Musim semi masih menyelimuti Kerajaan Haeryeong dengan kelembutan yang tak tergoyahkan. Kelopak-kelopak bunga plum terus berguguran, terbawa angin yang melintasi atap paviliun dan menyusuri lorong-lorong istana yang dingin. Di balik tembok batu yang menjulang tinggi, kehidupan kerajaan berjalan seperti biasa—namun bagi dua anak kecil yang bersembunyi di sudut paling sunyi, segalanya telah berubah.
Sejak kejadian di mana pejabat tua itu menegur mereka dengan keras, Seo Yeon tak lagi memanggil sahabatnya dengan nama sembarangan. Setiap kali ada pelayan, pengawal, atau siapa pun yang lewat, ia akan menundukkan kepala dalam-dalam dan mengucapkan dengan nada sopan yang jauh: “Salam hormat, Yang Mulia Putra Mahkota.”
Kalimat itu selalu membuat Seon Hwa merasa ada sesuatu yang berharga hilang dari genggamannya. Bukan karena ia membenci gelar yang melekat padanya—melainkan karena setiap kali kata itu terucap, tembok tinggi yang selama ini mereka abaikan seketika kembali berdiri kokoh di antara mereka.
Pagi itu, rutinitas kaku kembali menyambutnya. Guru sejarah menceritakan kebesaran raja-raja masa lalu tanpa pernah menyebutkan perasaan mereka. Guru militer mengajarkan cara menaklukkan musuh tanpa memberi ruang untuk rasa iba. Guru etika mengoreksi setiap gerak-geriknya: cara duduk, cara menunduk, bahkan seberapa tinggi ia boleh mengangkat cangkir teh.
“Seorang raja tidak boleh memperlihatkan kelemahan.”
“Seorang raja tidak boleh menangis.”
“Seorang raja tidak boleh bertindak mengikuti perasaannya sendiri.”
Kalimat-kalimat itu terngiang berulang kali. Ia menghafalnya sempurna, namun tak satu pun benar-benar ia pahami maknanya.
Saat pelajaran usai menjelang sore, ia berdiri sendirian di balkon Paviliun Timur. Dari sana matanya menelusuri hamparan Taman Timur yang penuh bunga, mencari satu sosok kecil yang biasa ia temui. Namun taman itu tampak lengang.
“Yang Mulia,” sapa kepala pelayan yang berdiri tak jauh di belakangnya. “Putri Han belum mendapat izin memasuki taman hari ini. Setelah kejadian beberapa hari lalu, pengawasan terhadap pergerakan tamu diperketat.”
Seon Hwa hanya mengangguk pelan, menunduk menatap jubah yang tergantung rapi di tubuhnya. Di dalam hati yang masih kecil, ia mulai paham satu hal: pertemanan mereka ternyata tidak sesederhana berbagi tawa dan cerita. Ia terikat aturan yang tak kasat mata, dan setiap langkah yang diambilnya membawa dampak bagi orang lain.
Di sisi lain kediaman keluarga Han, Seo Yeon duduk melamun sambil memutar-mutar sebatang ranting kecil yang dipungutnya di bawah pohon plum. Ibunya menghampiri sambil membawa semangkuk sup hangat, duduk di sampingnya tanpa menuntut penjelasan.
“Kau tampak sedih, Nak. Apakah ada masalah dengan temanmu?”
Seo Yeon menghela napas pelan. “Ibu… kalau teman kita ternyata berdiri sangat jauh dari kita—bukan karena tempat, tapi karena kedudukan—apakah kita masih boleh tetap menjadi temannya?”
Ibunya tersenyum lembut, mengusap rambut putrinya dengan kasih sayang. “Jarak itu bermacam-macam, Seo Yeon. Ada yang dipisah gunung, ada yang dipisah sungai, ada pula yang dipisah nama dan jabatan. Namun selama hati kalian tetap tulus satu sama lain, jarak itu hanya membuat langkah menuju satu sama lain menjadi lebih panjang—bukan berarti tak bisa dilalui.”
