Valey’s POV
Malam ini aku dan Peter pergi ke Red Eclipse Moon Pack. Acara penobatan Alpha baru. Aku dan Peter masih memikirkan kejadian yang tadi siang. Yah karena tuntutan tugas membuat ku tidak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Aku menggunakan dress berwarna pink, rambutku ku ingat serapi mungkin. Ya inikan acara formal. Sementara Peter menggunakan setelan berwarna hitam. Maksudku hitam semua mulai dari kemeja, dasi, jas, bahkan celana.
Aku dan Peter pergi ke Red Eclipse Moon Pack menggunakan mobil, meski berlari akan lebih cepat. Butuh waktu dua jam untuk sampai disana. Sesampainya di sana. Kami disambut oleh Alpha dan Luna mereka. Setelah masuk aku langsung menuju ke stand minuman. Tiba-tiba..
“Alpha Fredicson.” merasa ada yang memanggil aku menolehkan kepalaku.
“Sungguh suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Alpha Fredicson. Packmu adalah pack yang memiliki kekuatan medis terhebat.”
“Terima Kasih, Alpha Harbor. Reflect Moon Pack juga hebat dengan pertahanan dan tempat wisatanya. Suatu saat bolehkah saya mampir ke sana?” basa-basi yang basi
“Oh tentu saja. Saya akan sangat tersanjung jika anda mau ke sana. Ngomong-ngomong, Anda ke sini seorang diri?”
“Oh tidak, Saya ke sini bersama Beta saya. Di ada di..” aku kebingungan mencari Peter. Tunggu dulu, dia pergi kemana? Kenapa aku tidak tau?
“Ahahaha, mungkin dia sedang ke toilet.” Bohong ku agar terlihat sedikit wibawa.
‘Kemana Peter berada? Aku juga sudah mencoba memindlink Peter atau Roy sama saja tidak dijawab,’ keluh Roxie.
‘Aku juga tidak tahu Xie, dasar kurang ajar. Berani-beraninya pergi begitu saja.’
“O iya, Alpha Frediscon.”
“Ya?”
“Perkenalkan ini adalah mate sekaligus Luna saya bernama Jessy Stoklom.” Alpha Harbor memperkenalkan matenya padaku. Ugh, aku terasa terhina di sini.
“Valey Frediscon.” Aku menjabat tangannya agar pantas.
“Jessy Stoklom.”
“Kapan anda menemukan mate anda Alpha Fredicson? Agar anda bisa berbincang dengan istri saya.” Pembicaraan ini, aku mulai membancinya.
“Mohon doa nya saja Alpha Harbor. Sepertinya Moon Goddes punya rencana sendiri.”
“Kalau begitu, semoga anda segera menemukannya. Kami permisi dulu Alpha”
‘Akhirnya mereka pergi,’ Keluh Roxie. Ya, dia enak-enakan tidur di dalam sana sedangkan aku sibuk ke sana ke mari. Memikirkan ini itu.
‘Kalau kau mau sepertiku dengan senang hati aku akan bertukar denganmu selama sehari. Bukannya kau ingin aku mengantikanmu sebagai ganti tadi pagi?’
‘Ya ya Roxie. Aku tau itu.’
“Alpha.” Panggil seseorang sehingga membuatku sedikit kaget.
“Peter, dari mana saja kau? Apakah kau tau, kau hampir membuatku malu di hadapan Alpha Harbor karena tiadaanmu?”
“Maafkan saya Alpha, tapi saya baru saja menemukan mate saya.” benar seperti yang dikatakan Peter. Dia tidak datang sendiri, tapi dengan seseorang. Dari bajunya seperti pegawai rumah sakit Red Eclipse Moon Pack.
“Rose Thomson.” Mate Peter menjulurkan tangannya mengajak berkenalan.
“Valey Fredicson. Aku adalah Alpha Snow Moon Pack. Itu berarti, sebentar lagi kau akan masuk pack ku. Apakah kau siap?”
“Saya siap Alpha.” Ia terlihat malu-malu, atau takut? Entahlah. Hebat juga mate Peter ini mau langsung bergabung dengan packku begitu saja.
“Ada apa ini?” tanya seorang pria yang ku yakin calon Alpha Red Eclipse Moon.
“Ah, Kakak, er maksudku, Alpha James. Aku baru saja menemukan mate ku.”
“Jadi kau adiknya Alpha Thomson?” tanya Peter pada matenya, bukannya itu sudah jelas? ‘Rose Thomson’.
“Sepertinya kita akan menjalin hubungan baik Alpha Thomson.” ucapku kepada Alpha baru itu. Ia tampak tidak suka denganku, atau telihat seperti meremehkanku? Apa? Apa karena aku Alpha female? Hah, aku harus menahan diri. Ini bukan tempatku.
“Sepertinya begitu, mohon kerja samanya, Alpha Fredicson.”
