“Coba kau pegang ini?”
Seorang remaja lelaki memberikan sebuah tabung pada gadis di sebelahnya. Yah, suara yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga sang gadis sehingga tanpa menoleh pun dirinya akan mengenali suara itu.
Sementara gadis itu mengulurkan tangan, menerima tabung yang diberikan, matanya terus terpaku pada langit. Taburan cahaya bintang ditambah kerlap-kerlip lampu kota yang menggantung terlihat begitu menawan.
“Coba kau arahkan teleskop ini ke arah sana!” titahnya sembari menunjuk ke arah atas, “ sepertinya mereka sedang mengadakan festival. Kau sangat menyukainya, bukan? Festival.”
Yang ditanya hanya mengangguk mengiyakan perkataannya. Dengan senyum tipis yang terlukis diwajahnya, ia mengarahkan teleskop ala kadarnya itu menuju arah yang ditunjuk.
“Sepertinya Mereka mengadakan festival lampion.” Lelaki di sampingnya menempatkan matanya pada lubang tabung yang lebih kecil. “Aku tidak terlalu jelas melihatnya.Teropong ini masih harus aku sempurnakan.”
Teropong ini hanyalah teropong sederhana yang dibuat dari alat-alat rongsokan yang sudah tidak digunakan lagi. Lelaki itu telah merakitnya sedemikian rupa selama berminggu-minggu. Bentuknya masih terlihat kacau dengan tambalan di sana sini.Meskipun begitu, ini adalah hasil terbaik yang dapat mereka gunakan.
Mereka menempatkan mata pada corong pipa yang lebih kecil sedangkan sisi yang lebih besar diarahkan ke langit. Lelaki itu benar. Ada begitu banyak lampion yang beterbangan di atas sana menyatu dengan kerlipan cahaya bintang. Bentuknya Begitu kecil hingga hanya terlihat seperti titik-titik cahaya saja, tetapi masih dapat dikenali. Orang-orang ... tidak bisa dipastikan keberadaannya.
Gadis itu diam-diam bergumam takjub. Dalam hati bertekad jika suatu hari ia ingin mencapai tempat itu. Ingin menginjakkan kakinya di sana. Di atas awan itu.Berada di kota itu. Suatu hari ia ingin memandang kota ini dari ketinggian. Melambaikan tangan dan tersenyum sambil menatap tempat ini.
“Bisakah ....”Suara kecil itu adalah bisikan dari mulut sang gadis yang keluar tanpa disengaja. Namun, lelaki yang duduk di sampingnya tampak mengerti apa maksud dari bisikan kecil itu.
“Tidak mungkin.Tidak ada cara untuk pergi ke sana. Tidak ada cara untuk meraih tempat itu.”
Desahan kecewa meluncur begitu saja. Meskipun itu adalah pertanyaan bodoh yang sudah diketahui pasti apa jawabannya, tetapi mendengarnya dari orang lain tetap saja membuatnya merasa kesal. Kota yang telah hadir di mimpinya sejak kecil. Tempat yang selalu ia dengarkan kisahnya lagi dan lagi tanpa pernah merasa bosan. Meskipun dirinya tahu dengan sangat jelas jika mustahil untuk bisa sampai ke sana. Bagaimanapun ia tidak bisa bohong. Ia sangat merindukannya. Seakan itu adalah tempat yang memang seharusnya ia kunjungi sejak awal.
“Kita bisa melihatnya saja sudah merupakan sebuah keajaiban. Jadi ....” lelaki itu mengusap puncak kepala sang gadis pelan. “Jangan terlalu berharap.”
Kepalanya tertunduk semakin dalam. Teropong tadi tergeletak tidak berdaya di sampingnya.Perasaan senang yang sempat datang mulai kembali menyusut. Sekarang ia hanya bisa menatap tanah. Menatap kota itu, meskipun indah, terasa menyakitkan karena keindahannya tidak bisa diraih.
“Ayo, kita harus pulang. Malam ini cukup sampai di sini saja. Akan jadi masalah kalau ayah dan ibu tahu.” Ia mengulurkan tangannya untuk membantu gadis bangun. Walaupun masih merasa enggan, ia tetap meraih tangan itu. Lelaki itu tersenyum dan mengusap wajahnya. “Tidak perlu khawatir, Isla. Aku tidak akan pernah menyerah. Kita akan menghadapi semuanya bersama. Aku berjanji, meskipun mustahil, aku akanberusaha untuk mengabulkan setiap keinginanmu.”