Kabut London pada bulan Oktober bukan sekadar fenomena cuaca; ia adalah tirai tebal yang memisahkan dunia fana dari keangkuhan Sovereign Citadel. Di atas tanah seluas ribuan hektar yang dipagari oleh tembok batu gotik setinggi lima meter, berdiri sebuah institusi yang lebih menyerupai kerajaan kecil daripada sebuah kampus. Di sini, udara tidak berbau tanah basah atau dedaunan gugur, melainkan aroma maskulin dari cerutu Cohiba Behike yang dihisap di balkon-balkon asrama, serta parfum custom-made dari rumah mode Grasse yang harganya mampu melunasi hutang satu keluarga kelas menengah.
Gerbang raksasa yang terbuat dari besi tempa berwarna hitam pekat berdiri diam, namun mematikan. Tidak ada penjaga manusia yang terlihat di sana; hanya deretan kamera sensor biometrik yang mampu memindai struktur retina dan sidik jari dalam hitungan milidetik. Sebuah smart-card berbahan titanium dengan enkripsi militer adalah satu-satunya kunci untuk melewati ambang pintu itu. Begitu gerbang terbuka, pemandangan berubah drastis. Sebuah jalan aspal mulus yang dipoles hingga mengkilap membentang, diapit oleh deretan pohon oak tua yang dipangkas dengan presisi matematis.
Di area parkir khusus mahasiswa, deretan supercar berjejer bak pameran otomotif paling eksklusif di dunia. Bugatti Chiron, Pagani Huayra, hingga Rolls-Royce Spectre dengan plat nomor pesanan khusus. Namun, di Sovereign Citadel, mobil mewah hanyalah standar dasar—sebuah tiket masuk yang paling murah. Keangkuhan yang sebenarnya terletak pada gedung-gedung dengan arsitektur perpaduan antara kastil Inggris abad ke-18 dan teknologi kaca futuristik yang mampu mengatur suhu ruangan secara otomatis berdasarkan detak jantung penghuninya.
Di dalam koridor utama yang disebut "The Marble Walkway", langkah kaki bergema di atas lantai marmer hitam yang diimpor langsung dari tambang pribadi di Italia. Cahaya lampu kristal Swarovski yang menggantung di langit-langit setinggi sepuluh meter memantulkan bayangan para siswa yang berjalan dengan kasta yang terlihat jelas. Siswa reguler—mereka yang "hanya" anak dari pengusaha nasional atau bangsawan rendah—mengenakan jas abu-abu gelap dengan emblem perak. Mereka berjalan dengan langkah terburu-buru, selalu menepi ketika rombongan penguasa sekolah lewat. Di kasta tertinggi, ada mereka yang mengenakan jas midnight blue dengan sulaman benang emas 24 karat di sepanjang kerahnya.
The Top 8.
Di barisan paling depan, Aixa Dalton berjalan seperti seorang permaisuri yang sedang menginspeksi daerah jajahannya. Rambut cokelatnya yang panjang dan lurus menjuntai sempurna hingga ke pinggang, dihiasi jepit rambut bertahtakan berlian yang berkilau setiap kali ia menoleh. Kulitnya putih bersih, hasil dari perawatan spa medis harian yang hanya tersedia untuk keluarga Dalton. Dengan tinggi 172 cm dan postur tubuh yang tegak hasil latihan balerina sejak balita, Aixa adalah definisi kesempurnaan fisik.
Namun, kecantikannya adalah pedang yang dingin. Sejak usia tiga tahun, ayahnya, Mr. Dalton, telah mendidiknya untuk tidak melihat manusia sebagai teman, melainkan sebagai aset atau liabilitas. Aixa telah menguasai tiga alat musik klasik dan bicara dalam empat bahasa sebelum ia masuk sekolah dasar. Baginya, Ranking 1 di Sovereign Citadel bukan sekadar prestasi akademik, melainkan tanggung jawab menjaga harga saham Dalton Group yang bernilai 50 Triliun. Jika Aixa kehilangan satu poin dalam ujian, ribuan karyawan di bawah kekuasaan ayahnya akan gemetar karena pasar modal akan bereaksi seketika.
Berjalan sejajar dengan Aixa, namun dengan aura yang jauh lebih tenang dan misterius, adalah Rue Hiloré. Ia adalah pangeran yang pendiam. Dengan garis wajah yang tegas dan hidung mancung yang sempurna, Rue seringkali dianggap sebagai patung hidup. Matanya yang berwarna hijau turunan ayahnya selalu tampak mengamati, seolah sedang membaca algoritma di balik setiap kejadian. Rue adalah anak tunggal dari keluarga Hiloré, pemilik kekayaan 60 Triliun yang menguasai jaringan perbankan global. Meski ia memiliki segalanya untuk menggeser Aixa, Rue lebih suka berada di Ranking 2. Ia menguasai bahasa Jerman, Mandarin, Korea, dan Jepang bukan karena tuntutan, tapi karena ia haus akan informasi. Rue adalah satu-satunya orang di sekolah ini yang tidak pernah merendahkan siswa lain secara verbal, namun tatapan matanya yang dingin sudah cukup untuk membuat siapa pun merasa kerdil.
Di belakang mereka berdua, anggota The Octagon lainnya mengikuti dengan keangkuhan masing-masing. Ada Valerius Vance, keponakan sang pendiri yayasan, yang selalu terlihat dengan kacamata pintar transparan di wajahnya. Ia adalah otak di balik sistem digital sekolah ini. Lalu ada Sloane Rothschild, gadis berambut pendek perak yang menguasai teori permainan ekonomi, dan Dante Moretti, pewaris industri logistik senjata Italia yang tubuh atletisnya seringkali menjadi ancaman fisik bagi siapa pun yang berani membangkang. Ada pula Bianca de Medici yang menguasai diplomasi, Arthur Sterling sang raja energi, dan Isolde von Bismarck yang membawa disiplin militer dalam setiap langkahnya.
