------------------------
Selena menatap angka pada radio: tiga puluh sembilan menit. Air rawa telah melewati lutut dan terus naik menuju pondok belakang. Dorothy mencoba berdiri tanpa bantuan, tetapi kaki yang dihantam bangku membuatnya hampir jatuh.
'Kita tidak akan sampai jika bergerak bersama,' kata Dorothy. 'Tinggalkan aku dengan Pastur Jeremy.'
'Tidak ada lagi yang ditinggalkan,' jawab Selena.
Jeremy mengikat tongkat pada kaki Dorothy. Mereka bergerak melalui jalur papan yang berguncang. Di belakang, bendungan mengeluarkan bunyi seperti napas raksasa. Penutupan tiga katup hanya memperlambat aliran.
Selena menghubungi Warren. Suaranya muncul di antara desis radio. Warren dan Thomas sudah keluar dari mansion dan berlari menuju pondok. Ian serta Isabelle masih mencari terowongan penghubung dari Cantabelle.
'Jangan masuk sebelum aku tiba,' kata Warren.
'Kalau aku menunggu, kita kehilangan pulau.'
'Selena—'
Sinyal terputus.
Pondok tampak miring. Salah satu sisinya telah tenggelam, sedangkan pintunya tertahan akar. Selena memecahkan jendela dan masuk. Lantai yang pernah menyimpan kerangka Theresa kini terbuka seperti mulut gelap. Air berputar di bawahnya.
Dorothy menunjukkan kait besi di dinding. Dulu pengawas memakai kait itu untuk menurunkan tubuh korban. Mereka mengikatkan tali, lalu Selena turun membawa belati dan lampu.
Ruang di bawah pondok bukan makam, melainkan pusat pompa tua. Empat pipa besar bertemu pada roda kuningan. Di tengah roda tertanam lambang dua ular Tramonde. Tidak ada tuas biasa. Hanya empat lekukan berbentuk telapak tangan.
Tulisan di bawahnya berbunyi: DARAH, SAKSI, PENJAGA, DAN PESERTA.
Selena memahami jebakannya. Empat orang harus menekan lekukan bersamaan. Setidaknya satu harus berdarah Tramonde, satu saksi permainan, satu pengawas, dan satu peserta yang pernah menerima cincin.
Ian atau Isabelle dapat menjadi darah. Dorothy adalah saksi sekaligus pengawas. Selena peserta, tetapi tidak pernah menerima cincin. Thomas satu-satunya orang hidup yang pernah mengenakannya.
'Mereka membuat kita saling membutuhkan,' kata Dorothy dari atas.
'Atau memastikan kita mati jika salah satu sudah dibunuh.'
Warren tiba bersama Thomas. Tanpa membuang waktu, mereka menuruni tali. Thomas membeku ketika melihat lekukan peserta. Bekas luka cincin pada jarinya kembali menghitam.
'Kalau aku menaruh tangan di sana, Gerald bisa masuk lagi.'
'Cincinnya sudah hancur,' kata Warren.
'Tapi aku masih ingat rasanya ingin membunuh kalian.'
Selena tidak memberinya penghiburan palsu. 'Kalau kau menolak, semua bukti tenggelam. Termasuk kesempatanmu mempertanggungjawabkan pilihanmu sendiri.'
Thomas mengangguk pelan.
Ian dan Isabelle datang melalui pipa servis ketika waktu tinggal dua puluh enam menit. Isabelle membaca mekanisme. Empat lekukan bukan sekadar kunci; setelah aktif, katup harus diputar manual dari dalam saluran utama. Orang yang masuk mungkin terperangkap ketika pintu menutup.
Warren langsung menawarkan diri.
'Tidak,' kata Selena. 'Kau bukan bagian dari empat syarat.'
'Justru itu. Kalian tetap di luar, aku yang memutar roda.'
Jeremy meneliti simbol salib terbalik di pipa. Katup akan menutup selama tepat enam puluh detik, kemudian membuka kembali apabila pengunci pusat tidak dipasang. Pengunci itu berada di dasar saluran.
Mereka membentuk rencana. Isabelle mengisi lekukan darah, Dorothy lekukan pengawas, Thomas lekukan peserta, dan Selena lekukan saksi. Ian akan membantu Jeremy membaca urutan. Warren masuk ke saluran.
