Suara ayam jantan terdengar merdu saling bersahutan. Lampu alam pun mulai memunculkan sinarnya. Sebersik cahaya yang melintasi seluruh belahan bumi ibu pertiwi.
Dan jam dinding yang terus berputar tanpa pernah mengeluh berhenti. Sebagian di antara mereka berhenti di pertengahan angka lima dan enam. Membersamai suara hewan yang setiap paginya bertugas membangunkan para makhluk hidup yang lebih sempurna dari mereka. Adalah manusia yang lebih tinggi derajatnya.
Ya, seharusnya memang begitu tugas para ayam dan mentari di waktu pagi. Namun, kasus ini tidak berarti sama sekali bagi Alan. Salah satu makhluk bumi yang berasal dari golongan manusia.
Putar kanan, krepek!
Tarik tangan ke atas, krepek!
Putar kiri, krepek!
"Huh ..." Hembusan napas panjang dan berat yang Alan keluarkan.
Lelaki itu melirik sejenak pada benda yang menunjukkan waktu.
"Setengah enam pagi," gumamnya pelan.
Kemudian,
Dilemparkannya tubuhnya ke arah sofa dengan keras. Tak lagi memedulikan punggungnya yang bisa saja sakit karena menghantam bantalan sofa segitu kerasnya.
Berhasil berbaring di atas sofa, Alan segera menarik selimut yang berada di dekatnya dan ia balutkan ke tubuhnya sampai menutupi kepala. Tak lama kemudian kedua matanya pun memejam.
Percayalah, sejak tadi Alan belum ada tidur.
Masih di malam yang sama saat Clava datang berkunjung dan mereka memberitahukan fakta mengenai Future kepada gadis itu, adalah saat yang sama ketiga manusia meliputi Alan, Andrew, dan Clava mencari semua jejak yang dapat menginformasikan tentang Future.
Seperti Andrew, ia menelusuri jejak digital dari sistem input dan pengoperasian Future. Mengolah dan meretas data satelit bahkan ia masuk ke jaringan situs luar negeri yang umumnya hanya berlaku untuk kepentingan kenegaraan.
Clava, dengan cepat ia menyetujui permintaan Alan dan Andrew saat kedua lelaki itu memintanya bergabung menjadi tim mereka. Di sini, ia melakukan pekerjaan yang tidak terlalu jauh berbeda dengan Andrew. Hanya saja karena nama Clava sudah tidak asing lagi bagi sebagian data perusahaan intel dan jaringan berpengaruh lainnya, sehingga Clava lah yang meneliti data yang lebih akurat dan beresiko tinggi. Kartu identitasnya dapat terbaca dengan mudah saat ia hendam masuk ke situs yang dilindungi. Bahkan ketika Andrew pun sulit mencari informasinya.
Lalu Alan, ia sibuk merancang dan menyusun secara penuh keseluruhan dari body dan spesifikasi untuk robotnya. Mendesain dengan kemampuan digital yang telah Andrew sending dalam chip buatannya tempo lalu.
Ya, diam-diam Alan suka menyicil satu persatu rancangan untuk struktural dari bagian tubuh robotnya. Di sela waktu kerja dan kuliahnya.
Chip tersebut hanya perlu ia pasangkan pada salah satu kubik di robotnya agar dapat digunakan dengan tepat. Namun sebelum itu, tidak sedikit pula chip-chip yang ia buat salah nyaris kesemuanya. Dan Alan harus mengulangnya kembali dari awal.
Terakhir Future, robot itu tidak melakukan apa pun kecuali diam saat Alan sesekali merecoki tubuhnya. Rangkaian tubuhnya tepatnya. Mengutak-atik berbagai macam kabel dan struktur lainnya di sana.
Sampai pada waktu memasuki tengah malam, daya Future habis sebab dinyalakan satu harian nonstop. Di pukul 2 paginya, baik Andrew maupun Clava pamit pulang. Keasikan mengerjakan proyek Alan, ketiganya sampai lupa waktu.
Dan ketika Future sedang diisi daya, sementara Clava dan Andrew sudah pulang. Alan tak goyah, ia tetap melanjutkan pekerjaannya sendirian sampai subuh menjelang.
Oleh dari itu rasa kantuknya tak dapat lagi ia tahan. Seking lelapnya saat ponselnya berbunyi pun Alan tidak tahu.
"Ini anak ke mana sih," gerutuan seseorang yang tengah menatap layar ponselnya dengan kesal.
Andrew mengetikkan sesuatu di sana kemudian mengirimkan ke nomor sahabatnya yang ia beri nama di kontaknya sebagai Alan sialann.
Usai mengirimkan pesan Andrew kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Ya, tidak jauh berbeda seperti Alan. Andrew juga masih mengantuk berat di jam seperti ini. Tapi ia sempat tertidur beberapa jam begitu kembali dari rumah Alan.
Ck, nanti saja lagi lah," finalnya.
***
Kini, raja siang berada tepat di atas kepala. Panasnya terik, menyengat sampai ke bagian terdalam sel kulit.
"Gerah sekali," gerutu seorang gadis.
Tas jinjing kecilnya ia lepas dan tempatkan ke atas kepalanya untuk menutupi sengatan matahari secara langsung.
"Alan mana sih, katanya janji mau jemput aku di sini." Lantas melirik jam tangannya, pukul 11 siang.
