Aku tersenyum senang mendengar ocehan Riya diseberang telepon, aku baru saja mengirimkan dia untuk tugas keluar kota tapi tidak menyediakan fasilitas yang sesuai dengan keinginannya. Dia marah, tentu saja! Selama bekerja denganku, ia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini. Selama ini Riya terlalu manja ketika melakukan perjalanan keluar kota karena ia pasti akan berangkat bersamaku maka dia akan mendapatkan fasilitas mewah sama sepertiku, tapi kali ini, dia harus sadar dengan posisinya. Dia harus tahu bahwa dia tak lagi mendapatkan fasilitas yang sama dengan apa yang dia alami dulu ketika sedang bekerja. Bekerja bersamaku menyenangkan jadi tahu dirilah.
"Jika kau pulang dengan tidak membawa hal yang kuminta, jangan sekali-kali kau menemuiku lagi, Riya. Kau tahu bahwa aku sangat menginginkan orang itu menjadi sekretarisku." Ya, aku baru saja meminta Riya untuk mencari sekretarisku yang baru. Sebenarnya itu akal-akalku saja, tapi aku memang menyiapkan seseorang menjadi sekretarisku yang baru dan aku sudah memintanya membuat Riya lelah untuk merekrutnya. Dia adalah sepupuku, eh, maksudnya sepupu Greya Tanasha.
Aku tersenyum puas, ini baru permulaan tapi aku sudah sangat senang dengan rencanaku yang berjalan dengan lancar sejauh ini, semoga kedepannya akan terus begitu kedepannya. Pintu ruanganku terbuka dengan keras, sepertinya ada yang sedang marah dan melampiaskannya ke pintuku, ada Reksha disana yang menatapku dengan penuh amarah. Ah, sepertinya ini berkaitan dengan perginya Riya ke luar kota.
"Apa yang sedang coba kau lakukan, Greya?" Tanyanya dengan tidak santai, aku mengedikkan bahu. Memangnya apa yang sedang kulakukan?
"Aku tidak mengerti maksudmu." Jawabku datar, sungguh aku sangat tidak suka ketika pria ini menemuiku, aku muak!
"Kau memberangkatkan Riya ke luar kota dan tidak memberinya fasilitas yang layak? begitu caramu memperlakukan karyawan, huh?" Ah, jadi kondisi seperti itu yang diceritakan Riya kepadanya, ular berkepala dua itu memang harus segera diberi pelajaran yang menyenangkan.
"Aahhh,, jadi kau menemuiku untuk berbicara atas nama Riya, ya? Ternyata kau sangat peduli dengan orang asing yang sama sekali tidak ada hubungan denganmu." Sindirku, tentu saja aku tahu bahwa mereka bukan hanya sekedar orang asing, manusia-manusia ini mengkhianatiku dibelakang.
"Dia bukan orang asing, Greya! Dia temanmu dan sudah tentu dia temanku juga, tapi apa sih yang sebenarnya kau pikirkan? mengapa kau tega memperlakukan temanmu seperti itu?" Reksha terlihat frustasi dengan responku yang sama sekali tidak seperti yang dia inginkan.
"Jika menginap dihotel bintang 3 dengan full fasilitas kantor dan makan direstoran yang cukup mewah masih belum layak untuknya, jadi fasilitas seperti apalagi yang dia inginkan, Reksha? Tidur dihotel bintang 5 dan makan direstoran Michelin? memangnya dia siapa hingga berhak mendapatkan fasilitas macam itu? Kau dan dia, seharusnya sadar diri dengan posisi kalian masing-masing. Cuma bawahanku kok berlagak seperti ratu." Kataku pedas, Reksha menganga mendengarnya. Greya Tanasha atau Greya Agishka yang dulu tidak akan berani mengucapkan kata-kata seperti itu kepada Reksha, tapi aku berbeda. Greya Agishka yang menumpang ditubuh Greya Tanasha ini tidak akan hidup tertindas dibawah orang-orang ini lagi.
"Kau memberinya fasilitas hotel bintang 3?" Reksha seakan tak percaya dengan ucapanku,
"Silahkan tanyakan pada bagian keuangan, terimakasih." Aku menutup percakapan kali ini dengan perintah agar Reksha memeriksanya sendiri, aku tidak berbohong, aku memang membiarkan Riya menginap dihotel bintang 3 dan makan direstoran yang cukup mewah karena aku ingin menurunkan standarnya sedikit demi sedikit. Reksha belum dapat giliran, tapi nanti, dia akan mendapatkannya juga.
* * *
"Kau serius ingin mengangkat Argia menjadi sekretarismu yang baru? Greya, apa kau sudah kehilangan akal?" Itu Reksha lagi yang sedang berbicara, ia terburu-buru menemuiku setelah aku mengumumkan bahwa sepupu laki-lakiku yang bernama Argia akan menjadi sekretarisku yang baru. Menurut info dari Julian, Argia adalah satu-satunya sepupu yang mendukungku jadi tidak akan salah jika dia menjadi sekretarisku.
"He'em" balasku singkat,
"Kau sungguh berani mencopot CEO perusahaan lain dan memberikannya jabatan yang cukup rendah, Greya." Komentar Reksha berikutnya sungguh menyadarkanku, aku tidak tahu bahwa Argia adalah seorang pemimpin disebuah perusahaan, tapi mengapa Argia mau jadi sekretarisku jika dia sudah mempunyai perusahaannya sendiri?
"Entah apa yang sedang kau coba lakukan sebenarnya." Reksha masih setia dengan celotehannya yang sama sekali tak lagi mampu kudengar, telingaku tertutup rapat karena sibuk memikirkan alasan mengapa Argia menerima jabatan yang cukup rendah.
"Aku lupa memberitahumu fakta ini, tapi Argia sangat menyukai Greya Tanasha, Greya." Jawaban itu yang aku dapatkan dari Julian ketika kami bertemu, ya seperti biasa, dikantin rumahsakit tempat ia bekerja. Aku menepuk dahiku dengan sangat keras, mengapa aku begitu bodoh dan tak menyelidiki latar belakang Argia terlebih dahulu?
"Yakinlah, dia mau bekerja dibawahmu itu karena kau sudah memutuskan hubungan dengan Reksha. Jika seandainya kau masih berhubungan dengannya, dia akan bersikap kejam. Kau tidak tahu kan bahwa perusahaan yang dipimpin Argia itu adalah pesaing perusahaanmu yang paling besar?" Aku ternganga dengan ucapan Julian, apakah aku baru saja memasukkan serigala berbulu domba keperusahaan?
"Katamu dia yang paling mendukungku dan kau tidak memberitahuku soal ini." Protesku kepada Julian, ia terkekeh.
"Dia tidak akan macam-macam kepadamu, Greya. Dia sangat menyayangimu, pasti dia tidak akan tega menghancurkanmu dari belakang. Tapi kini kau sudah tahu kebenarannya maka kau harus berhati-hati dengan perasaannya. Berpura-puralah tidak tahu mengenai perasaannya kepadamu. Ah, dan berhati-hati juga dengan identitasmu, jangan sampai Argia menyadari bahwa kau bukan Greya Tanasha." Ucapan Julian bukan lagi terdengar seperti peringatan tetapi sebagai tragedi. Ini akibatnya jika kau merasa pintar dan tidak melakukan riset menyeluruh, bukan jalan keluar yang kau dapatkan, tetapi masalah baru.