Kamar utama mansion Robustelli adalah sebuah monumen kesunyian yang mencekam. Di ruangan seluas seratus meter persegi itu, hanya terdengar suara detak jam dinding antik dan deru napas Alice yang tidak beraturan. Kamar itu didominasi oleh warna-warna monokrom—hitam, abu-abu arang, dan putih tulang—mencerminkan jiwa pemiliknya yang tak tersentuh oleh warna-warna emosi manusia normal.
Alice Fontaine meringkuk di tengah tempat tidur *king size*. Ia merasa sangat kecil di bawah langit-langit kamar yang tinggi. Seprai sutra yang menyentuh kulitnya terasa dingin, seolah-olah kain itu pun menolak kehadirannya. Di sudut ruangan, Niccolò Robustelli baru saja melepaskan jas mahalnya, membiarkannya tersampir di kursi kulit tanpa sedikit pun kerutan.
Saat Niccolò mulai membuka kancing kemeja hitamnya satu per satu, Alice memalingkan wajah. Cahaya lampu tidur yang temaram menyinari lekuk otot di punggung Niccolò yang bidang dan kokoh. Ada beberapa bekas luka samar di sana—jejak-jejak pertempuran di dunia gelap yang membuat pria itu menjadi predator puncak di Italia. Niccolò tidak banyak bicara, namun setiap gerakannya memiliki berat yang menekan mental Alice.
"Duduk," perintah Niccolò. Suaranya rendah, bergetar di udara seperti suara mesin yang menderu.
Alice tidak bergerak. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya pada bantal, seolah benda empuk itu bisa melindunginya dari iblis yang kini berjalan mendekat.
"Aku tidak suka membuang waktu untuk pengulangan, Alice. Kau tahu apa yang harus terjadi malam ini," ucap Niccolò lagi. Kali ini ia sudah berdiri di tepi tempat tidur. Tanpa kemeja, tubuhnya yang setinggi 185 cm tampak sangat mengintimidasi. Kulit sawo matangnya bersih, menyembunyikan sisi kejam yang siap meledak kapan saja.
"Tuan... tolong," Alice akhirnya bersuara, meski hanya berupa bisikan yang bergetar. Ia memberanikan diri menatap mata cokelat Niccolò. "Aku... aku belum pernah melakukan ini. Aku ingin... aku ingin ini terjadi karena sebuah perasaan, bukan karena... karena pelelangan itu."
Niccolò tertawa, sebuah tawa kering yang tidak mengandung sedikit pun humor. Ia naik ke atas tempat tidur, merangkak mendekati Alice dengan gerakan yang secepat predator. "Perasaan? Kau bicara soal cinta di dalam rumah seorang Robustelli? Kau sangat naif, Alice. Cinta adalah racun bagi orang-orang seperti kami. Dan kau? Kau hanyalah penawar sementara untuk tuntutan ibuku."
Dengan satu gerakan cepat, Niccolò mencengkeram kedua pergelangan tangan Alice. Ia mengunci tangan gadis itu di atas kepala dengan satu tangan besarnya. Kekuatannya luar biasa; Alice merasa seolah pergelangan tangannya dijepit oleh borgol baja. Alice meronta, kaki jenjangnya menendang ke sana kemari, namun Niccolò dengan mudah menindih kedua kaki Alice dengan berat tubuhnya yang berotot.
"Jangan melawanku!" bentak Niccolò. Wajah tegasnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Alice. Bau maskulin yang tajam, perpaduan antara aroma kayu cendana dan alkohol mahal, menyerang indra penciuman Alice.
Niccolò menunduk, bibirnya menyerang leher Alice dengan kasar. Bukan sebuah ciuman, melainkan klaim kepemilikan yang menyakitkan. Ia menggigit kulit putih Alice hingga gadis itu memekik tertahan. Rasa perih menjalar di leher Alice, dan ia tahu tanda merah akan tertinggal di sana besok pagi. Bagi Niccolò, ini adalah cara ia menandai miliknya—sama seperti ia menandai wilayah kekuasaannya di jalanan Milan.
"Sakit, Tuan Niccolò..." rintih Alice. Air mata mulai mengalir deras, membasahi bantal sutra di bawah kepalanya.
"Rasa sakit akan membuatmu ingat siapa pemilikmu," desis Niccolò. Ia menarik paksa wajah Alice agar menatapnya. Tanpa menunggu persetujuan, ia membungkam bibir ranum Alice dengan ciuman yang menuntut. Ciuman itu terasa seperti perang; Niccolò tidak membiarkan Alice bernapas, ia menghisap segala bentuk penolakan dari bibir gadis itu. Alice merasa lidah Niccolò yang kasar menjelajahi rongga mulutnya dengan d******i mutlak. Rasa asin dari air mata Alice bercampur dengan ciuman paksa tersebut, menciptakan rasa yang pahit di lidah mereka berdua.
Tangan bebas Niccolò mulai menjelajahi lekuk tubuh Alice dengan kasar. Setiap inci kulit putih Alice yang disentuhnya seolah terbakar oleh api gairah yang gelap. Niccolò tidak peduli pada rintihan ketakutan Alice; ia hanya peduli pada kepatuhan. Malam itu, di bawah kemewahan mansion yang tersembunyi di perbukitan Italia, kepolosan Alice Fontaine yang dijaga selama dua puluh dua tahun akhirnya direbut dengan cara yang paling brutal. Niccolò menagih setiap koin dari dua puluh miliar yang telah ia keluarkan, memastikan Alice menyadari bahwa dia kini tak lebih dari sekadar b***k di atas ranjang suaminya sendiri.
