(Justin)
Setelah sampai di perusahaan, aku mengecek ulang pekerjaan secara sekilas dengan dibantu Gerrald dalam ruang rapat selama satu jam. Mataku beralih pada jam tangan lalu juga sesekali memandang amplop yang berada di atas berkas-berkas yang harus kuperiksa ulang sebelum memberikannya kepada Gerrald lagi dan diproses lebih lanjut. Aku menghela nafas lega saat Gerrald menutup map kerja terakhirnya. Tanganku meraih amplop yang dari tadi kuperhatikan. Kami bertiga bertiga keluar dari ruang rapat dan aku segera menuju ruanganku untuk menyendiri. Aku menoleh pada June dan Gerrald yang berjalan tepat di belakangku. "Beritahu aku jika sudah 30 menit sebelum waktu makan siang dengan Mr. Cord. Untuk sementara aku akan mengunci diriku di ruangani ni," pandanganku beralih pada Gerrald, "Jangan sampai ada orang yang mengangguku. Bilang saja aku sedang sibuk."
Mereka berdua mengangguk sebagai jawaban. Aku tersenyum lalu berjalan ke ruanganku dengan cepat. Aku mengeluarkan kertas laporan dari Gerrald dan membacanya.
Nama : Angela Marie White (28 tahun)
Nickname : Angela, Angel, Angie, Devil.
"Devil?" gumamku pelan dengan bingung. Namun aku tetap melanjutkannya.
Ibu: Elizabeth Christina White (52 tahun)
Saudara : Emily Crystal White (29 tahun)
"Emily Crystal White? Tunangan Edward?" Aku mengernyit dan lanjut membaca. Aku menatap halaman itu bosan karena hanya berisi laporan pendidikannya yang tergolong bagus. Aku ingat dulu dia memang pintar. Aku membuka lembar berikutnya lalu membaca dengan serius.
Joseph Francis Collins / Josh adalah sahabatnya sejak kuliah. Mereka magang bersama dan bekerja bersama di Rumah Sakit AM karena memiliki nilai yang baik. Angela sekarang bekerja di Rumah Sakit AM sebagai kepala unit gawat darurat. Rekan kerjanya antara lain Josh, Mark, Vania, dan Melinda. Ibunya adalah kepala rumah sakit dan memiliki gelar profesor. Kakaknya Emily adalah seorang model untuk merk baju sahabatnya serta bekerja sebagai design interior.
Aku berhenti membacanya dan mendapat sebuah ide yang menurutku cukup bagus dan menguntungkan. Jika benar dia adalah saudara Emily berarti aku bisa mendekatinya secara diam-diam dan mengorek beberapa clue.
Tanganku bergerak dengan cepat meraih handphone dan menghubungi Edward.
"Halo?"
"Ed, aku ingin bertanya padamu," ucapku cepat.
"Justin? Oh, sorry. Aku mengangkat telpon tanpa melihat namanya. Bagaimana kondisimu? Aku baru kembali dari Paris jadi maaf aku tidak bisa datang menjenguk."
"No problem. Sebenarnya aku ada permintaan kecil."
"Apa? Jika aku mampu maka akan kulakukan sebagai permintaan maaf karena tidak menjengukmu"
"Nanti malam kau bisa mengajak Emily? Aku sudah lama tidak mengobrol dengan kalian," kataku dengan sedikit tegang. Apakah umpanku berhasil?
"Emily? Kurasa ia dan adiknya Angela ada acara tersendiri."
Bingo!
Aku memainkan tanganku dengan sedikit nervous. "Kau bisa bilang padanya kalau adiknya bisa ikut. Aku hanya ingin mengobrol sejenak berhubung sebentar lagi kalian akan married dan aku akan sibuk."
"Er.." suara Edward tidak terdengar yakin. "Aku tidak janji tapi aku akan berusaha mengajak mereka. Angela sedikit keras kepala tapi kurasa ia akan mau ikut jika sedikit dibujuk."
Yes!
Aku mulai menari kegirangan dengan senyum lebar yang mengembang di wajahku. "Okay. Thanks. Bye Ed!"
"Okay," katanya sebelum menutup telepon.
Aku tersenyum cerah dan merapikan berkas Angela kembali ke dalam amplop dan akan k****a nanti saat ada waktu luang. Aku melihat jam dinding yang terpajang di dinding ruanganku dan tersenyum lebar. Aku merasa kalau ini adalah pertanda baik.
-----
(Angela)
Aku menatap Emily cukup datar. "Kau bilang kita pergi nonton," protesku dengan sedikit ketus. Aku memutar pandanganku lagi pada jalanan kota yang cukup ramai.
