Valey’s POV
Aku sekarang sedang berada di kamar bersama Alex. Ya, sekarang ini telah resmi menjadi kamar kami. Acara pernikahan dan pengangkatan Alpha ini cukup melelahkan. Aku tengah menuju kamar mandi. Tepat di depan cermin yang besar, aku melihat pantulan diriku. Oh lihatlah diriku. Aku bukan lagi seorang Alpha. Aku seeorang Luna sekarang. Senyuman kecil tersungging di bibirku. Kehidupanku akan berubah mulai sekarang. Selamat tinggal kehidupan Alpha.
Aku mencoba untuk melepaskan gaun pengantin. Oh, tidak. Gaun ini terlalu kecil. Aku tidak bisa menjangkau resletingnya. Setelah bermenit-menit aku mencoba, akhirnya aku menyerah. Ok, aku akan meminta bantuan pada salah satu omega.
Ketika aku keluar kamar mandi, aku melihat Alex yang sudah melepaskan jas nya. Celananya pun sudah berganti menjadi hitam. Kancing kemejanya dibiarkan terbuka. Oh damn, he is so handsome.
“Sayang, kenapa kau belum ganti baju?” tanya Alex setelah melihatku.
“Aku tidak bisa melepaskan gaunku. Tanganku tidak sampai.”
Setelah mendengar perkataanku, Alex tersenyum—nakal. Ku lihat dia mulai mendekatiku. Oh tidak, aku sedah menduga ini akan terjadi.
“Kalau begitu akan ku bantu untuk melepaskannya.” Sudah ku duga dia akan berkata begitu. Wajahnya menyebalkan, sungguh.
“Ah tidak usah, Alex. Aku akan meminta salah satu omega saja.”
Baru saja aku melangkah satu langkah, tubuhku langsung ditarik dan mendudukanku di tepi ranjang.
“Tidak usah malu begitu, sayang. Kau sudah resmi menjadi istriku, kau ingat?”
Belum sempat aku menjawab, Alex sudah menurunkan resleting pada gaunku. Namun, secara tidak terduga Alex berencana ingin langsung melakukan itu. Ya itu. Dengan cepat Alex menidurkanku di atas ranjang.
“Al—“
Alex melumat bibirku sebelum aku mulai berbicara. Ciuman yang panas. Alex terus mengeksplorasi setiap inci mulutku. Aku berusaha untuk melepaskan diri, namun Alex justru memperpendek jarak kami.
Lama-kelamaan aku pasrah. Aku mulai mengikuti permainan Alex. Aku meremas rambut belakang Alex. Alex mulai membuka bajuku dan meraba dadaku. Ia juga mulai membelai tetiap bagian dari tubuhhku. Aku dengan cepat mulai kekurangan oksigen.
“Kau milikku, Valey. Aku tak akan menahannya lagi.”
Aku tidak bisa berkata-kata. Aku sudah terbuai dengan pesona dan belaian yang dibuat olehnya. Alex mulai menciumi dadaku. Setiap belaiannya pada tubuhku membuatku semakin terbuai akan hasratku. Nafasku memburu. Alex terus melakukan hal itu. Nafas kami saling beradu memenuhi kamar kami.
Seketika ada cahaya biru laut dan biru es yang mengelilingi kami dan seakan memasuki tubuh kami yang semakin terbuai akan hasrat duniawi itu.
***
Alex’s POV
Keesokan harinya—
Aku bangun dengan perasaan yang aneh. Aku merasa ada yang berbeda dengan diriku. Apa yang terjadi? Aku merasa— kedinginan? Itu tidak mungkin. Kami para werewolf tidak mungkin kedinginan.
“Apa yang terjadi pada kita, Sam?” Aku mencoba memindlink Sammy.
“Entahlah. Aku kedinginan Al. Biarkan aku mengambil selimut.” Aku melihat Sammy menutup tubuhku dengan selimut.
“Hey hey, Sam. Kenapa kau mengambil alih tubuhku?”
“Aku tidak mengambil tubuh— tunggu, ini..”
“Sudah ku bilang kan.. kau pasti mengambil alih tubuhku, bertukar denganku sekarang Sam.”
“Aku ti—“
Aku merasa Valey terbangun gara-gara perdebatan kecil kami. Tunggu itu tidak mungkin kan karena aku dan Sammy menggunakan mindlink.
“Aduh Alex. Jangan berisik. Aku masih ngantuk.” Keluh Valey.
“Itu benar Sammy. Tidak bisakah kalian menggunakan mindlink tanpa mengganggu kami?” suara.. tunggu, itu bukannya suara Roxie.
“Mate. Bangunlah, apakah kau baik-baik saja? Aku dari tadi menggunakan mindlink tanpa mengganggumu.” Jelasku.
“Itu benar Roxie sayang. Bangunlah, dan kenapa suara kalian terdengar jelas seperti bukan mindlink?” tanya Sammy
Valey terbangun dan membuka mata sebelah kirinya. Bukan, maksudku Roxie. Kenapa Roxie mengambil alih tubuh Valey?
