Sinar sang Helios yang mengintip malu-malu dari balik pepohonan di sekitar rumahku, disertai nyanyian dari burung-burung yang mengusik tidur cantikku. Seperti biasa aku akan bangun sebelum terdengar teriakan Ibuku yang memekakkan telinga. Hari ini aku harus segera bersiap-siap karena Ayahku akan menjual sayur-sayuran dari ladang. Sudah lama aku tidak ikut Ayah ke pasar. Aku sudah rindu dengan suasana ramai, dan juga teman-temanku disana. Baru saja aku membuka pintu kamarku, aku dikagetkan dengan kehadiran Ibuku yang mungkin sudah bersiap meneriaki ku.
"Astaga Ibu mengagetkan ku, kenapa harus tiba-tiba muncul di depan kamarku Bu ?"
"Oh kau sudah bangun ternyata, syukurlah Ibu tidak perlu menghabiskan suara Ibu untuk membangunkanmu"
Dengan memutar bola mata malas akupun menyahuti Ibuku, "Itu memang hobi Ibu untuk berteriak-teriak, padahal telingaku juga masih berfungsi dengan baik"
Ibu pun melotot mendengar ucapan ku. "Hei itu karena kau yang biasanya sulit dibangunkan Acasha, padahal kau itu anak gadis yang seharusnya rajin bangun pagi. Entahlah siapa yang mau menikahimu jika malas begini" .
Aku segera berlalu dari Ibu menuju kamar mandi sebelum mendengar ceramah panjangnya. "Sudahlah Bu, jangan bahas masalah pernikahan. Aku masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu. Biarkan aku menikmati masa muda ku yang indah ini"
Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahku sambil bergumam, "Astaga gadis itu, semakin hari semakin membuatku pusing dengan tingkah urakannya. Entahlah didikan ku atau suamiku yang salah".
...
Aku keluar menuju meja makan dalam keadaan sudah rapi. Disana sudah ada Ayah, Ibu, dan juga Kak Alexo. Dengan jahil aku mencomot sandwich yang akan dilahap oleh Kakakku, sehingga sandwich itu berakhir mendarat di dalam mulutku. Kak Alexo mendengus kesal kemudian berkata, "Tidak bisakah kau berhenti menjahili ku sehari saja Acasha ? Di meja masih banyak tapi kau mengambil punyaku".
"Rasa sandwichnya akan jauh lebih enak kalau dari tangan Kakak", kataku dengan raut muka tanpa dosa.
Sebelum Kak Alexo menyahuti, Ibu terlebih dahulu menyela, "Hei ini di meja makan jangan bertengkar. Tidak bisakah kalian akur sehari saja. Ayah kalian nanti keburu kesiangan". Kakakku hanya bisa merengut menahan kekesalannya. Siapa memangnya yang berani membantah Ibuku sang ratu di rumah ini. Bahkan Ayah saja tidak berani. Kami pun melanjutkan sarapan dengan tenang.
Oh ya, apakah aku sudah mengenalkan kedua orangtuaku ke kalian ? Jika belum, baiklah aku akan mengenalkannya pada kalian sebelum aku lupa lagi. Nama Ayahku ialah Leander dan Ibuku Letha. Ayahku adalah seorang yang berperawakan besar dan gagah. Menurutku dengan perawakan seperti itu lebih cocok jika menjadi panglima suatu kerajaan daripada petani. Akan tetapi jalan hidup setiap orang memang berbeda-beda. Sedangkan Ibuku adalah seorang wanita yang cantik, tapi sedikit cerewet juga galak Haha. Kalian sudah tau sendirilah bagaimana galaknya Ibuku. Meskipun begitu, aku tau bahwa orangtuaku sangat menyayangiku dan Kakakku. Mereka akan melakukan apapun demi anaknya. Mereka adalah orangtua yang berpikiran terbuka, selalu mendukung keinginan anak-anaknya asalkan tetap di jalan yang benar.
...
Di pasar Desa Othonos, sepagi ini sudah sangat ramai. Mengingat pasar ini adalah jalur yang di lewati untuk menuju Benua Nótos di wilayah selatan. Pasar ini memang tidak terlalu jauh dengan perbatasan antara Benua Anatolí dan Benua Nótos.
Jarak antara rumahku dan pasar di Desa Othonos cukup dekat, sekitar 1 jam jika ditempuh dengan jalan kaki. Selepas sarapan tadi Aku, Ayah, dan Kak Alexo berangkat ke pasar menggunakan gerobak sayur yang di tarik seekor kuda. Sampai di pasar kami langsung menuju kios Tuan Egor. Sudah lama kami menjadi pemasok sayur di kios Tuan Egor. Selain ramah, Tuan Egor juga baik hati selalu membeli sayuran kami dengan harga yang sesuai. Tidak seperti pedagang yang lain, cenderung membeli dengan harga yang murah. Sehingga kami pun tidak berniat menjual ke pedagang yang lain.
"Hei gadis jantan, sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Kemana saja kau selama ini," sapa Tuan Egor kepadaku.
"Aku hanya sedang berlatih di rumah, wah Paman sekarang semakin tampan saja," sahutku dengan senyum jahil
"Haha kau bisa saja gadis jantan. Bagaimana mungkin aku yang sudah tua ini semakin tampan. Kau juga jangan terlalu giat berlatih nanti perawakanmu benar-benar mirip seorang pemuda," kata Tuan Egor.
