Sejak kejadian malam itu aku terus memikirkannya. Gadis berambut putih dan mata berwarna biru langit. Kupikir ada yang ingin dia katakan dan ada alasan tertentu mengapa dia datang kemari. Yang kutakutkan, barangkali itu adalah tentang sesuatu yang kumiliki. Kekuatan misterius yang merenggut semuanya dariku.
Sejujurnya, aku tak mengingat apapun. Masa laluku, atau bagaimana aku bisa berakhir di sini. Yang kutahu, sejak awal kutukan ini sudah menyertaiku.
Setelah datang kemari yang kulakukan hanya menghindar. Aku berusaha menjaga jarak dan tak terlibat dengan masalah apapun. Namun tanpa sengaja mereka melihatnya. Hantu bayangan, walaupun tak tahu apa itu, aku tahu ini berhubungan dengan kutukanku.
Mungkin ini hari kelima aku bersembunyi di sini. Sebuah gudang di lantai tiga yang tak lagi terpakai. Bukan karena aku takut pada mereka. aku, hanya tak ingin tragedi itu terulang lagi.
Rak besi berisi berkas-berkas lama dan tumpukan kardus lepek memenuhi ruangan. meski dari luar ruangannya terkunci, bukan masalah bagiku untuk melewatinya. Tak ada yang kulakukan di sana. hanya duduk sambil memeluk erat lututku. Aku Cuma kembali ke kamar saat malam. Selebihnya, aku benar-benar tak ingin menemui mereka.
Di luar, sirine malam berbunyi, pertanda setiap kamar sudah terkunci. Menunggu satu jam lagi, aku berdiri dan meregangkan badan. Di depanku, pintu itu tak akan terbuka meski kudobrak sekuat tenaga. Aku memang lemah, karena itu aku selalu menggunakan cara lain. Kubayangkan lorong di depan sambil memejamkan mata. Dan dalam sekejap, pintu itu sudah kulewati.
Kekuatan ini, aku tak tahu pasti cara kerjanya. Terkadang aku bisa berpindah tempat secara reflek. Terkadang aku harus memfokuskan diri dulu untuk pergi ketempat yang ingin ku tuju.
Lorong lantai tiga sudah benar-benar sepi. Aku berjalan menyusuri belokan menuju tempat itu. bukan kamar. Ini adalah sesuatu yang selalu kulakukan sebelum kembali. Tapi keanehan itu membuatku terkejut. Di ujung tangga, pintu menuju atap sudah terbuka.
Aku menelan ludah. Ada seseorang di sana. pikiranku terus bersikeras untuk langsung kembali ke kamar, tetapi ada sensasi aneh yang mencoba menahanku. Aku memberanikan diri. Hanya melihat sekilas. Jika situasinya buruk aku akan berlari dan langsung berteleport.
Saat kubuka pintu itu, pandanganku terpaku pada sosok yang duduk di tepi atap. Rambut putihnya berkibar tertiup angin. Juga seakan mengkilap memantulkan sinar rembulan.
“Kau orang yang sulit ditemui.” Ujar gadis itu tanpa menoleh. Kemudian dia berbalik dan tersenyum ke arahku. “Membolos itu bisa membuatmu bodoh, kau tahu.”
Dia cantik, bahkan tanpa perlu kudeskripsikan sekalipun. Dia mengenakan jaket hijau di atas kaus berwarna kelabu. Rambut putihnya diikat dengan pita berwarna biru. Dia berdiri diam dan melakukan hal yang sama denganku, mengamati. Karena di luar semua yang terlihat, entah mengapa, wajahnya tampak tak asing.
“A—apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku pelan.
“Menunggumu.”
Aku melangkah mundur. “Untuk apa?”
Senyumnya menghilang. Dia melangkah cepat sambil memasukan tangan ke dalam jaketnya, mengambil sesuatu dari sana. saat aku menyadari bahwa dia mengeluarkan sebuah belati dan berjalan pelan ke arahku, instingku berteriak.
“Tenanglah.” Dia menerjang. Sangat cepat sampai aku tak sempat melakukan apapun. Namun alih-alih menusuk, dia mencengkeram sweterku dan menarikku ke belakangnya. Sesuatu terjadi di tempat aku berdiri sebelumnya. Begitu janggal dan membuatku hampir tak percaya.
Walaupun aku sudah berpindah namun bayanganku tetap di sana. semakin membesar dan beriak seperti genangan air dengan pinggiran yang menguarkan asap. Perlahan, mahluk itu keluar dari sana. sosok serba hitam menyerupai manusia yang seluruh tubuhnya terbuat dari asap.
