Hari pertama di sekolah baru pun telah usai dan aku pulang ke rumah. Aku telah bertemu dengan banyak orang baru serta seorang gadis yang membuat aku penasaran. Aneh sekali, baru kali ini aku tertarik dengan manusia lain. Padahal selama aku hidup, aku sama sekali tidak pernah peduli dengan orang lain selain kedua adikku
Setelah sampai di rumah, aku melihat pemandangan yang sangat jarang sekali terlihat oleh ku. Disana ada Paman Rahman dan Bibi Neng, ada kakek dan nenek juga. Bibi Neng adalah adik Bapak ku dan juga kakak dari Paman Rahman, aku biasa memanggilnya dengan sebutan Bi Neng. Bi Neng adalah salah satu orang yang paling berjasa dihidupku. Ketika aku masih kecil tepatnya saat berumur empat sampai tujuh tahun, aku diurus dan dijaga oleh Bi Neng. Karena waktu itu ibu ku menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di luar negeri dan bapak ku tidak diketahui keberadaannya. Saat ibu ku pulang ke Indonesia, baru lah saat itu bapakku memunculkan batang hidungnya. Entah apa yang dia lakukan selama empat tahun tersebut. Yang aku tahu, bapak pergi ke luar kota. Saat diumur tersebut aku juga sempat mengalami penyakit kuning dan Bi Neng lah yang setia menjagaku.
Aku lantas bertanya kepada Bi Neng.
Aldi : "Bi Neng kenapa ada disini? bukannya Bibi tinggal di kota?"
Bi Neng : "Bibi dengar katanya kamu pindah kesini makanya Bibi kesini pengen liat kamu. bibi udah lama pengen ketemu sama kamu, soalnya bibi gak mau ketemu sama kamu kalo kamu sama lagi sama bapakmu. sekalian jenguk kakek sama nenek juga. kamu apa kabar?"
Nggak aneh sih, hubungan Bi Neng sama bapak gak begitu akur meskipun mereka bersaudara, fikir ku dalam hati.
Aldi : "Aku sehat." jawab ku menanggapi pertanyaannya
Bi Neng : "Bibi udah denger keadaan orang tua kamu. kamu yang sabar ya." ucap Bi Neng sambil memelukku.
Aldi : "Iya Bi. aku sebenernya seneng sekaligus khawatir saat dipindahkan kesini. disatu sisi, aku seneng gak lagi harus menjadi bahan pelampiasan bapak sama ibu. aku seneng gak lagi harus melihat pertengkaran yang hampir setiap hari terjadi. tapi disisi lain, aku khawatir sama Erika dan Afrizal. aku takut kalau mereka dijadikan samsak untuk menggantikan aku. seandainya aku bisa memilih, aku akan memilih untuk tidak dilahirkan oleh orang tua itu."
Nenek : "Hush, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, nak. Bagaimana pun mereka itu orang tua mu. Mereka yang melahirkan dan membesarkan kamu. Mereka yang memberi kamu makan, pakaian, tempat tinggal, serta hal hal lainnya yang kamu butuhkan."
Mendengarkan perkataan nenek yang seperti itu, emosi ku mendadak naik. Aku merasa kalau nenek tidak berada di pihakku dan malah membela orang tuaku yang seringkali meperlakukan aku dengan tidak wajar. Aku lalu membentak nenek sampil menangis dan mengatakan,
Aldi : "Mana bisa orang orang seperti mereka disebut orang tua?! Mana mungkin ada orang tua yang tidak menyayangi anak nya?!" ucap ku yang membentak nenek sambil menangis.
