Pukul 15.30 WIB. Lantai 47, Aditya Tower, Jakarta Selatan.
Ruangan itu berbau uang. Ini bukan sekadar kiasan. Reyna Kirana Aditya memiliki indra penciuman yang terasah untuk membedakan aroma kulit kursi impor seharga gaji tahunan seorang manajer, harum parfum pria-pria yang mengenakan jam tangan lebih mahal dari mobil mewah, hingga aroma kecemasan dari bau keringat yang mereka sembunyikan di balik setelan jas jutaan rupiah.
Mereka takut padanya. Dan bagi Reyna, ketakutan adalah fondasi terbaik untuk sebuah kesepakatan.
"Slide berikutnya," titah Reyna. Suaranya rendah, tidak butuh tenaga untuk mendominasi.
Di ruangan ini, bahkan tarikan napasnya akan disimak layaknya sabda. Layar raksasa di ujung meja rapat menampilkan deretan angka yang dingin dari Proyeksi akuisisi PT Farmasindo Nusantara. Nilai transaksinya fantastis, mencapai Rp2,3 triliun.
Pak Hartono, sang CEO yang rambutnya telah memutih separuh, melempar senyum tipikal orang yang merasa baru saja memenangkan lotre.
Retak.
Di udara, tepat di atas bahu kiri Pak Hartono, Reyna melihatnya. Garis-garis abu-abu tipis menjalar menyerupai sarang laba-laba, atau kaca yang dipukul martil tepat di tengahnya. Gejala visual yang hanya bisa dilihat oleh matanya sendiri.
Pria itu berbohong.
"Kami menyambut baik tawaran Aditya Group," suara Hartono terdengar hangat. "Tentu saja, dengan syarat aset pabrik di Bekasi tidak termasuk dalam paket akuisisi—"
"Pabrik Bekasi adalah satu-satunya alasan kita semua duduk di sini," potong Reyna tanpa mengangkat wajah dari dokumennya.
"Nona Reyna, pabrik itu adalah—"
"Aset yang sedang Anda jaminkan ke tiga bank berbeda secara bersamaan." Reyna mendongak, mengunci tatapan Hartono dengan mata elangnya. "Rekayasa akuntansi yang rapi, Pak Hartono. Sayangnya, tidak cukup rapi untuk saya."
Wajah Hartono memias. Retakan abu-abu di sekelilingnya melebar secara dramatis.
"Empat puluh delapan jam dari sekarang, serahkan seluruh dokumen aset, atau temuan ini akan mendarat di meja OJK. Selamat malam."
Pukul 23.15 WIB. Perbukitan Menoreh, Magelang.
Hujan di lereng Menoreh tidak pernah bercanda. Rintiknya berubah menjadi tirai air pekat yang mengaburkan pandangan. Reyna seharusnya tidak menyetir sendiri setelah menempuh tujuh jam perjalanan dari Jakarta melewati tol Trans Jawa yang membosankan.
Namun, kepalanya terlalu bising oleh sebuah nama. Nama yang mendadak bangkit kembali hanya karena satu artikel bisnis yang ia baca kemarin malam.
“Dr. Devano Prakasa, lulusan terbaik UI yang memilih mengabdi di Puskesmas Pembantu di kaki Bukit Menoreh...”
Kenapa kau masih ada di kepalaku?
Tiba-tiba, dari balik tikungan buta di jalur Salaman yang sempit, sebuah bayangan melintas. Terlalu cepat. Reyna menghantam pedal rem. Ban mengunci, berdecit memekakkan telinga di atas aspal basah. Setir bergetar hebat.
Untuk satu detik yang terasa abadi, Reyna menyaksikan pemandangan yang mustahil. Langit malam Magelang terlihat dari balik kaca depan yang meretak seribu, dan hujan seolah jatuh terbalik karena dunianya baru saja jungkir balik.
Lalu, tak ada lagi retakan abu-abu di udara. Hanya kegelapan yang pekat dan dingin.
Puskesmas Pembantu Kenalan, pukul 23.34 WIB
Devano Prakasa tengah menyelesaikan laporan saat pintu kliniknya didobrak. Dua warga dengan pakaian basah kuyup berdiri di sana, terengah-engah.
"Dok! Ada mobil masuk jurang di tikungan bawah! Orangnya sudah kami evakuasi ke atas, perempuan, Dok!"
Devano menyambar tas daruratnya. Pikirannya melayang pada titik maut di jalur Menoreh yang memang tak punya pagar pengaman memadai. Ia melompat ke bak pickup warga, menembus kabut dan hujan.
Di atas lembaran karung plastik darurat di pinggir jalan, seorang perempuan terbaring kaku. Devano berlutut di tanah berlumpur. Jemarinya mencari nadi di leher, lalu memeriksa pupil dengan senter kecil. Ada luka robek di pelipis kiri yang mengalirkan darah segar.
"Oke, angkat pelan-pelan. Jaga posisi kepala—"
Hembusan angin malam menyibak helai rambut basah yang menutupi wajah si korban. Dan jantung Devano seolah berhenti berdetak. Seluruh benteng yang ia bangun selama sepuluh tahun runtuh hanya dalam dua detik.
"Dok?" salah satu warga memanggil, bingung melihat sang dokter terpaku.
Devano menelan ludah yang terasa sekeras batu. Ia memaksakan otot wajahnya kembali ke ekspresi profesional yang dingin.
"Angkat. Sekarang!"
Di dalam bak truk yang melaju kembali menuju klinik, di tengah deru hujan dan aroma tanah basah yang menyengat, Devano menekan kain kasa ke pelipis perempuan itu. Perempuan yang sepuluh tahun lalu mengucapkan namanya untuk terakhir kali melalui sebuah surat singkat yang menghancurkan hatinya.
Jangan cari aku lagi.
Dan ia telah mematuhinya dengan setia. Sampai malam ini, takdir di Magelang memutuskan untuk berkhianat.