Sepulangnya dari toko buku, Alan segera melesat ke rumahnya. Bagusnya hari ini ia tdak masuk kantor karena bagian divisinnya sedang mengajukan pembenahan sistem jam kerja. Termasuk Machine Learning yang berada di dalam tim tersebut.
Alan pun sudah mengagendakan hari ini akan banyak mendekam saja di rumah. Makan, tidur, tidur, makan. Ya, siklus hidup Alan jika sedang dalam free.
Bruk!
“Huh ... capeknya.” Pemuda itu mencampakkan ranselnya ke sembarang arah. Kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Ia sudah berada di rumah btw.
“Mandi dulu kali ya, baru setelah itu mengerjakan proyek robot itu. Terus makan, sampai jam sepuluh baru pergi tidur.” Alan mulai menyusun semuanya satu-persatu.
Senyum manis berkembang lebar menghiasi bibirnya. Oh indahnya jika hidup bisa terus-terus sebebas dan selepas ini.
“Tugas kuliah juga sedang kosong kan.” Lagi, senyum Alan tertarik semakin lebar. Nyaris seperti senyuman Joker.
Namun, disaat dirinya yang sedang terpejam menikmati keempukkan sofa denga perasaa tenang, ponselnya berbunyi. Aln pun segera membuka matanya dan mencari keberadaan alat elektronik tersebut.
“Ck, siap sih. Ganggu saja!” omelnya sembari menslide layar ponselnya.
Dan, tertera nama Kadal Air di sana. Adalah kontak Andrew yang ia beri nama demikian.
“Apa?” tanyanya sarkas dalam sekali sambungan.
“Biasa saja dong, Al. Bagaimana bukunya, dapat?”
“Ada, sudah kubeli sekitar empat buku dan semuanya sesuai dengan bidangmu.”
“Wah ... terima kasih ya Alan. Cinta deh.”
Alan merinnding mendengarnya, ia cepat-cepat bangun dari posisi rebahannya dan bergidik jijikeu.
“Amit-amit ya, Dal. Amit-amit!” Kemudian terdengar suara gelak tawa dari seberang sana, yang tentunya berasal dari Andrew.
“Kapan kau ke sini?”
“Sebentar lagi, ini masih mau keluar. Mau titip apa? Cepat katakan sekalian.”
“Tidak ada, ngomong-ngomong jangan lama-lama kemari ya, And. Ada hal penting yang ingin kukatakan.”
“Penting sekali?”
“Sangat.”
“Oke, yasudah aku jalan sekarang.”
Klik!
Alan meletakkan ponselnya ke sofa secara asal. Kemudian mengusak surainya menjadi berantakan.
“Ck, baru saja aku ingin berleha-leha sebentar. Sepertinya aku diciptakan memang hanya untuk bekerja ya, jadi tidak ada kesempatan sebentar untuk bersantai,” gerutunya sembari memeluk bantal sofa.
“Alan, kau sudah pulang.” Pernyataan seseorang yang datang menghampirinya.
Suara itu, sontak saja Alan kembali membuka wajahnya yang tertutup bantal dengan malas. Suara yang tidak asing dan sangat ia kenali karena nadanya yang khas.
“Huh ... oh hidup. Bukan hanya mengurusi robot di kerjaan, di rumah pun aku masih harus berurusan dengan robot juga. Astaga!” erang Alan frustasi.
Untung saja mentalnya kuat, kalau tidak bisa kena gangguan jiwa dia.
***
Sementara di tempat lain, Benzie yang pagi itu bertemu dengan Mr. Jazz di tempat rahasia mereka. Sampai sekarang ia terlihat fokus dengan dokumen yang dibacanya, pemberian Mr. Jazz.
Hanya ada satu lembar kertas putih berukuran HVS yang tertera di sana tapi, isinya sangat memusingkan. Kalau begini dia juga bisa tepar.
Di satu sisi enggan menerima namun tidak bisa menolak. Dan juga pekerjaannya yang lain juga harus terdistraksi dengan datangnya berkas ini. Satu hal yang masih menjadi kebingungan Benzie sejak tadi.
“Sebenarnya siapa yang dimaksud Mr. Jazz di sini?”
Karena sejak tadi ia membaca berksa ini ada yang menyita perhatiannya.
“The Xavious?”
Apa itu? Apa sejenis senyawa ilmiah yang bekerja untuk proses perakitan robot Doujav Corp berikutnya? Atau sebuah kode rahasia yang coba Mr. Jazz sampaikan dengan maksud tertentu?
Sebab, tertulis jelas di sana kalimatnya berbunyi, “Haxaus dari menu drop out yang muncul setelah keamanan sistem keluar maka, the xavious harus terbaca.”
Pada baris selanjutnya, juga mengatakan kalau The Xavious harus mereka taklukan demi masa depan Doujav Corp semakin cerah. Pun adanya kode-kode coding dengan bahasa yang berbeda-beda.
“Intinya, apa yang harus kulakukan dengan The Xavious ini? Sebuah isyarat untuk next konsep?” Lagi-lagi Benzie hanya bisa menerka-nerka.
Lantas, ia menyambar laptop di atas meja kerjanya. Benzie sedang mengejar studi S2-nya di Eropa secara online. Namun, jika diharuskan untuk datang ke kampus maka ia tidak bisa menolak untuk terbang ke sana.
Selain itu, ia juga si jenius Indonesia yang selalu mendapat tawaran bekerja dari banyak perusahaan IT terkenal dan maju lainnya di Eropa. Namun, pilihan Benzie adalah Doujav Corp. Karena selain berada di negara sendiri dan ia merasa lebih nyaman, ia juga ingin memajukan aset negaranya terlebih dahulu. Menjadikan Indonesia sebagai negara maju yang makmur.
