Finn dan Jack kini sampai di rumah mereka, sebuah mansion dengan halaman yang luas di pinggiran kota kecil itu.
Suasana di sekitar mansion itu sangat kontras dengan suasana kota itu. Kota itu memang tidak terlalu luas, namun cukup ramai orang yang berlalu lalang.
Sangat berbeda dengan suasana sekitar mansion itu. Suasananya asri, bersih, dan sepi. Hanya ada para penjaga dan beberapa anggota kelompok Black Hat yang mondar mandir di sekitar mansion itu.
"Welcome home, Brothers." sambut Atlas Darion, melihat kedua adiknya kembali.
Atlas Darion berbeda dari Jack dan Finn, ia terkesan lebih berwibawa, dingin, dan sangat pintar.
Hal itulah yang membuat dirinya menjadi pemimpin kelompok Black Hat yang mampu menguasai kota itu.
"Bagaimana keadaan kota?" tanya Atlas, sambil menuangkan whiskey ke gelas Jack dan Finn.
"Semua baik baik saja, tapi kita tetap harus waspada dengan pergerakan semu dari anak buah Derry, kita tahu dia adalah rubah yang licik." jawab Jack.
"Ya, kita harus tetap waspada. Aku tidak akan membiarkan dia merebut kota ini." timpal Atlas.
"Apa yang kau temukan, Finn?" lanjut Atlas, melihat adik bungsunya tidak fokus dengan pembicaraan.
Finn yang kaget langsung sadar dari lamunannya. Atlas memang pribadi yang peka, ia bisa tahu jika ada sesuatu yang tidak normal walau hanya dengan menatap raut wajah adik bungsunya itu.
"Tidak, aku... Hanya sedikit tidak enak badan." dusta Finn.
Mendengar jawaban Finn, kedua kakaknya pun langsung bertukar pandang. Tahu dirinya dicurigai, ia langsung keluar dari ruangan kerja Atlas tanpa pamit.
Finn pergi ke halaman belakang mansion, ia mengeluarkan sebatang rokok dari kantungnya, menjepit di bibir tipisnya lalu membakar ujung rokok itu.
Satu hisapan panjang pada rokok itu lalu ia hembuskan ke udara yang cukup hangat hari itu.
Ia tak bisa berhenti memikirkan Nara sejak meninggalkan pasar tadi. Gadis yang 10 tahun lalu ia temui benar benar telah berubah.
10 tahun lalu, ia dan Nara terlibat dalam misi pelarian. Saat itu terjadi kericuhan antar kelompok yang menimpa kelompok yang dipimpin kakak nya dengan kelompok dari timur.
Nara ditugaskan menjaga dan melindungi Finn dalam misi pelarian ke Utara waktu itu. Finn diminta kabur ke Utara agar ia tak di incar dan dijadikan sandera selama bentrokan itu.
Selama Alex dan Aaron Northent membantu Atlas dan Jack Darion dalam bentrokan itu, Nara dan Finn kabur ke Utara dan bersembunyi di Utara sementara sampai semuanya mereda.
Nara yang dulu Finn tahu tidak seperti gadis yang ia temui tadi di pasar. Dulu tubuh Nara terlihat sangat kurus, rambutnya berantakan, dan bisa dibilang kumal.
Tapi gadis yang tadi ia temui di pasar sudah benar benar berubah, Finn bahkan hampir tidak mengenalinya jika ia tak mendengar logat khas Nara saat berbicara.
4 bulan lamanya Nara dan Finn dalam misi pelarian membuat Finn tahu betul logat khas Nara seperti apa. Awalnya ia mengatakan jika logat Nara sangat aneh, namun seiring berjalannya waktu ia sadar justru itulah yang membuat Nara unik.
Bayang bayang Nara tak bisa hilang dalam benaknya. Rambut coklat yang terkepang rapih, lekuk badan yang sempurna, kulit yang halus dan sedikit pucat, Finn bisa hampir gila jika terus terusan membayangkannya seperti ini.
Ia bukan lelaki munafik, ia sering bermain main dengan perempuan. Tak hanya sekali dua kali ia menyewa p*****r di kota itu. Ia juga tak mau rugi, ia selalu membayar mahal untuk wanita wanita cantik yang bersedia memuaskan nafsunya.
Tapi ketika ia membayangkan Nara, rasanya berbeda. Terbayang juga di otak Finn moment jika ia dan Nara bisa tidur bersama dan menghabiskan satu malam penuh untuk bercinta.
"Aku tahu kau sedang berfikiran jorok." ucap suara Atlas, membuyarkan pikiran Finn.
"Aku tidak berfikiran jorok!" sergah Finn.
Atlas hanya mengangkat kedua alisnya seakan berkata "oh ya?", lalu duduk disamping Finn sambil menghisap rokoknya juga.
"Seberapa cantik wanita yang kau temui itu? Sudah buat kesepakatan harga untuk malam ini?" tanya Atlas.
"Aku bilang, aku tidak berfikiran jorok!" sergah Finn lagi.
"Baik lah, baik lah." kata Atlas terkekeh.
Kemudian kakak beradik itu hanya diam menatap ke arah kolam ikan yang ada disana sambil menghisap batang rokok masing masing sampai rokok mereka habis tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Aku harus pergi, ada urusan, aku akan kembali saat makan malam" kata Finn, bangkit dari duduknya.
"Dan tolong jangan cari aku." lanjutnya.
Lelaki muda itu pun langsung pergi meninggalkan kakak sulungnya sendirian disana.
Tanpa mengubah raut ekspresinya, Atlas langsung mengambil telefon genggam kecil dari sakunya dan menelfon ke sebuah nomor.
"Ikuti Finn. Aku mau tahu kemana ia pergi." ucap Atlas, kepada seseorang di sebrang.