Bagian I
Dua tahun kemudian...
—VERRON POV
Tidak ada lagi rasa percaya pada harapan yang indah.
SEPANJANG dua jam terakhir ini tidak ada yang aku lakukan selain bertopang dagu, menguap, melamun, bertopang dagu, menguap, melamun, dan begitu seterusnya. Seperti biasa, tidak ada yang menarik. Bagiku, menghabiskan waktu di sekolah sama saja dengan menghabiskan waktu dengan sia-sia. Aku bosan dan benar-benar muak. Jadi, jangan heran bila—untuk saat ini—bel tanda pulang sekolah merupakan bunyi terindah yang pernah aku dengar.
Tidak hanya aku, tampaknya teman-teman sekelasku juga berpikiran sama. Nyatanya, begitu bel tanda pulang sekolah berbunyi, mereka semua bergegas pergi seakan ingin menyerbu barang-barang diskon di supermarket.
Nah, sekarang bayangkanlah betapa membosankannya tempat ini.
Begitu jam sekolah usai, kebebasan pun dimulai. Kelas demi kelas mulai kosong dan sebagai gantinya koridor mulai penuh. Banyak orang mondar-mandir, banyak orang sibuk dengan berbagai kegiatan. Taraf keributan pun lantas meningkat. Seakan terpaut oleh jarak yang jauh, semua orang berbicara dengan suara keras. Beberapa anak lelaki bahkan terlihat sedang bermain kejar-kejaran di sepanjang koridor, sedangkan para anak perempuan lebih senang membentuk kelompok dan mulai bergosip. Sementara itu, kegiatan-kegiatan lainnya datang dari anak-anak nakal di sekolah. Katanya, mereka melakukan kegiatan yang tak kalah menyenangkan dari bermain kejar-kejaran.
Misalnya, mengganggu teman mungkin?
Kebetulan sekali, aku sedang terlibat dalam hal semacam itu sekarang. Akan tetapi, peranku bukan sebagai pengganggu, melainkan sebaliknya. Sederhananya, seseorang—yang entah siapa itu—baru saja mencari masalah denganku.
Beberapa saat yang lalu, tepat seusai jam sekolah, aku memutuskan untuk menyinggahi toilet sebelum pulang. Di saat itulah hal yang tidak terduga malah terjadi; aku membuka pintu dan mendadak terguyur oleh air kotor. Tanpa perlu bertanya pun aku langsung tahu bahwa itu adalah jebakan. Karena aku yakin petugas cleaning service di sekolahku masih cukup waras untuk tidak meletakkan ember berisi air di atas daun pintu.
Niatku untuk pergi ke toilet pun lantas terbatalkan. Namun, itu bukanlah masalah besar. Lagipula, tujuanku ke toilet hanya ingin membasuh wajah demi menghilangkan kantuk. Dan berkat jebakan itu, aku tidak lagi harus melakukan itu; terguyur air hingga satu badan, kantukku langsung hilang.
Aku bahkan tidak ingin repot-repot mengurusi pakaianku yang basah kuyup. Seakan tidak terjadi apa-apa, langsung saja aku melangkah keluar dari kawasan toilet sekolah. Kemudian, berjalan dengan santainya melalui puluhan pasang mata yang menatap padaku.
Sesuai dugaan, sepanjang koridor sontak ribut.
Orang-orang kini menatapku dengan raut wajah bingung sekaligus ngeri. Bisikan demi bisikan yang sudah lama tidak pernah aku dengar pun kembali mengusikku.
"Lihat, itu kan..."
"Kok—dia pasti baru saja dikerjai sewaktu di toilet!"
"Hah?"
"Enggak mungkin!"
"Memangnya ada yang berani sama dia?"
"Yah, mana aku tahu!"
"Siapa pun itu, habislah dia..."
Ya, seperti inilah keadaan di lingkungan sekolahku. Hanya dengan sebuah kejadian kecil, seisi sekolah bisa langsung heboh. Apalagi kalau kejadian itu melibatkan anak-anak yang cukup terkenal di sekolah.
Dan sialnya, aku adalah salah satu dari mereka—
—tapi tolong jangan salah paham dulu.
Aku terkenal bukan karena paras, prestasi, maupun kepribadian yang baik. Sebaliknya, aku terkenal justru karena kelakuanku yang dianggap buruk; terlalu dingin, tidak perperasaan, tidak mau berbaur, senang terlibat perkelahian, dan masih banyak lagi.
Bagi kau yang belum tahu, aku ini selalu dipandang buruk oleh orang lain. Oleh karena itulah, aku selalu ditakuti dan dijauhi. Lagipula, memangnya siapa yang mau berteman dengan orang yang bahkan saat hari pertama bersekolah sudah melempar sebuah meja dari lantai tiga ke lapangan?
Kedengarannya mungkin menyedihkan, tapi aku tidak peduli. Entah itu bersifat pujian ataupun hujatan, aku tidak pernah mau menggubris gosipan orang-orang. Mengurus hidupku sendiri saja sudah repot. Jadi, untuk apa aku mengurus omongan orang lain? Biarlah semua orang puas mengoceh tanpa tahu kebenarannya.
Untuk sekarang, aku benar-benar berharap—setidaknya—buku-bukuku tidak basah bersama dengan tas punggungku. Aku menyinggahi loker demi mengeluarkan sebagian isi tasku dan menyimpannya di sana. Apa yang aku inginkan hanyalah segera pulang dan tidur. Akan tetapi, sesuatu yang lain harus kembali menahan kepulanganku.
