Sepanjang perjalanan pulang, aku berulang kali ingin menelepon Akhza. Pengakuan Hera masih terngiang jelas, terutama bagian tentang perempuan bergaun bunga yang berdiri di belakangku saat rapat. Namun aku menunda sampai kendaraan berhenti di depan rumah. Aku belum tahu bagaimana menjelaskan bahwa rekan kerja suamiku melihat sosok yang sama, sementara Akhza sendiri tidak pernah melihatnya.
Setelah masuk, aku meletakkan tas di meja dan duduk di kursi ruang tengah. Lengan kananku terasa nyeri, tetapi untuk beberapa menit aku hanya menatap ponsel. Aku akhirnya menghubungi Akhza. Ia sedang sibuk dan mengangkat telepon setelah beberapa kali nada sambung.
“Sudah selesai urusannya?” tanyanya.
“Sudah. Dokumennya beres.” Aku diam sebentar. “Za, tadi aku bicara dengan Hera.”
“Ada apa?”
“Dia minta maaf soal sikapnya selama ini. Katanya, waktu rapat di rumah, dia melihat seorang perempuan berdiri di belakangku. Pakai gaun motif bunga.”
Di ujung sana hening. Aku mendengar suara kertas digeser, lalu Akhza menarik napas.
“Mungkin dia salah lihat atau orang yang lewat di belakangmu.”
“Mungkin. Tapi Hera bilang dia juga beberapa kali melihat perempuan itu di lobi kantor, menunggumu.”
“Aku nggak pernah melihat siapa pun menungguku.” Suara Akhza terdengar tenang, tetapi lebih serius. “Kamu sendiri melihatnya?”
“Pernah.” Aku menelan ludah. “Aku nggak tahu siapa dia.”
Akhza tidak langsung menjawab. Aku dapat membayangkan ia sedang mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. Aku tidak menyalahkannya. Selama ini ia selalu seperti itu. Namun, setelah mengetahui Hera juga melihat sosok tersebut, aku tidak sanggup lagi menganggap semuanya hanya khayalanku.
“Aku akan bicara dengan Hera nanti,” katanya. “Tapi jangan langsung menyimpulkan bahwa dia orang yang sama dengan perempuan yang datang ke toko.”
“Iya. Aku juga belum punya bukti.”
“Kamu sudah sampai rumah? Lenganmu bagaimana?”
Pertanyaan itu membuatku tersentak. Aku hampir menceritakan benjolan yang kusembunyikan sejak kemarin, tetapi rasa takut kembali menutup mulutku.
“Masih agak pegal. Nanti aku istirahat.”
“Kalau tambah sakit, jangan ditunda. Janji?”
“Iya, Za.”
Kami menutup telepon setelah Akhza mengingatkan agar aku makan. Aku meletakkan ponsel dan merasa lega sekaligus makin khawatir. Aku sudah mengaku bahwa aku pernah melihat perempuan itu, tetapi belum mengatakan soal benjolan. Dua rahasia itu terasa semakin berat untuk kusimpan sendiri.
Aku membuka lemari untuk memastikan kotak kayu masih berada di rak. Pintu kubuka sedikit saja. Kotak itu tampak tertutup rapat. Aku tidak menyentuhnya, tetapi teringat percakapan dengan Hera dan wajah perempuan bergaun bunga. Kalau memang ia berkaitan dengan kembang yang kucuri, mengapa ia datang ke kantor Akhza? Dan bagaimana Hera bisa melihatnya?
Aku menghubungi Murti untuk memastikan ia masih akan membawa teknisi ke tempat produksi. Ia berkata jadwalnya kemungkinan lusa. Bu Sari ingin menunggu hasil pemeriksaan mesin sebelum memutuskan kembali bekerja. Aku menyampaikan bahwa itu wajar. Murti lalu bertanya apakah urusanku di bank sudah selesai.
“Sudah. Dana bisa diproses,” jawabku.