***
Acara pengangkatan Alpha Thomson berlangsung dengan cepat. Entahlah, mungkin karena aku bosan atau aku single jadinya acara ini terasa begitu lama. Peter sudah menemukan matenya. Ya dia terus menempel pada matenya itu. Sejak tadi yang kulakukan hanya duduk, makan, dan minum. Sesekali berbincang dengan Alpha dari pack lain. Menyedihnyan memang karena aku tidak berbincang dengan Luna lain tapi Alpha lain.
Aku bosan. Aku duduk di ruang tamu sembari menunggu Peter yang mengajak matenya agar ikut dengannya. Ia berada di ruang keluarga. Aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi aku tak tertarik.
“Bolehkah Saya?” Ucap Alpha Thomson tiba-tiba yang sudah berada di belakangku. Aku mengangguk tak peduli. Ini kan rumahnya, kenapa ia harus meminta ijin padaku hanya untuk duduk?
“Mohon kerja samanya, Alpha Fredicson.” Ucapnya Sambil tersenyum.
“Iya.”
“Aku sudah mendengar dari Mom dan Dad tentang dirimu. Aku sungguh mengagumi Anda.” Aku hanya meliriknya. Wajahnya terlihat sangat senang dengan ini. Ia tak tau betapa susahnya tugas Alpha.
“Kenapa kau tak ikut bergabung dengan orang tuamu?” tanyaku memecah keheningan setelah sekian lama. Ini tidak menyenangkan hanya berdua saja di ruangan ini. Peter bodoh itu juga lama sekali.
“Ah, tentang adikku ya. Tidak. Ku rasa aku tak berhak ikut campur.”
“Dia kan keluargamu. Apa kau tidak keberatan sama sekali jika Ia langsung ku bawa ke packku?” tanyaku sambil mengangkat sebelah alisku.
“Apa? Tidak. Itu adalah urusannya. Aku justru senang karena Ia menjadi mate dari beta Anda. Itu berarti hubungan kita akan semakin baik.”
“Ku rasa begitu.”
Kami pulang pukul 11 malam. Akhirnya Peter bisa membujuk orang tua Rose agar Ia bisa ikut dengan Peter. Ini melelahkan menunggunya. Aku sejak tadi berbincang-bincang dengan Alpha baru itu. Tapi aku tak berniat menjawab pertanyaannya. Yah, kebanyakan.
Aku memberikan Peter libur sehari agar dia bisa menikmati harinya bersama matenya sebelum ia disibukkan oleh pekerjaan betanya. Dapat ku lihat kegembiraan yang tak dapat dilukiskan itu.
Sesampainya di mansion, aku langsung ganti baju dan pergi tidur. Hari ini terasa sangat melelahkan. Aku bahkan seketika melupakan tentang kejanggalan tadi siang. Dalam sekejap, kegelapan mulai menghampiriku.
***
Author’s POV
Seorang pria tinggi dengan wajah berantakan dan penuh luka serta baju yang robek dipenuhi bercak terlihat tengah berlari menembus hutan. Ia berlari sekencang mungkin seperti dikejar sesuatu. Benar saja. Terlihat beberapa orang mengejar di belakangnya.
“Berhenti kau!” teriak salah satu orang yang mengejar.
Seorang yang lain menembakkah panah menuju pria tersebut. Namun panah itu menggores lengannya dan mengenai pohon di sampingnya. Pria tersebut terus berlari tanpa memperhatikan belakang.
Pria dengan mata biru es itu terus berlari sembari memegangi luka di lengannya. Ia harus segera pergi dari sana. Pandangannya mulai kabur. Ia jelas bisa merasakan tubuhnya yang memanas. Darahnya seolah semakin mendidih.
Lari pria tersebut sempat tersendat, namun dengan cepat ia langsung kembali berlari. Nafasnya berderu cepat. Keringat bercucuran dimana-mana. Ia bisa merasakan ada yang salah dengan rubuhnya. Ia yakin bahwa panah tadi mengandung suatu racun.
Mata hitam pria itu sesekali melihat ke belakang. Dia masih dikejar. Ia juga bisa melihat mereka mulai melancarkan panah mereka lagi. Pria itu, dengan sekuat tenaga menghindari panah sebisa mungkin.
Ia mencium sesuatu. Ia memaksakan kakinya untuk berlari lebih cepat. Aroma itu yang mendorongnya. Ia mulai menjauh dari yang mengejarnya. Tanpa ia sadari, dia telah masuk ke dalam wilayah suatu pack. Beberapa orang pengejar pria tersebut mulai kebingungan, karena mereka kehilangan pria tersebut.
“Kemana dia pergi?” tanya salah seorang dari mereka.
“Bagaimana mungkin Ia bisa berlari lebih cepat sampai kita tak bisa melacaknya.” Geram yang lain.
“Kita harus mencarinya. Kita ditugaskan untuk membunuhnya, karena dia merupakan pemberontak.” jawab seseorang yang terlihat seperti pemimpin mereka.