Kediaman Keluarga Pandora
Kota Terassen, Pulau Velenna
* * * * *
Pintu kamar tertutup perlahan setelah Veza masuk mengekor di belakang tuannya. Rosa langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dan menatap langit - langit kamar yang sama sekali tak berubah sejak ia masih kecil.
"Nona masih memikirkan pria itu?" tanya Veza sambil mengambil jubah yang tergeletak di kursi dan melipatnya rapi.
Rosa tak menjawab. Wanita itu justru berguling ke samping dan menarik kotak cokelat dari kolong tempat tidurnya, lalu membuka penutupnya. Tumpukan bulu perak keemasan di dalam sana masih tersusun berantakan seperti biasa.
"Aku hampir menyentuhnya tadi, Veza. Hampir," ujar Rosa.
"Tapi Nona terjatuh."
"Iya, aku terjatuh. Karena itu aku kesal."
Veza duduk di tepi tempat tidur dan ikut menatap isi kotak itu, "Kalau dipikir - pikir, bulu ini juga aneh. Sudah bertahun - tahun jumlahnya bertambah tapi tidak pernah membusuk, tidak pernah patah dan tidak pernah berubah warna."
"Aku tahu. Karena itu aku yakin dia nyata," balas Rosa lalu menutup kotak itu kembali dan mendorongnya masuk ke kolong tempat tidur.
Sebenarnya Rosa sudah lelah. Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengejar seseorang yang bahkan tak ia ketahui namanya. Tapi hari ini ia melihat wajah itu sekilas di antara kerumunan orang - orang di White Festival. Dan sekilas itu justru membuat Rosa semakin sulit untuk berhenti memikirkannya.
"Nona," panggil Veza.
"Hm?"
"Besok pagi aku harus ke pasar. Ibuku minta dibelikan benang dan beberapa bumbu. Apa Nona mau ikut?"
Rosa mengangkat sebelah alisnya, "Pasar? Untuk apa aku ke sana?"
"Untuk keluar dari kamar ini," jawab Veza jujur, "Nona sudah beberapa hari ini hanya berputar dari kamar ke ruang makan lalu kembali ke kamar lagi. Nona Asha sampai bertanya kepadaku apakah Nona sedang sakit."
Rosa terdiam. Ia tak bisa membantah karena memang seperti itulah kenyataannya.
"Baiklah. Tapi aku tidak mau memakai gaun. Aku mau memakai jubah saja," ujar Rosa.
Veza tersenyum senang, "Siap, Nona."
* * * * *
Pasar Kota Terassen
Keesokan harinya
* * * * *
Pasar Kota Terassen selalu ramai di pagi hari, namun pagi ini jauh lebih ramai dari biasanya. Sisa - sisa perayaan White Festival masih terasa. Beberapa pedagang bahkan sengaja tidak membereskan hiasan kain putih yang tergantung di atas lapak mereka karena masih banyak pengunjung dari luar kota yang belum pulang.
Rosa berjalan dengan jubah cokelat yang menutupi setengah wajahnya. Bukan karena ia malu, melainkan karena nama Pandora terlalu dikenal di kota ini dan Rosa tak ingin dikerumuni.
"Lihat, Nona. Itu bangsa dwarf," bisik Veza sambil menunjuk dengan dagunya ke arah dua sosok bertubuh pendek yang sedang menawar palu besi kepada seorang pandai besi.
"Jangan menunjuk. Tidak sopan," tegur Rosa meski matanya sendiri juga mengikuti arah yang ditunjuk oleh Veza.
Beberapa bangsa elf juga terlihat berjalan di antara manusia. Telinga panjang mereka menyembul dari balik rambut keemasan, dan hampir semua orang yang berpapasan dengan mereka menoleh dua kali. Rupanya benar apa yang dikatakan oleh Arto kemarin, bangsa elf sudah mulai menempati Kota Terassen.
