Jakarta, Indonesia
*
Piring kosong itu akhirnya masuk juga ke dalam bak cuci.
Callista menyalakan keran dan membiarkan air mengalir sebentar sebelum mulai menggosok piringnya. Rumah itu terasa jauh lebih besar dari biasanya, padahal ukurannya tidak berubah sama sekali sejak kemarin.
Hanya penghuninya yang berkurang satu.
"Baru juga ditinggal dua jam," gumam Callista sambil menggelengkan kepalanya sendiri.
Selesai mencuci, wanita itu berjalan ke kamar dan merapikan tempat tidur. Bantal di sebelah kiri masih berbentuk cekung karena semalam ditiduri oleh suaminya. Callista menepuknya beberapa kali sampai kembali mengembang, lalu berhenti.
"Astaga, Callista. Yang begini saja kamu sedih," gumamnya lagi.
Ponsel di atas nakas bergetar. Callista langsung meraihnya.
Aku sudah di bandara, sayang. Nanti aku kabari lagi kalau sudah mau naik.
Senyum kecil muncul di wajah Callista. Jari - jarinya bergerak cepat membalas pesan itu.
Iya. Jangan lupa makan. Hati - hati.
Tak lama, balasan masuk lagi.
Aku mencintaimu.
Callista menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya meletakkan ponselnya kembali dan melanjutkan pekerjaannya.
* * * * *
Yunita datang sekitar pukul sepuluh pagi dengan sebuah tas besar dan dua kantong plastik di kedua tangannya.
"Bu, kok bawaannya banyak sekali?" tanya Callista begitu membuka pintu.
"Ini pakaian Ibu. Yang ini beras, yang ini sayur," jawab Yunita sambil menyerahkan salah satu kantong kepada anaknya.
"Warungnya bagaimana?"
"Sudah Ibu titipkan ke Mbak Sri. Dua minggu tidak akan bangkrut, tenang saja."
Callista membantu membawakan kantong itu ke dapur, lalu kembali dan mendapati Ibunya sudah berdiri di ambang pintu kamarnya sambil memperhatikan isi kamar.
"Ibu tidur di kamar tamu ya?" tanya Yunita.
"Jangan," jawab Callista cepat.
Yunita menoleh, "Kenapa?"
Callista menggaruk pipinya sendiri yang tidak gatal, "Ya, siapa tahu tengah malam aku butuh sesuatu. Kan repot kalau Ibu jauh."
Yunita menaikkan sebelah alisnya. Ia tahu betul bahwa alasan itu hanya alasan.
"Ya sudah. Ibu tidur di sebelahmu," ujar Yunita.
"Serius?"
"Iya. Tapi jangan mengeluh kalau Ibu ngorok."
Callista tertawa, "Ibu memang ngorok dari dulu."
"Enak saja."
* * * * *
Siang itu berjalan lambat sekali.
Callista mencoba tidur siang tapi tidak bisa. Bayinya bergerak terus, dan setiap kali ia memejamkan mata, pikirannya justru berlari ke pesawat yang sekarang entah sudah berada di atas laut yang mana.
Akhirnya wanita itu menyerah, keluar dari kamar, lalu duduk di ruang tamu sambil menonton acara masak - masak di televisi bersama Ibunya.
"Kira - kira sudah sampai belum ya?" gumam Callista.
Yunita melirik jam dinding, "Berangkat jam sembilan, terbangnya berapa jam?"
"Tujuh jam kurang lebih."
"Berarti masih lama."
"Iya sih," balas Callista sambil kembali menatap televisi meski matanya jelas tidak sedang menonton apa pun.
"Daripada bengong, ayo kita lipat baju bayinya," ajak Yunita akhirnya.
Callista menoleh, "Sudah dilipat semua kemarin, Bu."
"Ya dilipat lagi."
"Buat apa?"
"Biar ada kerjaan," jawab Yunita santai sambil berdiri dan mengambil keranjang kecil dari sudut ruangan.
Akhirnya keduanya duduk di lantai ruang tamu dengan tumpukan pakaian bayi di antara mereka. Baju - baju berukuran kecil itu sebagian besar berwarna putih dan biru muda, hasil belanja Callista dan Mahawira dua bulan yang lalu.
"Ini yang beli siapa?" tanya Yunita sambil mengangkat sepasang kaus kaki mungil berwarna kuning.
"Mas Wira."
"Kok kuning?"
"Katanya biar tidak semuanya biru," jawab Callista sambil tersenyum.
Yunita ikut tersenyum, lalu melipat kaus kaki itu dan meletakkannya di tumpukan paling atas.
"Nanti kalau anak ini lahir, ayahnya sudah pulang belum ya," gumam Callista.
"Ya sudah pulang lah. Dua minggu ini, lahirmu masih sebulan lagi."
"Iya sih."
"Sudah, jangan dipikir yang aneh - aneh. Nanti anaknya ikut sedih di dalam sana," ujar Yunita sambil menepuk lutut anaknya.
