Di dalam Styx
Hutan Viltarin, Kota Adarlan
* * * * *
Lampu di dalam Styx menyala satu persatu begitu kendaraan itu masuk ke bagian hutan yang paling rapat. Beberapa penumpang langsung memejamkan mata mereka, sebagian lagi mengeluarkan bekal dari dalam tas, dan sebagian lainnya hanya menatap ke luar jendela meski di luar sana hanya ada kegelapan.
Zander termasuk yang terakhir.
Pria itu duduk di dekat jendela dengan punggung yang tegak dan mata yang tak berkedip. Setiap kali Styx berguncang karena melewati akar pohon, tubuhnya ikut menegang.
"Kau tidak apa - apa?" tanya Sagira yang duduk di seberangnya.
Zander menoleh, "Benda ini tidak akan jatuh?"
Sagira tertawa kecil, "Tidak. Styx sudah puluhan tahun melewati jalur ini. Paling hanya berguncang sedikit."
"Apa yang menggerakannya?"
"Sihir," jawab William yang duduk di samping istrinya, "Roda depannya diberi jimat oleh bangsa elf. Katanya sih begitu, aku juga tidak terlalu paham."
Zander mengangguk pelan sambil kembali menatap ke luar jendela. Sihir bangsa elf. Makhluk yang dulu ia lihat mengangkut kayu dengan tangan kosong sekarang sudah bisa membuat benda sebesar ini berjalan sendiri di atas tanah.
"Kau bukan orang Solandis, ya?" tanya Sagira lagi.
"Bukan."
"Dari mana asalmu?"
"Dari gunung," jawab Zander.
Sagira dan William saling melempar pandangan. Jawaban itu terlalu singkat untuk sebuah pertanyaan sopan, tapi keduanya memilih tidak mendesak. Di Desa Solandis banyak sekali pendatang yang tidak mau menyebutkan asalnya, dan biasanya orang - orang seperti itu memang punya alasannya sendiri.
"Kau lapar?" tanya Sagira sambil membuka bungkusan kain di pangkuannya.
Zander menatap bungkusan itu, "Itu apa?"
"Roti. Aku membuatnya tadi pagi."
Zander mengambil sepotong roti dari tangan Sagira dan memutarnya di antara jari - jarinya, mengamatinya seperti orang yang baru pertama kali melihat benda semacam itu. Lalu ia menggigitnya.
Untuk sesaat, wajahnya berubah.
Manis. Hangat. Dan ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan rasa.
"Enak?" tanya Sagira.
"Aku tidak tahu," jawab Zander sambil terus mengunyah.
Sagira tertawa lagi, "Jawaban macam apa itu."
Zander tak menjawab. Ia menghabiskan roti itu sampai remah terakhir, lalu kembali menatap ke luar jendela.
Sudah ratusan ribu tahun ia menciptakan bangsa ini, dan baru hari ini ada satu dari mereka yang memberinya sesuatu tanpa diminta, tanpa tahu siapa dia, dan tanpa mengharapkan apa pun.
"Aneh sekali," gumam Zander sangat pelan.
"Kau bilang apa?" tanya William.
"Tidak. Bukan apa - apa."
Zander kembali mengedarkan pandangannya ke dalam Styx. Ada seorang Ibu yang menidurkan anaknya di pangkuan. Ada dua orang tua yang berdebat soal harga gandum. Ada seorang pemuda yang sedari tadi hanya menatap sepatunya sendiri dengan wajah muram.
"Tadi kau bilang membayar ongkos," ujar Zander tiba - tiba.
"Iya," jawab William.
"Ongkos itu apa?"
William mengerenyitkan dahinya, "Uang. Untuk membayar tempat duduk ini."
"Kenapa harus dibayar? Bukankah tempat duduknya memang kosong?"
Kali ini William benar - benar tak tahu harus menjawab apa. Ia justru menoleh ke arah istrinya dengan wajah bingung, dan Sagira hanya menggidikan bahunya.
"Kau ini benar - benar lama sekali tinggal di gunung, ya," ujar William akhirnya sambil tertawa.
"Sangat lama," balas Zander tanpa tertawa sedikit pun.
* * * * *
Styx akhirnya berhenti di sebuah persimpangan kecil di ujung Hutan Viltarin. Beberapa penumpang turun di sana, termasuk seorang wanita tua yang dibantu oleh anaknya.
"Kau turun di sini?" tanya William saat melihat Zander ikut berdiri.
Zander menoleh ke arah kanan, ke jalur yang tadi ditunjuk oleh Sean di pertambangan.
"Iya. Aku ke arah sana," jawab Zander.
Sagira ikut berdiri dan menyodorkan sisa roti yang masih terbungkus kain kepada Zander, "Bawa saja semuanya. Kami masih ada bekal lain."
Zander menatap bungkusan itu tanpa mengambilnya, "Kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Kenapa kau memberikannya kepadaku?"
Sagira mengerenyitkan dahinya, "Karena kau lapar. Memangnya perlu alasan lain?"
Zander terdiam cukup lama sampai akhirnya mengambil bungkusan itu, "Terima kasih."