Veza berhenti di depan lapak benang dan mulai memilih gulungan berwarna biru. Sedangkan Rosa berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil memperhatikan lapak keramik di seberang jalan.
Prangg ! ! ! !
Kraakkk ! ! ! !
Suara pecahan yang keras tiba - tiba terdengar dan membuat seisi pasar menoleh ke satu titik yang sama. Lapak keramik di seberang jalan itu berantakan. Guci - guci tanah liat yang tadinya tersusun rapi kini berserakan di atas tanah dalam bentuk pecahan.
Di tengah pecahan itu, berdiri seorang wanita dengan jubah biru gelap yang kebesaran. Tudungnya menutupi hampir seluruh wajahnya, hanya menyisakan dagu dan bibir yang kini terkatup rapat.
"Kau!" pekik sang pedagang keramik sambil berdiri dari kursinya, "Kau tahu berapa harga semua ini?!"
Wanita berjubah itu melangkah mundur, "A - aku tidak sengaja. Aku hanya ingin melihat gucinya."
"Melihat?! Kau menabraknya sampai satu meja habis!"
Beberapa orang mulai berkerumun. Ada yang menonton, ada juga yang justru menambah keributan dengan menyahut dari belakang. Wanita berjubah itu tampak semakin panik. Tangannya meraba bagian dalam jubahnya seolah mencari sesuatu, lalu berhenti dengan wajah yang semakin pucat.
"Aku tidak membawa uang," gumamnya.
"Tidak membawa uang? Kalau begitu tinggalkan jubahmu itu sebagai gantinya!" pekik sang pedagang lalu mengulurkan tangannya hendak menarik tudung wanita itu.
"Tunggu!"
Rosa menyeruak di antara kerumunan dan berdiri tepat di depan wanita berjubah itu, menghalangi tangan sang pedagang. Wanita itu tersentak, begitu juga dengan Veza yang baru saja menoleh dan mendapati tuannya sudah berada di tengah keributan.
"Berapa semuanya?" tanya Rosa.
Sang pedagang menatap Rosa dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu menyebutkan sebuah angka yang jelas jauh lebih besar dari harga guci - guci itu. Rosa tidak menawar. Ia hanya merogoh kantong di balik jubahnya dan meletakkan uang itu di atas meja yang masih tersisa.
"Ambil. Dan jangan sentuh dia," ujar Rosa.
Sang pedagang menghitung uang itu dua kali, lalu wajahnya berubah menjadi ramah seketika, "Baik, Nona. Terima kasih, Nona."
Rosa berbalik dan menarik lengan wanita berjubah itu keluar dari kerumunan. Veza menyusul di belakang mereka sambil membawa gulungan benang yang bahkan belum sempat ia bayar, hingga akhirnya wanita itu harus berbalik lagi untuk membayarnya.
Ketiganya berhenti di sebuah gang sempit di belakang deretan lapak, tempat yang cukup sepi untuk bernapas.
"Kau tidak apa - apa?" tanya Rosa.
Wanita berjubah itu menganggukan kepalanya. Lalu perlahan, ia membuka tudungnya sendiri.
Deg ! !
Rosa lupa cara bernapas untuk sesaat. Begitu juga dengan Veza yang sampai menjatuhkan gulungan benang dari tangannya untuk kedua kalinya.
Wajah di hadapan mereka bukan wajah yang bisa disebut cantik dengan kata biasa. Kulitnya seputih kapas, dan sepasang matanya berwarna biru jernih seperti permukaan laut yang terkena sinar matahari pagi. Rosa sempat melirik ke arah telinga wanita itu, namun telinganya tidak memanjang ke atas. Bukan bangsa elf.
"Terima kasih sudah menolongku," ujar wanita itu.
"I - iya," balas Rosa yang bahkan lupa harus menjawab apa.
"Kau tidak takut kepadaku?"
Rosa mengerenyitkan dahinya, "Kenapa aku harus takut? Kau hanya memecahkan guci."
