Tok! Tok! Tok!
Pria tua yang terbaring di atas kasur empuk itu menolehkan wajah pada pintu. wajah putih berkedut itu sedikit terbatuk sebelum menyuruh pelayan kepercayaannya untuk membukakan pintu.
"yang mulia raja memasuki ruangan!"
pelayan peribadi sang raja memasuki ruangan terlebih dahulu dan mengumuman kedatangan raja. semua pelayan yang ada didalam ruangan itu sontak memberi hormat dengan lutut tertekuk dan menunduk, setiap mata yang sedang menunduk memperhatikan kasut hitam berkilat yang menapak memasuki ruangan
"ayahanda, bagaimana dengan kondisimu?"
Si pemilik kasut itu bersuara dengan nada suara yang terkesan dingin dan melantun merdu. semua pelayan langsung berdiri setelah si pemilik kasut sudah melintasi mereka. dan terlihat sosok tubuh yang gagah dengan rambut putih alami sedang membelakangi mereka,
"ayahanda baik-baik saja, duduk lah dulu anakku."
Robert Austin menjawab pertanyaan anak semata wayangnya dengannya istri pertamanya, Aland austin. tanpa banyak bicara menduduki kursi yang ada di samping kasur bekas raja kerajaan linford itu, iris biru muda tajam yang sering di gunakan untuk mengintimidasi orang-orang, kini menatap lembut pada ayahnya
"ku dengar hari ini ayahanda sekali lagi menolak meminum obat dari tabib, ada apa?"
Aland langsung menanyakan maksud kedatangannya menemui ayahnya, robert mengeleng pelan sekali lagi dia terbatuk
"ayahanda baik-baik saja." robert bersuara serak. alis aland terangkat kecil. setelah itu dia menghela napas pelan
"ayahanda tidak perlu berbohong, aku bisa melihatnya sendiri ayahanda sedang tidak baik."
Robert tersenyum kecil mendengar penuturan anaknya.
"gaya bicara mu sangat mirip dengan amanda." robert meng akhiri kalimatnya dengan tawa pelan. Kepala aland yang memandang ayahnya sedikit memiring, poni berwarna putih yang menutupi alisnya sedikit terikut mengikuti gerakan kepala sang empu
"sudah ku duga ayah pasti sakit karena merindui mendiang ibu."
Sekali lagi robert tertawa kecil. "aku hanya sakit tua, anakku. lagi pula kalau aku merindui amanda aku hanya tinggal melihatmu mengingat kau mewarisi warna rambut amanda."
Aland mengangguk menyetujui. walau pun dia di tinggal ibunya ketika melahirkan nya tapi ia masih bisa melihat lukisan mendiang ibunya yang masih terpajang di kamar miliknya dan ayahnya, ya. rambut putihnya bukanlah karena sudah berumur melainkan ia mewarisi gen ibunya yang memiliki rambut putih alami
"ngomong-ngomong kenapa ayahanda memanggilku ke sini?"
Aland bertanya, ya. tujuannya ke kamar ayahandanya selain ingin menanyai khabar ayahnya dia juga datang karena robert berpesan ingin mengatakan sesuatu padanya.
"begini," raut wajah robert berubah serius. "kalau boleh, ayahanda. hanya ingin meminta mu untuk menikah lagi."
Aland tidak segera menjawab. dia menunduk memperhatikan kasut hitamnya, dia tidak menjawab sama sekali. sementara robert memperhatikan wajah anaknya setelah itu dia menghela napas
"maaf, jika permintaanku ini terlalu berlebihan. tapi ayahanda hanya ingin melihatmu bersanding lagi dengan seorang wanita."
Aland mengangkat wajah, "tapi, ayahanda. aku sudah memiliki empat orang selir."
"mereka hanya selir, anakku. yang aku inginkan bukan lah selir tapi ratu kerajaan linford, aku rasa kehadiran ratu di istana megah ini harus ada lagi pula kau sendiri yang menolak untuk memilih salah satu selir untuk di jadikan ratu."