Nenek lalu menghampiriku dan memelukku sambil mengatakan,
Nenek : "Memang betul apa yang kamu katakan. Mana mungkin ada orang tua yang tidak menyayangi anak nya? Mereka menyayangi kamu. Sudah jelas mereka menyayangi kamu. Buktinya, kamu sampai hari ini masih hidup di dunia ini. Siapa yang membuat itu bisa terjadi? Kedua orang tua kamu. Kalau mereka tidak menyayangi kamu, kamu tidak akan bisa tumbuh sampai seperti sekarang. Ketika kamu terlahir, bisa saja mereka membuang mu ke tempat yang jauh. Bisa saja mereka tidak akan pernah mengurus dan memberikan apa yang kamu butuhkan. Tapi mereka tidak melakukan itu, mereka melakukan sebaliknya. Mereka mengurus kamu dan membuat kamu bertahan hidup. Itu sudah menjadi bukti kalau orang tua kamu itu menyayangi kamu. Lebih baik kamu doakan kedua orang tua kamu. Doakan yang baik baik. Doakan supaya hati kedua orang tua kamu bisa dibukakan oleh Tuhan. Doakan supaya mereka sehat selalu dan panjang umur agar kamu bisa membalas budi kepada kedua orang tua mu suatu hari nanti."
Setelah nenek selesai berbicara, aku pun tersadar dan menangis semakin keras. Setelah apa yang ku alami sepanjang hidupku, awalnya aku sempat ragu dengan apa yang dikatakan nenek. Namun, semakin lama aku berfikir, semakin aku tersadar bahwa semua yang dikatakan nenek itu benar. Mereka menyayangiku. Hanya saja, mereka tidak bisa menunjukan kasih sayang yang lebih dikarenakan keadaan mereka yang rumit. Sebagai seorang anak, aku tidak boleh menyalahkan mereka begitu saja tanpa mengetahui keadaaan yang sebenarnya.
Juni, 2014
Tiba saatnya hari kenaikan kelas dan pembagian raport. Pagi hari Agung, Sopian, Bima, Agus, Pelni, dan Faisal menjemputku ke rumah untuk mengajak berangkat ke sekolah bersama. Entah sejak kapan aku menjadi akrab dengan mereka. Sejak dulu, aku tidak pernah merasa nyaman jika berada di dekat orang orang. Tapi dengan rombongan ini, aku tidak pernah merasa seperti itu. Aku sangat suka berada di dalam kelompok ini. Malahan, aku sampai tidak ingin menjauh dari mereka.
Sesampainya di gerbang sekolah, aku bertemu dengan Ayu. Selama enam bulan aku bersekolah disini, aku merasa hubunganku dengan Ayu semakin dekat karena setiap hari dia selalu menghampiriku dan mengajakku mengobrol serta membicarakan banyak hal sehingga kami banyak mengetahui satu sama lain. Dia berlari ke arahku dan menarik tangan ku lalu kami berlari ke belakang sekolah. Wajahnya terlihat panik dan ketakukan. Setelah sampai di belakang sekolah, aku bertanya padanya,
Aldi : "Ada apa?"
Ayu : "Lihat itu." menunjuk ke arah laki laki yang sedang berdiri di lapangan upacara sambil celingak celinguk seolah mencari seseorang
Ayu : "Namanya Gilang. Dia kelas tiga dan akan lulus hari ini."
Aldi : "Terus?"
Ayu : "Dia lagi nyariin aku. Terus aku sembunyi dari dia."
Aldi : "hubungannya sama aku apa?"
Ayu : "nggak ada sih."
Aldi : "Terus ngapain kamu narik narik aku sampe sini? kalo mau sembunyi ya sembunyi aja sendiri. aku mau ke kelas." sambil beranjak pergi
Ayu : "Tunggu dulu!" Ayu menghentikan ku sambil menarik lenganku
Ayu : "Aku mau minta bantuan kamu."
Aldi : "Apa?"
Ayu : "Dia nembak aku."
Aldi : "Hah?"
Ayu : "Dia mau aku jadi pacarnya dia."
Aldi : "Yaudah sih tinggal pacaran aja."
Ayu : "NGGAK!!"
Aldi : "Kenapa? masa cowok ganteng gitu mau ditolak"
Ayu : "Aku gak suka sama dia. Aku gak mau pacaran sama orang yang gak aku suka."
Aldi : "Terus, mau minta bantuan apa?"
Ayu : "Aku mau nolak dia tapi gak punya alesan yang kuat. aku mau kamu pura pura jadi pacar aku. jadi aku bilang sama dia kalo aku nolak dia karena aku udah punya pacar. gimana? mau kan?"
Aldi : "Ah ribet."
