Jakarta, Indonesia
*
Rumah itu kembali sunyi begitu pintu tertutup.
Callista berdiri sebentar di ruang tamu sambil mengusap perutnya, lalu berjalan pelan menuju meja makan untuk membereskan sisa sarapan. Dua piring, dua gelas, dan satu wajan yang masih menempel di kompor.
Sebenarnya Mahawira sudah melarangnya mengangkat apa pun yang berat. Tapi menurut Callista, dua piring kotor jelas bukan termasuk barang berat.
"Kalau dibiarkan sampai siang, nanti keraknya susah dibersihkan," gumam Callista pada dirinya sendiri.
Selesai mencuci, wanita itu berpindah ke ruang tamu, merapikan bantal sofa, lalu menyeka permukaan meja dengan kain basah. Kebiasaan yang sudah menempel padanya sejak kecil dan tidak hilang meski perutnya sekarang sudah sebesar buah semangka.
Ponselnya berdering tepat ketika ia selesai melipat kain lap.
"Halo, Bu," sapa Callista begitu melihat nama Yunita di layar.
"Sudah sarapan?" tanya Yunita di seberang telepon.
"Sudah. Aku masak nasi goreng tadi."
"Suamimu sudah berangkat?"
"Baru saja."
Terdengar suara piring beradu di seberang sana. Ibunya pasti sedang di dapur warung, seperti biasa.
"Nanti sore Ibu ke sana ya. Ibu bawakan sayur asem," ujar Yunita.
"Tidak usah repot, Bu."
"Repot apanya. Warung juga sepi kalau siang," balas Yunita.
Callista tersenyum, "Ya sudah. Hati - hati di jalan."
Panggilan berakhir dan rumah itu kembali sunyi. Callista duduk di sofa, menyalakan televisi, lalu mengganti salurannya berkali - kali tanpa benar - benar menonton apa pun.
Baru sekitar pukul sebelas siang, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini nama yang muncul di layar adalah nama suaminya.
"Halo, Mas," sapa Callista.
"Sayang, kamu di rumah?" tanya Mahawira.
"Iya. Memangnya aku bisa ke mana."
Terdengar helaan napas di seberang sana. Callista langsung duduk lebih tegak. Ia hapal betul arti helaan napas seperti itu.
"Ada apa?" tanya Callista.
"Proyek yang tadi aku bilang," ujar Mahawira, "ternyata bukan proyek dalam kota."
"Lalu?"
"Jepang."
Callista terdiam sesaat, "Kapan berangkat?"
"Besok pagi."
Wanita itu memejamkan matanya sebentar. Bukan karena kaget, karena sejujurnya ia sudah menduga. Melainkan karena besok pagi terasa terlalu cepat.
"Berapa lama?" tanya Callista.
"Dua minggu. Mungkin bisa lebih cepat kalau semuanya lancar."
"Dua minggu," ulang Callista pelan.
"Sayang," panggil Mahawira.
"Iya?"
"Aku sudah bilang ke Papa kalau aku keberatan. Tapi ini pertemuan pertama dengan pihak sana, dan mereka minta yang datang orangnya langsung," ujar Mahawira.
"Aku ikut."
"Callista."
"Aku ikut, Mas. Aku selalu ikut, kan? Dua tahun ini aku tidak pernah absen satu kali pun," balas Callista cepat.
Terdengar jeda cukup panjang di seberang telepon.
"Aku sudah minta Ayu menelepon dokter Martin," ujar Mahawira akhirnya.
"Untuk apa?"
"Malam ini ada jadwal praktek. Kita periksa dulu. Kalau dokter bilang boleh, kamu ikut. Kalau tidak boleh, kamu di rumah."
Callista mengerucutkan bibirnya, "Kalau aku yang bilang boleh, bagaimana?"
"Callista."
"Iya, iya. Aku ikut apa kata dokter," balas Callista sambil menghela napas.
"Nanti aku jemput. Atau kamu langsung ke sana saja? Aku takut telat kalau harus pulang dulu."
"Aku ke sana sendiri saja. Nanti aku naik taksi."
"Jangan naik motor," ujar Mahawira cepat.
"Ya Tuhan, Mas. Perutku sebesar ini, mau naik motor bagaimana?"
Terdengar tawa pelan di seberang telepon, dan entah kenapa suara itu langsung membuat dada Callista terasa sedikit lebih longgar.
"Sampai nanti malam, sayang," ujar Mahawira.
"Sampai nanti."
* * * * *
Yunita datang sekitar pukul empat sore dengan rantang di tangannya.
"Ibu bawa sayur asem sama tempe goreng. Ibu taruh di dapur ya," ujar Yunita begitu masuk.
"Iya, Bu."
Yunita meletakkan rantangnya, mencuci tangan, lalu kembali ke ruang tamu dan langsung memperhatikan wajah anaknya.
"Kenapa?" tanya Yunita.
"Tidak apa - apa."
"Callista."
Callista menghela napasnya, "Mas Wira ke Jepang besok pagi. Dua minggu."
Yunita duduk di samping putrinya dan mengusap punggung tangan Callista, "Terus kamu ikut?"