***
Keesokan paginya, Alice terbangun saat sinar matahari Milan mulai menembus celah gorden beludru hitam. Tubuhnya terasa remuk. Ada rasa nyeri yang hebat di bagian bawah tubuhnya, dan memar keunguan tampak jelas di pergelangan tangan serta bahunya. Niccolò sudah menghilang dari sisi tempat tidur, menyisakan kekosongan yang dingin dan aroma tubuhnya yang masih tertinggal di bantal.
Dengan sisa tenaga, Alice bangkit dan menyeret kakinya menuju kamar mandi. Di bawah pancuran air hangat, ia menangis sesenggukan. Ia menggosok kulitnya berulang kali, mencoba menghilangkan jejak sentuhan Niccolò, namun rasa sakit di hatinya tidak bisa dibersihkan dengan air. Namun, di tengah kehancuran itu, sifat dasarnya yang positif mencoba bangkit. Alice teringat Nyonya Elisabeth. Pagi ini, ia harus memasak untuk wanita tua itu. Itu adalah satu-satunya tujuan hidupnya saat ini.
Setelah berpakaian dengan gaun yang menutupi luka-lukanya, Alice turun ke dapur utama. Dapur itu sangat luas, dengan peralatan memasak profesional yang bisa membuat koki mana pun iri. Alice melihat beberapa koki sedang sibuk menyiapkan sarapan, namun mereka semua berhenti dan menunduk saat Alice masuk. Mereka tahu status Alice—wanita cantik yang dibeli untuk memuaskan tuan mereka.
"Selamat pagi," sapa Alice dengan suara serak namun tetap mencoba ramah. "Boleh saya menggunakan area ini? Saya ingin membuat *Torta della Nonna* untuk Nyonya Elisabeth. Dia sangat menyukainya."
Para koki terdiam, tidak berani menjawab sampai Eros Doreti muncul dari pintu samping. "Biarkan dia memasak," perintah Eros singkat. Ia menatap Alice dengan pandangan yang sulit diartikan, menyadari tanda merah yang mencoba disembunyikan Alice di balik kerah gaunnya.
Alice mulai bekerja. Tangannya yang biasa memegang tepung kini terasa gemetar, namun ia memaksakan diri. Ia menakar tepung terigu, mengocok kuning telur, dan memarut kulit lemon dengan teliti. Harum adonan kue perlahan mulai menenangkan sarafnya yang tegang. Bagi Alice, memasak adalah terapi. Setiap gerakan tangannya adalah bentuk doa agar ia bisa bertahan di neraka ini.
Namun, ketenangan itu hancur saat suara langkah sepatu kulit yang tegas terdengar di lantai marmer. Niccolò masuk ke dapur, sudah mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang membuatnya tampak seperti CEO yang sempurna. Wajah tegasnya tampak bersih dan segar, sangat kontras dengan Alice yang tampak kuyu.
"Eros memberitahuku kau sedang bermain-main di sini," suara Niccolò terdengar dingin dari arah belakang.
Alice berjengit, tangannya yang sedang memegang wadah adonan bergetar hebat. Ia tidak berani menoleh. "Saya sedang membuat sarapan untuk Ibu Anda, Tuan. Ini bukan main-main."
Niccolò berjalan mendekat. Ia berdiri tepat di belakang Alice, begitu dekat hingga Alice bisa merasakan hawa panas dari tubuh besarnya. Niccolò melingkarkan tangannya di pinggang Alice, namun tarikannya begitu kuat hingga punggung Alice menabrak d**a bidangnya dengan keras.
"Aku membelimu bukan untuk menjadi koki rendahan," bisik Niccolò tepat di telinga Alice. Suaranya rendah dan mengancam. "Istri seorang Robustelli tidak bekerja di dapur seperti pelayan."
"Tapi Nyonya Elisabeth ingin mencicipi kue buatan saya!" Alice memberanikan diri membantah, kepalanya sedikit menoleh ke belakang untuk menatap mata cokelat Niccolò.
Mata Niccolò berkilat marah saat melihat keberanian di mata Alice. Tiba-tiba, dengan gerakan kasar, ia menyambar wadah keramik berisi adonan kue yang sudah setengah jadi itu dan melemparkannya ke lantai.
*PRANG!*
Pecahan keramik dan adonan kue yang manis itu tumpah berserakan di atas marmer hitam yang mengkilap. Para pelayan di dapur menahan napas, tidak ada yang berani bergerak.
"Bersihkan itu sekarang juga," perintah Niccolò tanpa belas kasihan. "Gunakan tanganmu. Aku ingin kau belajar bahwa di rumah ini, hanya ada satu suara yang harus kau dengar, dan itu adalah suaraku."
Alice menatap adonan kuenya yang hancur, sama seperti hatinya yang kini menjadi debu. Ia perlahan berlutut di lantai, air matanya jatuh mengenai tumpahan adonan. Dengan tangan gemetar, ia mulai memunguti pecahan keramik satu per satu. Ujung pecahan yang tajam sempat menggores jari telunjuknya, membuat darah merah segar menetes dan bercampur dengan adonan putih di lantai.
Niccolò menatap jari Alice yang berdarah sejenak. Ada sedikit kerutan di dahinya, sebuah emosi manusiawi yang muncul sesaat sebelum ia kembali mengeraskan wajahnya.
"Eros, pastikan dia membersihkannya sampai mengkilap. Setelah itu, bawa dia ke kamar ibuku. Jangan biarkan dia keluar sebelum aku pulang dari kantor," ucap Niccolò sebelum berbalik dan berjalan pergi dengan langkah angkuh.
Alice terus memunguti pecahan itu sambil terisak. Di bawah kemegahan mansion di Italia itu, ia menyadari bahwa Niccolò bukan hanya ingin memiliki tubuhnya, tapi ingin menghancurkan jiwanya sampai tidak ada lagi yang tersisa selain kepatuhan mutlak.
Bersambung…