu mengurung diri seperti ini, merusak tubuhmu sendiri di ruangan dingin ini... apakah menurutmu ia akan bahagia?"
Mendengar nama Eunho disebut, pertahanan rapuh Chaerin seketika retak.
Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya yang tirus. Tidak ada isakan suara yang lolos, hanya aliran air mata bisu yang memperlihatkan betapa hancurnya jiwa wanita itu di dalam. Tangannya yang gemetar mencengkeram erat ujung selimut putih di pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Eunho memanggilku malam itu..." lirih Chaerin, suaranya pecah di tengah kalimat, bergetar hebat menahan beban memori yang terus menghantuinya setiap detik. "Ia memanggil dari lantai bawah... Mommy, di mana lampu tidurnya? Aku takut gelap... Dan aku... aku terlalu lelah di kamar atas, tertidur pulas tanpa mendengar teriakannya..."
Kalimat itu terputus oleh isakan tertahan yang akhirnya lolos dari tenggorokan Chaerin—sebuah tangisan pertama yang pecah setelah berbulan-bulan ia membungkus dirinya dalam kebisuan mutlak.
Jaeho merasakan dadanya bergeming nyeri. Ia tidak mengucapkan kata-kata klise seperti ini bukan salahmu atau waktu akan menyembuhkan semuanya, karena ia tahu kata-kata itu tidak ada artinya bagi seseorang yang berada di jurang duka terdalam. Sebagai gantinya, Jaeho mengulurkan tangan perlahan, meletakkan telapak tangannya di atas meja nakas, berjarak beberapa sentimeter dari tangan Chaerin yang gemetar, memberikan jangkar fisik yang tenang tanpa melanggar batasan personalnya.
"Kamu mencintainya lebih dari nyawamu sendiri, Chaerin-ssi. Dan rasa bersalah itu adalah bukti dari cinta yang begitu besar," ucap Jaeho dengan suara paling lembut yang ia miliki. "Tetapi menyiksa dirimu di sini tidak akan mengembalikan malam itu. Mari kita mulai dari hal kecil... perlahan-lahan, bernapas untuk hari ini saja."
Chaerin menunduk semakin dalam, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, membiarkan air matanya membersihkan sebagian dari debu kepedihan yang menumpuk di dadanya selama setengah tahun terakhir.
Jaeho duduk dalam diam di sampingnya, menemani detik demi detik yang berjalan lambat di dalam ruangan itu. Di luar jendela, kota London terus berdenyut dengan segala kesibukan dan lalu-lalangnya, tidak peduli pada seorang ibu yang sedang meratapi dunianya yang telah runtuh di lantai empat sebuah rumah sakit. Namun di dalam kamar 402, untuk pertama kalinya dalam enam bulan, kebisuan yang pekat itu mulai retak oleh tetesan air mata seorang ibu yang perlahan-lahan mulai mengakui bahwa lukanya memang nyata, dan rasa sakit itu tidak akan pernah pergi dengan mudah.