“Aduh Alex, Sammy. Badanku sakit semua sekarang gara-gara kalian, dan kau bertanya apakah aku baik? Dan lagi kau malah mengganggu waktu tidurku.” Keluh Roxie
“Valey, bangun lah. Kau jangan tidur terus di dalam sana. Bantú aku.”
Terdengar suara keluhan dari Valey. Kemudian Valey membuka mata sebelah kanannya. Ada apa ini? Mata milik Valey berbeda warnanya. Sebelah kanan adalah mata milik Valey, mata hijau menawannya. Sedangkan mata sebelah kiri milik Roxie, mata biru laut yang menggoda. Aku juga baru menyadari bahwa rambut gold milik Valey bercampur dengan warna perak. Seperti bulu milik Roxie.
Tiba-tiba raut wajah Valey, tidak Roxie, akhhh. Raut wajahnya berubah bingung. Ia terlihat seperti melihat suatu yang janggal pada diriku. Jangan bilang kalau..
“Alex? Sammy? Siapa kau? Kenapa warna matamu berbeda?” itu suara Valey.
“Itu benar. Mata kanan mu berwarna biru es dan mata kirimu berwarna hitam gelap. Rambut hitammu juga bercampur dengan warna putih.” Kali ini suara Roxie.
Ini membingungkan, suara Valey dan Roxie keluar dari mulut yang sama. Itu berarti bukan mindlink. Tunggu dulu, apa yang dikatakan Roxie tadi? itu berarti kondisiku sama seperti Valey. Terlihat raut wajah kebingungan dari Valey-Roxie.
“Mate. Kau pun juga sama seperti itu. Ayo kita lihat ke cermin.” Ajak Sammy.
Dengan sekejap Valey langsung berdiri dan langsung berlari ke arah cermin. Aku mengikutinya di belakang. Kami sampai tidak memperdulikan bahwa kami sedang telanjang bulat. Aku dan Valey terbelalak melihat keadaan kami. Kami terlihat seperti orang lain.
***
Author’s POV
Alex dan Valey menatap tubuh mereka dengan terkejut. Perubahan ini sangat mengejutkan mereka berdua. Mereka tak bisa memahami apa yang sedang terjadi pada mereka. Ini bukanlah hal yang lumrah terjadi. Tiba-tiba Valey berteriak kecil.
“A-apa yang kau lakukan, Alex? Sammy?” ucap Valey terkejut.
“A-a-aku kedinginan, mate. Bi-biarkan aku me-memelukmu.” Ucap Alex.
“Aku menyukai ini.” Ucap Roxie sambil mengenggam lengan Alex-Sammy kuat.
“Tidak! Lebih baik kau mandi dengan air hangat sana!” teriak Valey sambil melepaskan pelukannya. Alex-Sammy dengan langkah berat pergi ke kamar mandi saat mengetahui bahwa Valey-Roxie pergi meninggalkannya.
Di dalam kamar mandi, Alex-Sammy terkejut bukan main. Air yang ia tampung mendadak berubah menjadi es. Ia tak bisa memahami apa yang terjadi pada air itu. Ia masih telanjang dan kedinginan. Setelah berulangkali mencoba dan tak mendapatkan hasil, Ia keluar dari kamar mandi. Ia langsung mencari pakaian yang bisa menghangatkannya.
“Kau cepat sekali, Salex.” Alex-Sammy langsung menoleh meski tak mengerti siapa Salex itu.
“Siapa Salex?” tanya Sammy.
“Tentu saja kau, mate. Kami setuju akan memanggilmu Salex.” Alex-Sammy tersenyum geli. Ia tak habis pikir dengan tingkah laku matenya.
“Kalau begitu, mate. Kami akan memanggilmu Vaxie.” Salex dan Vaxie tertawa geli dengan percakapan tak masuk akal tersebut.
“Baiklah, kalau begitu. Kini giliran kami.”
“Ah, tunggu—” terlambat. Vaxie sudah masuk ke dalam kamar mandi sebelum Salex memperingatinya. Tak berapa lama Vaxie keluar dengan wajah kesalnya.
“Mate, aku lupa memberitahumu bahwa airnya membeku.” Ucap Alex sambil memakai penutup kepala berwarna hitam.
“Membeku? Airnya tidak membeku. Airnya justru bergerak sendiri dan seolah menghindariku. Apa yang sebenarnya pada air mandi itu? Apa airnya di sihir atau semacamnya?” jawab Valey sambil sedikit kesal.
Salex tak mengerti dengan maksud Vaxie. Jelas saat ia masuk airnya membeku. Sekarang, saat Valey masuk, airnya seolah menghindarinya? Apa ini berhubungan dengan kekuatan baru mereka?
“Ngomong-ngomong, pakaian apa yang kau pakai itu?” Salex tidak menjawab pertanyaan Vaxie karena menurutnya itu sudah jelas.