"Yeah, makan lalu nonton." Emily tersenyum serba salah padaku. Saat aku menatapnya dengan sangat datar ia melihatku dengan memelas. "Come on Angie. Edward tiba-tiba mengajakku makan bersama dengan sahabatnya, bagaimana aku bisa menolak? Aku tahu aku sudah membuat janji denganmu terlebih dahulu jadi aku akan makan dengannya sebentar lalu pergi nonton denganmu."
Aku menghela nafas tanda menyerah lalu mengangguk. "Fine." Aku membiarkannya kembali mengendarai mobilnya menuju tempat makan. Lagipula aku memang tidak bisa memaksakan apa yang kehendak pada orang lain. Itu terlihat egois dan aku tidak ingin menjadi egois.
"No hard feeling?" Emily tersenyum kecil.
Aku mengangguk-angguk lalu membuka pintu mobilnya dengan sedikit malas saat mobil telah terparkir di tempat parkir umum yang cukup besar. Emily bersorak girang lalu mengikutiku yang siap menyeberangi jalan. Aku merapatkan jaket dan mengutuk musim semi yang dingin ini dalam hati. Aku tidak suka dingin, itu sebabnya aku paling tidak menyukai keluar dalam saat cuaca dingin. Emily memimpin jalan menuju restaurant sederhana yang menjadi tempat langganan kami. Aku teringat kalau sering mengajak Josh ke sini setelah pulang kerja. Mungkin hampir sekitar seminggu sekali aku mampir ke restaurant ini bersama Josh, tapi minggu ini aku belum mengajaknya karena kami belum berbicara sepatah katapun sejak kejadian tempo hari.
Emily menarikku dengan semangat ke salah satu meja yang berada di sudut ruangan. Aku menyipitkan mata agar bisa melihat lebih jelas dan terlihat Edward sudah berdiri memberi salam pada Emily dan diriku tepat saat kami sampai di depan mejanya. Aku tersenyum ramah melihatnya lalu menarik bangku kosong di sebelah Emily. Mataku membulat saat menyadari seseorang dengan pakaian rapi duduk di sana dengan senyum lebarnya. "Kau—"
Perkataanku terpotong saat ia mengulurkan tangannya. "Kita bertemu lagi."
Aku menyambut uluran tangannya kemudian duduk dengan canggung dan melihat Emily untuk memberikan petunjuk. Namun perempuan itu tidak menangkap maksudku dan hanya menatapku dengan bingung. Beruntung Edward menyadari tatapanku dan berdeham. "Dia Justin. Adik kelas saat aku kuliah dulu. Kami memiliki project bersama dan berakhir menjadi sahabat karib. Umurnya sama denganmu sepertimu Angela."
Aku mengangguk-angguk, "Yeah. Well—"
"Kau mengenal Angela?" sela Emily.
Ia mengangguk dengan yakin lalu mengangkat tangannya yang masih di gips. "Dia yang menolongku saat kecelakaan. Dia dokter yang merawatku."
Emily menatapku sambil tersenyum usil. "Dia aneh bukan saat menjadi dokter?"
Aku menatap Emily tajam,. "What?"
Edward tertawa kecil melihat tingkah dan pertengkaran kecil kami. Sesekali aku membela diri bahwa aku tidak aneh saat bekerja dan sesekali mengejeknya yang aneh saat menjadi model.
"Menurutku dia profesional. Tunggu sampai kau melihat kakakku bekerja. Nick sangat serius saat bekerja hingga kadang terlihat weird," tambah Justin saat kami berdua beradu pendapat dengan seru.
Aku mengangkat sebelah alis matakuku. "Nicholas Keith, right?"
"Yup," balasnya sambil memainkan nada bicaranya.
"Dia pernah memberikan seminar saat aku masih kuliah. Dia disebut sebagai dokter muda jenius."
"Tidak begitu jenius. Saat libur ia hanya pergi memancing."
"Waw dia memiliki hobi yang sama dengan Josh." Dalam hitungan detik aku menyesal telah menyebut nama Josh. Aku harus memikirkan sebuah cara untuk kembali akur dengan Josh.
"Keluargamu akan datang bukan dalam ke acara kami bukan ?" Pertanyaan itu membuatku kembali melihat Edward dan Justin yang sudah kembali berbicara.
Justin mengangguk dengan semangat. "Yeah. David tidak sabar menggantikanku sebagai groomsmen."
Edwards dan Emily tertawa mendengar Justin dan aku hanya diam. Aku tidak tahu siapa David. Tapi nanti aku bisa tahu bukan?
Bzztt.. Bzzzttt...