Tuan Egor memang memanggilku dengan sebutan gadis jantan, aku pun tidak mempermasalahkannya. Menurutku malah keren jika dipanggil seperti itu. Berbeda dengan teman-temanku, mereka memanggilku Caca. Aku malah sedikit risih dengan panggilan itu, karena menurutku terlalu imut dan tidak cocok dengan penampilanku. Lain halnya dengan pendapat teman-temanku. Kata mereka dengan memanggilku seperti itu akan mengingatkan mereka bahwa aku seorang gadis. Selain itu lebih praktis karena tidak terlalu panjang katanya. Tapi ya sudahlah, biarkan sesuka mereka. Aku terlalu lelah untuk berkali-kali melayangkan protes.
...
Saat ini aku berjalan sendirian di tengah keramaian pasar menuju kedai Fagito, tempat teman-teman ku biasanya berkumpul. Aku tadi sudah meminta izin untuk menemui teman-teman ku, dan Ayahku mengizinkannya. Meninggalkan Kak Alexo yang tengah membantu Ayah menurunkan sayuran. Tinggal satu belokan lagi aku akan tiba di kedai Fagito.
Saat aku baru memasuki kedai, aku disambut oleh suara Alfio. "Wah wah lihat kawan, siapa yang datang. Si putri imut kita baru menampakkan batang hidungnya". Sontak teman-temanku yang lain pun memusatkan pandangan mereka ke arah pintu masuk. Sesuai namanya, Alfio adalah orang berkulit putih dengan perawakan yang tinggi, kurus, dan rambut cepak berwarna pirang. Alfio merupakan putra Tuan Egor.
"Makin bertambah sexy saja putri yang imut satu ini," sahut Bartlett disertai gelak tawa.
Aku pun merengut kesal mendengar ejekan mereka sambil melanjutkan langkahku menuju meja mereka yang terletak di pojok ruangan. Meja itu memang tempat favorit teman-temanku. Aku mempunyai 4 teman dekat, antara lain Alfio, Bartlett, Collin, dan Deon. Aku mendaratkan bokongku di salah satu kursi di meja itu. "Bisakah kalian tidak mengejekku dengan sebutan putri imut. Kalian sudah lama tidak bertemu denganku, bukankah seharusnya kalian memperlakukanku dengan baik," kataku dengan memasang raut sebal.
"Kalian berhentilah mengejeknya, sudah lama kita tidak tau bagaimana kabarnya dan kenapa begitu lama tidak terlihat. Kau pesanlah makanan terlebih dahulu Ca, aku akan panggilkan pelayan," kata Deon. Dia memang temanku yang paling baik hati. Diantara kami berlima dia yang paling pendiam dan bijaksana. Dia adalah anak kepala desa disini, sehingga mungkin saja sifatnya menurun dari ayahnya. Deon berperawakan tinggi, berkulit sedikit gelap, rambut hitam keriting, dan tubuh sedikit berotot.
Sedangkan Bartlett adalah anak tunggal seorang pemilik toko perhiasan terbesar di desa ini. Bisa kalian bayangkan betapa kayanya dia. Dia memang yang paling kaya diantara kami berlima. Selain itu, dengan wajah yang rupawan, berkulit tan dan tubuh berotot tak mengherankan jika dia menjadi incaran gadis-gadis di desa ini. Sayang sifatnya yang terlalu menyebalkan, sehingga aku pun tidak tertarik dengannya.
Kemudian Collin adalah anak pedagang daging yang memiliki kios di sebelah kios Tuan Egor. Dia memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi, berkulit tan, dan tubuh sedikit berisi. Hanya Collin satu-satunya temanku yang memiliki rambut sebahu. Tetapi wajahnya yang tampan, tidak akan membuat kalian terkecoh mengiranya perempuan.
Setelah memesan beberapa camilan dan minuman, aku mulai melahapnya karena terlihat menggiurkan. Menu di kedai ini memang sangat lezat, ditambah harganya yang murah. Tak jarang pula Tuan Pedro, pemilik kedai ini memberikan diskon untuk kami. Kami memang sudah lama berlangganan di kedai ini. Kami pun melanjutkan obrolan yang tadi sambil menyantap makanan yang kami pesan.
...
Dalam perjalanan pulang ketika sudah cukup dekat dengan rumah, aku melihat seorang pria paruh baya yang mungkin seusia Ayahku sedang berbincang dengan Ibuku di depan pintu. Mungkin saja orang tersebut baru tiba sehingga Ibuku belum mempersilahkannya masuk. Aku pun berkata, "Ayah lihatlah sepertinya rumah kita kedatangan tamu. Tapi kelihatannya asing, aku tidak pernah melihatnya."
Ayahku menoleh ke arah yang aku tunjuk dengan raut wajah terkejut. "Hmm kelihatannya itu teman lama Ayah, sudah sangat lama memang kami tidak pernah bertemu," kata Ayahku.
"Siapa memangnya Ayah, apakah sebelumnya aku pernah bertemu dengannya mungkin ketika masih kecil ?," tanyaku karena memang aku mengenal semua teman Ayah tapi yang ini tidak. Ayah hanya diam terlihat berpikir tanpa menjawab pertanyaanku, membuat ku bertanya-tanya akan keterdiaman Ayah.
***