Kembali ke masa sekarang . . .
Kediaman Keluarga Pandora
Kota Terassen, Pulau Velenna
* * * * *
Sudah lima hari.
Lima hari sejak malam ketika seorang pria melompat dari jendela kamarnya dan menghilang begitu saja bersama angin. Dan selama lima hari itu, Rosa tidak bertemu dengannya lagi. Tidak di dunia nyata, tidak juga di dalam mimpinya.
Yang lebih menyebalkan, mimpinya bahkan ikut berubah.
Biasanya Rosa akan langsung disambut oleh sebuah istana megah dengan lampu - lampu yang menggantung di langit - langitnya. Sekarang tidak ada istana. Yang ada hanya sebuah ladang rumput yang luas, sebuah sungai yang mengalir tenang di sampingnya, dan sebuah hutan asing di seberang sana yang tak pernah berani ia masuki.
Setiap malam mimpinya sama. Dan setiap pagi Rosa bangun dengan perasaan yang sama.
"Nona?" panggil Veza sambil membuka tirai jendela kamar.
Rosa tak menjawab. Wanita itu masih tengkurap di atas tempat tidurnya dengan wajah terbenam di bantal.
"Nona Rosa," panggil Veza lagi.
"Hmmm."
"Sudah siang."
"Aku tahu."
Veza menghela napasnya, lalu duduk di tepi tempat tidur, "Nona, sudah lima hari seperti ini. Nona Asha sampai bertanya apakah Nona patah hati."
Rosa langsung mengangkat kepalanya, "Ibu bertanya seperti itu?"
"Iya."
"Kau jawab apa?"
"Aku jawab, Nona sedang bosan," ujar Veza.
Rosa kembali membenamkan wajahnya ke bantal, "Bagus. Jangan sampai berubah jawabannya."
Veza memperhatikan tuannya cukup lama. Sebenarnya ia ingin sekali mengatakan bahwa mengejar seseorang yang jelas - jelas sudah menolak itu tidak baik untuk kesehatan. Tapi Veza tahu, Rosa bukan tipe orang yang bisa dinasihati saat sedang seperti ini.
Maka Veza memilih cara lain.
"Nona," panggil Veza.
"Apa lagi?"
"Ibuku punya benang sisa banyak sekali di belakang. Mau kuajari merajut?"
Rosa mengangkat kepalanya dengan wajah datar, "Merajut?"
"Iya. Merajut. Lumayan untuk mengisi waktu dari pada Nona hanya berbaring seperti mayat."
"Aku tidak bisa."
"Makanya aku ajari."
* * * * *
Sore itu, di ruang tengah kediaman keluarga Pandora, dua orang wanita duduk bersila di atas karpet dengan tumpukan benang di antara mereka.
"Bukan begitu, Nona. Jarumnya masuk dari bawah, bukan dari atas," ujar Veza.
"Aku sudah memasukannya dari bawah."
"Itu dari samping."
"Sama saja."
"Tidak sama, Nona."
Rosa menghela napasnya dan mengulangi lagi dari awal. Jari - jarinya kaku dan hasil rajutannya bergelombang seperti jalan berlubang, tapi anehnya wanita itu tidak berhenti. Ia justru terus mengulang sampai matahari mulai turun dan Meridia datang untuk menyalakan lampu.
"Astaga, Nona Rosa merajut?" tanya Meridia yang sampai berhenti di ambang pintu.
"Kenapa? Aneh?" tanya Rosa.
"Bukan aneh, Nona. Hanya saja seumur hidup saya belum pernah melihat Nona memegang jarum," jawab Meridia lalu berlalu sambil tertawa kecil.
Veza ikut tertawa dan langsung mendapat lemparan gulungan benang dari tuannya.
"Nona," panggil Veza setelah tawanya reda.
"Apa?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
Rosa mengangkat bahunya, "Tanya saja."
"Kalau seandainya dia datang lagi malam ini, Nona mau bilang apa?"
Jari - jari Rosa berhenti bergerak di atas rajutannya.
Wanita itu menatap benang di tangannya cukup lama sebelum akhirnya menghela napas, "Tidak tahu."
"Tidak tahu?"
"Aku sudah bilang semuanya waktu itu, Veza. Semuanya. Dan dia bahkan tidak menoleh," ujar Rosa.
Veza terdiam.
"Jadi kalau dia datang lagi, mungkin aku akan diam saja," lanjut Rosa, "Biar dia yang bicara duluan."
"Kalau dia tidak bicara?"
"Ya sudah. Berarti aku merajut."
Veza tertawa lagi, tapi kali ini tawanya lebih pelan. Ia bisa mendengar sesuatu di balik nada bicara tuannya yang sok santai itu.
Malam harinya, Rosa membawa rajutannya yang masih bergelombang itu ke atas, ke kamarnya. Ia meletakannya di atas meja di samping tempat tidur, tepat di sebelah kotak kue madu yang sudah kosong.