"Hati - hati di jalan, ya," ujar Sagira.
"Jangan lupa alas kakinya dipakai. Jalanan ke pantai itu banyak batu karangnya," sahut William.
Zander mengangguk, lalu turun dari Styx tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup, dan kendaraan itu kembali berjalan meninggalkannya sendirian di persimpangan.
Pria berpakaian hitam itu berdiri diam di tengah jalan sambil memegang bungkusan roti di tangannya.
"Manusia," gumamnya, "kalian benar - benar tidak berubah. Dulu kalian memberi makan orang asing, sekarang pun masih."
Zander menatap bungkusan itu sekali lagi, lalu mengangkat bahunya dan mulai berjalan ke arah selatan.
Semakin jauh ia berjalan, suara hutan semakin berganti. Suara serangga berkurang, suara daun berkurang, dan sebagai gantinya terdengar sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih tua.
Suara ombak.
Zander berhenti di batas terakhir barisan pohon. Di hadapannya terhampar pantai berpasir kelabu dengan air yang berkilau tertimpa matahari sore, dan di kejauhan sana, di atas tebing, berdiri sebuah bangunan putih raksasa yang bahkan dari jarak sejauh ini masih terlihat menyilaukan.
"Jadi mereka membangunnya di sana," gumam Zander sambil menatap Istana Twyla.
Namun pandangan matanya tidak lama berhenti di sana. Matanya kembali turun ke arah air, ke arah buih putih yang datang dan pergi di bibir pantai.
Di suatu tempat di bawah sana, saudaranya masih terkurung. Dan di suatu tempat di bawah sana juga, ada bangsa yang selama ini menjaga saudaranya itu.
Bangsa yang seluruh anggotanya perempuan, bersuara indah, dan bisa menghipnotis siapa pun yang lebih lemah dari mereka.
Zander menyunggingkan senyumannya.
"Kalau aku tidak bisa menyentuhmu langsung, aku akan mengambil semua yang menjagamu satu persatu," gumam Zander.
Pria itu melangkah keluar dari bayangan pepohonan dan berjalan menyusuri pantai untuk mencari seorang manusia bernama Ivor.
* * * * *
Persimpangan terakhir menuju Kerajaan Twyla
Kota Adarlan
* * * * *
Sementara itu, Styx yang ditumpangi William dan Sagira akhirnya berhenti di halte terakhir sebelum jalan menuju Twyla.
William turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya turun. Setelah itu ia mengambil tas besar mereka dari tempat barang dan menyandangnya di bahu.
"Sini, biar aku bawa yang satu," ujar Sagira.
"Tidak usah. Ringan kok."
"Ringan katanya. Tadi menabrak orang sampai orangnya jatuh," balas Sagira.
William tertawa, "Bukan aku yang menabrak. Dia yang menabrak tasku."
Keduanya pun berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah padang rumput menuju Kerajaan Twyla. Udara di sini jauh lebih sejuk dari pada di Desa Solandis, dan bau garam terbawa angin dari arah tebing.
"Kau yakin tidak mau memanggil Gerhard saja?" tanya Sagira.
"Untuk apa? Jalan sedikit begini juga tidak akan mati."
"Kakimu."
"Kakiku baik - baik saja."
Sagira menggelengkan kepalanya, tapi tetap berjalan di samping suaminya.
"Nanti kau langsung bicarakan soal gunungnya?" tanya Sagira.
"Sepertinya nanti saja setelah makan malam. Kasihan kalau baru datang sudah membawa masalah," jawab William.
"Tapi jangan lupa. Aku benar - benar merasakannya tadi pagi. Rasanya seperti ada sesuatu yang besar bergerak di dalam sana."
William terdiam sesaat.
Sebenarnya ia merasakan hal yang sama. Selama puluhan tahun bekerja di kaki Gunung Allegra, ia sudah hapal betul setiap suara yang keluar dari gunung itu. Suara batu yang longsor, suara pohon yang tumbang, suara angin yang terjebak di celah tebing. Tapi suara yang ia dengar tadi pagi bukan salah satu dari itu.
"Nanti aku bicarakan," ujar William akhirnya.
Setelah berjalan cukup lama, jalan setapak itu akhirnya menanjak dan berbelok. Dan begitu keduanya sampai di puncak tanjakan, pemandangan yang sudah lama mereka rindukan terhampar di hadapan mereka.
Gerbang putih raksasa dengan corak keemasan itu berdiri megah di ujung jalan, dengan deretan pohon tinggi menjulang di kanan kirinya.
Sagira menghentikan langkahnya sesaat, "Setiap kali melihatnya, aku selalu tidak percaya."
"Tidak percaya apa?"
"Bahwa anak yang dulu kugendong sekarang tinggal di tempat seperti itu."
William tersenyum lalu menggenggam tangan istrinya, "Ayo. Sepertinya sudah ada yang menunggu kita di depan sana."
Dan benar saja. Dari kejauhan, di depan gerbang putih itu, tampak sesosok orang berdiri tegak sambil menghadap ke arah jalan yang sedang mereka lalui.