Gadis itu langsung menusukkan belatinya dan menebas, membuyarkan mahluk itu menjadi asap tak berbentuk.
“Hantu bayangan.” Gumamku.
“Belum selesai.” Ujarnya. Dia memasukan belati itu kembali ke balik jaket. Lantas mengambil sesuatu di pinggangnya dengan kedua tangan. aku melihat sebuah tas pinggang berwarna cokelat, tapi yang dia tarik keluar dari tas itu benar-benar membuatku tersentak. Dua buah pedang berbentuk identik. “Tetap di belakangku.”
Asap itu kembali berkumpul. Sedikit demi sedikit mulai memadat dan mewujud kembali menjadi hantu bayangan. Aku hanya bisa melihat dua lingkaran putih di kepalanya yang mungkin berfungsi sebagai mata. Mahluk itu menjerit. Suaranya mirip seperti lengkingan hewan yang terjepit.
Saat mahluk itu menerjang, gadis di depanku juga melangkah maju. Sayangnya, mahluk itu melewatinya begitu saja dan langsung menuju ke arahku. Sadar bahwa akulah yang menjadi target, aku mencoba menghindar.
Mahluk itu mengejarku. Bersamaan dengan bayangan di bawahnya yang bergerak tak wajar. Untungnya, tiap kali bayangannya nyaris menggapaiku, si gadis berambut putih kembali membuyarkannya.
“Menghindar. Tapi tetap di dekatku.”
Aku mengangguk. tapi rencana itu tetap sia-sia. Ternyata mahluk itu bisa mewujud menjadi bentuk apa saja. Kali pertama, dia berubah menjadi duri-duri tajam yang mencuat keluar dari area atap di sekitar kami. Membuatku kesulitan menghindar. Dan yang terakhir, dia menerjang dan meledak begitu saja. Mementalkan kami ke belakang. Sayangnya, tak ada apapun lagi di belakang dan kami terjun bebas dari lantai tiga.
Aku bisa melihat gadis itu yang terus berusaha menggapaiku. Namun jarak kami terlalu jauh dan waktu jatuhnya begitu cepat. Akupun memejamkan mata dan berusaha melakukan yang kubisa. Sepersekian detik sebelum tubuhku remuk oleh tanah, aku membayangkan lorong sekolah. Dan tepat di detik terakhir, aku sudah berpindah tempat.
Pendaratanya tidak mulus dan membuat kakiku sedikit terkilir. Jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Namun perasaan mencekam itu tidak kunjung hilang. Di ujung lorong di belakangku, suara lengkingan bergema seram. Dia benar-benar mengincarku dan tak tertarik sama seklai pada si gadis berambut putih.
Aku langsung berlari lagi. Jika dia bisa mengikutiku sampai kemari, percuma berteleport ke kamar. Aku harus pergi. Tapi ... kemana?
Pada akhirnya selalu seperti ini. kali terakhir memang cukup lama aku bisa bertahan. Tapi tetap tidak ada yang berubah di akhir. Sebuah pemikiran tiba-tiba terbesit di kepalaku. Aku selalu berakhir dengan cara yang sama, lantas, apa kali ini akan berbeda.
Lengkingan itu terdengar semakin dekat. Spotan, aku memelankan langkah.
Berbagai cara dan tak satupun yang berhasil. Mungkinkah, kali ini akan lain?
Mahluk itu muncul di ujung lorong dan melayang cepat ke arahku. Aku berbalik dan berdiri diam. Saat jarak kami hanya selangkah, lengan mahluk itu memanjang dan menyebar di depan wajahku. Tetapi, aku juga melihat hal lain. Dari d**a hitamnya, mencuat sebuah belati dengan pendar biru. Gerakan hantu bayangan sontak terhenti dan belati itu bergerak vertikal. Menebas dan membuyarkannya.
Perlahan, asapnya menghilang dan tidak terbentuk lagi. Di belakangnya si gadis berambut putih menghela napas panjang. Aku jatuh terduduk sangking kagetnya.
“Syukurlah masih sempat.” Dia mengulurkan tangan padaku.
Ragu-ragu, aku menggapainya. Saat tangan kami bersentuhan, muncul sensasi aneh yang menggelitik seluruh tubuhku. Seperti sengatan listrik kecil pada besi.
Dia tersenyum. “Aku menemukanmu, harapan.”[]