“Percayalah, kesibukanmu sebagai seorang dokter dan waktu yang berlalu pasti akan mampu membantu hatimu mengatasi ini,”
Tangis Zahra terhenti, ia dapat membaca apa yang tersirat dari jawaban Rangga. Ketegasan seorang lelaki. Tampaknya Rangga memang ingin mengakhiri hubungan mereka lebih awal. Dan tak ada yang dapat dilakukan Zahra selain menerima.
Matanya yang basah menatap Rangga. Dibuangnya segala gengsi dan ego. Hatinya begitu merindukan sentuhan dari lelaki yang beberapa tahun lalu begitu merajai hati dan pikirannya. Dan kini semua terulang lagi, dalam status dan kondisi yang jauh berbeda.
Kakinya berjinjit, mengecup bibir sipejantan, sentuhan bibir dalam balutan cinta yang dalam.
“Ra,” hanya kata itu yang terucap dari bibir Rangga saat menyambut bibir sicantik. Walau bagaimanapun