Jawaban itu belum sepenuhnya dimengerti akal kecilnya, namun cukup membuat sesak di dadanya sedikit terurai.
Beberapa hari kemudian, ayah Seo Yeon kembali dipanggil membawa dokumen penting ke istana. Seo Yeon memohon ikut, dan sepanjang jalan menuju gerbang utama jantungnya berdegup kencang—entah karena harapan atau takut kecewa. Begitu urusan ayahnya selesai, ia menyelinap perlahan menuju Taman Timur.
Dan di sana, tepat di bawah pohon plum tua itu, Seon Hwa sudah menunggu. Wajahnya yang semula muram seketika bersinar saat melihat sosok gadis itu muncul.
“Kau datang.”
“Maaf membuatmu menunggu lama.”
“Aku tidak keberatan menunggu,” jawab Seon Hwa cepat. “Selama aku tahu kau akan datang.”
Mereka duduk berdampingan di atas tanah berlumut, membiarkan keheningan mengisi sela-sela waktu. Kadang, kebersamaan tanpa kata terasa lebih hangat daripada ribuan ucapan.
“Aku takut,” ucap Seo Yeon tiba-tiba, memecah keheningan. “Takut suatu hari nanti aku benar-benar tidak boleh datang lagi ke sini. Takut semua orang akan melarang kita bertemu.”
Seon Hwa menunduk menatap kelopak bunga di pangkuannya. “Ayahku bilang, seorang Putra Mahkota tidak bisa hidup sesuka hati. Ada banyak hal yang harus dikorbankan demi negeri.” Ia terdiam sejenak, lalu menatap pohon besar yang menaungi mereka. “Aku belum tahu apa yang akan terjadi. Tapi satu hal yang aku yakin—aku tidak ingin kehilangan sahabat pertamaku.”
Seo Yeon tersenyum lembut, lalu mengusulkan dengan mantap: “Kalau begitu, mari kita buat janji. Janji yang tak akan dipatahkan oleh siapa pun.”
“Janji apa?”
“Kalau suatu hari nanti kita benar-benar tak bisa bertemu… kalau semua orang melarang kita saling bicara… maka setiap musim semi tiba, kita akan datang ke pohon ini. Datanglah, dan tunggulah. Kalau salah satu terlambat, tunggu lebih lama. Kalau harus menunggu bertahun-tahun, tetaplah datang. Pohon ini menunggu musim semi setiap tahun tanpa pernah lelah—masa kita tidak?”
Seon Hwa menatap pohon itu—batangnya kokoh, akarnya menghujam dalam, selalu mekar indah meski musim berganti berkali-kali. Perlahan ia tersenyum, lalu mengulurkan jari kelingkingnya. “Baik. Aku berjanji. Setiap musim semi, aku akan datang ke sini.”
Seo Yeon menyambut jari itu dengan jari kelingkingnya sendiri. Dua jari kecil saling mengait erat, menyegel janji sederhana namun teguh itu.
“Aku juga berjanji.”
Angin musim semi berhembus lembut, membawa ribuan kelopak bunga plum beterbangan mengelilingi mereka seolah menjadi saksi bisu. Mereka belum tahu bahwa bertahun-tahun ke depan, janji inilah yang akan menjadi satu-satunya benang pengikat ketika takdir memaksa mereka berjalan ke arah yang berlawanan.
Di kejauhan, Kang Min Jae yang sedang berjaga sempat melihat pemandangan itu dari balik pilar koridor. Ia tidak mengerti makna di balik jari yang saling berkait itu, namun pemandangan dua anak yang tersenyum tulus di tengah guguran bunga itu membekas dalam ingatannya. Ia belum tahu bahwa kelak, ia akan menjadi orang yang menjaga janji itu—bahkan jika harus membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Sementara itu di bawah pohon plum, dua hati kecil itu masih tersenyum polos. Mereka belum paham bahwa musim semi takkan abadi selamanya. Namun mereka tahu satu hal: kenangan yang lahir di sini, dan janji yang terucap tulus, akan hidup jauh lebih lama daripada bunga yang kini berguguran.