Satu hal yang tidak orang lain ketahui tentangnya, termasuk Mr. Jazz sekalipun. Kalau diam-diam Benzie juga terdaftar dalam salah satu lembaga pemerintah nonkementrian, yakni BIN atau Badan Intilijen Negara.
Dalam BIN, Benzie berada di bidang kontra intelijen serta komunikasi dan informasi. Tepatnya ia bertugas dalam pengolahan, pengaturan, dan pengkoordinasian sistem intelijen pengamanan pimpinan nassional. Ia yang bertanggung jawab untuk jabatan tersebut.
Kedudukkannya ini ia terima dari hasil sebagai relawan saat menyambangi kegiatan amal bersama UNICEF di Korea Selatan beberapa saat tahun lalu.
Sebuah prestasi yang berhasil Benzie tutupi seapik mungkin selama hampir tiga tahun ini. Bahkan media tidak ada satu pun yang dapat mencium jejaknya.
Di mata publik, Benzie terkenal sebagai si jenius pencipta robot yang datang dari bumi pertiwi, Indonesia dan berada di bawah naungan Doujav Corp. Selebihnya, ia adalah seorang mahasiswa IT yang sedang mengejar gelarnya berikutnya.
“Hi, Justin. How are you?”
Panggilan video sedang berlangsung dan Benzie tengah berbicara dengan salah satu koneksinya di BIN, Amerika.
“I want to ask your help, Jus. Do you mind?”
“No, Dude. Sure, I do. Just say it.” Sahut Justin di sana.
Bagus, sangat bagus bahkan teramat bagus. Benzie pun mengucakan terima kasih pada sahabatnya itu. Tak lupa mengatakan rasa hormatnya kepada sosok Justin yang humble dan suka membantu sesama.
“Well, so ...”
Dan Benzie pun menyampaikan maskudnya melalui panggilan video tersebut.
Mari bercerita sedikit mengenai bagaimana awal pertemuan mereka waktu itu.
Amerika, 21 Desember tiga tahun lalu.
Pusat perbelanjaan menjelang hari natal sangatlah ramai. Berbagai macam golongan dari yang muda sampai yang tua. Banyak diantara mereka yang berbelanja segala souvenir christmas.
Dan di tengah keramaian tersebut, Benzie ada di sana duduk pada salah satu bangku di restoran untuk menikmati makan malamnya. Karena musim dingin dan salju yang turun juga sangat lebat, membuat Benzie mengurungkan niatnya untuk berjalan-jalan mengelilingi New York pada malam hari.
Jadilah ia yang mendekam di salah satu cafetaria, setelah itu bermaksud pulang.
Namun, hal tak terduga terjadi padanya waktu itu.
Saat Benzie bergerak mengeluarkan dompetnya dari saku mantelnya uuntuk membayar tagihan makannya. Seseorang telah terlebih dahulu menyambar dompetnya dan melarikan diri secepat mungkin.
Alhasil, ia mengejar pencopet tersebut. Kerusuhan pun terjadi, beberapa customer lainnya terlihat berteriak karena kegaduhan yang terjadi.
“Hei, berhenti di sana!” teriak Benzie keras namun tak diindahkan oleh pencopet tersebut. Yang ada ia semakin berlari sekencang mungkin.
Lima belas menit aksi kejar-kejaran tersebut berlangsung belum juga selesai, Benzie justru kehilangan jejaknya karena orang tersebut berlari sangat cepat. Dan sialnya, Benzie tidak menyadari keberadaannya sekarang.
“Ck, di mana ini?”
Melihat sekeliling, hanya ada g**g sempit dengan bau minum-minuman keras yang menyengat. Benzie merutuki sikapnya yang gegabah mengejar orang asing itu begitu saja.
Pasti ia sedang dijebak sekarang, dan pencopet itu menggiringnya ke markasnya.
Dan benar saja, tak lama setelahnya kerumunan orang-orang barat dengan tampang urakan menghampirinya. Dan mengejeknya dengan cara memainkan dompetnya ke arah Benzie yang mengepalkan kedua tanagnnya erat-erat.
Namun, saat itu suara sirine mobil polisi terdengar membuat para gerombolan tersebut melarikan diri dengan cepat. Dan salah satu dari mereka yang memegang dompet Benzie, dicampakkan begitu saja hingga mengenai kepala Bezie.
Tak lama setelah para komplotan pencopet itu kabur, muncul seorang lelaki bertubuh ganjang dan kulit putih khas Eropa dari salah satu g**g yang gelap.
“Are you okay, Man?” Dan orang itu adalah Justin. Adalah awal pertemuan mereka di tengah badai salju yang lebat menimbun New York.
Sampai pada suatu ketika kegiatan amal bersama UNICEF saat itu berlangsung, mereka kembali bertemu dengan Justin sebagai perwakilan dari BIN. Dari sanalah keduanya berteman. Dan awal mula Benzie dilantaik sebagai anggota BIN atas rekomendasi Justin.
Namun, karena kewarganegaraan Benzie ganda, Indonesia dan Amerika. Ia dilantik sebagai Deputi Bidang Intelijen Luar Negeri (Deputi I).
Dan hubungan yang baik itu terus berlangsung sampai sekarang, meskipun Benzie bukan lagi di bagian bidang intelijen luar negeri.
Dan jawaban yang Justin katakan saat Benzie meminta pertolongannya sejak dulu pun masih sama.
“Of course, no problem, Dude!” sahut Justin di belahan bumi Eropa sana.
“Thank u, Jus.”
***