Ayu : "Tolongin lah Aldi. Aku gak tau lagi harus minta tolong sama siapa."
Aldi : "Yaudah iya.Pura pura doang kan?"
Ayu : "Iya pura pura doang. Makasih ya." sambil tersenyum.
Lalu aku dan Ayu pergi dari belakang sekolah untuk menghampiri kakak kelas yang ada di lapangan itu. Entah kenapa sepanjang jalan dia terus memegang tanganku. Mungkin biar terlihat meyakinkan kalau kami pacaran. Ketika kami sudah terlihat dari jauh, kakak kelas itu memanggil Ayu dan kami pun menghampirinya.
Ayu : "Kak, maaf tadi aku langsung lari gitu aja."
Gilang : "Ini siapa?" bertanya sambil menunjuk ke arahku
Aku hanya diam menunduk.
Ayu : "Kenalin kak, ini pacar aku. jadi soal ajakan yang tadi kakak bilang, maaf banget harus aku tolak. aku udah punya pacar.
Gilang : "Kamu udah punya pacar? terus ini pacar kamu?"
Ayu : "Iya kak."
Gilang : "Hahaha. Bocah suram yang keliatan gak punya masa depan ini pacar kamu? gak mungkin."
Aku tidak bisa mengatakan apa apa. Aku tidak bisa menyangkal nya. Aku memang sadar akan diriku sendiri. Setelah Gilang mengatakan itu, dari belakang terdengar suara langkah kaki yang berlari. Saat aku menengok ke belakang, ternyata itu adalah Bima yang berlari dan disusul oleh Agung dan Sopian. Bima berlari dengan kencang lalu melayangkan pukulan yang keras ke arah Gilang si kakak kelas. Aku terkejut, sangat terkejut. Apa yang dia lakukan? Bagaimana kalau ada guru yang melihat lalu Bima di skors? fikirku dalam hati. Setelah melakukan pukulan itu, Bima berbicara dengan lantang dan penuh emosi, "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina sahabatku. Bahkan jika itu adalah kakak kelas sekali pun!". Mendengarkan ucapan itu, aku semakin terkejut. Ternyata Bima melakukan hal itu untukku. Ayu yang panik langsung menarik tanganku lagi dan mengajak kabur. Kami berlari sekuat tenaga menuju kantin. Sesampainya di kantin, dengan nafas terengah engah aku reflek berbicara, "apa apaan itu?". Tak lama kemudian teman temanku menyusul kami ke kantin. Tapi aku tidak melihat Bima. Lantas aku bertanya,
Aldi : "Mana Bima?" bertanya sambil masih terengah engah karena berlari sekuat tenaga
Agung : "Keadaan nya chaos banget, guru guru sampe dateng ke lapangan."
Sopian : "Bima ketangkep dan dibawa ke kantor."
Pelni : "Serius?"
Agus : "Malah nanya." sambil menepuk punggung Pelni dengan agak keras
Agus : "Tadi kan kamu liat sendiri."
Pelni : "Oh iya" sambil tertawa tipis
Faisal : "Disaat kek gini masih aja bercanda."
Agus : "Lagian juga Aldi, sejak kapan kamu pacaran sama Ayu? Kenapa gak pernah cerita sama kita?"
Aldi : "Oh, enggak kok, kita cuma pu....."
Tiba tiba Ayu memotong pembicaraanku
Ayu : "Baru dua hari ini kok, hehe."
Semua orang terkejut sambil mengatakan : "HAHHH???!!"
Sopian : "Hei, kenapa kau ikut terkejut?!" dia bertanya kepadaku dengan terheran heran
Aldi : "Apa yang kau...." aku hendak bertanya pada Ayu tapi dia memotong pembicaraan ku lagi dengan menarik kupingku mendekat ke bibir nya dan berbisik
Ayu : "Udahlah nurut aja."
Aldi : "Iya, kita udah pacaran dua hari. Maaf ya aku ga ngomong apa apa sama kalian. Karena aku fikir cepat atau lambat juga kalian akan tau nantinya."
Tiba tiba raut wajah Pelni berubah dan dia pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Lalu Agus bertanya pada pelni, "Mau kemana kau?". "Toilet.", Pelni menjawab dengan singkat. Ayu lagi lagi menarik tanganku sambil mengatakan,
Ayu : "Ikut aku."