“Bagus. Kita jangan menggunakannya dulu sampai tempatnya benar-benar aman.”
“Aku setuju.”
Percakapan itu mengingatkanku bahwa orang-orang lain juga terkena dampak dari kejadian yang tak kupahami. Bu Sari sempat pusing, Murti harus menunda produksi, dan Akhza mungkin berada dalam bahaya karena sosok itu mengikutinya. Aku tak bisa terus menunggu sambil berharap semuanya berlalu sendiri.
Aku teringat Mbah Pur, orang yang dulu dimintai Mama untuk memilih hari baik bagi toko daringku. Ia pernah melarangku berjualan secara langsung dan memakai tanah kuburan. Selama ini aku mengikuti larangannya, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh membicarakan kembang yang hilang dari vas bertahun-tahun lalu. Aku juga belum pernah bercerita bahwa seorang perempuan datang menaburkan tanah dari tujuh kuburan ke pot-potku.
Aku tidak langsung menghubungi siapa pun setelah percakapan itu. Aku menyiapkan air minum, tetapi hanya meneguk sedikit. Pikiranku terus kembali ke lobi kantor: Hera berbicara dengan sungguh-sungguh, namun ia sendiri mengaku tidak melihat wajah perempuan itu dengan jelas. Aku tidak boleh mengubah keterangan itu menjadi kepastian hanya karena aku takut.
Aku membuka buku catatan dan menulis ulang apa yang Hera sampaikan dengan kalimat sesederhana mungkin. Ia melihat seorang perempuan bergaun bunga berdiri di belakangku saat rapat di rumah. Ia melihat sosok yang mirip menunggu Akhza di lobi beberapa kali. Ia meminta maaf karena salah menilai diriku. Ia tidak mengatakan perempuan itu pasti Nisrina, dan ia tidak tahu apa yang terjadi setelah sosok itu pergi. Aku menggarisbawahi bagian terakhir agar tidak lupa membedakan fakta dari dugaanku.
Catatan tersebut sedikit menenangkan. Aku tetap takut, tetapi setidaknya aku tahu apa yang benar-benar kuketahui. Aku juga memikirkan bahwa Hera meminta rahasia rapat kantor tidak dibawa ke mana-mana. Aku akan menghormati permintaannya dan tidak menceritakan percakapan itu kepada Murti. Akhza perlu tahu karena sosok itu pernah menunggunya, tetapi aku tidak akan menyebarkan cerita ke orang lain.
Malam itu aku mencari nomor Mbah Pur di daftar kontak lama. Nama beliau masih tersimpan. Aku menatap nomor itu lama sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Tidak ada jawaban. Aku meninggalkan panggilan tanpa pesan, lalu menaruh ponsel di meja.
Aku juga berpikir untuk meminta Hera menuliskan apa yang ia lihat, tetapi segera mengurungkan niat itu. Aku tidak ingin menjadikan kesaksiannya sebagai alat untuk memaksa Akhza percaya. Hera sudah meminta maaf dan bersedia bercerita; lebih dari itu, aku tidak berhak menuntutnya.
Aku tidak ingin meminta Akhza mengantarku tanpa lebih dulu menjelaskan tujuan ini. Namun aku juga tidak mau menundanya lagi. Aku perlu menghubungi Mbah Pur dan menceritakan semua yang terjadi, termasuk akar hitam dalam kotak, perempuan bergaun bunga, serta benjolan di lenganku. Aku belum tahu bagaimana ia akan menanggapi, tetapi aku membutuhkan arahan yang lebih jelas.
Sebelum tidur, aku menyusun cerita itu dalam kepala agar tidak ada yang terlupa. Aku akan mulai dari panti jompo dan bunga yang pernah kuambil, lalu menceritakan kejadian setelahnya. Keputusan itu terasa berat, tetapi setidaknya kini aku tahu langkah apa yang harus kulakukan berikutnya.