“Huh ... tersisa rancangan terakhir. Kita tunggu sampai Alan kembali.” Suara Andrew terdengar di tengah-tengah ruang tamu rumah Alan yang dipenuhi oleh segala macam bahan dan alat-alat robotiknya.
Kini, Andrew bisa menghela napas sejenak dan ia pun bisa menyelonjorkan kakinya dengan tenang. Ternyata sejak tadi mereka sudah bekerja cukup keras. Dan Andrew juga merasa bersyukur karena adanya Future sangat membantu sekali.
Andrew jadi semakin yakin kalau Future sungguhan datang dari masa depan. Kecerdasannya memang tanpa batas.
“Alan sedang berada di sebuah cafe di jalan Broto, sekitar 1,5 km dari kampusnya dan 3 km dari sini. Sepertinya Alan akan pulang terlambat hari ini.” Suara Future terdengar. Membuat Andrew yang sedang terpejam sontak membuka matanya.
“Kau tau dari mana?” tanyanya bingung.
“Apa kau juga bisa melacak lokasi seseorang?”
“Oh! Kau bisa membaca apa saja dari orang yang kau kenali ya?” Lagi-lagi Andrew tidak sabaran dengan memberikan serentetan pertanyaan kepada Future.
“Aku dan Alan, kami terhubung melalui chip tunggal yang Alan tanam pada tubuhku. Kapan pun dan di mana pun selagi Alan mengaktifkan sinyalnya aku bisa mengetahui semua pergerakkannya,” jelas Future.
“Woah ... jadi kau dapat memperoleh informasi tentangnya kapan saja?”
“Iya, tentu saja.”
Dengan cepat Andrew berdiri dari posisi rebahannya. Ia megelilingi Future sembari menatap sedetail mungkin tiap struktur yang ada pada tubuh robot wanita tersebut. Dan ketika tatapan Andrew jatuh pada salah satu setitik kecil di area sekitar leher Future, ia pun segera bertanya.
“Ini-” dengan salah satu jari telunjuknya menunjuk pada letak titik tersebut.
Ya, titik yang sangat amat kecil bahkan lebih kecil dari titik pada huruf cetak di buku-buku.
“Ini tempat aksesku untuk memasukkan chip ke dalam.”
Dreett ...
Rongga yang berukuran kurang lebih 10cm itu pun terbuka, menampilkan beberapa ruang kosong yang dapat diberi chip di dalamnya. Namun, saat ini hanya terdapat satu chip yang terdapat di sana. Yakni, sebuah chip dengan nomor seri bawaannya yang pertama.
“Chip ini, bukannya satu-satunya chip yang kau bawa saat datang ke bumi?”
“Iya,” sahut Future.
Nomor seri dan logo yang Andrew ingat betul. Nomor seri yang ratusan kali ia coba baca datanya tapi tidak pernah berhasil.
“Ini adalah chip yang Alan buat sendiri, ia ingin meng-upgrade data chip lain padaku sehingga kami dapat terhubung dari segala arah meski dalam jarak yang cukup jauh,” jelas Future.
“Sejak kapan chip ini Alan buat?”
“Seminggu lalu, data chip Alan buat berdasarkan pembaharuan yang terkendali. Di sini juga terdapat gambaran proyek kerjanya dengan jelas sehingga aku bisa melakukan apa saja yang akan ia kerjakan untuk proyek robotnya.”
“Maksudmu yang mengerjakan rangkain dasar sampai pada hal sensor dan input data juga berdasarkan data chip dari yang Alan buat?”
“Iya, Andrew. Meski Alan tidak ada di sini atau berada di dekatku, kami masih bisa beraktivitas sama melalui sambungan digital dan sinyal yang terhubung. Seperti saat merakit robot ini juga, Alan sudah mengatur sistem untuk sebagian data inputnya dikerjakan olehku. Sebagian untuk hal pokok yang menjadi dasar komponen Alan langsunglah yang akan mengerjakannya.”
Andrew meraup wajahnya dengan cepat. Beberapa sekon ia habiskan untuk berpikir. Memikirkan hal yang sejak tadi membuatnnya uring-uringan karena Future bersikeras ingin menginput data ataupun mengambil alih bagian yang menurut Andrew krusial dan cukup beresiko.
Tapi ternyata, oh astaga Andrew bahkan tak pernah membayangkan hal seperti ini sebelumnya.
“Kalau begitu sejak awal kau sudah membungkus semua skema kerja dan strukturnya?”
“Benar, Andrew.”
“Kau juga sudah tahu lebih banyak dariku mengenai rencanya dan tahapan-tahapannya.”
