Laut Elara
Beberapa hari setelah kematian Henley
* * * * *
Tubuh Evander terus turun.
Tidak ada satu pun tenaga yang tersisa untuk melawan air. Sinar matahari yang tadinya masih menembus permukaan perlahan menipis, lalu berubah menjadi garis - garis biru yang samar, lalu hilang sama sekali.
Evander tak lagi merasakan dingin. Ia bahkan tak lagi merasakan tubuhnya sendiri.
Di dalam benaknya, hanya terputar satu hal. Wajah seorang manusia bernama Henley yang menangis sambil menusukkan pedang ke dadanya sendiri. Manusia yang bahkan tidak bersalah, yang hanya ingin makan, yang hanya ingin bekerja, tapi harus mati karena dipakai sebagai alat oleh seseorang yang tak berani mengotori tangannya sendiri.
"Zander," gumam Evander di dalam air.
Tubuh naga itu akhirnya menyentuh dasar. Pasir hitam yang halus mengepul lalu kembali mengendap, menutupi sebagian sisik putih keperakan yang kini terlihat kusam.
Untuk waktu yang cukup lama, tak ada apa pun yang terjadi.
Sampai akhirnya, dari kegelapan, muncul beberapa pasang mata yang menyala.
Mereka datang perlahan, berenang mengitari tubuh besar yang tergeletak di dasar laut itu. Setengah manusia, setengah ikan. Ekor mereka panjang dan berkilau meski tak ada satu pun cahaya di sana.
"Dia masih hidup," ujar salah satu dari mereka.
"Kau yakin?"
"Dadanya masih bergerak. Lihat."
Kawanan itu saling melempar pandangan, lalu salah satu dari mereka berenang mendekat dan menempelkan telapak tangannya pada moncong naga itu. Seketika seluruh tubuhnya terasa hangat, seolah menyentuh sesuatu yang jauh lebih tua dari lautan tempat mereka lahir.
"Bawa dia ke bawah. Ke tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun," ujar siren itu.
Dan sejak hari itu, bangsa siren menjaga naga putih yang tertidur di dasar Laut Elara.
* * * * *
Bertahun - tahun kemudian . . .
* * * * *
Zander menunggu.
Ia menunggu satu tahun, lalu sepuluh, lalu seratus. Ia menunggu berita tentang bangkai naga putih yang terdampar di suatu pantai, atau kabar tentang seseorang yang melihat cahaya keperakan di suatu hutan. Tapi berita itu tidak pernah datang.
Yang datang justru rasa gelisah.
"Kalau dia mati, aku pasti merasakannya," gumam Zander.
Zander pun turun ke laut. Dalam wujud naga hitamnya, ia menyelam melewati karang, melewati palung dangkal, terus turun sampai air terasa berat seperti batu. Dan di sanalah, di dasar palung yang paling dalam, ia menemukan apa yang ia cari.
Evander masih hidup. Tertidur, lemah, hampir tanpa sihir, tapi masih hidup.
"Rupanya begini caramu bersembunyi," ujar Zander.
Zander mengulurkan tangannya. Sisa energi Evander yang pernah ia serap ke dalam bola kristal dan telah berubah menjadi Aerosworn masih terhubung dengannya, dan dari hubungan itu ia menarik keluar sesuatu yang berwarna keperakan.
Sriingg ! ! ! !
Cahaya keperakan itu berputar mengelilingi tubuh Evander, lalu masuk ke dalam batu karang di sekitarnya. Dinding gua itu bergerak, menutup, mengeras, sampai akhirnya tak ada satu pun celah yang tersisa.
"Aku tidak akan membunuhmu," ujar Zander sambil menatap dinding karang yang baru saja ia bentuk, "Membunuhmu terlalu mudah, dan orang mati selalu dikenang. Aku ingin kau tetap hidup di bawah sini. Aku ingin kau mendengar suara dunia yang kau buat sendiri, tanpa bisa menyentuhnya."
Evander tak menjawab. Ia bahkan tak sanggup membuka matanya.
"Kekuatanmu sendiri yang mengurungmu, saudaraku. Jadi tidak ada satu pun makhluk di Lacoste yang bisa membukanya. Kecuali darah yang sama denganku," ujar Zander lagi.
Setelah itu, Zander berenang naik. Ia tidak pernah menoleh ke belakang.
* * * * *
Zander kembali ke daratan dan menikmati masa kejayaannya, meski sebenarnya tak ada yang benar - benar bisa disebut kejayaan.
Ia berjalan di antara manusia yang tak mengenalinya. Ia melihat kerajaan berdiri lalu runtuh, lalu berdiri lagi dengan nama yang berbeda. Ia melihat bangsa vampire membangun Kerajaan Nephthys di Kota Eyelwe, melihat manusia membangun Kerajaan Odor, melihat bangsa elf menutup diri di dalam hutan mereka sendiri.