Air mencapai dada ketika mereka mengambil posisi.
'Tiga, dua, satu,' hitung Ian.
Empat tangan menekan logam.
Roda kuningan berputar. Pintu saluran terbuka dan arus menyedot Warren. Selena nyaris melepaskan tangan, tetapi Dorothy berteriak agar ia bertahan.
Warren menghilang ke dalam air hitam.
Thomas menjerit ketika bayangan Gerald muncul di permukaan roda. Suara itu menawarkan kebebasan jika Thomas menarik tangannya. Thomas malah menekan lebih keras sampai telapak tangannya berdarah.
'Aku sudah memilih sekali,' katanya. 'Kali ini aku memilih sendiri.'
Dari dalam pipa terdengar tiga pukulan. Itu tanda Warren menemukan roda. Ian menghitung enam puluh detik. Pada detik keempat puluh, seluruh pondok bergeser dan tali mereka putus.
Katup menutup dengan dentuman. Aliran berhenti. Mesin di seluruh pulau perlahan mati.
Namun Warren belum keluar.
Selena menarik tangannya dan menyelam ke pintu saluran sebelum rapat sepenuhnya. Ian menangkap pinggangnya, tetapi arus menyeret keduanya. Di balik pintu, Warren terjepit di bawah batang pengunci.
Selena meraih tangannya. Bersama Ian, ia mengangkat batang itu. Warren bebas tepat ketika pintu terkunci.
Mereka muncul dengan napas tersengal. Thomas dan Isabelle menarik mereka ke lantai yang tersisa.
Radio Dorothy menyala. Suara penjaga pantai memastikan kapal penyelamat masih empat jam lagi, tetapi helikopter kepolisian dapat tiba dalam lima puluh menit.
Pulau tidak lagi tenggelam. Meski demikian, ledakan sebelumnya telah merusak dermaga dan membuka retakan di bukit.
Lalu pesan otomatis terdengar dari pengeras suara Gerald III.
'Jika katup keempat ditutup, protokol pewaris dimulai. Satu Tramonde harus tetap berada di pulau hingga matahari terbit.'
Isabelle memucat. Ian menatap bekas luka di tangannya.
Permainan belum sepenuhnya selesai.
Jeremy meminta semua orang diam dan mendengarkan pulau. Tidak ada lagi jeritan roh di antara pepohonan. Yang terdengar hanya air, kayu yang patah, dan mesin mekanis. Menurutnya, itu membuktikan ancaman terakhir berasal dari manusia, bukan Theresa atau korban lain. Ucapan itu mengurangi ketakutan Thomas. Mereka tidak sedang menghadapi kekuatan yang tak dapat dilawan, melainkan rancangan keluarga yang sengaja dibuat tampak gaib.
Selena memeriksa pecahan cincin dalam tas. Kedua batu tetap padam. Isabelle juga memastikan buku nama tidak lagi berubah sendiri. Gerald III tidak dapat memanggil leluhurnya kembali, tetapi masih memiliki pengetahuan puluhan tahun mengenai jebakan pulau.
Mereka membuat tandu baru dari pintu pondok yang terlepas. Dorothy menolak dibawa sampai lututnya gagal menopang tubuh. Warren mengingatkannya bahwa menerima bantuan bukan bentuk kepatuhan. Kalimat itu membuat Dorothy diam, kemudian mengizinkan Thomas mengangkat sisi tandu.
Dalam perjalanan menuju Cantabelle, Selena menghitung mereka satu per satu. Semua masih hidup: dirinya, Warren, Ian, Thomas, Dorothy, Jeremy, dan Isabelle. Ia mengucapkan nama Grissham dalam hati. Kemenangan tidak dapat mengembalikannya, tetapi setidaknya kematiannya tidak akan diubah menjadi hiburan tanpa akibat.
Di atas rawa, burung-burung mulai kembali setelah menghilang sepanjang malam. Fajar masih jauh, tetapi perubahan kecil itu terasa seperti janji bahwa pulau dapat menjadi tanah biasa lagi. Lalu ledakan dari gereja mengguncang jalan papan, mengingatkan mereka bahwa orang-orang Gerald belum menyerah.
------------------------