“Iya, Alan sudah mengatur sensorku untuk menjalankan semua prosedur secara beruntun sejak awal.”
Puk!
Sekali lagi, Andrew hanya bisa meraup wajahnya dengan perasaan yang sulit ia jelaskan bagaimana. Malu, lelah, dan kesal semua berbaur menjadi satu.
Padahal sejak awal mereka merancang dan memahami rakitannya, Andrew terlalu banyak mengatur dan memerintah. Tak ia sangka bahwa sesungguhnya Future sudah mengerti betul apa-apa saja yang ia lakukan tanpa harus Andrew jelaskan lagi.
Kalau begini ia jadi merasa sangat bodoh. Andrew merasa kalah dengan robot ini. Dan satu lagi, dibandingkan itu semua rasa malunya lebih besar karena sepanjang kegiatan mereka tadi ia terlalu bossy.
“Wah ... kalian sudah seperti penjahat yang membohongiku saja. Dan kau Future, kenapa kau diam saja dan tidak memberitahukan kalau Alan sudah meng-upgrademu sih? Kau justru dengan tenang menuruti semua perintahku seperti apa saja, tidak mengetahui apa pun itu.” Sedetail itu Andrew mengomel.
Lelaki yang saat ini tengah menampilkan raut kecewanya itu pun menunduk malu. Penampakkan baru dari sosok Andrew.
“Maaf Andrew tapi, aku tidak pernah merahasiakan apa pun. Dalam data chipku memberitahukan, bahwa hal yang bernama rahasia itu adalah beberapa prospek yang berarti urgent atau dalam keadaan di mana hanya beberapa orang saja yang harus mengetahuinya.”
“Ya ya, terserah kau itu apalah yang namanya berdasarkan chip atau bukan. Tetap saja kau tutup mulut tidak mau memberikan informasi ini padaku.” Andrew masih saja mengeluh dengan segala keluh kesahnya.
“Andrew, kau juga tidak pernah bertanya secara signifikan. Aku hanya akan berbagi informasi sesuai perintah Alan atau adanya data yang masuk untukku memberikan informasi tersebut kepada seseorang.”
Andrew memutar bola matanya dengan malas. Dia tidak suka dengan opsi yang pertama.
“Tunggu-tunggu! Kau bilang apa tadi Future? Hanya akan berbagi informasi sesuai perintah Alan?”
“Iya, Alan menuliska hal semacam itu dalam data chipnya.”
Jawaban yang membuat Andrew semakin menghela napas kesal. Jiwa dan raganya sudah lelah siang ini ia buat berpikir dan berusaha. Sekarang bertambah beban dengan emosi lagi.
“Tapi kurasa kalau hal seperti ini adalah informasi yang seharusnya perlu kuketahui juga kan? Kau juga berada di bawah naunganku, Future. Aku yang membantu Alan merakit sistem jika terjadi kerusakkan padamu. Aku yang meretas data bodong untuk dijadikan data manipulasi terhadap virus atau sinyal tidak bertanggung jawab di sekitarmu.”
Dan kali ini omelannya lebih pajang dari sebelumnya. Andrew sulit menahan emosi.
Dia sudah terlibat sejauh ini, dia adalah orang pertama yang Alan hubungi saat temannya itu mendapati Future.
Ya, Andrew hanya merasa beberapa hal tidak sinkron saja. Bukan iri,tapi cembru.
“Ck, benar-benar Alan Sialann! Awas saja kau nanti kalau pulang ya k*****t!”
Dugh!
“Future, ambilkan semua botol soda yang ada di kulkas! Aku haus.” Perintah tersebut ia berikan pada Future yang sejak tadi diam sembari memandangnya.
Dengan cepat Future pun beranjak dari posisinya dan melaksankan apa yang Andrew katakan.
“Sebaiknya jangan semua, Andrew. Tidak baik untuk lambungmu jika dikonsumsi secara berlebihan.” Adalah peringatan kecil Future setelah kembali dari kulkas dan mengambil semua botol soda Alan yang ada di dalam lemari es tersebut.
“Well, aku hanya akan membuat majikanmu itu marah-marah dan mengomel saat pulang nanti. Dia sudah membuat otakku ngebul,” balas Andrew cepat.
Hitung-hitung balas dendam versi mereka berdua yang memang suka berperan sebagai kucing dan tikus. Tidak pernah akur atau akur hanya pada saat-saat tertentu saja.
“Proyek sebesar ini dengan semua rahasia yang ia pendam sendirian itu? Ck, dasar tikus tanah bau minyak ikan.” Gerutuan yang keluar dari lisan Andrew.
Definisi sahabat baik bukan?
***