Aku melirik handphone yang bergetar dan mengerang saat melihat nama yang tertera di layar.
"RS?" Emily melihatku dengan tatapan penasaran.
"Hell, yeah." Aku mengangguk dengan pasrah. Pekerjaanku hari ini sudah selesai.. Ada apa lagi?
Aku menunduk minta maaf pada Edward dan Emily lalu berjalan keluar restaurant. "Ya, Vania?"
"Sorry dokter Angela, tiba-tiba ada telepon kalau jika telah terjadi sebuah kecelakaan di laboratorium kimia dan beberapa orang di dalamnya terluka parah. Kami memerlukan tenaga bantuan—"
Aku menggeleng pelan selagi mataku mencari taksi. "Aku segera ke sana. Ambulans kapan datang?"
"10 menit lagi." Aku dapat mendengar suara Vania yang panik.
"Okay," jawabku singkat sebelum menutup telepon dan menaiki taksi yang sudah tiba. Aku mengirim pesan pada Emily kalau kemungkinan tidak bisa pulang. Aku memasukkan handphone dan mencoba relaks dalam taksi selama perjalanan menuju rumah sakit.
-----
Kakiku berlari secepat sepatu heels-ku bisa bergerak. Aku mengutuk diriku sendiri yang menggunakan heels saat pergi bersama Emily dan sialnya lupa tidak menyimpan sepatu flats di ruanganku. Mungkin beberapa hari lalu aku menggunakannya membawanya pulang dan lupa untuk membawanya kembali. Aku merenggangkan otot-otot tangan dengan cepat sebelum beralih ke ruang berikutnya. Korban akibat ledakan itu cukup banyak, sehingga mau tidak mau aku harus berpindah-pindah ruang dengan cepat. Ini cukup menyiksaku yang berlari menggunakan heels. Aku sudah merasa kalau kaki kiriku lecet. Aku berhenti sejenak dan membuka sepatuku, "damn," gumamku pelan melihat kakiku yang sudah lecet.
"Dokter Angela!"
Kepalaku terangkat melihat Laurent yang sedang berlari menuju ruang penyimpanan. "Dokter Mark memanggil anda di ruangan 3!"
Aku mengangguk, "Okay!" teriakku dengan cukup kencang. Aku memakai sepatu dengan pasrah lalu berdiri. Langkahku terhenti saat sebuah tangan meraih lenganku dan menarikku mundur. Aku berjalan kikuk mengikutinya. Sangat sulit mengikutinya yang berjalan biasa disaat aku berjalan terbalik dengan heels yang membuat kakiku lecet. Ia mengayunkan tangannya dan hal berikutnya yang kutahu adalah aku merasakan tubuhku terjatuh ke belakang dan mendarat di sebuah ranjang yang kosong. Aku mengangkat kepalaku hendak memprotes namun terhenti saat aku melihat siapa yang menarikku tadi. Ia duduk di kursi dan meraih kakiku. Ia melepas sepatu heels-ku dan menatap dengan pandangan yang selalu ia gunakan saat memarahiku. "Kenapa tidak mengganti sepatumu sih?"
Aku mengedipkan mata pelan sedangkan otakku mencerna perkataannya. "Kau marah disaat kakiku lecet? Waw.." komentarku asal. "Aku bisa mengurusnya nanti." Aku menarik kakiku kembali lalu bersiap berdiri. Tangannya meraih pergelangganku dan menarikku agar aku duduk kembali. "Bukan itu maksudku." Ia menghela nafas lalu mengeluarkan obat cream dari saku jas dokternya. "Kau harus merawat kakimu berhubung pernikahan Emily semakin dekat," katanya sambil mengobati kakiku dengan lembut.
Aku tidak memprotes apapun kali ini, hanya melihat pergerakan tangannya saja. "Tunggu di sini. Aku ambilkan sesuatu yang bisa mengganti heels- mu," katanya sambil melepaskan kedua sepatu heels- ku. Ia berbalik pergi ke arah ruangannya. Beberapa saat kemudian ia kembali dan memberikanku sebuah sendal karet yang mirip dengan model crocs. Aku menggunakannya dan tertawa kecil. "Aku seperti badut."
Ia meneliti penampilanku lalu berjalan di sampingku. "Dokter badut yang siap beraksi menyelamatkan nyawa orang."
Aku tertawa semakin lebar. "Perkataanmu membuatku terlihat seperti superman."
"Bagaimana kalau supermowan?" jawabnya dengan usil.
Aku tertawa lagi lalu mengulum senyum. "Thank you Josh.."
Sudut bibirnya terangkat, "You're welcome."
Akhirnya aku bisa memanggil namanya tanpa perasaan bersalah..