Dan tak satu pun dari mereka menyebut namanya.
Beberapa kali Zander sempat mencoba. Ia berdiri di tengah alun - alun sebuah kota manusia, mengangkat tangannya dan merubah air di dalam kolam menjadi es hanya untuk melihat wajah mereka.
"Sihir!" pekik salah seorang dari mereka.
"Bangsa majin! Panggil penjaga!"
Mereka tidak menyembahnya. Mereka justru berlari.
Zander pun berhenti mencoba. Ia sadar, makhluk buatannya sendiri tidak pernah takut kepada kegelapan yang mereka kenali. Mereka hanya takut pada kegelapan yang tidak mereka kenali sama sekali.
Sementara itu, di setiap kuil kecil yang mereka bangun, nama yang mereka sebut tetap sama. Sang naga putih. Tuan Pencipta. Sosok yang bahkan sudah ratusan tahun tak pernah lagi menampakkan diri, tapi tetap saja diingat.
"Membosankan," gumam Zander suatu hari.
Ia pun kembali menjadi naga, terbang jauh ke arah Pulau Velenna, lalu masuk ke dalam perut sebuah gunung yang saat itu belum memiliki nama. Kelak gunung itu dikenal dengan nama Gunung Allegra, dan manusia akan menganggapnya gunung mati yang hanya berisikan tumpukan batu bara.
Di dalam sana, Zander melipat sayapnya dan memejamkan matanya.
Ia tertidur. Dan tidurnya berlangsung sangat, sangat lama.
* * * * *
Dasar palung Laut Elara
* * * * *
Di bawah sana, Evander tidak mati.
Tapi hidupnya juga tak bisa disebut hidup. Setiap hari ia hanya mendengar suara air, suara arus, dan sesekali suara ekor siren yang lewat mengantarkan makanan yang bahkan tak ia butuhkan.
"Tuan sudah tidak makan selama bertahun - tahun," ujar salah seorang siren suatu hari.
"Aku tidak membutuhkan ikan," balas Evander.
"Lalu Tuan membutuhkan apa?"
Evander terdiam. Ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Yang ia tahu hanyalah tubuhnya semakin lama semakin dingin. Sisiknya yang dulu berkilau seperti perak kini terlihat seperti batu basah. Bahkan untuk merubah wujudnya menjadi manusia pun ia harus menunggu berhari - hari sampai tenaganya terkumpul.
"Kalau Tuan mati, siapa yang akan menjaga Lacoste?" tanya siren itu lagi.
"Aku sudah tidak menjaga apa pun sejak lama," balas Evander.
Siren itu tak menjawab. Ia hanya meletakkan ikan yang ia bawa di atas pasir, lalu berenang pergi seperti biasa.
Sampai pada suatu malam, ketika arus di atas sana tenang, Evander merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah aliran tipis, hangat, yang datang dari daratan. Aliran itu bukan sihir. Bukan juga darah.
Aliran itu adalah rasa takut.
Di sebuah desa nelayan di tepi Laut Elara, seorang wanita sedang bermimpi buruk tentang laut yang menelan perahu suaminya. Dan rasa takut wanita itu, entah bagaimana, sampai ke dasar palung.
Evander memejamkan matanya dan mengikuti aliran itu.
Seketika ia berdiri di tepi pantai yang bukan pantai. Langitnya keliru, warnanya keliru, dan wanita itu berdiri di sana sambil menangis tanpa menyadari kehadirannya.
"Ini mimpinya," gumam Evander.
Evander tidak menyentuh wanita itu. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan rasa takut yang memenuhi mimpi itu mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Dan untuk pertama kalinya sejak ratusan tahun, ia merasakan tenaga.
Ketika ia membuka mata, tubuhnya terasa sedikit lebih ringan.
"Jadi begitu," gumam Evander.
Sejak saat itu, Evander belajar. Ia belajar mencari mimpi, belajar masuk ke dalamnya, belajar menampakkan wujud aslinya di sana agar rasa takut itu muncul lebih besar dan lebih cepat. Ia bahkan belajar membangun istana di dalam mimpi orang lain, karena manusia akan lebih lama tertidur jika mimpinya indah.
Bangsa siren menyebutnya sebagai cara bertahan hidup. Manusia yang mengalaminya menyebutnya sebagai mimpi buruk.
Dan Evander sendiri tidak pernah menyebutnya apa pun.
Begitulah cara sang pencipta Lacoste bertahan hidup. Ratusan ribu tahun lamanya, terkurung di dasar palung, menumpang pada rasa takut makhluk yang ia ciptakan sendiri, sambil menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin akan datang.
Sampai suatu hari, sehelai bulu peraknya jatuh di lantai sebuah kamar di Kota Terassen, dan pemilik kamar itu justru memungutnya lalu menyimpannya baik - baik di dalam sebuah kotak.