Dan saat itulah kotak keemasan berlogo Twyla itu muncul lagi di atas mejanya.
Rosa langsung membuka penutupnya. Di dalamnya ada kue madu seperti biasa, tapi kali ini ada juga selembar kertas yang dilipat asal.
Rosa,
Aku sudah mencari. Ayahku tidak mau menjawab dan wajahnya berubah waktu aku bertanya, jadi aku yakin jawabannya ada. Aku menemukan satu buku tua di ruang baca. Di dalamnya ada gambar naga bersayap lebar, dan di bawahnya ada tulisan yang masih bisa dibaca.
Cassiopeia.
Aku tidak tahu artinya. Aku juga tidak berani bertanya lagi. Kalau kau tahu sesuatu, tolong ceritakan padaku. Aku penasaran sekali.
Ivelle
Rosa membaca kertas itu sampai tiga kali. Lalu tangannya bergerak sendiri mengambil pena dan menuliskan satu kata itu di sudut kertas rajutan pola yang tadi dipinjamkan Veza kepadanya.
"Cassiopeia," gumam Rosa.
Kata itu terasa asing di lidahnya. Tapi entah kenapa, terdengar cocok.
* * * * *
Dasar palung Laut Elara
* * * * *
Lima hari juga bukan waktu yang menyenangkan bagi Evander.
Selama lima hari itu, ia tidak naik ke daratan sama sekali. Ia hanya berbaring di dalam gua, mendengarkan arus, dan sesekali menoleh saat ada siren yang lewat.
"Tuan," panggil Meira dari mulut gua.
"Hm."
"Sisik Tuan mulai berjatuhan lagi."
Evander tidak menjawab.
Meira berenang mendekat dan memungut salah satu sisik yang tergeletak di pasir hitam. Sisik itu tipis, kusam, dan patah di ujungnya.
"Sudah lima hari Tuan tidak makan," ujar Meira.
"Aku tidak lapar."
"Bukan lapar yang saya maksud dan Tuan tahu itu."
Evander akhirnya membuka matanya. Sepasang mata kuning dengan garis lurus dari atas ke bawah itu menatap Meira lekat - lekat, sampai akhirnya kembali menutup.
"Kalau Tuan tidak mau mendatangi wanita itu lagi, izinkan saya mencarikan yang lain," ujar Meira.
"Kau sudah mencari?"
"Sudah. Ada beberapa di Kota Adarlan. Ada juga di Wendlyn. Semuanya tidur nyenyak dan semuanya masih bisa merasakan takut."
Evander terdiam.
Seharusnya itu adalah kabar baik. Seharusnya ia langsung berangkat malam ini juga, mengambil apa yang ia butuhkan, lalu kembali seperti yang sudah ia lakukan selama ratusan ribu tahun.
Tapi entah kenapa, yang terbayang justru sebuah kamar dengan jendela yang selalu terbuka, dan sebuah kotak berisikan tumpukan bulu perak di kolong tempat tidur.
"Meira," panggil Evander.
"Ya, Tuan?"
"Kalau seseorang menyimpan sesuatu yang tajam dan berbahaya di dalam kotak selama bertahun - tahun, dan tidak pernah membuangnya, menurutmu itu artinya apa?"
Meira mengerenyitkan dahinya, "Maksud Tuan?"
"Tidak apa - apa. Lupakan," balas Evander.
Meira menghela napasnya. Ia sudah cukup lama melayani Tuannya untuk tahu kapan harus berhenti bertanya.
"Kalau begitu saya keluar dulu, Tuan," ujar Meira lalu berenang menjauh dari gua.
Setelah air kembali tenang, Evander membuka matanya lagi. Ia menatap langit - langit gua yang gelap, lalu menghembuskan napas panjang sampai pasir di bawah moncongnya beterbangan.
"Sekali lagi," gumam Evander, "hanya untuk memastikan."
Ia sendiri tidak tahu memastikan apa. Yang jelas malam itu, untuk pertama kalinya setelah lima hari, tubuh besar itu bergerak keluar dari mulut gua dan naik ke arah permukaan.
* * * * *
Di Kota Terassen, malam sudah larut.
Rosa meletakkan rajutannya yang belum selesai di atas meja, meniup lilin di samping tempat tidurnya, lalu menarik selimutnya sampai sebatas d**a. Tangannya menyelinap ke balik bantal dan menyentuh sehelai bulu perak yang tajam di sana, seperti kebiasaannya setiap malam.
"Kalau malam ini kau datang lagi," gumam Rosa sambil memejamkan matanya, "aku tidak akan bilang apa - apa. Sungguh."
Napas Rosa perlahan menjadi teratur.
Dan seperti empat malam sebelumnya, wanita itu kembali berdiri di ladang rumput yang sama, di tepi sungai yang sama, dengan hutan asing yang sama di seberang sana.
Bedanya, malam ini, ada sesuatu yang ia bawa serta ke dalam mimpinya.
Sebuah rajutan yang belum selesai, dan sepasang jarum di tangannya.