(Angela)
Aku melirik jam tanganku singkat dan berharap Emily bersedia menunggu. Aku kemudian berlari pada Josh yang sedang membantu mendorong seorang pasien pria. Mulutku terbuka untuk bertanya namun terhenti karena Melinda, suster kepala UGD menyelaku. "Justin Keith, kecelakaan, sepanjang perjalanan tekanan darah menurun dan nafasnya memang sudah pelan. Dokter Josh memperkirakan adanya luka dalam."
Aku melirik Josh yang sedang menatap Justin dengan pandangan menyelidik. "Vania, cari tahu informasi tentang Justin. Apakah ia memiliki riwayat kesehatan pada di rumah sakit ini atau tidak, lalu hubungi keluarganya dengan cepat." Vania mengangguk paham lalu berlari menuju pusat informasi ruang UGD.
Pandanganku beralih pada Melinda lagi. "Selain dia siapa lagi?"
"Hanya dia dan supir bus. Supir bus itu sedang ditangani oleh dokter Mark dan dokter magang Helena." Aku mengangguk. Begitu kami masuk ke dalam ruang tindakan darurat, aku langsung menyiapkan segalanya. Aku melempar sepasang sarung tangan steril pada Josh dan membantunya menggunakan sarung tangan tersebut.
"Ambil darahnya dan cek ke lab secepat mungkin," ucapku pada dokter magang di dekatku. Dokter itu mengangguk dan segera melaksanakan perintah dari diriku. "Begitu kau tahu golongan darahnya segera pergi ke gudang darah dan ambil stoknya," tambahku begitu ia selesai mengambil darah Justin.
"Okay,” jawabnya singkat sebelum menghilang dari ruangan ini.
Aku mengamati luka pada tubuh Justin. "Kau bagian kaki, aku bagian kepala dan tangan. Setelah kau selesai, cari luka dalam yang kau perkirakan tadi." Josh mengangguk mengerti paham lalu melakukan tugasnya dengan baik. Aku menatap wajah Justin dengan simpati, pria ini tergolong tampan tetapi karena mendapatkan luka di wajah mungkin pesonanya akan hilang. Tanganku meraih pinset untuk mengambil beberapa pecahan kecil kaca pada luka di dekat rambutnya, bisa kuduga itu pecahan kaca mobil. Aku sudah terbiasa dengan pekerjaan ini sehingga bisa bersikap sedikit santai. Begitu selesai mengambil pecahan kaca terakhir dengan teliti, aku mengambil sebuah kapas yang sudah mengandung obat untuk membersihkan lukanya dan menjahitnya. Tanganku meraih obat terakhir dan menutup lukanya dengan kapas serta perban, kemudian membersihkan luka lecet pada tangannya.
"Kurasa tangannya patah." Aku menggigit bibirku begitu melihat ada yang aneh dengan tangannya. Josh melihatku bingung lalu bergerak mendekat. Ia menganalisa tangan kiri Justin.
"Hell, yeah," jawabnya pasrah seraya meletakkan tangan Justin dengan hati-hati.
"Melinda tolong gips," titah Josh sambil mengobati luka lecet Justin.
Melinda menyuruh suster lain yang berada di ruangan ini untuk mengambil benda yang kupinta selagi ia fokus pada monitor digital di depannya.
"Tekanan darahnya menurun!" Peringatan Melinda membuatku dan Josh melihat monitor itu dengan tatapan serius. Josh bergerak cepat untuk mencari lokasi luka dalam saat melihat detak jantung Justin yang juga mulai melemah.
Aku berdecak kesal, "Di mana hasil labnya!" teriakku membuat Vania yang berada tepat di depan pintu berjalan mundur kembali. Melinda dan Josh yang sudah sering melihatku meledak tidak memperdulikan emosiku.
Tidak lama kemudian, dokter magang yang membantuku masuk dengan langkah gugup. Aku melihat tanda pengenalnya, Laurent Santiago. "Tidak ada stok di gudang darah."
Aku menatap Laurent dengan tatapan tajam bercampur kesal. Di saat seperti ini di mana stok darah?
Aku melihat hasil lab dan menghela nafas, golongan darah A. Aku menyerahkan hasil lab pada Vania yang baru berani masuk. "Vania, cari tahu stok golongan darah yang kosong lalu hubungi Bank Darah untuk stok darah tambahan. Bagaimana dengan keluarga korban?"
"Sudah dihubungi dan korban tidak memiliki rekam medis di rumah sakit ini., tetapi record-nya sudah di-copy." Jelas Vania.
Aku mengangguk, "Letakkan copy-nya di mejaku beserta kopi favoritku," perintahku sebelum membiarkan dia pergi. Mataku berhasil menangkap sosok Laurent yang sedang memperhatikan Josh dengan antusias, ia terlihat menikmati aksi Josh mengobati luka dalam pada bagian sekitar perut. "Laurent, perhatikan Josh untuk pelajaranmu hari ini dan bantu dia." Perkataanku memperoleh respon antusias Laurent yang segera mendekati Josh.
"Jarang bukan, ada dokter magang yang sangat antusias?"
Perkataan Melinda membuatku tersenyum kecil. Yup.. Sangat jarang..
Pandangan mataku beralih pada Josh yang sudah selesai menutup luka Justin. Aku membuka jas labku lalu duduk manis di kursi sambil bersandar di dinding yang dingin. "Setelah gips datang tolong gips lengannya,” ucapku pada Josh.