Aland menghela napas dalam. "ayahanda, selir-selir di sini banyak yang menginginkan posisi ratu. tapi aku tidak akan memilih asal saja. lagi pula selir-selir disini kebanyakkan hanya mengingin posisi ratu untuk menginjak selir-selir yang posisinya paling di rendah. aku melihat semua itu dan itulah yang membuatku menolak menjadikan salah satu dari mereka untuk dijadikan ratu."
Robert mengangguk, "kau benar anakku, tapi bukan berarti posisi ratu itu harus kosong selamanya. menikah lah sebelum terjadi sesuatu padaku."
Robert mengalihkan pandangan dari wajah aland. Melihat itu aland memejamkan mata sembari menghela napas pelan. sungguh, aland sebenarnya benar-benar tidak ingin kalau ada ratu di istana ini. dia bukan egois tapi kenangan buruk masa lalu kemabali terulang, tapi demi ayahandanya. ya sudahlah..
"baiklah, putri dari kerajaan mana yang ayahanda ingin aku nikahi dan untuk menjadikannya ratu?"
Robert kembali menatap pada aland, "jangan memaksa dirimu nak."
katanya. aland mengeleng, "tidak ayahanda, cepat katakan putri dari kerajaan mana yang ayahanda ingin aku nikahi."
"mana-mana saja, yang menurutmu sesuai."
"baiklah," aland bangkit dari duduknya. "samuel," pelayan peribadi aland yang tadi berdiri di pojokan mendekati tuannya
"ada yang bisa hamba bantu? yang mulia?"
"ya, cepat arah beberapa prajurit untuk menghantar undangan di beberapa istana ah, jangan lupa juga untuk mengundang para perdana menteri untuk mengikutkan anak-anak mereka!"
"mengerti!"
"nah, sekarang ayahanda perlu membayar itu."
"membayar apa." robert memandang aland bingung. "ayahanda harus meminum obat."
.
"Kau dengar itu?"
Amy william, selir pertama robert. melirik tajam pada keponakannya. dua selir yang tadi ingin masuk ke dalam kamar tuan robert kembali berbalik dan tidak jadi masuk, Alizabeth kemudian menghela napas dalam
"tapi bibi, bagaimana caranya aku membuat aland mau menjadikan aku ratu?"
"gunakan saja otakmu, Aliza. pokoknya lakukan segala cara agar aland mau menjadikan mu ratu, karena aku tidak berjaya membuat robert menjadikan ku ratu. maka kau harus menjadi ratu."
Iris kelabu selir berambut blonde itu tersembunyi di balik kelopak mata indahnya. setelah itu matanya kembali terbuka, tatapan penuh percaya diri membuatnya semangat
"aku akan coba!" kata selir ketiga itu. "itulah semangat yang bibi ingin lihat." amy menjawab sembari mengukir senyuman bangga.
.
"buat acara ini nantinya seperti proses pemilihan selir. karena aku tidak ingin memilih ratu yang yang sembarangan. dan jangan sampai semua orang tau yang akan terpilih nantinya akan dijadikan ratu! karena pasti ada dari mereka yang akan melakukan cara kotor!"
"hamba mengerti."
Samuel melangkah ke belakang dengan kepala tertunduk. setelah baru dia membalik badan dan keluar dari ruangan kerja sang raja.
Sementara aland menghela napas dalam. dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela besar yang ada di ruangannya. memikirkan cara agar ia dapat seorang ratu yang tidak terlalu menyukai posisi yang sangat di perebutkan itu,
Tiba-tiba pikiran aland melayang ke memori dua tahun silam, memori di mana ratu pertamanya yang sombong dan selalu menggunakan statusnya sebagai ratu untuk mengancam orang-orang, mula-mula aland hanya memandang sebelah mata mengenai hal itu tapi suatu hari. elena telah membunuh seorang anak kecil yang tidak sengaja menabrak ratu elena ketika berjalan dan berkeliling di toko-toko, alhasilnya gaun yang dikenakan elena menjadi kotor dan hal itu membuatkan ratu elena murka. apa yang dilakukan ratu elena? dia menampar anak kecil ber-usia tujuh tahun itu beberapa kali lalu meninggalkan anak kecil itu begitu saja.
