"Maaf."
Sepersekian detik telinga gadis itu berdenging, mendengar kenyataan pahit dari Sang Dokter hingga membuatnya kebingungan. Mendadak otaknya tidak mau bekerja selain memutar kembali penjelasan sebelumnya dari dokter. Dianalisisnya setiap kata dari kalimat wanita ber-snelli putih tersebut, berusaha mencari letak kesalahannya. Nihil. Berapa kali pun dia mencoba mengulang, perkataan dokter tetap sama. Lalu, apakah dia yang salah dengar?
"Kamu dengar saya?" Suara Sang Dokter membuyarkan lamunannya. Padahal wanita itu berbicara panjang lebar mengenai kondisinya saat ini, tapi dia malah tidak mendengarkannya.
Tidak mau menyinggung perasaan Sang Dokter, akhirnya gadis itu menganggukkan kepala. Tangannya diam-diam meremas celana yang dia kenakan, berusaha meyakinkan diri bahwa perkataan Si Dokter adalah kebenaran. Begitu pula dengan pendengarannya yang tidak salah sama sekali.
Toh, sejak awal dokter sudah mengatakan jika pengobatan yang dia lalui selama ini tidak akan berefek banyak. Dirinya yang terlalu naif karena baru mengerti hal itu sekarang. Yah, mau bagaimana lagi? Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan penyakitnya dengan biaya yang tidak kecil tentu saja. Tetapi Tuhan berkehendak lain.
Begitu selesai, gadis bersurai hitam itu pamit dari hadapan Sang Dokter. Dia berjalan dalam diam di sepanjang koridor rumah sakit, hingga berpapasan dengan seseorang yang jiwanya telah diambil dari dunia. Tubuhnya tertutup kain putih, terbujur di atas brankar yang didorong oleh dua petugas kesehatan dan beberapa orang yang menangisinya.
Mendadak dadanya berdenyut ngilu. Cepat lambat dia akan segera menyusul. Mirisnya, tidak ada seorang pun yang akan menangisinya nanti.
Gadis itu merapatkan sweater rajut yang dia kenakan begitu semilir angin senja menyambut saat dia keluar dari lobi rumah sakit. Sang suara hati menuntun kakinya berjalan ke jembatan gantung yang menyeberangi sungai, dekat area rumah sakit. Suasana di tempat itu jauh dari kata ramai, sesuai dengan hatinya yang membutuhkan kesendirian.
Mentari tinggal menampakkan separuh dirinya, menciptakan kilauan jingga pada permukaan air yang terombang-ambing memantulkan bayangan seorang gadis di tengah-tengah jembatan. Gadis itu menoleh ke bawah, mengira-ngira seberapa dalam dan dinginnya air sungai tersebut bila dirinya tenggelam di sana. Dia mengeratkan genggamannya pada pagar jembatan.
Bisakah aku mengakhiri semua rasa sakit ini sekarang? Sebelum benar-benar menaiki pagar, gadis itu berpikir sekali lagi. Bodohnya, lagi-lagi aku terlena. Mati, nggak akan menjamin semuanya jadi lebih baik.
Kakinya benjalan mundur menjauhi pagar, membatalkan niatannya untuk bunuh diri. Setidaknya bukan sekarang. Dengan sisa waktu yang dimilikinya, artinya dia masih punya kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
Gadis itu melangkahkan kakinya manjauhi jembatan dan berjanji tidak akan datang di tempat itu lagi.
Aku, Reinata. Selagi jantungku masih berdetak, aku akan membuat dua belas harapanku menjadi kenyataan. Semustahil apapun itu.
*****