Belakangan kenangan itu terus menghantuiku. Aku tahu cepat atau lambat hal itu akan terjadi, tapi ... kurasa ini terlalu cepat.
Lamunanku terbuyarkan ketika sesuatu yang kasar terlindas oleh kendaraan yang kutumpangi. Mungkin sebuah batu berukuran sedang. Guncangannya cukup terasa sampai ke leher.
“Maaf, aku tidak lihat lubang itu.” Ucap seseorang di belakang kemudi.
Namanya Lukas. Tampilannya seperti pria dewasa pada umumnya dengan kemeja flanel dan rambut hitam pendek. Ditambah janggut yang cukup tebal dan garis tegas di wajahnya. Dari yang dia bilang, Lukas adalah seorang petani. Meski begitu, dia orang asing.
Kami baru bertemu beberapa jam lalu di persimpangan menuju jalan sepi ini. kebetulan tujuan kami searah.
“Kau tak apa?” Tanyanya lagi.
“Ya, bukan masalah.” Pemandangan di luar jendela bergerak cepat. Ladang jagung luas dan padang rumput sepanjang yang terlihat. Saat itu hari memang sudah petang dan awan mendung sudah mendominasi. “Masih berapa jauh lagi?”
“Dua jam barangkali. Boleh aku bertanya, kenapa kau ingin ke tempat itu? Maksudku, semua orang tahu tempat macam apa itu, kan? Menurutku kau bisa mencari tempat yang lebih baik.”
Itu reaksi yang wajar. Dua hari aku mencari info tentang tempat itu dan yang kutemukan bukan hal yang menyenangkan. Sekolah Padang Rumput, atau terkenal sebagai pembuangan para berandalan. Kebanyakan yang datang ke sana tidak secara suka rela sepertiku. Letaknya juga jauh dari pusat kota sehingga cukup sulit untuk mendapat akses dari luar.
“Eh, aku tidak bermaksud ikut campur, ya. Tolong jangan salah paham.”
Aku sedikit tertawa untuk meyakinkan Lukas kalau itu bukan masalah. Umurku memang baru 15 tahun dan dari wajahku wajar jika orang dewasa berpikiran seperti itu. Aku bisa saja mencari tempat yang lebih baik untuk belajar. Namun ... belajar bukanlah tujuanku di sana. “Aku hanya ingin mencari seseorang.”
***
Seperti yang Lukas bilang, dua jam kemudian aku sudah berdiri di depan gedung sekolah.
“Kalau kau berubah pikiran hubungi aku saja. Aku bisa mengantarmu ke kota.” Sahutnya dari dalam Jeep sambil mengulurkan tangan. Sebuah kertas. Aku menerima dan membukanya. Kertas itu berisi deretan nomor.
Aku berbalik dan tersenyum. “Terima kasih Lukas. Hati-hati di jalan.”
Beberapa saat kemudian Jeepnya sudah menghilang di ujung jalan. Dia pria baik—walaupun agak berisik, sayangnya. Kalau aku tidak tertidur mungkin dia bisa bercerita sepanjang perjalanan.
Di depanku, gedung sekolah itu nampak suram seperti yang dibicarakan. Gedungnya adalah gedung lama dengan cat krem pudar. Pagar merah di depannya hampir berubah menjadi cokelat kemerahan karena karat. Ada juga kolam ikan besar yang keseluruhannya dipenuhi lumut. Bahkan keset “Selamat Datang” di pintu masuk telah hilang sebagian hurufnya.
Tak berlama-lama di luar, aku langsung masuk dan menuju ruangan yang kubutuhkan saat ini. Menurut petugas kebersihan karena sudah sore, semua murid akan terkunci di kamar. Meski agak keberatan, petugas itu tetap mengantarku ke ruang kepala sekolah.
Dia adalah seorang wanita berusia 50an. Rambutnya masih hitam jelas karena disemir. Wajahnya juga lelah, bukti bahwa dia tidak suka tempat ini. Dan reaksi yang dia tunjukan setelah mendengar tujuanku disini persis seperti yang kubayangkan.
Keningnya berkerut saat membaca surat pengantar yang kuberikan. “Penelitian metode pendidikan? Kenapa harus di tempat ini.”
“Mmm, aku tidak bisa menemukan tempat lain. Lagi pula, sekolah ini akan cocok untuk makalahku.”
“Syarat yang kau ajukan cukup sulit. Meski setiap minggu ada saja anak bermasalah yang di bawa kemari, kami tidak pernah menerima orang baru secara sukarela.”
“Oh, ayolah, Bu. Apa bedanya? Lagipula aku hanya perlu dua minggu. Kumohon.”