Tujuan utama mereka pagi ini adalah Aula Agung, tempat di mana papan digital raksasa menampilkan grafik pasar saham dunia secara real-time. Di tengah aula tersebut, terdapat sebuah podium kristal tempat hasil ujian mingguan diumumkan. Di Sovereign Citadel, kehidupan pribadi tidak ada. Segalanya transparan melalui angka-ranking.
Pandangan semua orang kemudian tertuju pada balkon lantai dua, tempat sembilan kursi berlapis emas diletakkan dalam posisi melingkar. Delapan kursi terisi oleh rombongan Aixa dan Rue yang baru saja tiba. Namun, kursi nomor sembilan tampak seperti lubang hitam di tengah kemewahan itu. Kursi itu kosong. Tak berpenghuni.
Kursi nomor sembilan adalah legenda berdarah di sekolah ini. Dalam satu semester saja, lima siswa beasiswa dengan IQ di atas 160 telah mencoba duduk di sana. Mereka adalah anak-anak jenius yang direkrut yayasan untuk menjadi "mesin pemikir" bagi perusahaan pusat. Namun, Top 8 tidak menyukai adanya "darah kotor" yang mencoba mencampuri urusan mereka.
Seluruh penghuni Citadel masih ingat Hana, korban pertama, yang ayahnya berakhir di penjara karena skandal korupsi yang dibuat-buat oleh keluarga Sloane Rothschild. Lalu Marcus, korban kedua, yang saking tertekannya oleh teror digital Valerius Vance, mencoba melompat dari atap perpustakaan setelah semua rahasia pribadinya disebarkan ke seluruh dunia. Tak lama kemudian muncul Elena, korban ketiga, siswi teladan yang karirnya hancur setelah dijebak dalam skandal obat-obatan terlarang oleh Dante Moretti di sebuah pesta asrama, membuatnya diusir secara tidak hormat tanpa pembelaan.
Dan yang paling membekas adalah Kenjiro Sato, korban keempat. Pemuda Jepang yang hangat dan jenius matematika itu adalah satu-satunya yang bertahan lebih dari tiga bulan, sebelum akhirnya Bianca de Medici menghancurkan mentalnya melalui manipulasi psikologis yang begitu kejam hingga Kenjiro harus diseret keluar dari asrama menuju RSJ. Terakhir, ada Sarah, korban kelima. Gadis yang mencoba melawan sistem ini justru 'lenyap' dari muka bumi setelah berhadapan dengan Isolde von Bismarck; namanya dihapus dari seluruh catatan sipil seolah-olah ia tidak pernah ada di dunia ini.
Sejak Sarah menghilang, posisi Ranking 9 dianggap sebagai kursi kematian yang tak seorang pun berani sentuh lagi. Top 8 telah membuktikan bahwa meskipun yayasan memberikan kekuasaan khusus pada siapa pun yang masuk Top 9, di lapangan, hukum mereka tetap yang tertinggi. Mereka adalah hakim, jaksa, sekaligus algojo di benteng ini.
Namun, pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Di luar gerbang utama, sebuah jet pribadi tanpa tanda pengenal mendarat di landasan pacu rahasia yang terhubung langsung dengan asrama khusus Top 9.
Seorang gadis turun dari jet tersebut. Ia mengenakan kacamata hitam besar yang menutupi separuh wajahnya. Rambut hitam legamnya terikat rapi dalam gaya pony-tail yang tajam. Ia tidak membawa tas mewah bertabur logo; ia hanya membawa sebuah koper kecil berbahan karbon fiber.
Namanya adalah Li Xian.
Saat ia melangkah melewati pemeriksaan keamanan, sistem biometrik tidak memberikan lampu hijau seperti biasanya. Sebaliknya, seluruh layar di gerbang berubah menjadi warna emas dengan tulisan: [ACCESS GRANTED: SOVEREIGN LEVEL]. Itu adalah level akses yang bahkan tidak dimiliki oleh Aixa Dalton.
Li Xian berjalan menuju asrama dengan langkah yang begitu teratur, hampir seperti robot. Ia tidak menoleh ke arah gedung-gedung megah di sekitarnya. Baginya, Sovereign Citadel bukanlah tempat belajar; ini adalah medan perang yang sudah lama ia pelajari dari balik layar home schooling-nya yang privat. Di kamarnya yang luas, sebuah jas midnight blue sudah tergantung di lemari kaca. Jas itu memiliki detail yang sedikit berbeda. Benang emasnya ditenun menyatu dengan serat kainnya, membuat jas itu tampak bercahaya sendiri. Di bagian emblem, terdapat berlian yang membentuk rasi bintang yang belum pernah dilihat oleh siswa lain.
Li Xian menyentuh emblem tersebut dengan ujung jarinya. Matanya yang dingin menatap foto Kenjiro Sato yang ia simpan di dalam ponselnya—foto terakhir Ken sebelum semuanya hancur.
"Mereka pikir mereka sudah menang karena kursi itu kosong," bisik Li Xian dengan nada yang sangat rendah. "Mereka tidak tahu bahwa kursi itu dikosongkan hanya agar aku punya tempat untuk duduk."
Besok adalah ujian tengah semester di Hall "The Grid". Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Sovereign Citadel, Top 8 akan menyadari bahwa mereka bukan lagi pemangsa tertinggi di puncak rantai makanan. Sang "Anomali" telah tiba, dan ia tidak datang untuk sekadar masuk ke dalam ranking. Ia datang untuk menghapuskan ranking itu selamanya.
Bersambung…