Aldi : "Kemana? Bentar lagi mau pembagian raport, kita harus ke kelas."
Ayu : "Bentar aja." sambil berjalan dan menarik tanganku
Faisal : "Mau kemana kalian?"
Ayu : "Kita mau pacaran dulu."
Sopian : "Jangan lama lama, bentar lagi pembagian raport. Nanti malah aku ketua kelas yang repot nyari kalian." berpesan sambil agak teriak.
Ayu : "Oke!"
Aku dan Ayu pun pergi meninggalkan teman teman. Aku terus bertanya kemana tujuan kami tapi Ayu tidak mau menjawab. Sampailah kami di bawah sebuah pohon pinus besar. Ayu duduk di bawah pohon pinus itu dan mengatakan,
Ayu : "Sejuk ya."
Aldi : "Hm."
Ayu : "Duduklah"
Aku pun menuruti nya dengan duduk di seberang sisi pohon yang lainnya
Ayu : "Jauh banget sih. Disini lah di sebelah ku.
Aldi : "Ribet banget."
Ayu : "Bukannya ada yang mau ditanyain?" bertanya sambil tersenyum
Aldi : "Maksud kamu...?"
Aldi : "Oh iya, yang tadi. Kenapa kamu bilang hal hal yang nggak jelas sama mereka?"
Ayu : "Aku hanya akan mengatakan ini satu kali, jadi dengerin baik baik."
Aldi : "....."
Ayu : "Tentang yang tadi, aku gak main main. aku mau kita pacaran beneran."
Aldi : "Eh? Hah? Apa? Haaahhhh???!!!"
Ayu : "Aku gak akan mengatakannya untuk yang kedua kali. Kamu gak harus jawab sekarang, fikirin aja dulu. Itu aja yang mau aku bilang, aku ke kelas duluan. Daaahhh."
Lalu Ayu langsung pergi meninggalkanku sambil berlari. Aku tidak mengerti apa yang dia fikirkan. Sungguh, aku tidak mengerti cara berfikir perempuan. Bagaimana mungkin dia bisa menyukaiku? Apa yang dia lihat dari aku yang selalu bermuka suram dan murung ini? Apa dia serius mengatakan itu? Atau mungkin dia hanya bercanda? Bagamana jika aku menganggap ini serius padahal dia hanya bercanda? Banyak yang ingin ku tanyakan dan ku pastikan tapi dia malah langsung melarikan diri. Setelah sekitar lima belas menit aku terduduk di bawah pohon pinus sambil memikirkan tentang Ayu, aku memutuskan untuk pergi ke kelas karena teringat pembagian raport. Sesampainya di kelas, aku melihat semua murid sudah berkumpul termasuk Ayu dan teman temanku juga. Aku melihat ke arah Ayu tapi dia seketika membuang muka seolah menghindari ku. Kenapa dia membuang muka? Apa dia membenciku? Padahal dia baru saja mengatakan ingin menjadi pacarku. Memikirkannya saja membuat kepalaku rasanya ingin pecah. Tanpa memikirkannya lebih jauh, Aku menuju ke kursi ku dan langsung duduk. Faisal yang duduk di bangku yang sama denganku bertanya padaku,
Faisal : "Kamu sama Ayu kan tadi pergi nya barengan, kenapa Ayu dateng ke kelas lebih dulu?"
Aldi : "Ada hal yang harus kuurus."
Faisal : "Hm, apa itu?"
Aldi : "Rahasia."
Lalu Agung dan Bima menghampiri kami, dan Agung bertanya,
Agung : "Gimana?"
Aldi : "Apanya?"
Agung : "Habis ngapain sama Ayu?"
Aldi : "Gak ngapa ngapain."
Bima : "Ah boong."
Karena merasa risih dengan pertanyaan tentang Ayu, aku pun mengalihkan pembicaraan
Aldi : "Eh Bima gimana tadi di kantor?"
Saat bima ingin menjawab, tiba tiba guru masuk dengan membawa setumpuk buku raport yang akan dibagikan.
BERSAMBUNG...