Niko mengurungkan niatnya, meski saat itu pennisnya yang sudah mengeras berada tepat didepan vaggina Rianti. Lebih memilih menuruti keinginan si cantik, memijit tubuh mulus itu. Meski sesekali tangannya tak mampu untuk menahan bergerak nakal meremas payyudara membusung yang muncul dipermukaan, diantara busa yang lembut.
“Yant, punyamu koq dibiarin rimbun gini sih, kan cowok lebih senang ama yang gundul dan mulus,” bisik Niko sambil mengusap-usap rambut kemalluan Rianti yang lebat.
“Hehehee, ngga apa-apa, seneng aja ngeliatnya kalo lebat gitu, lagian Rangga ngga pernah komplain koq,” Rianti bermain mengumpulkan buih dengan tangannya, mengumpulkan di atas gundukan payyudara.
“Aaaiiihhh, Nikoo, ngapain sihh, turunin,” tiba-tiba bibir tipis nya terpekik, Niko mengangkat panttatnya hingga me