Ponselnya berbunyi sekitar pukul tiga sore. Callista langsung menyambarnya, tapi nama yang muncul di layar bukan nama yang ia harapkan.
"Halo, Rik," sapa Callista.
"Callis, gimana kabarmu?" tanya Eric dari seberang telepon.
"Baik. Perutku semakin besar, itu saja."
"Denger - denger suamimu ke Jepang?"
"Kok kamu tahu?"
"Ibumu yang cerita waktu aku mampir ke warung kemarin," jawab Eric, "Ya sudah, kalau butuh apa - apa telepon aku. Jangan sungkan. Rumahku dekat."
"Iya, Rik. Terima kasih."
"Awas ya kalau tidak telepon. Nanti aku laporkan ke Bu Yunita."
Callista tertawa, "Iya, iya."
Panggilan berakhir dan Callista meletakkan ponselnya kembali. Yunita yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum sambil terus mengupas kacang panjang.
"Eric ya?" tanya Yunita.
"Iya."
"Anak itu memang perhatian dari kecil."
"Ibu jangan mulai."
"Mulai apa? Ibu cuma bilang perhatian," balas Yunita santai.
"Bu, aku ini sudah bersuami."
"Ibu tahu. Memangnya Ibu bilang apa?"
"Nada bicara Ibu itu lho."
Yunita tertawa lalu melemparkan sepotong kacang panjang ke pangkuan anaknya, "Sudah, bantu Ibu potong ini. Daripada kamu melamun terus menatap ponsel."
* * * * *
Malam datang, dan rumah itu akhirnya terasa hidup sedikit karena bau sayur asem yang dimasak ulang oleh Yunita.
Keduanya makan malam berdua di meja yang biasanya diisi oleh Callista dan suaminya. Callista sesekali melirik kursi kosong di seberangnya, lalu buru - buru menunduk lagi ke piringnya sendiri.
"Sudah ada kabar?" tanya Yunita.
"Belum."
"Mungkin masih di jalan dari bandara."
"Iya. Di sana jamnya lebih cepat dua jam, jadi sekarang di sana sudah lewat tengah malam," ujar Callista sambil menghitung dengan jarinya sendiri.
"Kalau begitu wajar kalau belum ada kabar. Orang capek habis terbang tujuh jam."
"Iya, aku tahu."
Callista tahu. Sungguh. Tapi mengetahui sesuatu dan merasa tenang karenanya ternyata dua hal yang berbeda.
Selesai makan, Callista membantu Ibunya membereskan meja meski berkali - kali diusir. Setelah itu ia mandi, memakai piyama, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil memegang ponselnya.
Layar itu masih kosong.
"Sudah, tidur," ujar Yunita yang baru saja masuk ke kamar sambil membawa segelas air hangat.
"Sebentar, Bu."
"Sebentar terus dari tadi."
Callista menghela napasnya, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Baru saja ia hendak menarik selimutnya, benda itu bergetar.
Wanita itu langsung menyambarnya kembali.
Sayang, aku sudah sampai di hotel. Maaf baru sempat kabari. Capek sekali, aku tidur dulu ya. Besok pagi aku telepon.
Callista membaca pesan itu tiga kali, seolah kalau dibaca berulang - ulang kalimatnya akan bertambah panjang.
Iya, Mas. Istirahat yang cukup. Jangan lupa makan.
Pesan itu terkirim, dan tidak ada balasan lagi setelahnya.
Callista menaruh ponselnya, lalu berbaring miring menghadap ke arah jendela. Yunita ikut berbaring di sisi yang satunya dan menarik selimut sampai ke pinggang.
"Sudah dibalas?" tanya Yunita.
"Sudah. Katanya sudah sampai hotel."
"Nah. Berarti aman."
"Iya."
Untuk beberapa saat keduanya hanya diam. Yang terdengar hanya suara kipas angin dan suara motor yang sesekali lewat di depan rumah.
"Bu," panggil Callista.
"Hm?"
"Dua minggu itu lama tidak, sih?"
Yunita tertawa pelan, "Tidak. Dua minggu itu cuma empat belas hari."
"Empat belas hari itu lama, Bu."
"Kamu ini. Coba hitung, kamu sudah menunggu anak ini berapa bulan?"
Callista terdiam, lalu tersenyum, "Delapan bulan."
"Nah. Kalau delapan bulan saja kamu kuat, masa empat belas hari tidak?"
Callista tidak menjawab. Ia justru menggeser tubuhnya sedikit dan menempelkan punggungnya ke sisi tubuh Ibunya, persis seperti yang biasa ia lakukan sewaktu kecil dulu.
Tangan Yunita bergerak dan mengusap perut anaknya perlahan.
"Tidur, Nak," ujar Yunita.
Napas Callista perlahan menjadi teratur.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, wanita itu tertidur tanpa ada seseorang yang mencium keningnya terlebih dahulu.