"Kau tidak boleh melakukan ini!" Aku berteriak sekeras yang aku mampu, berharap agar pria yang berdiri diatas sana mau mengubah pikirannya untuk tidak mengeksekusi mati aku yang sama sekali tidak bersalah ini.
"Reksha! Aku sama sekali tidak bersalah! Apa yang kau lakukan?" teriakku lagi mengajukan pembelaan, namun, sia-sia aku berteriak. Pria itu sudah dibutakan dengan cinta terhadap selirnya hingga ia dengan mudah menjatuhkan hukuman mati kepadaku tanpa melakukan penyelidikan apapun atas pembunuhan Ayah Riya, selirnya, yang menuduhku menjadi pelaku.
"Sekarang!" Teriaknya, sebuah perintah untuk mengakhiri hidupku dan hidup anak yang berada dikandunganku ini. Dikehidupan selanjutnya, aku pasti akan membalas dendamku kepada pria yang berstatus suamiku dan perempuan yang menjadi maduku. Akan kupastikan mereka menderita!
* * *
Aku membuka mataku perlahan, sedikit mengedip untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kekedua mataku. Dimana aku? Mengapa aku berada ditempat yang asing? Tempat ini dipenuhi dengan benda-benda yang tidak kukenali.
"Egh..." erangku pelan, aku berusaha beradaptasi dengan hal-hal baru yang kudapati, aku tidak mengerti alasan kenapa aku masih hidup disaat aku benar-benar kehabisan nafas ditiang gantungan tadi.
"Kau sudah bangun?" sebuah suara dingin mengalihkan pandanganku, sial! Aku menemukannya sedang duduk sambil melipat tangan pada sebuah kursi yang sepertinya sangat nyaman untuk diduduki tersebut. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa aku masih hidup dan terjebak dengan pria yang membunuhku ini?
"Aku akan memanggil dokter untuk menanganimu, jangan sekali-kali kau melakukan tindakan aneh lagi! Itu tidak akan membuatku jatuh cinta padamu!" cih, omong kosong! Memangnya apa yang kulakukan untuk membuatnya jatuh cinta padaku? aku bahkan jijik kepadanya atas semua pengkhianatannya, b*****h!
Aku tidak perduli dengannya, sehingga ia meninggalkanku sendiri untuk memanggil seseorang yang katanya dokter tersebut.
"Greya!!" suara lain menghentikan lamunanku, seseorang berbaju putih datang menghampiriku dengan wajah cemas, aku bahkan tidak tau siapa dia, tapi dia mengenalku? Dia segera memeriksa tubuhku dengan alat yang aku tidak tau apa itu.
Dr. Julian Angelo
Adalah nama yang tertulis dibaju putihnya.
"Greya, jangan melakukan itu lagi, okay? Kau tidak tau betapa cemasnya kami ketika kau tidak sadarkan diri dikamarmu saat itu!" Aku kebingungan mendengar ucapan pria itu, memangnya apa yang terjadi? Reksha yang membunuhku tetapi mengapa malah aku yang terus disalahkan?
"Syukurlah kau baik-baik saja, jangan melakukan apapun yang dapat mencelakai dirimu, okay? Jika kau butuh teman bercerita, aku siap mendengarkanmu." ocehnya, jujur saja, aku masih berusaha mencerna inti dari ucapannya saat ini.
"Atau jika kamu tidak ingin menikah dengan tunanganmu itu, menikah saja denganku. Aku juga bisa membantumu mengurus perusahaan Kok." Aku mengernyitkan dahi bingung, dengan susah payah aku berkata;
"Tunangan? Perusahaan? Apa maksudnya?" Kali ini, dia yang kebingungan dengan ucapanku.
"Ya ampun, Greya! Kau itu hanya overdosis obat tidur, bukan terbentur. Kenapa bisa kau lupa ingatan?"
"Aku bahkan tidak mengerti apa yang kau bicarakan sedari tadi, siapa yang tunangan siapa? Perusahaan itu apa?" Pria bernama Julian ini menatapku heran,
"Sepertinya kau butuh istirahat lebih banyak agar otakmu kembali jelas seperti biasa. Cepat sadar bu CEO, karyawanmu membutuhkanmu."
"Oh, sebagai pengingat, pria yang tadi bersamamu adalah Reksha, tunanganmu."
Aku tersenyum sinis, bahkan didalam mimpiku pun, aku bertunangan dengan pria itu. Akan kupastikan, didalam mimpi ini, aku akan membalaskan dendamku kepada Reksha! Aku jamin itu.