"Oh, jadi ini bocah yang katanya paling hebat itu?"
Gerakanku sontak terhenti.
Suara yang lantang mendadak terdengar memenuhi udara dan lantas memecah kericuhan di koridor. Bisikan-bisikan yang awalnya begitu frontal pun berubah menjadi cicitan tikus; suasana menjadi jauh lebih tenang sekarang. Namun, belum selesai dengan itu, suara lantang itu kembali terdengar.
"Kalian yakin tidak salah orang? Bagaimana bocah bertampang tikus tercebur got ini bisa dianggap menakutkan oleh orang-orang?"
Dan berusaha memancing emosiku.
Selain suara lantang itu, aku dapat mendengar suara tawa beberapa orang mengikuti. Tampaknya siapa pun yang sedang berusaha mencari masalah denganku ini jumlahnya lebih dari satu orang. Penasaran dengan tampang mereka, aku pun segera berbalik. Dan apa yang aku dapati adalah tiga orang anak senior bertampang berandalan. Terlihat dengan wajah sok sangar, pakaian kusut, rambut acak-acakan, dan aksesoris anak-anak punk.
Salah seorang dari mereka yang bertubuh paling jangkung berseru kencang, "Tentu saja kami tidak salah orang, Bos. Jangan-jangan cuma karena diguyur air cucian pel, bocah ini malah ketakutan!"
Di sisi lain, seorang yang bertubuh lebih gemuk ikut dalam pembicaraan. "Ah, payah!" gerutunya. "Gosip-gosip itu pasti bualan saja. Mana mungkin tubuh kurus begitu bisa adu tinju dengan orang-orang seperti kita?"
Kemudian, ketiganya tergelak.
Suara mereka terlalu keras hingga menarik perhatian anak-anak lain. Seluruh mata kini memandang ngeri pada kami berempat, bisikan demi bisikan frontal pun kembali terdengar olehku. Agaknya banyak orang mulai berpikir bahwa kami akan berkelahi fisik. Oh, yang benar saja! Terkadang orang-orang bersikap berlebihan; hanya karena masalah sepele dan kami akan adu tinju?
Tentu saja.
Aku tidak menyangka akan mendapat masalah dengan para senior. Tidak, justru mereka yang tidak menyangka akan berhadapan dengan orang sepertiku. Memangnya mereka siapa? Anak-anak paling berandal di sekolah? Maaf saja, gelar semacam itu tidak membuatku takut sama sekali. Justru sebaliknya, ini bakal menarik. Aku berharap tidak ada anak sok sopan yang melaporkan kejadian ini pada guru.
Tidak ada salahnya kan bersenang-senang sedikit seusai jam sekolah?
"Pantas saja baunya tidak enak," aku memasang tampang mengejek, "air bekas cucian pel rupanya."
Mendengar balasan dariku, para senior lantas memandangku dengan tidak senang. Atmosfer berubah, suasana pun menegang. Kedengarannya mungkin buruk, tapi aku tidak peduli. Aku memang tidak pernah mempedulikan sekitarku, terlebih jika itu hanyalah omong kosong belaka. Hanya saja, untuk kali ini—untuk orang-orang yang sedang mencari gara-gara denganku—akan aku ladeni.
"Jadi, cuma itu yang bisa kalian lakukan?" kataku lagi, memanaskan suasana.
Kali ini senior yang berdiri di tengah, yang bertubuh paling kekar dan dianggap sebagai pemimpin oleh kedua temannya maju selangkah. "Apa katamu?" tanyanya, jelas sekali mulai merasa kesal.
Aku merentangkan kedua tanganku dengan santai. "Kalian kan bertiga, kenapa tidak langsung keroyok saja?" balasku. "Kalau tiga lawan satu pasti gampang kan?"
Jeda singkat.
"Itu pun kalau kalian berani denganku."
GREB—kerah bajuku disambar di detik itu juga. Sesuai dugaan, lawan bicaraku ini langsung naik pitam begitu diprovokasi sedikit. Bukan hanya itu, kericuhan pun kembali pecah di koridor. Anak-anak lain mulai berdiri mengelilingi kami. Para anak perempuan berteriak histeris, sedangkan para anak lelaki mulai meneriaki kami untuk saling memukul.
Ingin berlagak keren, si pemimpin senior mendorongku hingga menabrak loker sekolah. "Jangan berlagak hebat kau, bocah tengil!" bentaknya di depan wajahku. "Kalau mau, aku bisa saja menghabisimu di sini!"
"Oh?"
"Mohon ampunlah sebelum semuanya terlambat."
Mendengar itu, aku mendengus, nyaris tak mampu menahan diriku untuk tidak tetawa. "Aku tunggu kau di lapangan belakang sekolah." kataku, kemudian dengan santainya menepis tangan yang sejak tadi mencengkeram kerah bajuku.
"Ternyata kau punya nyali juga untuk satu lawan satu denganku," si pemimpin senior menyeringai dan memberikan jawaban yang mengundang lebih banyak sorakan, "aku terima tawaranmu."
Tidak ingin repot-repot menggubris segala keributan yang ada, aku pun membenarkan kerah bajuku. "Siapa bilang satu lawan satu?" tanyaku, memecah keributan.
Sontak, hening.
"Kalian bertiga, lawan aku sekaligus."
Tidak ada lagi rasa percaya pada harapan yang indah.
Terlebih, di dunia yang sudah terlanjur b****k ini.