“Iya, the future yang lain.”
“Dari mana kau seyakin itu, Al? Apa kau sudah memastikannya dengan bukti yang spesifik?” Kalimat Andrew membuat Alan menyunggingkan senyumnya.
“Kita sudah memastikannnya sendiri, And. Futurelah yang pertama kali menyadari hal tersebut.”
Di ruang tamu rumah Alan yang baru saja terjadi keheningan yang panjang, kedua lelaki yang tengah berkomunikasi terbentang jarak itu kompak menyatukan lensa gelap mereka ke ponsel masing-masing dengan pandangan yang berbeda.
Jika Alan dengan tatapan yakinnya,berbeda dengan Andrew yang justru terlihat linglung.
“Lalu, data yang kau sebut sebagai nomor dan kode seri waktu itu?”
AHJ998257381, kode natri AI mode seri KYZe9090. Nomor halaman Gheyw25e83936. Andrew ingat persis nomor dan kode tersebut.
“Itu adalah nomor pengidentifikasian untuk meretas sistem Future,” jawab Alan cepat dari ujung sana.
“Jadi kau berhasil meretasnya?” tanya Andrew tidak sabaran.
“Tidak. Tapi, melalui nomor tersebut sensor Future berhasil mendapatkan kode yang pernah terbaca dalam sinyalnya. Ini juga menunjukkan bahwa sinyal yang terhubung dengan Future waktu itu adalah dari bangsa yang sama dengan Future,” jelas Alan.
“Begini, Al. Kau sukses membuatku seperti anak ayam. Sepertinya kita harus membicarakan ini secara langsung. Di mana kau?” Maksudnya, Andrew tidak paham masalah ini. Persoalan yaang Alan bahas membuatnya pening.
“Masih di Doujav Corp. Aku akan kembali dalam dua jam ke depan jika tidak terjadi kendala apa pun. Dan kemungkinan aku akan pulang bersama Clava.”
Seseorang di seberang sana mengernyitkan dahinya.
“Clava? Kenapa dengannya?”
“Kita akan sangat membutuhkannya, And. Clava juga paham mengenai gabungan berbagai macam senyawa untuk mode rakitan robotku. Dan tentang Future, akan kujelaskan padanya di rumah.”
“Oke, Al. Tapi ingat! Jangan pernah membiarkan Clava membuka suara mengenai hal ini kepada orang lain.”
“Well, sepertinya tidak akan terjadi. Aku tahu kelemahannya.”
“Kelemahannya?”
“Kita lanjutkan di rumah, And. Aku sedang dalam perjalanan.” Sebab Alan melirik k luar jendela dan menemukan eksistensi Clava di ujung sana. Sepertinya baru keluar dari Doujav Corp.
“Oke.”
Klik!
Panggilan berakhir dengan cepat. Tak berselang lama, Clava dengan setelan ala kantornya pun muncul di depan sana. Gadis itu terlihat sedang berjalan ke arah mobilnya. Mobil Shasa yang dipinjamkan padanya, lebih tepatnya seperti itu.
Tidak menunggu apa pun lagi, dan berbasa-basi terlebih dahulu. Alan buka kaca mobil mewah tersebut. Menampilkan wajahnya ketika jaraknya dengan Clava semakin dekat. Dan mendapat tatapan terkejut dari sosok gadis ramping di sana.
“Kak Alan?” bingung Clava.
“Hai, Cla. Silahkan masuk dulu, kita berbicara di dalam.” Mutlak. Clava juga tidak berniat membantah.
Meski masih terlihat jelas guratan bingung di dahi dan dari tatapan matanya, Clava masuk ke mobil dan duduk di kursi sebelah pengemudi. Tidak lucu kan kalau dia duduk di kursi belakang.
“Brio putih, plat nomor B17R.” Clava kembali mengulang membaca pesan teks yang masuk di ponselnya beberapa saat lalu.
Hanya ingin memastikan, mungkin saja dia salah masuk mobil.
“Jadi itu Kak Alan?”
Alan yang mendapatkan pertanyaan dan tatapan seperti itu dari Clava pun hanya bisa mengangguk dengan polosnya.
“Sekarang kita ke rumahku. Aku memerlukan bantuanmu, Cla.”
“Eh, tapi Kak. Ini kenapa Kakak terlihat sangat berbeda ya?”