Seminggu kemudian... pipi gebu anak kecil yang mendapat tamparan keras dari ratu Elena ternyata mengalami kebengkakan teruk sampaikan gigi putih nya juga mengalami keburukan yang secara tiba-tiba dan tabib yang menangani anak kecil itu mengatakan bahwa anak itu memiliki penyakit langka, yang jangan di tampar di cubit juga akan langsung memerah tak lama kemudian akan berubah menjadi lebam. saat tau akan hal itu aland pertama kalinya benar-benar murka dan langsung memarahi elena,
“kalau sampai terjadi sesuatu pada anak kecil itu, bersiaplah! kau juga akan mengalami hal yang sama!”
Aland masih ingat benar kalimat terakhir yang dia katakan pada elena sebelum mengambil langkah mengurung ratu elena di penjara untuk pelayan sementara menunggu berita dari tabib mengenai hal itu, namun berita yang aland terima bukanlah berita yang baik. anak itu di sahkan meninggal karena kebengkakan yang semakin meluas dan menyebar di permukaan wajah anak kecil malang itu.
apa yang aland lakukan? dia mengambil langkah menghukum pancung pada ratu elena sehari setelah anak kecil itu dikebumikan di kuburan para kekaisaran. Kenapa? Itu adalah tanda hormat aland pada anak kecil itu. dan benar saja, semua warga negeri linford pada hari itu harus menyaksikan hukuman menakutkan pada ratu elena. Aland tidak main-main dengan ucapannya jika saja pada masa itu bukan anak kecil yang ratu elena sakiti mungkin saja masih bisa di maafkan,
Aland memejamkan mata sembari menghela napas kecil. dia terlalu lelah mengingat hal itu, ya. sampai sekarang aland masih saja merasa bersalah pada anak kecil itu
.
anak panah dengan bahagian lancipnya yang berwarna sedikit kehijauan melayang dengan cepat melawan angin sempoi-sempoi yang berlawanan arah dengannya.
Zapp!
anak panah itu menebusi papan bulat tepat di tengahnya.
"semakin hari ke gesitan dan ke fokusan nona lauren. dalam bidang memanah semakin baik."
wanita yang berjubah hitam di belakang si pemanah memuji majikannya,
tangan putih si pemanah terangkat membuka tudung jubah hitam yang dia gunakan. rambut kecoklatannya kelihatan bersinar di karenakan cahaya matahari yang manja membuatnya kelihatan sempurna, ia berbalik
"simpan saja pujian mu."
Iris biru muda itu memandang pelayannya tanpa sebarang ekpresi, dia memberikan panah pada pelayannya. sebelum berlalu melintasi pelayannya begitu saja
Dari belakang sharon mengeluh. "nona selalu saja begitu." dengan wajah cemberut dia mengikuti lauren dari belakang.
lauren menghentikan langkah secara tiba dan berbalik pada sharon. "kau tau?" sebelah alis kecoklatan lauren terangkat.
"aku paling benci dengan namanya pujian," katanya.
"aku tau, tapi apa yang membuat nona benci dengan pujian?" sharon penasaran. lauren kembali berbalik dan meneruskan langkah menuju di mana kudanya berada
"pujian itu bukan satu, pujian itu mengandungi banyak arti. pujian tulus, pujian palsu, dan banyak lagi. pujian tulus adalah pujian berasal dari hati yang suci dan bersih tapi pujian palsu adalah pujian berasal dari hati yang kotor dan dengki."
"aku suka dengan kata-kata nona," Sharon kembali memuji. namun sesaat matanya membulat
"ep, jangan salah paham! aku memuji nona dengan tulus kau tau!"
"sudahlah jangan banyak bicara!" lauren memakai kembali penutup kepalanya. lalu kemudian dia menaiki kudanya
"ayo pulang, ku rasa akan ada sesuatu yang menyenangkan akan menyambut kita di istana."
"apa?"