Zahra sendiri tak habis pikir, kenapa selalu Pak Wisnu yang ada di sampingnya, disaat hatinya tengah berkecamuk.
Sesekali dirasakannya telapak tangan Pak Wisnu yang turun kebawah pinggulnya, mengusap lembut bulatan panttat nya. Mengusap punggungnya dengan lembut, lalu kembali memeluk erat pinggang yang ramping.
Dengan pelan, Zahra menepis tangan Pak Wisnu , saat lagu telah usai. Berusaha untuk tidak membuat lelaki itu malu, karena selama berduet tangan itu tak lepas dari tubuhnya.
“Terimakasih,” ucapnya, saat menerima tepuk tangan dari mereka yang ada disitu.
“Ternyata suara istri Niko ini merdu banget, senang berduet dengan Bu Dokter,” ucap Pak Wisnu, membungkuk dengan gaya formal memberi hormat sambil tertawa renyah.
“Bila ibu mengizinkan, malam ini aku ingin menagih janji yang kema