"Udah terlambat sepuluh menit dia." Omelan itu berasal dari Shasa.
Ya, tadi pagi saat Shasa baru saja selesai olahraga, ia mendapat pesan dari Alan untuk menunggunya di bawah pohon depan gerbang kampus. Mereka sudah membuat temu janji dengan orang lain. Kalau begini bisa terlambat kan perjanjian mereka.
"Duh Alan ... mana dia nyuruh aku nunggu di bawah pohon lagi. Kenapa gak di tempat lain aja sih."
Sudah seperti hantu berbaju putih yang suka terbang-terbang di sekitar pohon dong dia kalau begini bentukkannya.
Untung Shasa sedang tidak memakai baju berwarna putih. Kemeja hijau tosca yang ia kenakan sekarang.
"Shasa, sebentar ya aku parkir dulu!"
Gadis itu menoleh, wajah kusutnya langsung berubah ceria.
"Nah itu dia," katanya lagi.
"Iya, Al. Cepat ya mobilku yang putih," balas Shasa.
Mereka akan pergi menggungkan mobil Shasa. Ingat kan kalau anak dosennya sekaligus temannya Alan yang satu ini tidak bisa naik sembarang mobil? Termasuk mobil Alan sekalipun.
Hari ini, Toyota HR-V putih milik Shasa yang akan mereka tumpangi.
"Maaf ya, Sha aku terlambat sekali, jalanan siang ini agak macet di daerah Imam Bonjol." Alan membuka suara pertama kali saat Shasa sudah masuk ke mobil yang ia kendarai. Di sebelah pohon rindang tempat Shasa berteduh tadi.
Well, hari ini Alan juga merangkap menjadi supir pribadi. Nasib ya nasib.
"Tidak apa-apa, Al. Tapi lain kali kalau nyuruh nunggu jangan di bawah pohon begitu dong Alan. Kan seram. Di depan pagar kampus lagi," omel Shasa.
"Ya maaf, Sha kau kan biasanya suka jajan cireng di depan kampus. Jadi aku kepikiran mungkin saja kau tidak keberatan kalau kita ketemu di sana."
"Ya ampun Alan kirang cerdas deh terkadang. Di parkiran kampus aja kan bisa. Biar gak panas-panasan kayak tadi."
Hmm, berdebat dengan perempuan tidak akan pernah ada habisnya. Pikir Alan. Apalagi sejak awal memang dia yang salah menunjuk lokasi bertemunya. Jadi, yasudah lah ya.
"Iya deh, maaf." Karena dengan minta maaf bisa membuat wanuta luluh. Sebab itu artinya lelaki tersebut mengakui egonya.
"Ngomong-ngomong, kau ke sini naik apa? Mobilmu bagaimana?"
"Tadi datangnya dengan Papa, tetus aku bilang pinjem mobil mau pergi sama kamu jadi Papa bolehin."
"Terus Pak Gunawan pulangnya bagaimana? Kita sampai sore loh, Sha."
"Nanti panggil orang bengkel kepercayaan Papa untuk ambil mobil di rumah dan jemput ke kampus. Jadi kita bisa pergi dengan aman."
Alan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sembari mulutnya membentuk huruf O tanpa mengeluarkan suara.
Memang enak jadi orang kaya, mau ke mana aja juga bisa.
Duh Alan ngebatinnya sambil bernada. Mirip lirik lagu sih hal yang ia pikirkan.
"Oh ya, Al. Kalau boleh tahu kita mau ngapain sih ketemu dengan Prof. Nellam?" tanya Shasa di sela keheningan di antara mereka.
Ya, tujuan mereka sekarang adalah menemui Prof. Nellam yang sudah Shasa hubungi untuk bertemu janji atas permintaan Alan tentunya.
Throwback~
Saat di toko buku waktu itu ketika Shasa menyebutkan nama Prof. Nellam sebagai teman ayahnya.
Malamnya saat sampai di rumah, Alan segera menelepon Shasa.
Yang mana pada malam itu, pembicaraan mereka melalu ponsel membuat Alan kembali teringat.
"Halo, Al. Ada apa?"
"Sha, aku mau minta tolong. Tapi ini mungkin akan sedikit merepotkan. Aku juga sebenarnya segan tapi, tolong ya, Sha."
"Sebentar, Al. Kau ingin minta tolong apa? Aku pasti bantu kok."
"Kau bilang tadi siang kalau Prof. Nellam adalah teman Pak Gunawan kan?"
"Iya."
"Aku mau minta tolong kau mengajak bertemu Prof. Nellam. Nanti kau akan pergi denganku, dan kita membuat scenario seolah-oleh pertemuanku dengan Prof. Nellam tidak disengaja. Kau bisa kan, Sha?"
Yang awalnya Alan mendapatkan pertanyaan dari Shasa atas permintaannya tersebut. Tapi, setelahnya Shasa menyetujui hal tersebut. Walau Alan tidak mengatakan tujuan utamanya apa.
"Baiklah, Al." Jawaban Shasa saat itu yang membuat Alan kini bisa sedikit merasa lega.
Throwback End~
"Pelan-pelan, Alan. Jika tidak seperti ini masalah Future tidak akan terpecahkan," batin Alan.
"Alan! Kok malah bengong?" Suara Shasa membuat Alan terkesiap.
"Nanti kau akan tahu sendiri di sana, Sha," jawab Alan.
***