Aku khawatir rencanaku akan gagal karena wanita tua ini. keraguan tampak jelas di matanya. “Apa tanda tangan rekomendasi ini asli?”
Mendengarnya akupun tersenyum. “Aku tidak akan berani memalsukannya.”
Aku tidak menyangka bahwa tanda tangan rekomendasi itu bisa berhasil. Tetapi itu juga berarti bahwa waktu yang kumiliki disini benar-benar terbatas.
Setelah mengisi beberapa dokumen kepala sekolah membawaku ke bagian asrama. Lorongnya gelap dengan pintu besi di tiap sisi. Wanita itu menuntunku ke kamar yang masih kosong. Bagian dalamnya seperti yang kubayangkan. Hanya ada meja kayu, lemari dan sebuah kasur tipis. Tak heran mereka juga menyebut tempat ini penjara.
“Seperti syarat yang kau ajukan, kau akan tinggal sementara sebagai pelajar di sini. Itu berarti juga bahwa kau harus mengikuti setiap aturan yang ada.” Kata wanita itu. “Dan... apa kau bisa melakukan sesuatu dengan rambutmu?”
“Ah, maaf itu mustahil. Sejak lahir memang seperti ini.”
Wajahnya masih skeptis menatap rambut berwarna putih perakku. Barangkali mengingatkan dengan warna asli rambutnya. Tapi aku tidak berbohong.
“Itu bisa jadi masalah, kau tahu?”
“Aku akan berusaha tidak mencolok.”
Dia menatapku lekat-lekat sebelum menghela napas pajang. “Akan kututup pintunya. Besok pukul delapan sirine akan berbunyi dan kuncinya akan terbuka otomatis. Selamat malam, Layla.”
Pintu besi itu sudah tertutup di belakangku. Langkah kaki kepala sekolah masih bergema samar di luar. Aku meletakan ransel dan membuka jaket. Lantas mengambil sesuatu yang selalu kusembuyikan di sana.
Gagangnya terasa hangat di genggamanku. Aku menatap belati itu lamat-lamat sebelum berjalan ke arah pintu. “Hanya untuk jaga-jaga,” Gumamku pelan. Kutekankan bilahnya di telapak tangan kiri. Darah segar mulai mengalir dari bekas luka sayat itu. setelahnya, aku menepelkan tangan kiriku di pintu. Memberikan cap telapak tangan dari darah. “aku tak mau terkunci disini.”
Hanya butuh beberapa saat. Tanda di pintu mulai berpendar biru. “Sekarang, bagaimana aku menemukanmu.”
Barangkali setengah jam setelah kepala sekolah pergi. Tidak ada jam di dinding. Tapi dari waktu kedatanganku bisa kuperkirakan sekarang sudah jam tujuh malam.
Aku bersiap-siap dan memakai kembali jaketku. Cap tangan di pintu masih berpendar biru dan ketika kubuka, pintu itu tidak terkunci seperti yang dikatakan. Aku tersenyum. Bahkan di tempat ini sekalipun sihir itu bekerja dengan amat baik. Surat pengantar dan tanda tangan rekomendasi pun demikian. Jika tidak, kepala sekolah tidak akan percaya dengan mudah.
Lorong di luar tampak sepi. Hanya ada beberapa lampu yang dinyalakan, membuat suasana menjadi semakin suram. Waktu yang kumiliki terbatas, karena itu aku ragu bisa beristirahat barang sejenak saja. Disaat semua orang terkunci di dalam kamar, ini waktu yang tepat untuk melihat-lihat.
Aku tidak yakin seratus persen bahwa mereka semua sudah tertidur. Sesekali, dari pintu-pintu kamar aku bisa mendengar suara. Beberapa menit berjalan, aku mengetahui bahwa asrama dan sekolah berada pada gedung yang berbeda dan terhubung oleh lorong besar di lantai dua. Tidak ada yang begitu menarik di gedung asrama.
Di gedung sekolah, ruang kepala sekolah berada di lantai satu. Dan seperti sekolah pada umumnya, di sepanjang sisi tembok terdapat beberapa ruang kelas. Tidak ada jendela di dinding. Hanya sebuah kaca kecil pada pintu besi tiap kelas. Buruknya, aku juga tidak melihat celah sedikitpun untuk keluar.
Meski belum bertemu, aku bisa menebak seperti apa rupa para pelajar di sini. Dari reaksi Lukas dan wajah lelah kepala sekolah. Masalah yang membuat mereka dikirim kesini pasti sangat beragam. Dan karena itu aku sedikit paham kenapa orang yang kucari bisa berakhir di sini.