"Belum tahu. Nanti malam periksa dulu ke dokter."
"Kandunganmu sudah delapan bulan, Nak."
"Aku tahu, Bu."
"Kalau dokternya bilang tidak boleh, ya tidak boleh. Jangan dipaksa."
Callista tidak menjawab. Ia justru menatap perutnya sendiri dan mengusapnya perlahan.
Sebenarnya bukan Jepangnya yang ia inginkan. Bukan bunga sakuranya, bukan hotelnya, bukan jalan - jalannya. Yang ia inginkan hanya satu hal yang sederhana, yakni tidak sendirian.
Selama dua tahun menikah, Callista dan Mahawira belum pernah terpisah lebih dari dua hari. Bahkan ketika Mahawira harus ke luar kota, wanita itu selalu ikut, duduk di kursi sebelah, membawakan kopi, dan menunggu di lobi hotel sambil membaca sampai rapat suaminya selesai.
Dan sekarang, di bulan terakhir kehamilannya, mereka akan terpisah selama dua minggu.
"Bu," panggil Callista.
"Hm?"
"Kalau Ibu jadi aku, Ibu bakal ikut tidak?"
Yunita tertawa kecil, "Kalau Ibu jadi kamu, Ibu bakal minta suami Ibu yang tinggal."
"Tidak bisa. Itu perusahaan Papa."
"Makanya Ibu bilang kalau Ibu jadi kamu," balas Yunita, "Tapi kamu bukan Ibu. Kamu jauh lebih pengertian dari Ibu."
Callista menyandarkan kepalanya di bahu Ibunya.
"Bu," panggil Callista lagi.
"Apa?"
"Waktu Ibu hamil aku dulu, Ibu sendirian terus ya?"
Yunita terdiam sesaat, lalu tersenyum, "Iya. Tapi Ibu tidak pernah merasa sendirian."
"Kok bisa?"
"Karena ada kamu di dalam sini," jawab Yunita sambil menepuk pelan perut anaknya, "Orang hamil itu tidak pernah benar - benar sendirian, Nak. Ada satu orang lagi yang selalu ikut ke mana pun kamu pergi."
Callista tertawa kecil, "Ibu bisa saja."
"Ibu serius. Nanti kalau suamimu jauh dan kamu merasa sepi, ajak ngobrol saja anakmu. Percaya sama Ibu, dia dengar."
"Nanti aku dikira gila sama tetangga."
"Biar saja. Ibu dulu juga dikira gila," balas Yunita santai.
Keduanya tertawa bersama - sama sampai Callista harus memegangi perutnya karena bayinya ikut bergerak.
"Nanti selama dia pergi, Ibu tinggal di sini ya?" pinta Callista.
"Ya iyalah. Memangnya Ibu tega meninggalkan kamu sendirian dengan perut sebesar itu?" jawab Yunita sambil mengusap kepala anaknya.
* * * * *
Pukul tujuh malam, taksi yang membawa Callista berhenti di depan pintu utama sebuah rumah sakit swasta di ibu kota.
Callista turun perlahan dengan satu tangan menopang perutnya dan satu tangan lagi berpegangan pada pintu mobil. Seorang petugas keamanan yang melihatnya langsung mendekat dan membantu.
"Sendirian, Bu?" tanya petugas itu.
"Suami saya menyusul," jawab Callista sambil tersenyum.
Wanita itu berjalan pelan menuju bagian pendaftaran. Antrean malam itu tidak terlalu panjang, hanya ada beberapa orang yang duduk menunggu dengan wajah lelah.
"Atas nama Callista Evanora. Dokter Martin," ujar Callista kepada petugas di balik meja.
"Sebentar ya, Bu," balas petugas itu sambil mengetik.
Beberapa menit kemudian, Callista sudah duduk di kursi tunggu di depan ruang praktek dengan nomor antrean di tangannya. Ia meletakkan tasnya di kursi sebelah, lalu mengeluarkan ponselnya.
Layar ponsel itu menyala dan menampilkan foto pernikahan mereka dua tahun yang lalu.
Callista membuka pesan dan mengetik.
Aku sudah daftar. Nomor 4. Kamu di mana?
Pesan itu terkirim, tapi belum dibaca.
Callista menurunkan ponselnya ke pangkuan, lalu mendongak menatap langit - langit ruang tunggu. Ada rasa yang aneh di dadanya, seperti sesuatu yang mengganjal tapi tidak bisa ia sebutkan namanya.
Mungkin karena besok pagi rumahnya akan kosong.
Mungkin karena selama dua minggu ke depan, ia hanya akan mendengar suara suaminya lewat telepon.
Atau mungkin, karena ada bagian kecil di dalam dirinya yang berbisik bahwa perpisahan dua minggu ini tidak akan sesederhana perpisahan dua minggu pada umumnya.
Callista menggelengkan kepalanya sendiri dan tersenyum tipis.
"Kamu kebanyakan nonton drama," gumamnya kepada dirinya sendiri.
Lalu wanita itu kembali menunduk, membuka ponselnya lagi, dan menunggu.