Alan memutar bola mata, bukan putaran yang menggambarkan kesal ataupun jengah. Itu hanya sebuah gerakan refleks yang membuatnya mengerling Oke, tidak penting. Abaikan!
“Seperti yang kau lihat sekarang. Aku Alan, dan bukan perampok ataupun orang lain yang menyamar menjadi Alan untuk menculikmu. Aku mendapatkan nomormu tentu saja dari Andrew. Kita bertemu kemarin malam. Dan sepertinya kau tertarik dengan proyek kami. Well, kami bahkan jauh lebih membutuhkan bantuanmu. Jika itu yang ingin kau tanyakan semua sudah terjawab bukan?”
Dalam satu paragraf yang terdiri dari gabungan beberapa kata membentuk kalimat sepanjang itu. Alan mengatakan semuanya seolah ia sedang dalam sidang yang menuntutnya harus menjelaskan semua duduk perkara
“Kak-”
“Aku akan membawamu ke rumahku. Tidak berdua, di sana sudah ada Andrew dan Future. Yang kau takutkan seperti itu? Tenang saja, aku bukan lelaki jahat yang suka menyakiti perempuan.” Kembali Alan memangkas cepat.
“Tapi, Kak Alan-”
“Kita akan mereboot Future dan mencari tahu mengenai sinyal yang pernah terdeteksi malam itu. Keahlianmu membaca dan menyusun berbagai macam cairan senyawa, ini akan mempermudah yang sulit. Bukankah kau juga tertarik dengan the future?”
Iya, tentu saja Clava tertarik. Bahkan sangat. Itu adalah hal utama yang membuatnya menerima bantuan Alan dan Andrew pada malam kemmarin.
“Jika kau memiliki segudang pertanyaam, semua akan terjawab jelas jika kita sampai. Ini akan cukup merepotkan, bagiku dan Andrew. Tapi mungkin menurutmu ini tidak ada apa-apanya.” Sebuah kalimat merendah untuk memuncak.
Alan hanya tidak ingin menyiggung Clava, walau sebenarnya cara ia berbicara terlalu frontal. Bukan kalimat kotor tapi, tata bahasanya kurang sopan.
“Iya, terserah Kak Alan saja.” Pada akhirnya. Hanya itu jawaban final seorang Clava.
Toh, dia sangat penasaran dengan the future yang Alan dan Andrew maksud.
“Makhluk luar angkasa yang datang dari masa depan. Benarkah itu?” Benaknya yang diserbu serangkaian pertanyaan.
***
Sesampainya di rumah Alan, baik Alan maupun Clava keuanya sama-sama bergegas cepat menuruni mobil. Alann sempatkan sejenak melirik jam tanganya. Setengah enam lewat sepuluh menit.
Dia terlambat. Padahal Alan menjanjikan akan sampai dalam dua jema kedepan yang berarti du jam tepat. Namun, siapa sangka kalau jalanan Jakarta di sore hari sangatlah padat.
Tidak ada yang berbicara, disaat keduanya saling melirik satu sama lain ketika turun dari mobil. Alan dan Clava kompak mengangguk dengan cepat.
Krek ...
Daun pintu terbuka setelah Ala memasang kuncinya di sana. Suara handle dan decitan yang tercipta dari suara tersebut membuat Andrew yang tengah menenggak isi air dari dalam kulkas pun melirik ke arah pintu utama yang kebetulan terhubung langsung dengan pintu utama.
“Hoi, Alan sialann kau berhutang banyak penjelasan denganku. Oh hai Clava.” Niat ingin mengomel dan memberondong Alan dengan serentetan kalimat yang mengganggu ketenangan batin temannya itu, Andrew justru tersenyum singkat melihat siluet Clava di sana.
“Jadi anak tikus ini benar-benar membawamu ya,” cicit Andrew pelan yang sayangnya masih dapat Alan dengar dengan jelas.
Di sebelahnya, Clava hanya bisa terikik kecil.
“Di mana Future?”
“Sedang ku isi daya. Al, ini langsung saja?”
“Clava orang sibuk,” jawab Alan cepat.
Lantas pemuda berusia 22 tahun itu melesat menuju tempat di mana Future berada. Andrew menggeleng-gelengkan kepalanya.
Konsekuensi berteman dengan si maniak kesempurnaan.
***