Aku tak tahu apa aku mengenalnya. Namun aku yakin, di dunia ini kami terhubung oleh nasib yang sama. Dosa yang akan terus terikat pada orang-orang seperti kami.
***
Lantai dua juga tidak terlalu berbeda. Hanya ada kelas dan lorong berkelok-kelok. Bahkan bagi orang sepertiku, ini berubah menjadi sedikit menakutkan. Aku tidak akan berbohong. Bukan karena suasana sepi dan gelap. Sesuatu yang lain berada di sini dan terus memperhatikanku sejak tadi. Aku tahu apa yang bisa memunculkan perasaan merinding seperti ini. Masalahnya, itu mustahil.
Setibanya di lantai tiga aku mendengar suara.
“Kau tidak bisa lari lagi, dasar sial!” Suara laki-laki. Tidak hanya satu dan napas mereka tersengal.
Aku mencoba mendekati sumber suara dan berhenti untuk mengintip. Ada empat orang laki-laki di sana. Dari posisi mereka berdiri, aku pikir ini masalah yang umum di tempat ini : perundungan. Tiga anak laki-laki menghadap seorang yang memakai sweter hitam. Bisa kusimpulkan si sweter hitam adalah korban.
Meski tempat ini adalah pembuangan anak bermasalah, tapi situasi itu sedikit janggal. Di setiap sekolah perundungan pasti selalu ada. Tapi apa yang membuat mereka sampai nekat mengejar anak itu di malam hari sekalipun. Mereka mungkin tidak ada di kamar saat pintu terkunci. Dan bila memang begitu, barangkali si sweter hitam sudah bersembunyi bahkan sebelum aku sampai di sini.
Gelap, tapi aku bisa melihatnya samar-samar. Rambut hitam berantakan, serta sorot mata yang tak asing.
“Ada apa, kau masih mau lari?” kata salah satu perundung. “Kenapa tidak menghilang saja seperti yang pernah kau lakukan.”
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi kata-kata itu membuat si sweter hitam bereaksi. Dia berusaha melawan. Menyerang mereka dengan pukulan-pukulan menyedihkan. Karena gerakannya sedikit liar, beberapa pukulan berhasil mengenai lawan. Tapi tidak berlangsung lama sampai itu berubah menjadi pemukulan sepihak.
Beberapa menit menerima pukulan dan tendangan, si sweter hitam terkapar di lantai. Tubuhnya sedikit gemetar, tapi dia masih berusaha melindungi kepalanya. Sementara yang lain menahan tubuhnya, perundung ketiga menekan kepala korbannya ke lantai. “Kau menyedihkan. Aku sudah menawarkan pilihan yang mudah, kenapa tidak kau katakan saja yang sebenarnya. kau benar-benar suka melihatku ditertawakan, ya.” Kemudian dia mendekatkan mulutnya dan berkata pelan. “Kenapa tidak kau panggil saja monster bayangan itu?”
Sekujur tubuhku bergidik. Kata-kata itu barusan, aku sangat mengerti apa maksudnya. Sensasi yang kurasakan sebelum ini entah bagaimana menjadi masuk akal. Meskipun aku masih menolak untuk mempercayainya. Tapi sorot mata itu, aku juga tahu apa artinya. Rasa takut, kebencian dan keputus asaan, semua tergambar di matanya.
Aku mengepalkan tangan dan berjalan ke arah mereka. Menyadari keberadaanku, mereka nampak terkejut. “Siapa kau?”
Aku tak menghiraukan pertanyaan mereka dan terus berjalan. Mereka melepas si sweter hitam dan mulai terfokus padaku. Tanpa penjelasan dan pembicaraan panjang, aku langsung menyerang. Meski tubuhku lebih kecil itu tetap saja mudah, karena bagaimanapun mereka hanyalah manusia.
Di tengah perkelahian, si sweter hitam mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Aku sempat berusaha memanggilnya, namun dia sudah berbelok dan menghilang di ujung lorong.
“Bodoh, kau bahkan tak tahu apa yang kau lakukan.”
Para perundung sudah terkapar dan meringis kesakitan, tapi mereka masih saja bersungut-sungut tentang tindakanku. Setidaknya mereka sudah tahu bahwa aku hanyalah orang asing disini. Tapi mereka salah tentang hal yang paling penting.
“Aku tahu.”kataku. “Berdoalah, kalian tahu terlalu banyak.”
Kalimat itu cukup untuk menakuti mereka. Aku mencoba mengikuti si sweter hitam. Namun, lorong tempat dia berbelok ternyata adalah jalan buntu. Anehnya, anak itu juga sudah menghilang tanpa jejak.[]