Wanita itu terdiam sesaat, lalu tertawa. Tawanya renyah, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.
"Namaku Ivelle," ujar wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
"Rosamund Pandora. Panggil aku Rosa. Dan ini Veza," balas Rosa sambil membalas uluran tangan itu.
Veza membungkukan badannya sedikit, "Veza, Nona."
"Jangan panggil aku Nona. Panggil saja Ivelle," ujar Ivelle cepat.
Rosa memperhatikan penampilan Ivelle sekali lagi. Jubahnya kebesaran, jelas bukan miliknya. Alas kakinya bahkan tidak sepasang. Dan yang paling aneh, wanita secantik ini tidak membawa satu keping uang pun.
"Kau tersesat?" tanya Rosa.
"Tidak. Aku hanya pergi tanpa memberitahu Ibuku," jawab Ivelle enteng.
Veza membulatkan matanya, "Nona kabur dari rumah?"
"Kabur itu kata yang terlalu kasar," ujar Ivelle sambil menggidikan bahunya, "Aku hanya keluar. Ini yang ketiga kalinya. Dua yang sebelumnya aku tidak bertemu siapa pun. Baru kali ini ada orang yang mau berbicara kepadaku, bukan hanya berteriak kepadaku."
Rosa dan Veza saling melempar tatapan.
"Rumahmu di mana? Biar kami antar," tawar Rosa.
Ivelle justru menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu diantar. Tapi, apa kalian mau ikut? Ke rumahku maksudku."
"Ke rumahmu?" tanya Rosa.
"Iya. Kalian orang pertama yang kutemui dan tidak berlari saat melihat wajahku. Aku ingin kalian menjadi temanku," ujar Ivelle.
Veza langsung menarik lengan Rosa dan berbisik, "Nona, kita bahkan tidak tahu dia siapa."
"Aku dengar," sahut Ivelle santai.
Veza tersentak dan langsung menundukan kepalanya. Sedangkan Rosa justru tersenyum. Entah kenapa, Rosa tidak merasakan hawa berbahaya sedikit pun dari wanita di hadapannya. Yang ia rasakan justru sebaliknya, seperti seseorang yang sudah terlalu lama sendirian.
"Baiklah. Tapi kami harus pulang sebelum malam. Ibuku bisa mencari," ujar Rosa.
Wajah Ivelle langsung berbinar, "Tenang saja! Nanti aku antar pulang!"
Ivelle langsung meraih tangan Rosa dan tangan Veza bersamaan. Genggaman tangannya dingin, jauh lebih dingin dari tangan manusia biasa.
"Oh ya, satu hal," ujar Ivelle tiba - tiba.
"Apa?" tanya Rosa.
"Kalau nanti kalian bertemu dengan Ibuku, jangan panik. Ibuku itu sedikit berbeda. Tapi dia tidak akan menghisap darah kalian, sungguh. Aku janji," ujar Ivelle dengan senyuman yang sangat lebar.
Veza langsung memucat, "Meng - menghisap darah?"
"Sudah, pegang yang erat!"
Whooosshhh ! ! ! !
Angin kencang tiba - tiba berputar di gang sempit itu, menerbangkan debu, dedaunan kering dan gulungan benang yang lagi - lagi terjatuh dari tangan Veza. Rosa memejamkan matanya rapat - rapat saat merasakan tanah seolah hilang dari bawah kakinya.
Dan ketika Rosa kembali membuka matanya, bau pasar sudah lenyap. Yang tercium sekarang justru bau garam dan angin laut. Di hadapan mereka, berdiri sebuah gerbang putih raksasa dengan corak keemasan yang menjulang jauh lebih tinggi dari pohon mana pun yang pernah Rosa lihat seumur hidupnya.
Rosa mengenali gerbang itu. Semua orang di Lacoste mengenali gerbang itu.
"Istana Twyla," gumam Rosa dengan mata yang membulat.