"Dan kau Laurent, ambil darahku untuk diberikan pada Justin." Aku mencoba rileks.
Laurent menatapku dengan kaget, tidak lama kemudian Ia menuruti perkataanku. Umumnya jika kau ingin mendonorkan darah harus dalam posisi berbaring, tapi dalam kasus sekarang ini aku tidak bisa menunda lagi, baik duduk atau berbaring bagiku sama saja. Aku memperhatikan setiap gerakan Laurent, Ia melakukan tugas dengan baik sampai akhirnya kantung darah itu diletakkan di lantai sebelah kiriku. Aku menggigit pelan bibirku saat merasakan darah mengalir perlahan keluar ke dalam plastik. Aku memutuskan menutup kedua mata untuk membuang pikiran yang sudah mulai melenceng jauh. Mataku terbuka saat merasakan sebuah kapas telah menempel di lenganku kemudian diganti dengan plester. Begitu selesai merapikan perlengkapan donor, Laurent langsung mendonorkan darah itu ke Justin.
Aku berdiri dengan cepat merasa menyesal, kepalaku berdenyut dan mulai pusing serta duniaku tserasa berputar. Sebuah lengan tegap mengitari bagian pinggangku dengan cepat ketika tubuhku terayun ke depan. "Kau bodoh atau apa? Tadi pagi kau donorkan darah untuk pasien lain, dan sekarang kau donorkan lagi?"
Aku tidak memperdulikan ocehan Josh yang memang kenyataannya benar. Tangannya yang besar membantuku berdiri, "Dia bisa dipindahkan. Laurent, tolong perhatikan perkembangan Justin," ucapku parau karena pusing yang mendera.
Josh berdecak, lalu memapah tubuhku yang baginya tidak seberapa untuk membantu berjalan. Setelah sampai di ruanganku, Ia membantu meletakkan tubuhku di kasur kecil dekat sudut ruangan yang selalu tertutup tirai tipis berwarna biru muda. Josh lalu berjalan ke arah kulkas kecil dan meraih s**u kotak untuk diberikan padaku. "Minum dan istirahatlah. Aku akan mengambil alih pekerjaanmu."
Aku tertawa kecil melihat perhatiannya. Entah kenapa dia begitu perhatian. "Aku tidak bisa istirahat, Emily ingin bertemu denganku di cafe sekarang."
Josh mengerutkan keningnya dan menatapku datar. Mungkin merasa aneh pada ucapanku barusan. "Aku akan bicara pada Emily kalau adik tersayangnya sedang sibuk."
"Kau gila, dia bisa meraung. Aku sudah membatalkan pertemuan dengannya sebanyak 3 kali.” s**u dari Josh perlahan kuminum.
Ia menaikkan sebelah alis matanya, "Untuk?"
"Membahas persiapan pernikahannya dengan Edward." Aku menyerahkan kotak s**u kosong itu pada Josh.
Josh membuka mulutnya hendak protes, namun terhenti saat seseorang mendobrak pintu ruanganku dengan keras.
"There you are!" Emily menunjukku dengan kesal. Namun amarahnya berhenti saat melihat wajah pucatku. "Oh, Jesus. Kau apakan adikku, Joseph Francis Collins?" tanyanya dengan tatapan menuntut jawaban, sedangkan Josh yang mulai terlihat kaget.
Emily duduk di sampingku lalu mengusap wajahku pelan. "Oh, Jesus.... Angela yang malang... Josh pasti berbuat sesuatu padamu bukan? Katakanlah apa yang sudah dilakukan dan aku akan menghajarnya."
Aku tertawa melihat reaksi Josh yang terlihat serba salah atau lebih tepatnya terlihat seperti baru saja mencoba membunuhku namun tertangkap basah. "Josh tidak melakukan apapun. Ia baru saja menolongku."
"Kurasa pembicaraan kita bersambung di rumah. Akan kubilang pada Mom kalau kau tidak enak badan dan harus pulang secepatnya."
Aku menahan lengan Emily yang mulai berdiri. Emily melihat lengannya dan duduk kembali di sampingku. "Aku baik-baik saja. UGD tidak biasanya ramai."
"Tapi Angel—"
Kali ini perkataan Emily terpotong karena pintu ruang kerjaku terbuka. Mataku membulat kaget melihat ibuku yang masuk dengan panik.
Josh menyikut lenganku pelan. "Sepertinya Melinda menceritakan aksi hero-mu pada profesor Elizabeth."
Aku melempar tatapan s***s pada Josh lalu duduk dengan santai.
"Angela! Sudah berapa kali ibu bilang jangan berbuat hal nekat!" profesor Elizabeth, ibuku, menatapku dengan cemas.
Aku menatap ibuku dengan senyum semanis mungkin. "Aku baik-baik saja, hanya ingin menyelamatkan mereka."
"Tapi Josh memiliki darah O yang secara teori bisa didonorkan pada golongan darah lain," sela Emily.
Aku menatap Emily dengan tatapan kau-hanya-menambah-bebanku sebelum menghela nafas. "Itu secara teori, tetapi tidak secara fakta."
Ibuku menghela nafas lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. "Fine. Sekarang kau pulang dan istirahat."
Aku mengerang protes namun terhenti saat Emily dan Josh secara kompak menutup mulutku dan tersenyum penuh kemenangan. "Deal," jawab mereka serempak. Ibuku lalu keluar untuk melanjutkan pekerjaannya yang super sibuk dan Emily menyeretku keluar.